
Sosok pria yang ada di dalam ruangan terlihat kacau balau karena banyaknya botol-botol minuman beralkohol yang berserakan di atas meja. Kembali ia meneguk minuman keras itu meskipun sudah mabuk.
Pria yang tak lain adalah Aaron, kini tengah berada di apartemen sahabatnya dan menghabiskan waktu seharian dengan minum-minuman beralkohol karena pikirannya tengah kacau balau.
"Aaron, sudah! Bisa-bisa nanti om Jonathan membunuhku jika tahu kamu mabuk di tempatku," ucap pria bernama Sandy Putra.
Ia tadi yang baru saja pulang mengajar, ditelpon Aaron mengenai sandi apartemennya karena memang beberapa bulan ini membeli sebuah apartemen untuk investasi.
Namun, ia sama sekali tidak pernah menyangka jika ternyata Aaron membawa banyak botol minuman keras dan sudah menghabiskan tiga botol. Memang ia tahu apa yang terjadi pada Aaron karena sahabatnya itu menceritakan tentang perasaannya pada gadis mungil yang sempat membuatnya tertarik.
Namun, ia tidak pernah menyangka bisa melihat kehancuran seorang Aaron. Ia tadi langsung ke apartemen untuk mengecek sahabatnya karena tidak biasanya bertanya tentang sandi dan ingin ke tempatnya.
Benar saja apa yang dipikirkan karena Aaron kini sudah mabuk dan masih tak kunjung berhenti minum. Kini, ia menahan tangan Aaron agar berhenti. "Jika kau menyiksa diri seperti ini, bagaimana bisa menemukan Zea?"
Aaron yang saat ini menatap ke arah Sandy, seketika tertawa terbahak-bahak. Meskipun saat ini pandangannya blur karena tidak jelas, mengungkapkan apa yang dirasakannya.
"Aku tidak akan pernah menemukannya, Bro! Zea sepertinya tidak berniat untuk kembali ke sini. Dia sangat membenciku dan tidak akan pernah memaafkan apa yang kulakukan padanya. Sudah berbulan-bulan aku mencari, tapi nihil."
Aaron benar-benar putus asa karena meskipun sudah melakukan semua hal untuk mencari wanita yang membuatnya tidak pernah bisa tidur nyenyak, tapi tetap tidak bisa menemukannya.
"Bahkan aku bekerja sama dengan pria yang bahkan mencintai Zea, tapi hasilnya sama saja. Sepertinya Erick saat ini sama sepertiku. Merasa frustasi memilih untuk mabuk-mabukan sepertiku," teriak Aaron yang saat ini kembali berniat untuk meneguk minuman berwarna coklat keemasan tersebut.
Karena merasa sangat kesal pada Aaron, kini Sandy yang berusaha untuk mengingatkan sahabatnya agar tidak makin mabuk dan mendapatkan masalah dari orang tua, sehingga langsung meraih satu botol kaca berukuran cukup besar di atas meja tersebut dan membantingnya ke lantai.
Bahkan kini terdengar suara pecahan botol minuman yang sudah berserakan karena hancur dan menghiasi lantai berwarna putih itu. "Aku bilang berhenti atau kupecahkan kepalamu, Aaron!"
Ia benar-benar tidak tega melihat sahabatnya yang hancur hanya gara-gara tidak bisa menemukan sosok wanita yang sudah menghilang hampir satu tahun lamanya.
Jadi, berpikir dengan melakukan itu, akan hentikan sahabatnya agar sadar dan tidak melampiaskan semuanya pada minuman keras. "Sadarlah, Aaron! Dulu kau seperti ini karena Jasmine pergi, sekarang juga melakukan hal yang sama. Apa cintamu serendah ini? Jika kau benar-benar mencintai Zea, lakukan yang terbaik agar gadis itu melihatmu."
"Aku sangat yakin jika dia pasti akan melihatmu jika menjadi seorang pria yang hebat dan sering masuk televisi serta surat kabar karena prestasimu untuk membuat perusahaan papamu makin maju. Jika kau seperti ini, apa yang bisa kau banggakan padanya?"
Sandy yang baru saja menutup mulut, mendengar suara bel pintu dan kini bergerak meninggalkan Aaron untuk melihat siapa yang datang. Hingga saat membuka pintu, seorang pria langsung menyelonong masuk.
"Aaron ada di sini, kan?" tanya Erick yang saat ini langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling begitu masuk ke dalam apartemen sahabat dari Aaron.
"Aaron, aku ada kabar tentang Zea!" ujar Erick yang saat ini langsung berbicara begitu melihat Aaron yang tengah duduk diantara minuman beralkohol.
To be continued...