Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Kita buktikan



Khayra benar-benar tidak bisa berkutik ketika kedua sisi lengannya masih belum kunjung dilepaskan dan ditambah lagi tatakan pria itu membuatnya sangat gugup. 'Ya ampun, ditatap sedalam dan sedekat ini oleh tuan Aaron, benar-benar membuatku seperti tertancap anak panah cinta yang membuatku tidak bisa berkutik darinya.'


'Katakan saja jika kamu ingin menikahiku sekarang. Aku pasti akan langsung mengiyakan,' gumam Khayra yang saat ini hanya bisa mengungkapkan keputusannya di dalam hati karena jujur saja masa lalu jauh lebih besar dibandingkan apapun yang dirasakannya.


Hingga ia menyadari kebodohannya ketika degup jantungnya tidak beraturan saat Aaron semakin mendekati wajahnya. Bahkan ia merasa malu pernah berpikir pria itu hendak menciumnya ketika mendekatkan wajah, tapi pada kenyataannya adalah hendak berbisik di telinganya.


"Jangan diam seolah-olah kamu akan patuh atas apapun yang akan kulakukan padamu," bisik Aaron yang saat ini wajahnya masih berada di dekat daun telinga Anindya.


Ia merasa sangat yakin jika gadis itu gugup hanya dengan berdekatan dengannya seperti ini, sehingga tidak bisa berkata-kata lagi untuk menjawab pertanyaan darinya beberapa saat lalu.


Hingga ia yang saat ini merasa tidak sabar karena dari tadi Anindya hanya diam, sehingga kali ini bergerak mundur satu langkah dan melepaskan kuasa. Entah mengapa ia merasa sangat tiba karena gadis itu sampai tidak bisa berkata-kata ketika berada pada posisi intim.


Sebenarnya ia dari tadi sibuk menormalkan perasaannya agar tidak mencium bibir sensual yang seolah melambai untuk kembali disesap dan dilumat seperti dulu.


Ia ingin gadis itu mengungkapkan semuanya tanpa perasaan terpaksa, jadi sekarang melepaskan kuasa. "Sepertinya kamu mendadak berubah kehilangan suara saat kita berada di posisi sangat intim. Baiklah, sekarang aku melepaskanmu dan katakan keputusanmu."


"Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu menerimaku sebagai calon suami?" ucap Aaron untuk kesekian kalinya karena ingin mengingatkan gadis itu agar tidak melupakan pertanyaan darinya.


Sementara itu, Khayra saat ini seolah bisa bernapas lega begitu jarak di antara mereka mulai tercipta. Ia bahkan saat ini meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk menormalkan pernapasan yang dari tadi seperti tidak normal.


"Masih gugup?" Aaron saat ini sudah gagal menyembunyikan apa yang dari tadi dirasakan karena ia tahu jika gadis itu tengah menormalkan perasaannya ketika berhadapan dengannya.


Khayra yang saat ini merasa malu karena ketahuan, mengerjapkan mata saat bersitatap dengan pria yang seolah ingin menertawakannya. Ia berakting sinis dengan menunjuk ke arah dirinya sendiri.


"Siapa? Aku gugup?" Kemudian tertawa terbahak untuk menormalkan perasaan sesungguhnya.


Sementara itu, Aaron yang saat ini bersikap tenang tanpa memperdulikan Anindya yang masih sibuk tertawa. Bahkan saat ini menatap datar gadis di hadapannya yang ia tahu tengah menyembunyikan perasaan sebenarnya.


"Apa kamu pikir aku tidak mendengar suara degup jantungmu yang seperti mau meledak dan melompat dari tempatnya saat tadi menyentuhmu?" ejek Aaron yang saat ini ingin melihat seperti apa raut wajah Anindya.


"Kau salah!" sarkas Khayra yang saat ini langsung membantahnya dan benar-benar sangat kesal saat melihat tatapan penuh ejekan dari Aaron.


Refleks Aaron langsung berjalan mendekat untuk kembali mengulangi hal yang sama. Ia kali ini merasa tertantang untuk membuktikan ucapan gadis yang selalu saja menyembunyikan perasaan sebenarnya. Ia bahkan saat ini tersenyum menyeringai karena rencana di otaknya mulai berjalan.


"Benarkah? Kalau begitu, kita buktikan! Apa seperti ini tidak membuatmu gugup," ucap Aaron yang saat ini langsung menghambur membungkam bibir sensual gadis yang dari tadi menyembunyikan perasaan dengan tertawa terbahak-bahak.


To be continued...