Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Makanan kesukaan



"Sekarang pilih mau makan apa! Kamu tinggal pilih dan taruh di piring ini!" ucap Aaron pada Anindya mengenai cara memesan makanan dan minuman.


Sementara itu, Zea saat ini masih terdiam di tempat karena merasa bingung bagaimana memesan makanan jika tangannya masih digenggam erat oleh Aaron.


'Apa jika saat ini tanganku masih dikuasai olehnya?' gumam Zea yang hanya diam saja dan mendapatkan tatapan penuh kecurigaan oleh Aaron.


"Kenapa diam saja? Bingung pilih makanannya? Apa perlu aku pilihkan seperti tadi kamu bingung memilih helm?" Aaron bahkan saat ini memicingkan mata karena merasa heran dengan sikap bingung dari Anindya yang dari tadi diam dan tidak bergerak mengambil apapun.


Aaron berniat untuk menunggu gadis itu memilih terlebih dahulu, ia yang melakukannya.


Zea yang serba salah dan bingung untuk menjelaskan, akhirnya tidak berbicara apapun, tapi mengarahkan mata dan dagu untuk menunjukkan perbuatan pria itu yang sama sekali tidak merasa tengah menggandengnya dan membuat perasaannya tidak karuan.


'Tuan Aaron dengan santainya menyuruhku mengambil makanan saat tanganku masih digenggam erat dan tidak bisa bergerak karena jantungku seperti mau meledak saat ini,' gumam Zea yang saat ini ingin tertawa melihat reaksi dari Aaron yang baru menyadari tengah memegang tangannya dan seketika melepaskan kuasa.


Aaron benar-benar tidak sadar jika dari tadi masih menggandeng tangan Anindya dan sangat kikuk. Apalagi melihat senyum mengejek dari gadis kecil itu. Karena tidak suka ditertawakan oleh Anindya, sehingga mengarahkan sentilan pada kening gadis mungil itu.


"Jangan macam-macam atau berani mengejekku! Atau aku akan menghukummu lagi!" Aaron saat tertawa lebar begitu melihat wajah masam dan bibir mengerucut yang ditunjukkan Anindya saat ini.


Bahkan ia sadar bahwa ada banyak pengunjung yang menatap ke arahnya karena suara tawanya cukup keras. Namun, ia sama sekali tidak peduli karena menganggap bahwa Anindya seperti sebuah hiburan yang membuatnya bisa tertawa dengan lepas.


Bahkan ia sadar bahwa saat bersama dengan Jasmine tidak pernah tertawa selebar itu. Ia selalu saja merasa terhibur melihat wajah menggemaskan dari gadis dengan postur mungil itu.


Bahkan yang dikatakan oleh sang ibu, bahwa Anindya adalah gadis yang mempunyai wajah imut atau baby face yang pastinya akan awet muda.


Zea meringis kesakitan dan mengusap beberapa kali keningnya karena sentilan dari Aaron, kini merasa sangat kesal karena selalu saja menjadi pusat hukuman saat ia bahkan tidak bersalah sama sekali.


"Tuan Aaron, sakit! Menyebalkan sekali!" Zea yang merasa sangat kesal, langsung mengambil makanan agar bisa melampiaskannya dengan banyak makan.


Kini, ia mengambil piring anyaman dari bambu tersebut dan menaruh nasi bakar dengan tulisan ayam kemangi, lalu mengambil sate telur puyuh kesukaannya karena dulu sang ibu selalu memasak untuknya. Kemudian juga pentol bakar, ati ampela, ayam bakar.


"Sepertinya ini sudah cukup!" Zea saat ini tengah menatap ke arah penjual yang sibuk membuat minuman. "Tolong teh panasnya satu, Mas." Zea saat ini menatap aneh Aaron yang juga tengah mengarahkan tatapan heran kepadanya.


"Apa habis makanan sebanyak itu? Kamu tidak akan menyuruhku menghabiskannya, kan?" Aaron tadinya berniat untuk mengambil beberapa makanan, tapi begitu melihat Anindya seperti rakus, membuatnya mengurungkan niatnya karena mengetahui seperti apa kebanyakan wanita.


Selalu mengambil banyak makanan dan hanya mencicipinya sedikit dan sisanya diberikan pada pihak laki-laki. Bahkan ia sudah sangat hafal dengan kelakuan dari sang kekasih yang selalu saja beralasan diet, tetapi sering memesan banyak makanan karena ingin mencoba sedikit saja demi rasa penasaran.


Hingga beberapa saat kemudian, ia melihat Anindya yang menjawab dengan penuh percaya diri.


Refleks Zea langsung menggelengkan kepala. "Iish ... Tuan Aaron jangan mengincar makananku karena aku akan menghabiskannya sendiri."


"Lebih baik Tuan Aaron mengambil makanan sendiri sana!" Kemudian Zea mengambil makanan yang tadi dibakar karena ia berpikir akan jauh lebih nikmat sambil menunggu minumannya.


Aaron tetap saja merasa yakin jika gadis kecil itu tidak akan bisa menghabiskan makanan sebanyak itu. Jadi, ia memilih untuk mengambil nasi bakar satu dengan ayam bakar dan kopi hitam.


"Jika nanti tidak habis, awas saja! Aku akan menyuruhmu jalan kaki pulang ke rumah!" sarkas Aaron saat ini mengeluarkan dompet dan membayar makanannya, lalu berjalan ke arah trotoar yang sudah dialasi tikar.


Ia sudah berbaur dengan para pengunjung lain dan duduk di bagian kiri. Bahkan tadi bisa melihat raut wajah ketakutan dari Anindya dan membuatnya ingin sekali tertawa.


