Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Menjadi wanita hebat



"Itu namanya memanfaatkan kebaikan Erick padaku, Kek. Tidak! Aku tidak mau menjadi seorang wanita yang tidak tahu diri dengan memanfaatkan pria sebaik Erick. Ya, aku akui jika dia memang sangat mencintaiku, tapi bukan berarti aku memintanya untuk menikahiku." Zea saat ini ingin mengubah pemikiran sang kakek yang beralih mengungkit Erick saat ia tidak mau menikah dengan Aaron.


"Meskipun dia setuju, tapi aku tidak mau mempermainkan perasaan pria yang selalu baik padaku!" ujar Zea yang kini benar-benar memohon agar sang kakek mau mengerti bagaimana perasaannya saat ini.


Bahwa ia tidak ingin menikah dengan dua pria itu meskipun alasannya adalah karena hamil diluar nikah. Kini, ia bisa melihat respon sang kakek yang memijat pelipis karena perbuatannya.


"Aku tidak akan keluar rumah selama hamil, Kek. Jadi, Kakek tidak akan malu atau pun khawatir jika orang-orang melihatku tengah hamil tanpa suami." Kemudian mengusap perutnya yang masih datar sambil menundukkan kepala.


"Jika ini lahir, aku akan mencurahkan kasih sayang penuh agar tidak kekurangan. Kakek bisa memberikan kasih sayang sebagai figur ayah juga, kan?" Zea benar-benar bertekad tidak akan menikah dalam keadaan hamil dan yakin bisa melaluinya.


'Aku selama ini menjalani hari-hari berat dan pasti bisa menghadapi apa yang menimpaku karena ada kakek yang memiliki segalanya,' gumam Zea yang kini berpikir bahwa ia kini adalah cucu dari seorang konglomerat yang tidak perlu memikirkan uang untuk biaya hidup.


Selama ini ia bingung mencari pekerjaan dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi sekarang ia merasa bahwa sudah saatnya mengurangi harta sang kakek yang melimpah dengan memberikan semua yang terbaik untuk janin yang ada di dalam rahimnya.


Meskipun ia tidak tahu apakah bisa menjadi seorang ibu, tapi yakin jika lama-kelamaan akan bisa dan terbiasa jika mau belajar. 'Aku akan membeli banyak buku tentang kehamilan serta melahirkan, agar tahu apa saja yang perlu dilakukan.'


Sementara itu, Candra Kusuma yang benar-benar sangat bingung sekaligus pusing atas keinginan cucunya yang tidak mau menikah meski saat ini tengah mengandung, kini mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah ranjang.


Ia menatap ke arah cucunya yang bertekad untuk menjadi single parent dan tidak mengetahui jika itu bukanlah hal mudah. "Sayang, coba kamu pikirkan lagi keputusanmu itu. Bukankah itu tidak menyelesaikan masalah? Kakek bukan merasa malu tentang statusmu, tapi tidak ingin melihatmu hidup menderita sendirian saat hamil dan membesarkan seorang anak."


"Bahkan kamu masih terlalu muda dan butuh perhatian, Sayang. Ya, meskipun Kakek akan memberikan perhatian padamu, tapi itu tidak bisa penuh karena kamu lihat sendiri Kakek sudah tua berpenyakitan seperti ini." Meskipun ia sudah berbicara sampai mulutnya berbuih, tetap saja sang cucu memberikan jawaban dengan menggelengkan kepala.


Hal itu makin membuatnya frustrasi. Apalagi mendengar perkataan dari cucunya yang sangat santai seperti menganggap jika hamil dan punya anak itu mudah serta bukanlah masalah besar.


"Tidak, Kek. Aku sudah benar-benar yakin dengan keputusanku. Semua akan mudah asal ada uang. Jadi, aku akan menghabiskan uang Kakek untuk memberikan yang terbaik pada anakku nanti. Meskipun aku masih 20 tahun, akan belajar bagaimana caranya menjadi seorang ibu dengan banyak membaca buku."


Zea kali ini berbicara dengan penuh percaya diri. Bahwa yang bisa menyelesaikan segalanya. Ia tidak perlu memikirkan biaya apapun karena uang sang kakek banyak dan bisa membuatnya melakukan apapun.


Hingga ia kembali mendengar suara bariton sang kakek yang seperti sebuah ejekan untuknya, tapi sama sekali tidak dianggap.


"Semua itu tidaklah semudah yang dituliskan di terori yang ada di buku, Cucuku." Sang kakek yang seperti tidak punya cara lagi untuk memberikan sebuah nasihat agar cucunya berubah pikiran, kini menoleh ke arah dokter yang baru saja tiba.


