Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Meminta pertanggungjawaban



Saat ini, Zea sudah berbaring di atas ranjang perawatan yang ada di IGD. Bahkan sudah ada dokter yang memeriksa dan ia pun disuruh untuk buang air kecil untuk dilakukan tes urine. Meskipun ia merasa sangat heran kenapa disuruh seperti itu, tetap saja menurut dan melakukan apapun yang diperintahkan oleh perawat.


Ia saat ini baru saja keluar dari toilet dan ada sang kakek yang setia menemaninya dan membuatnya merasa bersalah karena harusnya beristirahat di rumah, tapi malah menemaninya periksa di Rumah Sakit.


"Biar Kakek yang memberikan pada perawat. Kamu beristirahat saja di ranjang sana." Candra Kusuma yang selalu berada di sisi cucunya, makin yakin jika saat ini pemikirannya benar.


Apalagi sampai dilakukan tes urine untuk melakukan pengecekan menyeluruh. Ia berniat untuk berbicara dengan perawat serta dokter yang menangani cucunya di ruangan IGD tadi untuk pertanyaan kemungkinan hamil dari cucunya seperti pemikirannya saat ini.


"Kakek harusnya duduk saja di kursi sana karena aku bisa memberikannya pada perawat." Baru saja ia berniat untuk berjalan menuju ke arah perawat, mendapatkan tatapan tajam dari sang kakek yang mengulurkan tangan agar mau memberikan apa yang dibawanya.


"Cepat berikan saja pada Kakek dan turuti perintah!" Kemudian ia merasa lega begitu cucunya tidak lagi membantah dan akhirnya memberikan botol kecil itu.


"Baiklah jika Kakek memaksa." Akhirnya Zea memberikan apa yang dibawanya dan tidak mau berdebat saat sang kakek terus-menerus memaksanya.


Kemudian ia pun kembali ke atas ranjang perawatan dan menunggu sampai perawat kembali datang. Ia saat ini menatap ke arah langit-langit ruangan IGD tersebut dan bertanya-tanya mengenai apa yang salah dengan dirinya.


"Apakah saat ini aku terkena penyakit kronis? Kenapa disuruh tes urine segala?" Ia kini menoleh ke arah sebelah kanan dan melihat sang kakek tengah duduk di depan meja dokter yang tadi memeriksanya.


"Kira-kira apa yang kakek bicarakan dengan dokter itu?" Zea masih tidak mengalihkan perhatiannya karena sang kakek terlihat serius berbicara dengan dokter.


Ia pun kini memilih menunggu dan bertanya pada sang kakek jika nanti sudah kembali. Jadi, sekarang memejamkan mata karena merasa sangat pusing dan masih mual.


Zea tadi memang ditanya Apa yang dirasakan dan sudah menjelaskan semuanya pada sang dokter bahwa ia benar-benar sangat lemah serta mual dan muntah.


Sementara itu, sosok pria paruh baya yang tak lain adalah Candra Kusuma saat ini tengah berbicara dengan dokter yang menangani cucunya. "Dokter, apakah yang saya pikirkan benar? Bahwa cucu saya saat ini tengah hamil?"


Sang dokter yang tadi memeriksa pasien dan sudah menduga mengenai apa yang terjadi, kini hanya tersenyum pada pria paruh baya yang terlihat sangat gelisah dan khawatir di hadapannya. "Kita akan menunggu setelah hasil lab keluar, Tuan. Jadi, saya tidak bisa memberitahu sebelum positif mendapatkan hasilnya."


Tentu saja Candra Kusuma benar-benar tidak puas dengan jawaban dari sang dokter karena berpikir bahwa ia pernah mengalami saat putrinya dulu hamil diluar nikah. Jadi, seperti sudah berpengalaman dan sangat yakin jika cucunya mengalami hal yang sama dengan putrinya.


Sebenarnya ia benar-benar tidak habis pikir kenapa nasib cucunya sama dengan putrinya yang hamil diluar nikah, tapi tidak tahu awal mula cerita mereka sama atau berbeda. Rencananya akan bertanya pada cucunya setelah hasil tes keluar.


"Dokter, meskipun hasil tes belum keluar, bukankah Anda sudah mengetahui kira-kira apa yang salah dengan cucu saya? Cucu saya sepertinya tidak tahu apa yang terjadi padanya dan pasti akan merasa sangat terkejut karena memang masih berusia sangat muda."


