Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Harapan seorang kakek



Beberapa saat lalu, Candra Kusuma yang baru saja meninggalkan rumah yang ditempati oleh cucunya, berbicara dengan pengacara yang membahas mengenai surat wasiat.


Salah satu syarat utama yang harus dilakukannya dan sangat tidak disukai adalah melakukan tes DNA untuk memastikan bahwa gadis yang tadi berbicara dengannya benar-benar cucunya.


Itulah yang dikatakan oleh pengacara dan harus dilakukannya. Ia tadi menolak mentah-mentah syarat itu karena percaya bahwa detektif yang disewanya tidak akan pernah mempermainkannya.


Apalagi gadis itu, mengingatkannya pada putri kesayangan yang dulu diusir hanya gara-gara mencintai pria yang tidak sederajat. Ia yang saat ini bersandar pada jok mobil sambil melihat pemandangan perkampungan, menghembuskan napas kasar.


Seolah beban berat yang dirasakan ketika meragukan jika gadis itu adalah cucu kandungnya sendiri. "Jika aku terang-terangan mengatakan hal ini padanya, pasti cucuku akan sangat marah. Aku tidak mungkin melakukan itu."


Saat mendengar keluh kesah dari majikannya, kini sang sopir mempunyai sebuah ide dan mengungkapkan pada pria yang duduk di kursi belakang tersebut.


"Tuan, jika memang itu merupakan syarat dari pengacara untuk memastikan jika gadis itu adalah cucu kandung, sebaiknya suruh orang yang merupakan tetangga sekitar untuk melakukan itu. Hanya mengambil sampel rambut di sisir cucu Anda, bukanlah hal yang sulit."


Saat ini sang supir menghentikan kendaraan begitu melihat seseorang yang berjalan sambil membawa cangkul. "Kebetulan kemarin saya melihat pria itu tinggal di sebelah rumah nona Zea. Bagaimana jika saya yang berbicara dengannya mengenai tugas untuk mengambil sampel rambut nona?"


Candra Kusuma yang saat ini menatap ke arah sosok pria yang berjalan ke arah rumah cucunya, akhirnya menyetujui saran dari sang supir. "Baiklah. Katakan kepada pria itu bahwa aku akan membayar mahal jika dia bisa mengambil sampel rambut cucuku untuk tes DNA."


"Baik, Tuan. Akan saya pastikan itu dan identitas Tuan tidak akan diketahui oleh siapapun." Sang sopir saat ini melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil untuk berbicara dengan pria yang baru pulang dari sawah.


Sementara itu, Candra Kusuma yang makin merasa bersalah karena harus melakukan tes DNA, kini hanya diam di dalam mobil menatap ke arah sosok sang supir yang berbicara dengan pria yang merupakan tetangga dari cucunya.


"Cucuku, maafkan kakek karena melakukan ini. Sebenarnya hanya dengan melihatmu sekilas saja, sudah dipastikan bahwa kamu adalah cucuku. Aku sengaja mau beli donat itu karena mamamu dulu sangat menyukainya. Aku yakin jika gen dari putriku menurun padamu, cucuku."


"Bahkan kamu tadi memberikan donat dengan rasa keju seperti yang dilakukan oleh ibumu karena mengetahui jika ayahnya tidak suka manis. Pasti kamu saat ini sedang menikmati donat itu dengan anak muda yang sangat mencintaimu."


Ia tersenyum simpul saat mengingat sosok pria yang sangat over protektif melindungi cucunya. "Anak muda itu sangat posesif karena melindungi cucuku dari orang-orang jahat. Sepertinya dia pantas untuk dijadikan calon menantu."


Saat ia baru saja menutup mulut, melihat yang sopir telah kembali dan duduk di balik kemudi.


"Semuanya telah beres, Tuan. Saya sudah memberikan nomor ponsel saya untuk pria itu agar saat berhasil melakukan tugas, langsung menghubungi. Bagaimana jika kita menunggu di sekitar sini? Karena sepertinya tadi cucu Anda dan anak muda itu akan pergi, sehingga pria itu bisa langsung bergerak untuk mengambil sampel rambut."


Sang supir sebenarnya ingin mengatakan untuk mengajak majikannya ke warung kopi yang ada di seberang jalan sebelum masuk ke gang. Namun, khawatir jika pria paruh baya tersebut tidak setuju.


Candra Kusuma seketika menggantikan kepala karena jarak antara hotel dan rumah cucunya cukup jauh. Jadi, tidak ingin bolak-balik untuk menunggu sampel rambut yang dibutuhkannya.


