
"Maaf karena datang terlambat," ucap Aaron saat ini melihat baby sitter Tengah menggendong putranya. Ia bahkan merasa sangat senang bisa kembali menatap darah dagingnya yang saat ini membuka mata dan menatap ke sembarang arah.
Rasanya ingin sekali langsung mengulurkan tangan agar bisa menggendong putranya yang berada di gendongan sang baby sitter yang ditolaknya kemarin ketika meminta nomor.
Bahkan ia bisa mengetahui jika wanita itu sangat kesal padanya karena tidak mau menanggapi perkataannya sama sekali. Aaron yang saat ini dicueki oleh sang baby sitter, merasa bingung harus berbicara apa lagi.
Wanita berseragam merah jambu yang tadinya berniat untuk mengajak bayi yang digendongnya ke depan karena tadi rewel ketika berada di dalam kamar. Namun, sangat terkejut ketika tanpa sengaja di hadapannya berdiri sosok pria yang telah menolaknya mentah-mentah kemarin.
'Menyebalkan sekali bertemu dengan pria ini lagi dan sepertinya aku akan terus melihatnya setiap hari karena akan menjadi terapis tuan Kenzie. Apa aku mengundurkan diri saja dari pekerjaan ini karena sangat tidak nyaman bertemu dengan pria yang sama sekali tidak tertarik padaku. Padahal aku sangat menyukainya.'
'Apalagi melihat wajah tampan pria ini membuatku terpesona dan makin tergila-gila padanya jika setiap hari harus melihatnya,' gumamnya saat ini ketika mencoba untuk mengalihkan perhatian dari pria itu.
"Apa mommy dari baby ada di dalam? Tadi kepala pelayan bilang jika mommy dari baby ingin bertemu denganku." Aaron tidak mungkin cuek pada wanita itu karena berpikir jika akan membuatnya tidak nyaman saat bekerja.
Namun, usahanya sama sekali tidak berguna kala masih mendapatkan sikap ketus dari wanita yang ditebaknya lebih tua dari Anindya, tapi bersikap kekanak-kanakan karena tidak bisa menerima kenyataan jika ditolak.
Sementara Anindya tidak akan pernah menampilkan sikap seperti itu karena dulu gadis itu tetap bersikap biasa padanya dan tidak membuatnya risi. Hal itulah yang membuatnya merasa sangat nyaman dulu ketika berada di samping Anindya dan membuatnya berakhir jatuh cinta pada gadis itu.
"Langsung masuk saja untuk melihat secara langsung," sarkas yang baby sitter yang saat ini memilih untuk pergi meninggalkan pria itu menuju ke taman karena ingin duduk di salah satu gazebo yang ada di sana.
Memang ia tahu jika pria itu adalah terapi dari bayi yang digendongnya saat ini, tapi mengetahui jika akan membahas sesuatu dengan kepala pelayan terlebih dahulu, sehingga memilih pergi.
Bahkan ia berharap nanti pria itu menyusulnya ketika hendak melakukan terapi. Berpikir bawa gazebo yang ada di dekat taman yang ada air mancurnya merupakan tempat yang paling cocok dan tepat karena didukung dengan suasana tanaman hijau serta bunyi air yang gemericik.
Hingga ia berpikir jika bisa berduaan dengan pria tampan itu di sana, sama seperti tengah berkencan di tempat wisata. 'Meskipun pria itu sudah menolakku, tetap saja mempunyai pikiran sekonyol ini karena tidak bisa menghilangkan rasa suka aku ketika menatap wajahnya yang sangat tampan itu.'
Ia yang berbicara sendiri di dalam hati saat berjalan menuju ke arah taman, tidak memperdulikan pria yang ia cueki dan tinggalkan. Padahal sebenarnya di dalam hati ingin menatap pria itu lebih lama, agar bisa mengagumi ketampanan yang dimiliki.
Sementara itu, Aaron yang saat ini tidak ingin mengambil pusing atas sikap wanita yang baru saja meninggalkannya, melangkah masuk ke dalam untuk menemui kepala pelayan atau mungkin Anindya yang belum berangkat ke kantor.