Ia masih berusaha untuk merayu sang dokter agar mau berbicara jujur padanya yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, berbeda dengan cucunya yang sangat polos dan tidak tahu apa-apa. "Jadi, sebelum itu, saya ingin mengumpulkan semua kalimat penghiburan untuk menenangkannya jika merasa shock."


Tentu saja ia tahu jika cucu pria itu saat ini belum menikah. Akhirnya mengungkapkan apa yang terjadi. "Memang sepertinya apa yang Anda pikirkan benar, Tuan. Bahwa cucu Anda besar kemungkinan saat ini tengah hamil."


"Setelah tadi perawat saya suruh bertanya mengenai menstruasi terakhirnya, bisa diperkirakan jika saat ini sudah berjalan 6 minggu. Tapi untuk lebih jelasnya tetap menunggu hasil tes laboratorium yang sebentar lagi akan keluar." Ia saat ini bisa melihat raut wajah yang tadinya dikuasai oleh kekhawatiran itu berubah makin pucat.


Sebuah hal biasa yang sering dilihat olehnya jika mengetahui ada pasien yang hamil diluar nikah. Tentu saja keluarga akan terkejut dan berekspresi seperti itu. Hal itu akan makin parah ketika yang bersangkutan mengetahui dan kebanyakan selalu histeris karena tidak bisa menerima kenyataan.


Apalagi ia melihat jika gadis yang merupakan cucu pria paruh baya tersebut masih sangat muda. Pasti akan merasa shock begitu mengetahui kenyataan yang dialami.


"Anda sekarang bisa bersiap untuk menghibur cucu agar tidak terpuruk saat merasa terkejut dengan kenyataan yang menimpanya," ucap sang dokter yang kini melihat pria paruh baya tersebut bangkit berdiri dari kursi.


"Baik, Dokter. Terima kasih karena sudah mau berbicara jujur pada saya. Sekarang saya tahu apa yang harus dilakukan," ucap Candra Kusuma yang saat ini langsung memikirkan sosok pria yang telah membuat cucunya hamil.


Ia berjalan menuju ke arah cucunya yang masih berbaring di atas ranjang perawatan dan memejamkan mata. 'Pasti pria yang meninggalkan kartu nama pada pemilik sawah itulah pelakunya.'


'Aku harus membuatnya bertanggung jawab untuk menikahi cucuku. Apalagi saat itu mengatakan adalah calon suami cucuku pada pria pemilik sawah,' gumamnya yang saat ini sudah berada di dekat cucunya dan melihat baru saja membuka mata.


"Kakek? Aku tadi melihat Kakek berbicara serius dengan dokter. Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Apakah mengenai penyakitku? Aku tidak mengidap penyakit kronis yang mematikan, kan?" Zea yang dari tadi memejamkan mata karena merasa pusing, bisa merasakan suara langkah kaki.


Jadi, ia berpikir jika itu sang kakek dan begitu melihat pria paruh baya tersebut sudah berdiri di sebelahnya, sehingga ingin mengetahui hal yang membuatnya penasaran dari tadi.


Ia mengerutkan kening begitu melihat ekspresi wajah dari sang kakek yang seperti baru saja mengetahui kabar buruk. Jadi, saat ini berpikir jika sang kakek baru saja mendengar tentang penyakitnya.


"Kakek, cepat katakan padaku! Jangan membuatku takut seperti ini." Zea benar-benar makin penasaran sekaligus khawatir dan takut jika apa yang baru saja dikatakan benar.


Sementara itu, Candra Kusuma yang saat ini mengeluarkan ponsel miliknya, kini menunjukkan sebuah foto yang merupakan kartu nama dari pria bernama Aaron Nadhif Jonathan.


"Sebelum itu, katakan dulu pada Kakek tentang siapa pria yang mempunyai kartu nama ini," ucapnya yang saat ini menatap ke arah cucunya terkejut begitu melihat apa yang baru saja ditunjukkan.


Ia kini merasa sangat yakin jika pria itulah yang telah menghamili cucunya, sehingga berniat untuk menghubungi dan meminta pertanggungjawaban agar menikahi cucunya.


To be continued...