
Beberapa saat lalu, Aaron dan sang ibu baru saja mengatakan jika akan menjaga rahasia tentang bayi yang sudah bisa ditebak tanpa memiliki ayah karena Anindya belum menikah. Jadi, mengerti ke mana arah pembicaraan dari kepala pelayan tersebut pada mereka.
Namun, Aaron seketika membulatkan mata dan melirik ke arah sang ibu begitu mendengar kepala pelayan yang baru saja berbicara dengan Anindya di telepon dan memerintahkan pada mereka untuk tetap tinggal sampai gadis itu pulang dari perusahaan.
"Tidak apa-apa kan jika menunggu sampai nona pulang ke rumah? Hari ini dihitung lembur karena nona biasa tiba di rumah sore pukul 5. Lagipula tadi pagi belum bertemu dengan nona, bukan?" tanya kepala pelayan yang saat ini menatap ke arah dua orang di hadapannya.
Sementara itu, Aaron yang saat ini merasa kebingungan menjawab, kini memilih untuk bertanya pada sang ibu, mengenai apa yang harus dilakukan. "Bagaimana? Kamu tidak keberatan jika pulang terlambat, kan?"
Jennifer yang saat ini sama kebingungan dengan putranya karena semua penyamaran mereka akan berakhir begitu bertemu dengan nona yang dimaksud, yaitu Anindya.
"Ehm ... sebentar, aku bertanya dulu nanti pada suami dan anakku karena pasti mereka akan bertanya-tanya karena tidak kunjung pulang seperti biasanya." Ia saat ini tidak punya ide untuk menghindar selain mengatakan hal lumrah seperti itu.
Hingga saat putranya terlihat kebingungan untuk mengambil keputusan, mendengar suara dering ponsel, tapi tidak diangkat. "Ada telpon, kenapa tidak diangkat?"
Refleks Aaron menggelengkan kepala karena benar-benar pusing dan mana mungkin bisa mengangkat telepon saat keadaan darurat seperti ini. Apalagi ia sama sekali tidak tertarik untuk mencari tahu siapa yang menghubunginya.
Ia berpikir untuk menghindar bertemu dengan Anindya karena jujur saja masih belum siap berpisah dengan putranya. Tentu saja mengetahui jika Anindya tidak akan pernah membiarkannya bertemu lagi dengan darah dagingnya setelah mengetahui semuanya.
"Angkat saja, siapa tahu penting," ucap kepala pelayan yang saat ini berjalan keluar karena akan memeriksa Apakah makan siang siap. "Kamu tetap di sini untuk ikut menjaga tuan Kenzie."
"Iya," sahut sang baby sitter yang saat ini menganggukkan kepala tanda setuju."
Saat Aaron masih menatap ke arah sang ibu karena merasa sangat pusing begitu mengetahui keinginan Anindya yang ingin bertemu dengannya, kembali mendengar suara dering ponsel miliknya.
Merasa kesal dan ingin mengetahui siapa yang berisik mengganggunya saat pikirannya tengah dilanda kekacauan karena bingung mengambil keputusan, kini langsung memeriksa dan begitu melihat nomor Erick, tentu saja langsung mengumpat tanpa memperdulikan apapun.
Namun, belum sempat ia kembali melanjutkan umpatannya, semakin bertambah pusing karena saat ini gadis yang dari tadi dipikirkan menyuruhnya untuk datang ke perusahaan.
'Apa yang kali ini dilakukan Erick? Kenapa Anindya tiba-tiba menyuruhku datang ke perusahaan? Apa yang akan dikatakannya? Kenapa ingin bertemu denganku sebagai Aaron dan juga sekaligus terapis? Aku benar-benar bisa gila jika ketahuan di saat bersamaan,' sarkas Aaron yang saat ini mendengar suara dari sang ibu ketika menatapnya penuh penasaran.
"Apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa saat ini wajahmu terlihat seperti itu?" tanya Jennifer yang saat ini merasa ada yang tidak beres karena wajah putranya lihat memerah.
Tidak mungkin menjelaskan semuanya di depan sang baby sitter, kini Aaron hanya menggelengkan kepala karena berniat untuk mengirimkan pesan pada sang ibu nanti ketika sudah menemui Anindya di perusahaan.
"Ada perintah dari bos untuk ke kantor sebentar. Sepertinya aku harus keluar selama 1 sampai 2 jam sampai melaksanakan perintah dari bos selesai. Kamu tetap di sini dan mempraktekkan apa yang tadi ku ajarkan. Aku akan berpamitan sebentar pada kepala pelayan sebelum pergi."
Aaron yang saat ini menatap ke arah putranya yang masih digendong sang ibu dengan ditepuk-tepuk bagian belakang, sehingga sangat nyaman ketika tertidur. Ia pun kini mengusap lembut pipi putih menggemaskan putranya sebelum pergi.
'Papa pergi dulu, ya Sayang,' gumamnya di dalam hati karena tidak mungkin berbicara di depan sang baby sitter yang dari tadi fokus menatap ke arahnya, tapi sama sekali tidak diperdulikan olehnya.
"Hati-hati di jalan," ucap Jennifer pada putranya ya saat ini terlihat gelisah dan membuatnya merasa penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Ia kini melihat siluet putranya yang sudah menghilang di balik pintu setelah tadi pengangkutan kepala padanya. 'Semoga kami mendapatkan jalan keluar yang baik dari permasalahan yang terjadi.'
'Padahal putraku dan aku baru saja merasa senang karena bisa bertemu dengan malaikat kecil ini, tapi semuanya akan kacau berantakan jika sampai Anindya mengetahui penyamaran kami.'
'Pasti dia akan marah dan mengusir kami dari sini karena menipunya,' gumamnya di dalam hati dan lamunannya seketika buyar begitu mendengar suara dari wanita yang ingin sekali ia tarik rambutnya karena tidak sopan berbicara dengan orang tua.
"Lebih baik tidurkan saja di atas ranjang! Apa kamu bisa menenangkan baby jika nanti menangis? Bukankah kamu bekerja masih dalam tahap training dan belum berpengalaman?" seru sang baby sitter saat ini berjalan ke arah ranjang dan menepuknya untuk memberitahu pada wanita itu agar melakukan perintahnya.
Jennifer saat ini berusaha untuk bersabar agar tidak meluapkan amarah pada wanita yang sudah mendaratkan tubuh di atas ranjang tersebut. Ia hanya tersenyum simpul dan tidak menanggapi kalimat bernada ejekan yang jelas-jelas meremehkan kemampuannya.
'Sabar ... sabar, semua ini agar penyamaran putraku tidak ketahuan. Jika aku mengacaukan dengan merobek bibir wanita ini, pasti tidak akan bisa bertemu dengan cucuku lagi.' Ia yang hanya bisa mengungkapkan kelukisan di dalam hati, ini menurunkan tubuh mungil seringan bulu tersebut ke atas ranjang.
Kemudian masih berusaha untuk mengulas senyuman menanggapi wanita itu. "Aku akan berusaha, Meskipun tidak sepintar dan berpengalaman seperti rekanku tadi."
Kemudian ia ingin menormalkan perasaan membuncah yang dirasakan dengan mencuci muka. "Aku numpang pergi ke kamar mandi sebentar."
Dengan menunjuk ke arah kamar mandi yang ada di dalam ruangan kamar tersebut, wanita berseragam putih tersebut menganggukan kepala. Ia saat ini melihat siluet belakang wanita berseragam hitam tersebut ketika memasuki toilet.
'Wanita itu akan mendapatkan sikap sangat baik dari pria itu. Berbeda denganku. Apa karena wanita tua lebih muda untuk dihormati lawan jenis daripada wanita yang sepantaran?' lirihnya sambil menatap ke arah bayi yang terlihat tertidur pulas saat ini.