Meskipun ia berharap itu tidak terjadi dan menginginkan gadis itu sudah berangkat ke perusahaan karena ini sudah terlalu siang. 'Tidak mungkin Anindya jam 10 belum berangkat ke kantor.'
Saat ia memenuhi pikirannya dengan energi positif agar tidak dipenuhi oleh kekhawatiran ketika memikirkan Anindya, kini mendengar suara wanita yang berjalan menghampirinya.
"Mas sudah datang rupanya," ucap wanita paruh baya yang saat ini menatap ke arah kantong plastik besar yang ia sudah tebak jika itu adalah alat terapi yang kemarin dipesannya.
"Maaf karena datang terlambat, Nyonya. Ini alat untuk terapi baby." Kemudian meletakkan di atas meja dan menunggu apa yang akan dikatakan wanita itu mengenai Anindya.
Wanita dengan tubuh sedikit gemuk tersebut menganggukkan kepala dan kini berjalan menuju ke arah laci karena tadi mendapatkan pesan dari majikannya untuk membahas mengenai kontrak kerjasama sebagai terapis.
"Tadi sebenarnya nyonya menunggu karena ingin memberikan ini. Bisa dibaca dulu baik-baik sebelum ditandatangani. Hingga ia pun harus berangkat ke kantor karena Mas tidak kunjung datang juga." Kemudian memberikan kertas yang tadi sengaja dibuat oleh majikannya secara khusus.
Itu karena majikannya tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada putranya dan memilih untuk membuat sebuah surat perjanjian kontrak kerjasama dan di dalamnya ada poin-poin penting mengenai sang baby dan aku terapis untuk hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Aaron saat ini mulai mengerti kenapa Anindya menunggu kedatangannya karena bukan ingin melihat seperti apa orang yang menjadi terapis untuk putranya, tapi hanya ingin menyampaikan tentang perjanjian kerja.
Ia saat ini fokus menatap ke arah satu lembar kertas di tangannya dan berpura-pura untuk mempertimbangkan. Padahal sebenarnya di dasar hati yang paling dalam ingin langsung menandatangani tanpa membacanya. Apalagi begitu mengetahui jika Anindya telah melahirkan darah dagingnya yang disembunyikan darinya.
Jadi, bertekad untuk terus bertemu dengan putranya sampai akhirnya ketahuan oleh Anindya. Bahkan iya juga ingin mengajak sang ibu melihat sang cucu dengan menyamar sepertinya.
Namun, sadar jika tidak bisa melakukan itu setiap hari karena hanya akan mendapatkan sebuah kecurigaan dan ia tidak ingin mengambil resiko.
"Saya sudah membaca semuanya dan sama sekali tidak keberatan. Saya setuju dengan semua poin-poin yang dicantumkan di sini dan akan memperhatikan hal-hal yang dilarang. Jadi, anda tidak perlu khawatir dan bisa mengatakannya pada nyonya besar."
Kemudian mengambil pulpen dari dalam tas punggung miliknya, lalu langsung menandatangani tanpa pikir panjang lagi karena semua hal yang baru saja dibacanya tersebut tidak ada yang buruk dan bisa dilakukan.
Saat ini, kepala pelayan merasa sangat lega karena pria itu sama sekali tidak keberatan dengan syarat-syarat yang ditentukan oleh majikannya dan akan melaporkan. Ia tadi sudah diberitahu untuk menyampaikan keputusan terapis apakah setuju atau tidak dengan beberapa daftar yang dibuat oleh bosnya tersebut.
Aaron saat ini mengembalikan kertas yang sudah ditandatangani olehnya. "Ini suratnya, Nyonya."
"Apa Mas tidak ingin mengetahui berapa gaji yang diberikan oleh nyonya?" tanya kepala pelayan yang saat ini baru saja mengeluarkan amplop dari saku rok panjang yang dikenakannya.
