Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Pria berlagak



Aaron yang dari tadi merasa jika laki-laki muda itu hanya ingin mencari kesempatan untuk bisa mencari perhatian Anindya, kini menunggu hingga ada jawaban yang dibutuhkannya.


'Siapa laki-laki ini? Apa ia hanyalah ingin mencari perhatian dari Anindya agar bisa berkenalan? Ataukah karena ia mengenal Anindya di masa lalu? Apakah Anindya adalah alumni dari SMA 1?' gumam Aaron yang saat ini tengah menunggu hingga laki-laki yang baru saja menghampiri itu mengeluarkan jawaban.


Sementara itu, Sony yang sama sekali tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya karena malah mendapatkan pertanyaan balik, sehingga membuatnya merasa sangat kebingungan.


'Astaga! Kenapa gadis ini malah bertanya balik? Lalu, bagaimana aku melanjutkan pertanyaan untuk mengetahui apakah ia alumni dari SMA-ku?' gumam Sony yang saat ini menggaruk tengkuk belakang.


"Eemm ... itu ...."


Sony yang masih berusaha untuk mencari ide agar tidak terlihat seperti orang bodoh, tapi dipotong oleh kata-kata ejekan dari pria yang berada di sebelah gadis tidak asing itu.


"Apa kau bisu? Kenapa tidak menjawab dari tadi? Atau kamu hanya ingin datang untuk sengaja mendekatinya?" sarkas Aaron yang akhirnya bergerak mendekat dan berdiri di hadapan Anindya.


'Anindya tidak boleh tergoda pada pria ini karena hanya akan menjadi pengganggu dalam kehidupannya.' Hingga Aaron pun mulai berjalan menuju ke arah laki-laki yang sama sekali tidak ia ketahui asal-usulnya tersebut.


Refleks Sony menggelengkan kepala serta menggerakkan tangannya untuk membantah. "Bukan seperti itu. Sebenarnya aku sama sekali tidak mengenalnya, tapi ...."


Sony tidak bisa melanjutkan perkataannya karena sudah dipotong oleh pria yang baru saja mengumpatnya.


"Sudah, diam! Aku sekarang tahu siapa kau. Bahwa kau hanyalah orang yang tengah mencari cara untuk bisa mencari perhatian saja. Sangat tidak penting!" sarkas Aaron yang merasa pemikirannya untuk pria itu benar.


Aaron berpikir jika cara lumrah seperti itu sudah sering dilakukannya dulu. Jadi, mengetahui seperti apa sosok laki-laki yang mencari kesempatan untuk bisa berkenalan.


Apalagi ia tahu jika dari tadi Anindya selalu menyebutnya tuan. Seolah hubungan mereka sama seperti seorang majikan dan pelayan, jadi berpikir jika mungkin yang mendengar berpikir seperti itu.


Refleks Aaron langsung menarik pergelangan tangan Anindya karena berpikir hanya akan membuang-buang waktu saja meladeni pria tersebut.


"Ayo, temanku sudah menunggumu," ujar Aaron yang kini melanjutkan berjalan menuju ke arah parkiran.


Sementara itu, Zea yang dari tadi tidak tahu harus bagaimana, merasa sangat lega begitu merasa jika ia saat ini seolah terbebas dari beban yang melanda.


'Alhamdulilah. Akhirnya aku terbebas dari pertanyaan kak Sony yang sangat berani menghampiri saat tidak mengingat sesuatu tentang aku. Memangnya siapa yang bisa mengetahui nama murid perempuan yang sangat culun sepertimu?'


Zea hanya melambaikan tangan pada mantan ketua OSIS yang ia abaikan karena berpikir jika semuanya hanya kesalahpahaman, sehingga menyelamatkan diri dari kekuasaan mereka.


Di sisi lain, Sony hanya diam di tempat sambil menatap pergerakan gadis dan pria itu.


'Sial ... sial! Baru kali ini aku ingin menghabisi seseorang. Pria itu berlagak sekali. Padahal aku belum selesai berbicara,' gumamnya yang saat ini tengah berjalan menuju ke arah sahabatnya yang dari tadi menunjukkan makanan sudah dingin.


To be continued...