Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Mengenalkanmu pada seseorang



"Lo pesan makanan dan minuman seperti biasa! Gue cari tempat duduk!" ucap seorang laki-laki remaja yang baru saja menaruh helm di atas motornya dan mengibaskan tangan pada sahabatnya.


"Oke. Aku pesan dulu," sahut laki-laki dengan mengenakan jaket kulit hitam yang langsung menuju ke arah angkringan.


Sementara itu, sosok laki-laki lainnya tengah berjalan menuju ke arah tikar kosong yang tidak ditempati dan begitu menemukan tersisa satu tempat duduk yang kosong, mendaratkan tubuhnya di sana dan menatap ke arah sekeliling, banyak anak muda yang datang untuk nongkrong.


Namun, ada salah satu pasangan yang membuatnya mengerutkan kening karena merasa pernah melihat sang gadis dengan rambut dicepol tinggi ke atas.


'Gadis itu? Rasanya seperti tidak asing, tapi siapa ya?' gumam remaja bernama Sony yang masih tidak mengalihkan perhatian dari pasangan yang ada di sudut sebelah kiri.


Sementara itu di sisi lain, sosok gadis dengan wajah dipenuhi raut kekhawatiran yang tak lain adalah Zea, sibuk merapal doa di dalam hati agar laki-laki yang baru datang tidak akan mengenalinya.


'Semoga saja ia tidak mengenali aku. Lagipula kami sudah setahun tidak bertemu,' gumam Zea yang saat ini tengah mengingat jika laki-laki yang merupakan mantan ketua OSIS di sekolahnya dulu itu sangat dikaguminya.


Bahkan menjadi anak laki-laki paling populer di sekolah dulu. Namun, meskipun demikian, tidak terlihat dekat dengan satu murid perempuan. Sebuah hal yang menjadi alasan Zea dulu sangat mengagumi Sony semenjak jadi junior adalah itu.


Bahwa Sony tidak pernah memanfaatkan ketampanannya dan kepopuleran di kalangan anak perempuan untuk menjalin hubungan. Bisa dibilang, Zea yang culun mengalami cinta monyet yang bertepuk sebelah tangan dengan Sony.


Apalagi ia dulu pernah dibully dengan penampilan cupu dan kutu buku, tapi hanya Sony yang tidak pernah menyepelekannya. Bahkan melarang beberapa orang yang menghinanya, sehingga makin mengaguminya.


'Ternyata kak Sony makin cakep setelah lama tidak melihatnya. Pasti ia di kampus juga jadi salah satu cowok populer,' gumam Zea yang saat ini baru menyadari jika Aaron mengajaknya berbicara.


"Kalau sudah kenyang, ayo kita pergi!" ucap Aaron yang sebelumnya baru saja membaca pesan dari sahabatnya yang meninggal kedatangannya di rumah.


"Astaga! Apa yang kamu pikirkan sekarang, Anindya?" tanya Aaron dengan suara cukup keras untuk menyadarkan lamunan gadis di hadapannya.


Saat Zea menyadari kebodohannya karena sibuk mengkhawatirkan jika mantan senior di SMA mengenalinya, kini menyadari jika sekarang namanya berubah menjadi Anindya. Ia dari tadi tidak berani melirik pada tempat duduk sang ketua OSIS di sekolah dulu.


'Kak Sony tidak akan pernah mengingatku karena aku hanyalah gadis culun yang sangat cupu di sekolah dulu. Apalagi hari ini penampilanku berbeda,' gumam Zea yang kini berpura-pura berakting di depan Aaron.


"Aaah ... ayo kita pulang, Tuan Aaron. Maaf karena tadi aku sebenarnya tengah mengingat-ingat tentang makanan favorit. Siapa tahu bisa mengingat tentang masa laluku." Zea bahkan sudah bangkit berdiri dari posisinya yang tadinya duduk di lantai dengan dialasi tikar itu.


Ia bisa melihat jika Aaron tidak lagi mencurigainya karena melihat pria itu melakukan hal sama sepertinya. Jadi, bisa bernapas lega dan masih tidak berani melirik ke arah sosok laki-laki yang duduk tak jauh darinya.


"Tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya. Biarkan semuanya berjalan natural karena jika dipaksakan, malah akan berakibat tidak baik untuk syarafmu." Aaron refleks menggandeng tangan Anindya dan berjalan menuju ke arah parkiran.


"Ayo kita pergi karena aku akan mengenalkanmu pada seseorang." Saat Aaron masih menggandeng tangan Anindya, indra pendengaran menangkap suara bariton dari laki-laki yang sangat keras.


Begitu pun dengan Zea yang saat ini seketika berdegup kencang jantungnya begitu mendengar suara bariton dari ketua OSIS dulu di SMA.


"Hei, anak SMA satu!"


To be continued...