
Erick yang saat ini tengah menikmati makanan sambil menceritakan tentang kejadian kala Aaron setiap hari datang ke kampus untuk mengancamnya agar bicara jujur mengenai keberadaan dari gadis yang duduk di hadapannya tersebut.
"Sumpah, aku benar-benar risih pada si berengsek itu, Zea. Bisa-bisanya dia setiap hari merecoki aku seperti aku ini pacarnya karena datang ke kampus. Yang ada aku mual setiap kali melihat wajahnya." Erick mengakhiri ceritanya dengan minum air putih yang sudah tersedia di hadapannya.
Sementara itu, Zea yang dari tadi memasang indra pendengaran untuk mendengar cerita dari sosok pria di hadapannya, seketika tertawa kala melihat ekspresi wajah kesal Erick.
"Aku tidak bisa membayangkan saat kalian berdebat, pasti membuat banyak orang susah untuk memisahkan. Apalagi tuan Aaron selalu tersulut emosi kala melihatmu. Sebenarnya aneh sekali melihatnya bersikap seolah-olah sangat membencimu."
Saat Zea baru saja menutup mulut, ia merasa ada ribuan anak panah menancap di jantungnya kala Erick menanggapinya.
"Sudah kubilang kalau si berengsek itu memiliki rasa padamu. Makanya dia tidak ingin aku mendekat atau pun merayumu. Padahal meskipun aku sudah bersusah payah untuk membuatmu jatuh cinta padaku, sama sekali tidak ada hasilnya." Erick merasa terluka mengatakan kebenaran itu.
Apalagi ia tidak bisa melupakan bagaimana Zea jujur saat mengungkapkan perasaan sebenarnya pada Aaron.
'Sebenarnya apa masalah yang terjadi di antara mereka? Jika Aaron memiliki perasaan pada Zea, begitu pun sebaliknya, bukankah gampang mereka bersatu? Tapi aku sangat senang Zea memilih pergi dan berada di sini,' gumam Erick yang kini sibuk merapal doa agar Aaron tidak menemukan gadis di hadapannya.
Zea yang saat ini mengingat kala Aaron menyebut nama Jasmine ketika berada di atas tubuhnya, hanya meremas pakaian bagian bawah yang berada di bawah meja.
Hingga ia seketika tertawa terbahak-bahak menanggapi apa yang dianggap omong kosong itu. "Tuan Aaron mana mungkin mencintai gadis pendek, miskin dan tidak menarik sepertiku saat mempunyai seorang kekasih yang sangat cantik dan berprofesi sebagai model."
"Bahkan dia sampai mabuk-mabukan karena patah hati ditinggalkan nona Jasmine. Bukankah itu sudah menjelaskan jika cintanya sangat besar untuk wanita yang telah kabur di hari pernikahannya itu?" Wajah Zea seketika memerah mengingat tentang hal itu.
Ia benar-benar sangat membenci Aaron dan tidak ingin bertemu pria yang telah meninggalkan luka di hatinya saat ini. Apalagi setiap malam ia tidak bisa tidur nyenyak karena selalu terbayang kejadian nahas kala Aaron memperkosanya.
'Pria berengsek itu tidak akan pernah bisa move on dari wanita yang telah mengkhianati kepercayaannya. Biarkan dia larut dalam kehancurannya karena mencintai wanita yang telah pergi darinya.'
Zea saat ini berpikir jika Aaron hanya berpura-pura mencarinya, padahal di dalam hati senang ia telah pergi. Kini, ia menatap Erick yang hanya diam tanpa berkomentar melihatnya tertawa.
"Oh ya, kamu ke sini rencananya mau langsung pulang atau beberapa hari? Aah ... tidak mungkin beberapa hari karena harus kuliah, kan?" Zea yang tadinya berpikir tempat untuk Erick, bingung jika harus tinggal di rumahnya.
Zea yang saat ini merasa kebingungan, refleks menggebrak meja di hadapannya. "Tidak bisa, Erick!"
"Astaga, kaget aku!" seru Erick yang seketika memegang dadanya. "Kamu mengagetkan saja, Ayang. Memangnya kenapa tidak bisa? Aku bisa tidur di sofa jika tidak ada kamar."
Zea kini bangkit berdiri sambil memijat pelipis. "Bukan itu, Erick. Ini di kampung dan aku adalah perempuan, sedangkan kamu laki-laki. Mana boleh tinggal dalam satu rumah. Bisa digerebek warga nanti dan dikira kita berbuat macam-macam."
Sebenarnya Zea merasa tidak tega pada Erick, tapi ia tahu jika peraturan di kampung jauh lebih ketat ketimbang di kota besar yang terbiasa bebas. Hingga ia pun kini mendengar suara bariton dari Erick yang memberikan sebuah solusi.
"Kalau begitu, aku akan lapor ketua RT dan mengajaknya menginap di sini agar tahu jika aku tidak akan pernah macam-macam padamu, Ayang. Di mana rumah ketua RT-nya. Aku akan langsung melapor." Erick yang merasa sangat rindu pada Zea, tidak ingin menginap di hotel.
Ia bahkan ingin memanfaatkan waktu semalaman untuk sekedar mengobrol dengan gadis yang telah mematahkan hatinya, tapi tetap tidak bisa berpaling.
Di sisi lain, Zea saat ini merasa sangat bingung harus bagaimana. "Astaga, Erick. Itu jadi merepotkan ketua RT jadinya. Eem ... begini saja. Aku ada ide."
"Ide apa? Sepertinya itu sangat merugikanku." Erick menatap wajah cantik gadis di hadapannya dengan mengintimidasi. Ada kecurigaan yang dirasakan saat ini.
Hingga ia membulatkan kedua matanya begitu apa yang dikatakan Zea benar-benar tidak menguntungkannya.
"Kamu lapor pak RT sekalian meminta izin untuk menginap di rumahnya. Oh ya, putri pak RT sangat cantik lho. Lumayan buat cuci mata," ejek Zea yang mencoba untuk menguraikan suasana dengan menggoda Erick.
Hingga untuk kesekian kalinya ia mengerjapkan mata karena mendapatkan sebuah kalimat mengintimidasi ketika Erick kesal padanya.
"Ayang benar-benar tidak punya perasaan. Daripada aku cuci mata dengan anak pak RT, aku panggil pak penghulu saja untuk menghalalkanmu agar bisa menginap di sini tanpa ada banyak alasan dan ***** bengek di kampung ini."
Erick benar-benar sakit hati saat usahanya untuk terbang jauh-jauh dari Jakarta ke Jogja malah mendapatkan tanggapan tidak sesuai ekspektasinya karena meskipun sudah berjauhan dengan Aaron, tetap tidak bisa menggapai dan meluluhkan hati Zea.
To be continued...