Aaron saat ini menggelengkan kepala karena baginya uang tidaklah penting sama sekali. Ia tidak membutuhkan uang karena hanya ingin bertemu dengan putranya setiap hari dan bisa memberikan kasih sayang sebagai seorang ayah meski harus menyamar sebagai terapis.
"Saya biasanya dibayar sesuai dengan UMR di kota ini, Nyonya. Jika lebih dari itu, benar-benar sangat bersyukur," ucapnya yang saat ini menatap ke arah sang pelayan yang mengulurkan amplop coklat dan sudah ditebaknya jika itu berisi lembaran uang cukup tebal.
Namun, ia tidak bisa menebak berapa nominal uang di dalam amplop itu karena jarang membawa uang cash. Ia yang selama ini selalu bertransaksi apapun dengan debit, jadi tidak bisa menghitung ataupun mengira kira-kira berapa nominal uang yang kini sudah dipegangnya.
"Itu tadi dari nyonya langsung karena tidak mengetahui nomor rekeningmu, jadi membayar secara cash sebagai gaji di awal. Jadi, itu sekalian sudah ditotal dengan alat terapis yang kamu bawa ini." Memeriksa apakah yang dibawa pria itu benar pesanannya dan akan langsung dibawa ke kamar.
Aaron saat ini membuka amplop tersebut dan berniat untuk berbohong mengenai rekening karena tidak mungkin memberikan nomor dengan namanya dan ketahuan oleh Anindya.
"Saya lebih suka dibayar secara tunai daripada lewat rekening dan ribet untuk mengambil saat membutuhkan. Biasanya menyimpan uang dengan dimasukkan ke dalam kaleng dan disimpan di dalam lemari." Aaron sebenarnya ingin tertawa sendiri ketika berbicara sangat konyol.
Ia bahkan tidak tahu bagaimana bisa mempunyai sebuah ide berbicara seperti itu pada kepala pelayan yang kini menertawakannya. Namun, ia lebih senang dianggap sebagai seorang pria yang culun dan tidak mengikuti tren.
"Jadi kamu menyimpan uang di dalam kaleng biskuit? Bagaimana jika sampai ada maling yang menemukan dan langsung membawa semua uangmu? Bukankah menyimpan uang di bank sangat aman dan tidak beresiko seperti menyimpan di rumah?" tanya pelayan yang saat ini merasa sangat heran bisa bertemu dengan pria yang tidak mengikuti perkembangan zaman.
Padahal ia melihat jika pria itu memiliki paras rupawan dan penampilan sangat rapi dan tidak kampungan, jadi merasa heran.
"Pemikiran tiap orang beda, Nyonya karena saya mendengar kabar miring mengenai beberapa bank yang bermasalah. Bahkan ada banyak nasabah yang mengeluhkan uang hilang di bank. Jadi, menurut saya lebih aman menyimpan sendiri di rumah, meskipun hanya dimasukkan dalam kaleng biskuit."
Aaron kebetulan kemarin melihat berita terbaru tentang demo beberapa nasabah yang kehilangan uang di bank. Jadi, sekalian ia memanfaatkan itu sebagai alasan agar dipercayai.
Hingga saat ia baru saja menutup mulut, mendengar suara tangisan dari luar dan seketika berjalan keluar setelah memasukkan amplop berisi uang ke dalam saku celana. Tanpa berniat untuk menghitung berapa nominal uang yang diberikan oleh Anindya karena berniat untuk menjadikan kenang-kenangan.
Bahwa itu adalah nafkah pertama yang diberikan oleh Anindya padanya sebagai seorang cucu dari pengusaha sukses terkenal di kota ini sekaligus presiden direktur di perusahaan Kusuma.
Sementara itu, kepala pelayan pun juga melakukan hal sama, yaitu berjalan mengekor sosok pria yang menjadi terapis untuk baby. "Sepertinya tuan Kenzie mulai rewel di jam-jam segini."
"Iya karena baby pasti tidak merasa nyaman saat siang hari yang notabene sangat panas dan pasti tubuhnya gerah. Atau merasakan yang lainnya dan biar saya cari tahu penyebabnya nanti," ucap Aaron yang saat ini sudah tiba di gazebo dan melihat wanita yang sibuk menenangkan baby.