Ia sudah tidak sabar ingin memeluk cucunya yang sudah lama disia-siakan. Sampai ia berpikir bahwa hari ini akan memohon ampunan dari cucunya yang tidak dipedulikan selama 19 tahun.


'Semoga dia tidak membenci kakeknya yang selama ini sangat kejam karena menyia-nyiakan putri, menantu dan cucu sendiri,' gumamnya yang saat ini membuka tas miliknya yang ada di sebelah tempat duduknya.


Kemudian mengeluarkan hasil laporan kesehatan dari rumah sakit. "Ini adalah senjata akhir untuk membuatmu menerima Kakek, cucuku. Meskipun nanti kamu sangat membenciku, tapi setelah melihat ini, aku yakin kamu tidak akan tega karena memiliki hati seluas samudra seperti ibumu."


"Putriku bahkan sangat patuh pada perintahku agar tidak kembali ke rumah. Padahal Papa akan menerimamu jika kamu pulang sekali saja ke rumah, tapi ternyata gen-ku benar-benar menurun padamu. Bahwa kamu selamanya akan menerima keputusan Papa dan tidak ingin mengemis dan merendahkan harga diri hanya untuk kembali ke rumah demi mendapatkan kembali kemewahan."


Ia sebenarnya merasa sangat indah dengan pria yang berhasil membuat putrinya merelakan segala kemewahan hanya untuk bisa hidup bersama dalam kemiskinan. Hal itulah yang selalu membuatnya membenci pria yang dicintai oleh putrinya.


"Putriku, Papa benar-benar sangat menyesal, Sayang. Seandainya dulu Papa tidak terlalu keras padamu, mungkin kita masih bisa bersama sampai sekarang dan berkumpul menjadi keluarga bahagia." Ia berbicara dengan suara lirih dan terlihat mata berkaca-kaca.


Sementara itu, pasang sopir yang sekilas melihat dari spion mobil, hanya diam dan ingin sekali menghibur majikannya tersebut. Namun, tidak ingin lancang dan hanya membiarkan pria paruh baya tersebut berkeluh kesah di dalam mobil sepuasnya untuk melampiaskan semua yang dirasakan.


Hingga ia tiba di sebuah warung kopi dengan pelataran luas dan ada banyak kursi yang disusun rapi di depan. "Ini warungnya, Tuan. Kita bisa duduk di bawah pohon itu agar tidak kepanasan."


"Baiklah." Candra Kusuma melepaskan sabuk pengaman setelah memasukkan kembali catatan dari laporan kesehatan mengenai penyakitnya.


Sebelum ia keluar, sopir berbicara untuk menghiburnya dan membuatnya sedikit merasa lega karena tidak disalahkan.


"Tuan, jangan terus menyalahkan diri sendiri karena putri Anda sudah damai di surga dan tidak menyalahkan. Apalagi jodoh, rezeki dan maut sudah diatur oleh Tuhan. Kita hanyalah wayang yang mengikuti takdir dari Tuhan Meskipun tidak boleh tinggal diam dan harus berikhtiar dalam hal apapun."


Akhirnya sang sopir memberanikan diri untuk mengatakan perihal itu agar majikannya tidak sibuk menyalakan diri sendiri.


Hingga ia merasa lega begitu mendengar jawaban dari pria yang sudah lama menjadi majikannya tersebut.


"Ya, kamu benar. Aku sepatutnya tidak sibuk menyalakan diri sendiri saat putriku sudah damai di surga sana. Aku sekarang hanya perlu fokus mengurus cucuku dengan baik. Aku ingin memanfaatkan sisa usiaku bersama dengan cucuku." Candra Kusuma saat ini jauh lebih baik perasaannya dan berpikir bahwa malam ini akan membawa cucunya ke Surabaya.


Ia akan memberikan apapun yang diinginkan oleh cucunya agar bisa hidup lebih baik dan penuh dengan kemewahan yang dulu sempat dibuang oleh putrinya hanya demi bisa hidup bersama dengan pria sederhana.


"Cucuku akan mendapatkan semua yang tidak pernah didapatkannya selama ini. Semoga jalanku untuk membawanya kembali pulang ke rumah, sulit hari ini." Kemudian ia bergerak keluar dari mobil menuju ke warung kopi untuk menunggu orang yang disuruh mengambil sampel rambut demi melakukan tes DNA yang tidak disukainya.


To be continued...