Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Menciummu



"Nona Anindya!" seru wanita paruh baya yang tadi diperintahkan oleh sang majikan untuk memberitahu jika saat ini ada Erick yang datang menjemput dan disuruh bersiap.


Di sisi lain, Aaron yang saat ini baru keluar dari kamar, berniat untuk turun ke lantai dasar karena ingin melatih otot-otot di ruangan gym pribadi.


Ia bertemu dengan pelayan yang terlihat mengetuk pintu ruangan Anindya. "Ada apa pagi-pagi sekali memanggil Anindya?"


Sang pelayan seketika menoleh pada pria yang baru saja menghampiri. "Itu, Tuan Aaron, yang menjemput nona Anindya sudah datang. Ada tuan Erick di ruang tamu dan tengah berbicara dengan tuan besar dan nyonya."


Aaron yang sebenarnya tidak ingin Anindya ikut sunmori bersama dengan Erick, tapi merasa kasihan jika gadis itu hanya diam di rumah. Apalagi sang ibu memarahinya karena terlalu mengekang Anindya.


Menurut sang ibu, Anindya bisa saja mendapatkan sebuah penghiburan jika pergi keliling kota dengan naik motor. Berharap dengan begitu, ingatan Anindya bisa lebih segar dan mengingat beberapa kenangan yang dilupakan.


Akhirnya ia tidak melarang Anindya dan membiarkan ikut demi mencari hiburan. "Biar aku yang berbicara padanya. Bibik turun saja dan bilang sebentar lagi Anindya akan turun."


"Baik, Tuan Aaron." Wanita paruh baya tersebut seketika menganggukkan kepala dan meninggalkan majikan sesuai dengan perintah.


Saat Aaron hendak kembali mengetuk pintu yang masih tertutup di hadapannya, kini ia tidak jadi melakukannya karena sudah terbuka dan menampilkan gadis belia dengan memakai hody berwarna putih.


Bahkan penampilan Anindya sudah terlihat rapi yang menandakan memang telah bersiap untuk berangkat, seolah tahu jika Erick telah datang menjemput.


Aaron menatap penampilan Anindya mulai dari ujung kaki hingga kepala. Bahkan rambut panjang yang biasanya terurai itu sudah dicepol ke atas.


"Aku pikir kamu belum siap," ujar Aaron yang saat ini menahan rasa tidak senang saat melihat Anindya seperti bersemangat ketika hendak pergi dengan Erick.


"Aku sudah siap dari tadi, Tuan Aaron karena Erick dari semalam spam chat dengan mengatakan harus berangkat pagi-pagi sekali. Sayang sekali Tuan Aaron bilang tidak bisa ikut karena ada pekerjaan mendadak." Anindya saat ini berjalan keluar dan sudah berhadapan dengan Aaron yang dari tadi tidak berkedip menatapnya.


'Apa ada yang salah dengan penampilanku? Kenapa tuan Aaron seperti tidak suka melihatku?' gumam Anindya ya saat ini tidak berani bertanya dan hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati.


"Jangan memakai pakaian yang berlebihan ataupun memakai riasan karena akan ada banyak pria di sana dan bisa saja menggodamu. Ganti pakaian yang longgar serta hapus riasan di wajahmu." Aaron kita akan memasang wajah masam dan mendorong ringan tubuh Anindya agar kembali masuk ke dalam kamar dan menuruti perintahnya.


Sementara itu, Anindya merasa bingung karena menurutnya tidak ada yang salah dengan penampilannya dan sudah memakai pakaian yang longgar. Bahkan ia hanya memakai bedak tipis di wajahnya agar tidak terlihat pucat serta memakai lip tint agar tidak kering bibirnya.


Ia berniat tidak menuruti perintah yang dianggapnya sangat konyol dan masih berdiri di depan pintu. "Tuan Aaron, sama sekali tidak ada yang salah dengan penampilanku karena sudah memakai baju longgar serta hanya bedak tipis agar tidak pucat."


Bahkan ia mengerucutkan bibir untuk menunjukkan bahwa tidak memakai lipstik. "Ini pun hanya memakai pelembab bibir saja. Lalu, mana yang berlebihan?"


Tentu saja saat ini Aron menatap bibir mengerucut yang ditujukan padanya. Ia pakan tidak berkedip menatap bibir merah jambu yang berkilat tersebut. Hingga pikirannya kini mulai travelling dan keceplosan.


"Apa kamu menggoda para pria dengan memasang bibir seperti itu? Bagaimana jika tiba-tiba kamu dicium? Oh ya, kira-kira kamu sudah pernah berciuman atau belum? Sayangnya kamu saat ini hilang ingatan dan tidak bisa mengingat apapun."


Masih menatap ke arah Anindya, Aaron saat ini tengah sibuk menebak jawaban dari pertanyaannya.


Sementara di sisi lain, Anindya ingin sekali langsung menjawab jika ia belum pernah sekalipun dekat dengan lawan jenis ataupun berciuman.


'Seandainya aku bisa jujur pada tuan Aaron, apa kira-kira tanggapannya begitu mengetahui aku belum pernah berciuman?' gumam Zea yang saat ini merasa penasaran dan seketika mengungkapkan apa yang ada di otaknya.


"Memangnya kalau belum pernah ataupun sudah pernah berciuman, tuan Aaron mau apa?" Zea kini menunggu pria dengan paras rupawan tersebut membuka suara.


Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengar jawaban bernada vulgar dari Aaron yang malah berhasil membuat degup jantungnya tidak beraturan.


"Kalau menurut tebakanku, kamu belum pernah berciuman dan jika itu benar, sepertinya sayang melibatkan gadis yang masih perawan bibirnya. Bisa saja aku langsung menciummu begitu melihatmu mengerucutkan bibir seperti tadi," sarkas Aaron dengan tersenyum menyeringai.


To be continued...