"Hasil tes sudah keluar, Tuan. Selamat, cucu Anda saat ini tengah mengandung dan berusia 6 minggu. Saya sudah meresepkan obat untuk penguat agar janinnya makin sehat." Sang dokter yang sebenarnya dari tadi mengawasi interaksi antara kakek dan cucu dari meja kerjanya, langsung menghampiri begitu perawat membawa hasil dari laboratorium.


Ia kini bisa melihat raut wajah muram sang kakek dan juga pasien yang sembab wajahnya. Meski ia tahu jika mereka sudah mengetahuinya, tetap saja ingin memberitahu secara langsung.


Berniat untuk melakukan rawat jalan di rumah karena lebih nyaman jika kehamilan cucunya mengalami masalah. Apalagi mempunyai dokter pribadi keluarga dan berniat untuk mencarikan perawat untuk menemani cucunya yang tidak mau menikah.


Berpikir itu akan sedikit menggantikan tugas seorang suami yang biasanya melayani dengan baik istrinya saat hamil. Hanya itulah yang saat ini terpikirkan oleh Candra Kusuma setelah mengambil keputusan demi kebahagiaan Zea.


Ia tidak ingin memaksakan kehendak seperti dulu yang melakukan kesalahan di masa lalu. Jadi, sekarang akan menuruti apapun keinginan cucunya.


Refleks Zea yang ingin segera pulang karena merasa sudah baikan, kini menatap ke arah dokter yang hendak membuka suara. "Dokter, aku sudah tidak apa-apa. Tadi hanya pusing sedikit dan muntah-muntah.m, tapi sekarang sudah kembali seperti biasa. Jadi, aku ingin pulang."


Kini, sang dokter yang memang mengetahui jika imunitas gadis belia itu baik dan tidak ada yang buruk dalam kandungannya, sehingga tidak memaksakan pasien.


"Ya, jika memang itu yang diinginkan, saya hanya akan memberikan resep. Anda harus banyak beristirahat di rumah dan tidak boleh melakukan aktivitas berat saat di rumah." Kemudian sang dokter beralih menatap ke arah pria paruh baya di sebelahnya.


"Anda harus menjaga asupan nutrisi untuk cucu, agar kebutuhan tubuhnya terpenuhi dan janinnya sehat. Apalagi ini adalah trimester pertama yang masih sangat rawan. Kalau begitu, saya permisi." Sang dokter yang tadinya hanya melihat anggukan kepala lemah dari sang kakek, bisa menebak jika pria paruh baya itu tengah banyak pikiran.


Jadi, membiarkan cucu dan kakek kembali berbicara berdua untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.


Candra Kusuma kini mengembuskan napas berat saat melihat siluet belakang sang dokter yang makin menjauh. Kemudian kembali melihat cucunya yang malah merengek seperti anak kecil dan belum pantas menjadi seorang ibu.


"Ayo, Kek. Kita pulang sekarang. Aku tidak betah berada di sini. Lebih nyaman kamarku yang luas di rumah Kakek. Aku pun sangat lapar dan ingin makan sayur asem dan sambel terasi dengan lauk ikan laut. Tiba-tiba aku teringat masakan Mama." Zea kini merasa lebih membutuhkan sosok ibu daripada suami. Hingga ia merasa sangat terkejut begitu melihat tanggapan dari sang kakek.


"Memangnya ibumu bisa memasak? Apalagi itu hanyalah sayur asem yang sama sekali tidak disukai ibumu semenjak kecil." Candra Kusuma kini merasa heran dengan sesuatu yang tidak pernah diketahuinya.


Zea memicingkan mata karena benar-benar tidak percaya pada perkataan sang kakek yang bertolak belakang dengan apa yang dilihatnya.


"Masa sih, Kek? Padahal mama sering masak itu dan menjadi sayur favorit di keluarga kami karena papa tidak suka sayuran dengan santan. Bahkan mama selalu lahap menikmatinya. Jadi, mana mungkin tidak suka." Ia kini menyadari bahwa perkataan sang kakek benar begitu mengingat tentang sesuatu.


Saat ia masih kecil, sang ayah memberikan uang untuk ibunya dan mengatakan agar makan seadanya saja karena gaji kecil. Namun, sang ayah berjanji akan bekerja dengan keras agar bisa mendapatkan uang lebih.


'Mama selama ini hidup sederhana bersama papa dan tidak pernah mengeluh. Padahal dari dulu selalu tercukupi dan bisa makan apapun. Mamaku adalah seorang wanita yang hebat dan aku pun harus menjadi wanita hebat sepertinya.'


Kini, Zea bertekad akan menjadi wanita hebat meskipun pada kenyataannya ia saat ini tengah mengandung. Hingga ia pun mengingat pembicaraannya dengan sang kakek tadi mengenai kuliahnya di Universitas bergengsi.


To be continued...