Ia bahkan tidak membuang waktu dan langsung mengulurkan tangannya untuk meminta putranya yang rewel dan menangis. "Biar aku saja."
Terpaksa sang baby sitter menyerahkan bayi dalam gendongannya tersebut pada pria yang membuatnya kesal itu. Ia setelah merasa menjadi wanita tidak berguna dari pekerjaannya begitu bertemu dengan pria yang memiliki paras rupawan tersebut.
Namun, tidak dipungkiri jika ia merasa senang di tempat kerja ada seorang pria tampan yang bisa dilihat setiap hari.
'Lebih baik aku menganggap melihat pria ini adalah sebuah hiburan karena bisa cuci mata sambil bekerja. Kapan lagi bisa seperti ini dan kesempatan tidak datang dua kali, jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin,' gumamnya di dalam hati sambil tidak berkedip menatap ke arah pria yang tengah melakukan gerakan seperti memijat ketika duduk di gazebo.
Aaron bahkan semalam di rumah sakit sudah belajar mengenai berbagai macam hal tentang terapis bayi. Jadi, sekarang ingin menerapkannya pada putranya yang tengah rewel meskipun sudah digendong.
Bahkan ia tidak hanya melakukan pijatan lembut pada putranya yang saat ini sudah ia posisikan tengkurap, tapi juga mengajak berbicara sebagai stimulasi perkembangan otak.
"Jagoan mommy harus jadi anak pintar, ya ganteng. Nanti saat besar harus jadi anak yang bisa membuat mommy bangga, ya Sayang. Kenzie yang paling tampan dan pintar adalah putra mommy yang paling cantik. Saat mommy kerja, Kenzie harus menurut dan tidak rewel biar mommy bisa tenang mencari uang, ya."
Saat tadi putranya masih menangis tersedu-sedu, Aaron terus melakukan pijatan lembut dan mengajak mengobrol seperti layaknya berbicara dengan orang dewasa. Itu karena ia mengerti jika meskipun bayi, tetap saja bisa memahami dan mengerti apa maksudnya.
Bahwa bayi juga ingin diajak bicara dan tidak didiamkan seolah tidak tahu apapun. Padahal sejatinya, perasaan seorang bayi jauh lebih sensitif daripada orang dewasa. Terkadang para orang tua tidak menyadari hal itu dan membuat perasaan bayi tidak nyaman.
Selain kenyamanan secara fisik, tapi secara naluriah juga dibutuhkan hal serupa dan saat ini diterapkan pada putranya dengan mengajak berkomunikasi seperti berbicara dengan orang dewasa dan yakin jika bayi yang terdiam tersebut mengerti maksud apa yang diucapkan.
Terbukti saat ini sudah diam menikmati pijatan lembut dan setelah dirasa cukup, membuatnya kini merubah posisi putranya agar jauh lebih nyaman. Ia saat ini bangkit berdiri dan menatap ke arah dua wanita berbeda usia tersebut.
"Sepertinya setelah minum susu, baby akan langsung tertidur nyenyak. Aku akan menunjukkan posisi tidur yang nyaman ketika menurunkan baby di atas ranjang setelah tertidur. Apa aku boleh pergi ke kamarnya untuk menunjukkannya?"
Aaron dari semalam penasaran dengan ruangan pribadi Anindya dan putranya karena berpikir nanti bisa memberikan sebuah kenyamanan jika suatu saat menikahi Anindya dan menjadi ayah untuk bayi yang digendongnya tersebut.
Saat ini, kepala pelayan dan babysitter tersebut saling bersitatap karena tidak tahu harus menjawab apa. Mereka apanya tidak pernah berpikir jika terapis itu akan meminta izin untuk menidurkan baby di ruang kamar majikan.
Jadi, saat ini tidak langsung mengambil keputusan karena memang ruangan pribadi seorang wanita tidak boleh dimasuki oleh pria lain yang bukan siapa-siapa dan pastinya akan mendapatkan kemurkaan dari majikan jika memberikan izin.
To be continued...