
Khaysila kini sudah berada di IGD setelah tadi beberapa staf perusahaan mengantarkan sang kakek ke Rumah Sakit untuk segera mendapatkan perawatan intensif setelah tiba-tiba pingsan sebelum memberikan informasi tentangnya.
Bahkan kabar tentangnya adalah cucu yang selama ini hilang juga menyebar di media sosial karena beberapa staf perusahaan yang membocorkan. Hingga ada video saat sang kakek mengumumkan pewaris dan kini media dihebohkan oleh kabar tersebut.
Sementara itu, Khaysila yang saat ini masih berada di ruangan IGD, menunggu dokter yang memeriksa sang kakek agar mengetahui semuanya. Begitu melihat pria paruh baya yang kini baru selesai memeriksa, langsung tidak membuang waktu untuk bertanya.
"Apa yang terjadi pada kakek saya, Dokter? Tolong lakukan yang terbaik untuk menyelematkan kakek saya," ujarnya dengan suara serak dan bola mata berkaca-kaca.
Ia sebenarnya dari tadi sibuk menyalahkan diri sendiri kala tidak menyadari jika sang kakek ternyata menyembunyikan kondisi sebenarnya darinya. Jika mengetahui bahwa sang kakek tidak sehat, mana mungkin ia mengizinkan datang ke perusahaan.
Mungkin akan menyuruh sang kakek beristirahat. Ia kini melihat sang dokter malah berekspresi yang menyedihkan dengan mengembuskan napas berat.
"Kondisi pasien saat ini tengah drop dan penyakit yang diderita makin menggerogoti imunitasnya hingga berakhir tidak sadarkan diri. Bahkan saat ini bisa dibilang jika penyakit kronis yang diderita makin kuat, tapi kami akan selalu melakukan yang terbaik." Sang dokter yang bisa melihat raut kesedihan dari gadis muda di hadapannya, kini mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Ia ingin tahu apakah ada keluarga lainnya untuk membicarakan mengenai beberapa kemungkinan buruk. "Apakah keluarga pasien hanya Anda?"
Refleks Khaysila langsung mengangukkan kepala lemah karena kini tenaganya seperti menghilang saat ini setelah berbicara dengan dokter. "Kakek hanya memiliki saya, Dokter. Memangnya apa ada hal yang lebih buruk dari ini yang harus saya dengar?"
Saat ia baru saja menutup mulut, mendengar suara bariton dari pria paruh baya yang ia ketahui adalah asisten pribadi sang kakek. Ia tahu karena sang kakek tadi berbicara padanya.
"Bagaimana keadaan Presdir, Nona Khaysila?" tanya sang asisten yang baru saja mendapatkan sebuah kabar buruk mengenai perusahaan. Jadi, ingin membahasnya dengan sang cucu bosnya demi meredam kekisruhan di perusahaan dan menyangkut saham di perusahaan.
Sang dokter yang kini melihat sosok pria paruh baya di hadapannya, kini merasa yakin untuk mengatakan hal sebenarnya.
"Pasien saat ini mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh dan semuanya karena dampak penyakit yang diderita. Semoga pasien segera sadar karena jika tidak, yang terjadi akan sangat fatal." Kemudian menatap ke arah dua orang di hadapannya.
"Pasien akan dipindahkan ke ruang ICU dan dipantau perkembangannya." Kemudian melangkah pergi setelah memberikan perintah pada para perawat.
Sementara itu, Khaysila yang saat ini mencoba untuk menguatkan hati agar tidak menangis melihat sang kakek, kini mendengar suara bariton dari asisten di sebelahnya.
"Nona, kejadian hari ini memang membuat semua orang terkejut luar biasa. Jadi, tolong jangan patah semangat dan lemah karena ada tugas yang menanti Anda." Ia pun mengembuskan napas kasar kali ini.
"Ada seseorang yang menyebarkan video tuan dan sudah menghiasi media sosial. Meskipun saya sudah menyuruh ahli IT untuk menghapusnya, tetap masih ada yang menyimpannya. Jadi, perusahaan sekarang kacau dan para pemegang saham mengatakan jika tidak pantas untuk memimpin."
"Jadi, tolong tunjukkan pada semua orang yang meremehkan Anda bahwa kepercayaan kakek Anda tidaklah sia-sia. Anda harus ikut saya ke perusahaan besok untuk menyingkirkan orang-orang yang mengincar Anda."
Ia sengaja berbicara panjang lebar agar sang cucu mengerti jika keadaan sangat darurat. 'Semoga nona bisa menjadi seorang wanita kuat seperti yang diharapkan Presdir.'
Khaysila yang tadinya hanya fokus pada sang kakek, kini sudah tahu ke mana arah pembicaraan pria itu. "Aku tetap akan menunggu kakek dan tidak perduli pada pertemuan tidak penting itu."
To be continued...