'Dia pasti sangat takut jika sampai aku suruh jalan kaki tanpa tahu arah pulang ke rumah. Nama sendiri saja tidak tahu, bagaimana bisa pulang dengan selamat sampai di rumah.'


Di sisi lain, Zea yang saat ini menatap ke arah makanan dan minuman yang dibawa, kini merasa sangat khawatir jika sampai ia tidak bisa memindahkan semuanya ke dalam perut.


Ia saat ini menatap ke arah Aaron yang sudah menikmati makanan pilihannya. "Apa benar tuan Aaron tega meninggalkanku di sini? Nanti nyonya Jenny pasti akan memarahi Tuan Aaron." Zea bahkan sekarang sudah tidak selera makan gara-gara khawatir.


Ia masih menunggu jawaban dari pria yang sudah mengunyah makanan ke dalam mulut tersebut. "Tuan Aaron!"


Bahkan ia saat ini bisa melihat tatapan dari para anak muda yang melihat ke arah Anindya. Ia akui jika gadis di hadapannya tersebut mempunyai wajah cantik dan pastinya akan menjadi pusat perhatian.


Apalagi wajah yang menggemaskan itu sangat disukai oleh anak muda zaman sekarang. Hingga ia pun mengarahkan tatapan tajam dan dagu ke arah makanan.


"Cepat makan! Karena setelah ini, aku ada urusan dengan seseorang. Jika kamu tidak patuh padaku, sudah kupastikan kutinggalkan di sini biar di bawa pulang salah satu dari mereka!" Tunjukknya pada barisan para pria yang dari tadi memperhatikan Anindya.


Ia sengaja memasang wajah masam agar Anindya patuh dan tidak banyak bicara lagi dan usahanya berhasil karena gadis itu langsung membuka nasi bakar dan menikmati makanannya.


"Iya ... iya, Tuan Aaron. Aku akan patuh dan makan ini sampai habis!" ucap Zea yang saat ini tidak lagi berpikir untuk menunda menikmati makanan yang diambilnya.


Sedangkan Aaron yang saat ini meraih ponsel miliknya dan mengirimkan sebuah pesan pada sahabat baiknya yang merupakan seorang guru SMA favorit di Jakarta.


Aku butuh bantuanmu untuk mengecek anak kecil. Aku ingin tahu kemampuan seseorang agar bisa membantunya sekolah.


Kemudian sudah dikirimkan dan Aaron menunggu jawaban menikmati makanan dan tidak mengalihkan pandangan pada Anindya yang berjanji akan menghabiskan semuanya.


'Aku sangat yakin jika ia tidak bisa menghabiskan semuanya. Jika bisa, itu perut atau karet! Bahkan badannya sangat kecil, tidak mungkin makan yang sangat banyak.'


Aaron kini mendengar suara notifikasi dari ponsel miliknya dan melihat pesan balasan dari sahabat baiknya.


Datang saja ke rumah dan bawa anak itu karena aku ada di rumah sekarang.


Setelah membalas pesan tersebut, Aaron saat ini bisa melihat jika Anindya berusaha untuk terus menikmati makanan sampai habis.


Namun, karena ia tidak tega melihatnya, mengambil pentol bakar dan telur puyuh yang belum dimakan oleh Anindya. Saat ia sudah mengunyah telur puyuh itu, reaksi dari Anindya sangat berbeda karena seperti kesal.


"Tuan Aaron, kenapa dimakan telur puyuhnya? Itu adalah kesukaanku!" Zea memang sengaja makan telur puyuh di akhir karena memang tidak digunakan untuk lauk.


Dari kecil ia sangat suka makan telur puyuh tanpa nasi. Jadi, tadi berpikir untuk makan di akhir, tapi malah sudah berpindah ke mulut pria di hadapannya yang sangat menikmati.


Tentu saja ia sangat kecewa karena Aaron malah memilih makanan kesukaannya. Hingga ia seketika membulatkan mata karena merasa sangat bodoh saat menyadari kecerobohan.


Aaron yang saat ini sudah mengunyah telur puyuh milik Anindya, tiba-tiba merasa sangat aneh mendengar gadis itu menyebut kesukaan. Karena selama ini selalu mengatakan tidak ingat apapun sama sekali.


Jadi, merasa sangat aneh mendengar Anindya mengucapkan telur puyuh itu adalah makanan kesukaan. Ia pun menunjuk ke arah telur puyuh yang masih berada dalam tusukan.


"Ini adalah makanan kesukaanmu? Jadi, kamu ingat apa makanan kesukaanmu? Jadi, telur puyuh adalah makanan kesukaanmu?" Aaron saat ini menatap penuh selidik pada Anindya karena ingin mendengar apa jawaban dari gadis itu.


Ia benar-benar merasa sangat penasaran apakah Anindya sudah bisa mengingat beberapa hal kecil.


Zea seketika merasa sangat kebingungan untuk menjawab karena jujur saja saat ini cukup jantungnya berdetak sangat kencang melebihi batas normal ketika mendapatkan tatapan tajam penuh selidik.


'Dasar bodoh! Kenapa aku harus protes dan mengatakan bahwa telur puyuh adalah makanan kesukaanku? Sekarang pasti tuan Aaron sangat curiga padaku.'


'Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?' gumam Zea yang merasa sangat kebingungan untuk mencari alasan tepat untuk berbohong pada pria yang masih terus menatapnya tajam.


Bahkan seolah seperti hendak memangsanya habis-habisan. Ia menelan saliva dengan kasar sebelum mengatakan alasan yang terlintas di pikiran saat ini dan berharap pria itu mempercayai apa yang dikatakan.


"Itu, Tuan Aaron. Sebenarnya aku ...."


To be continued ...