'Kenapa kau terapis daripada aku? Kenapa masih bayi sudah sangat menyebalkan? Jika bukan karena gaji di sini yang sangat tinggi, mana mungkin aku akan bertahan menjaga bayi yang setiap hari selalu rewel ini,' gumamnya yang masih menatap wajah dengan kelopak mata terpejam tersebut.
Ia bisa bekerja di rumah keluarga Kusuma karena lewat jalur dalam. Itu semua karena Ia merupakan putri dari teman baik kepala pelayan. Jadi, bekerja melalui rekomendasinya dan tidak banyak dites karena sudah dipercaya mampu.
Saat ini ia tengah memikirkan dan sangat penasaran ke mana perginya pria itu. Ia yang menjadi lebih bersemangat bekerja karena setiap hari bisa bertemu dengan pria setampan itu, tapi sekarang malah pergi karena ada urusan mendadak dan membuatnya tidak bisa lagi menatap wajah rupawan tersebut.
"Tolong jaga baby sebentar karena aku mau keluar mengambil minum." Kebetulan ia melihat wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi ketika ia sampai di pintu keluar.
Jennifer seketika menganggukkan kepala karena merasa senang tidak bersama-sama dengan wanita itu di dalam ruangan.
'Pergilah wanita tidak tahu sopan santun! Aku pun sangat muak melihatmu,' lirih Jennifer yang saat ini sudah melihat wanita tersebut menghilang di balik pintu.
Ia jika berjalan mendekati ranjang cucunya dan menerapkan tubuh di sebelah kiri. 'Cucuku, ini Nenek, Sayang. Kamu harus pintar saat papa dan mama pergi. Jangan rewel dan membuat nenek malu karena tidak bisa menenangkanmu,' gumamnya sambil tidak berkedip menatap ke arah cucunya.
Hingga ia pun saat ini menyadari jika sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada putranya tadi, sehingga langsung mengirimkan pesan.
Sayang, apa yang sebenarnya terjadi? Memangnya siapa yang menelpon dan kenapa kamu pergi?
Setelah membaca ulang pesan yang akan dikirimkan pada, begitu tidak ada yang salah, masih memencet tombol kirim dan menunggu jawaban dari putranya.
Hingga bisa melihat jika putranya tengah mengetik pesan jawaban. Masih dengan sabar menunggu sampai putranya selesai mengetik, ia sesekali menatap ke arah sang cucu yang terlihat sangat patuh padanya karena sama sekali tidak rewel dan tertidur pulas.
Hingga beberapa saat kemudian membaca pesan dari putranya yang menjelaskan tentang Anindya ingin bertemu dan khawatir jika terjadi sesuatu hal yang buruk.
'Kira-kira apa yang diinginkan oleh Anindya hingga menyuruh putraku datang ke perusahaan, padahal ia sangat membenci,' gumam Jennifer yang saat ini bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya ada di pikiran Anindya.
Sementara itu, di tempat lain, yaitu di dalam taksi yang melaju menuju ke perusahaan Anindya, Aaron saat ini tengah dipenuhi oleh pikiran buruk jika gadis itu mengetahui jika ia menyamar sebagai terapis.
"Apa dia sudah mengetahuinya dan ingin mengungkapkan kemurkaan padaku di perusahaan?" keluh Aaron yang saat ini tengah mencari ide jika sampai apa yang ada di pikirannya benar benar terjadi.
"Aku tidak boleh menjadi seorang pria yang lemah di depan Anindya karena aku merupakan ayah biologis dari Kenzie. Jadi, berhak untuk mengungkapkan kasih sayang pada putraku dan Anindya sekalipun tidak berhak untuk melarangku karena ada darahku yang mengalir di tubuhnya."
