
"Nona, ada telpon dari pelayan yang ada di rumah," ucap seorang pria paruh baya yang saat ini baru saja masuk ke dalam ruangan ICU setelah mengetuk pintu.
Sementara itu, Khaysila yang tadinya menunggu sang kakek sambil mengajak berbicara, ia menoleh ke arah pria yang merupakan supir di keluarga Kusuma, seketika mengangukkan kepala dan berjalan mengekor.
Tadi ia memang langsung menonaktifkan ponselnya karena tidak ingin diganggu siapa pun agar bisa fokus pada keadaan sang kakek malam ini. Bahkan berencana untuk menginap di Rumah Sakit setelah mengabarkan pada baby sitter agar mengurus putranya di rumah.
Merasa ada yang tidak beres di rumah dan langsung mengingat putranya, kini ia menerima ponsel dari pria paruh baya itu. "Tolong tunggu sebentar di ruangan ini selama aku mengangkat telpon."
"Baik, Nona muda." Sang supir pun kini melangkahkan kakinya mendekati ranjang dan duduk menunggu di samping kiri majikannya yang masih menutup mata dan ditopang dengan banyak alat-alat medis.
Di sisi lain, Khaysila kini langsung membuka suara untuk menyapa di telpon.
"Apa ada masalah yang terjadi pada putraku, Bik," tanya Khaysila pada kepala pelayan.
"Iya, Nona muda. Tuan muda Kenzie dari tadi rewel sampai sekarang. Bahkan sudah minum susu pun masih menangis dan tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya." Kepala pelayan yang kini ingin menunjukkan bagaimana rewelnya bayi laki-laki tersebut, mengalihkan dengan video call.
Khaysila yang kini langsung memencet tombol pengalihan telpon, bisa melihat serta mendengar tangisan putranya yang membuatnya merasa bersalah.
"Pasti putraku juga bisa merasakan apa yang terjadi pada kakek," lirihnya dengan perasaan berkecamuk dan mata berkaca-kaca. "Aku akan pulang sekarang, Bik. Tolong kirim dua pelayan untuk menjaga Kakek malam ini. Aku tidak tega melihat putraku, jadi akan pulang."
"Baik, Nona muda. Biar saya saja yang menjaga tuan besar dan Anda fokus saja pada tuan Kenzie. Kalau begitu, saya bersiap sekarang berangkat ke Rumah Sakit."
Khaysila hanya tersenyum miris sambil menganggukkan kepala karena saat ini tidak bisa banyak berbicara saat perasaan tidak menentu. Ia pun kini langsung masuk ke dalam ruangan ICU dan menghampiri sang supir.
"Tolong jaga kakek sampai bibik datang. Aku akan pulang sekarang, jadi berikan kunci mobilnya." Kemudian mengambil tas miliknya di atas laci setelah mengembalikan ponsel milik sang supir.
"Iya, tidak perlu khawatir karena mulai sekarang aku harus bisa melakukan apapun saat ini. Kakek pasti akan bangga padaku saat sadar nanti karena bisa menghandle semuanya saat ia sakit." Ia pun kini menerima kunci mobil dan langsung keluar dari ruangan setelah membuat sang supir tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Apalagi ia sudah lama belajar menyetir dulu atas perintah sang kakek agar jika ada keadaan darurat, bisa mengemudikan mobil yang jumlahnya cukup banyak di garasi. Baik mobil sport mahal dan mewah lainnya.
Tanpa sepengetahuannya, saat ia baru beberapa menit meninggalkan area Rumah Sakit, Erick baru saja tiba di lobi. Tadi Erick menyuruh supir taksi menurunkan di jalan saat macet dan memilih naik ojek online. Jadi, bisa lebih cepat tiba di Rumah Sakit.
Setelah bertanya pada bagian informasi tentang pria konglomerat bernama Candra Kusuma, ia langsung menuju ke ruangan ICU dan merasa sangat kecewa kala mendapatkan informasi jika Zea baru saja pulang.
Bahkan ia tadi meminta alamat tempat tinggal pada pria yang tengah menunggu kakek Zea, tapi tidak diberikan informasi. Akhirnya dengan langkah gontai, Erick keluar dari lobi Rumah Sakit dan kembali bertemu dengan Aaron yang terlihat mendekat.
"Cepat sekali kau tiba di Rumah Sakit. Aku pikir kau langsung ke hotel, ternyata juga ke sini. Apa kau sudah bertemu dengan Anindya atau Zea, aah ... Khaysila?" tanya Aaron yang merasa ada hal tidak beres begitu melihat wajah muram dari Erick.
"Lebih baik ke hotel sekarang karena Zea baru saja pulang beberapa menit lalu dan kita sama-sama terlambat dan tidak bisa bertemu dengannya." Erick kini kembali berjalan ke depan.
"Tunggu! Apa kau ingin menipuku dan berniat untuk pergi ke kediaman Zea? Kau pasti sudah tahu alamat lengkapnya, kan dari orang yang mengatakan jika Zea baru pulang ke rumah?" Aaron bahkan saat ini masih memegang lengan Erick agar menjawabnya.
Karena kesal efek tidak bisa bertemu gadis yang sangat dirindukannya, refleks Erick mengempaskan tangannya dan mengarahkan tatapan tajam. "Jangan ganggu aku! Bukankah tadi jelas kukatakan jika mulai hari ini kita jalan sendiri-sendiri? Jadi, terserah aku mau ke rumah ayang atau tidak."
Tentu saja Aaron masih sangat ingat kata-kata Erick padanya tadi ketika di bandara. Namun, ia tidak berhasil mendapatkan alamat lengkap Zea, sehingga kini memilih untuk berjalan mengekor Erick.
'Lebih baik aku buntuti saja si berengsek menyebalkan ini. Jika bukan demi Zea, ogah banget aku dekat-dekat dengan cecunguk ini,' gumam Aaron yang kini langsung menghubungi nomor supir tadi.
To be continued...