Aaron saat ini sangat bimbang jika sampai apa yang ditakutkan benar-benar terjadi. Ia bahkan saat ini menyusun kata-kata paling tepat jika nanti Anindya mengungkit jika tidak pernah memberikan perhatian sebagai layaknya seorang suami maupun ayah untuk putranya.
Hingga beberapa menit kemudian, tiba di perusahaan Anindya dan langsung berjalan menuju ke arah lobi perusahaan begitu taksi berhenti tepat di sana.
Dengan degup jantung tidak beraturan serta perasaan membuncah karena dipenuhi oleh kekhawatiran, kini ia mengembuskan napas ketika berjalan menuju ke arah lift yang membawanya ke lantai paling atas— tempat Anindya berada.
"Tenang, Aaron. Semua akan baik-baik saja dan kamu pasti bisa menghadapi Anindya," lirih Aaron yang saat ini menatap ke arah angka digital yang bergerak menuju ke lantai di mana Anindya bekerja.
Hingga berapa saat kemudian, pintu kotak besi tersebut terbuka dan ia langsung melangkah menuju ke ruangan Anindya karena sudah mengetahuinya. Saat berniat untuk mengetuk pintu di depannya, tidak jadi melakukannya karena sudah terbuka.
Seolah kedatangannya sudah diketahui oleh pria yang baru saja membuka pintu tersebut, tak lain adalah Erick yang selalu berhasil membuatnya kesal.
"Selamat datang kembali di ruangan presiden direktur Perusahaan Kusuma," ucap Erick yang saat ini melambaikan tangan dan tersenyum menyeringai pada Aaron.
Aaron yang tadinya merasa sangat senang begitu mengetahui kabar jika pria di hadapannya harus segera kembali ke Jakarta atas perintah dari orang tua yang tidak setuju melanjutkan kuliah di Surabaya, kini mengerutkan kening karena merasa heran.
'Kenapa cecunguk ini terlihat sangat senang ketika hendak meninggalkan kota ini karena tidak mendapatkan izin dari orang tuanya?' gumamnya dengan bertanya-tanya karena heran melihat ekspresi wajah dari Erick.
Bahkan ia seperti mencium sesuatu yang tidak beres dari senyuman menyeringai pria di hadapannya tersebut. Berpikir akan mengetahuinya sebentar lagi, sehingga tidak membuang waktu dan langsung masuk ke dalam tanpa menanggapi Erick.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Aaron begitu menatap ke arah sosok gadis di kursi kebesarannya.
"Sombong sekali, kau Aaron. Bahkan aku sudah sangat sopan menyapamu sebelum masuk, malah tidak diperdulikan sama sekali." Erick yang bahkan saat ini berjalan mengekor di belakang Aaron, merasa sangat kesal dicuekin.
Berbeda dengan Aaron yang saat ini masih menunggu respon dari Anindya yang baru saja bangkit berdiri dari kursi kerjanya dan menyuruh untuk duduk di sofa yang ada di sebelah kanan ruangan.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu. Duduk di sana saja," ucapnya yang saat ini menunjuk ke arah sofa agar dua pria tersebut mengikutinya.
Padahal sebenarnya ia saat ini merasa gugup karena akan mengatakan sebuah kebohongan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Erick tadi ketika meminta tolong padanya.
Bahkan saat ini berpikir jika ia kebingungan untuk memulai pembicaraan dengan pria yang Bahkan seperti tidak suka dipanggil olehnya datang ke perusahaan karena merasa terganggu.
Aaron yang saat ini baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa, merasa ada yang aneh atas sikap Anindya dan juga Erick. Ia merasa curiga ada sesuatu yang tengah direncanakan oleh dua orang tersebut, tapi bersabar dan memilih menunggu sampai ia paham.
"Aku tidak punya banyak waktu di sini, jadi katakan apa maumu!" seru Aaron yang saat ini menatap ke arah Anindya yang terlihat ragu untuk membuka suara.
Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengar perkataan dari Anindya yang baru saja mengungkapkan semuanya.
To be continued...