Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Kabur di hari pernikahan



Jasmine langsung pulang ke rumah begitu selesai makan siang dengan Aaron. Selama dalam perjalanan menuju ke rumah, ia tidak berhenti menatap ke arah jemari lentiknya yang saat ini terlihat sangat manis dan cantik dengan dihiasi cincin bertahtakan berlian yang sangat indah dan pastinya memiliki harga yang tidak murah.


Sebenarnya ia masih ada pemotretan satu jam lagi dan harus kembali ke studio. Namun, sengaja ingin mampir sebentar ke rumah untuk bertanya pada sang ibu.


Tentu saja mengungkapkan kekesalan karena wanita yang telah melahirkannya tersebut tidak berbicara apapun dengannya mengenai pernikahan.


'Aaron, aku pikir dulu menjadi wanita paling bahagia bisa mendapatkan cintamu. Apalagi kamu terlihat sangat mencintaiku dan sama sekali tidak melirik wanita lain.'


'Namun, sekarang aku sadar bahwa sikap over protektif darimu membuatku merasa seperti tercekik dan tidak bisa bernapas dengan lega. Aku tidak hanya butuh cintamu yang teramat besar, tapi juga butuh pengertian darimu agar bisa memahami apa yang kuinginkan selama ini.'


Jasmine saat ini masih tidak memalingkan wajahnya dari jemari yang diangkat ke atas dan bisa melihat kilauan berlian mahal yang diimpikan oleh banyak wanita.


'Seharusnya kamu tahu bahwa aku adalah seorang wanita independen yang tidak bergantung sepenuhnya pada laki-laki karena bisa mencari uang sendiri. Pilihanmu adalah seorang wanita yang mandiri, seharusnya kamu bisa mengerti dan memahamiku.'


'Bahwa aku bukan wanita rumahan yang bergantung sepenuhnya pada seorang pria. Kenapa kamu tidak bisa memahami hal sekecil ini, Aaron. Bagaimana kita bisa hidup berumahtangga jika jika kamu sangat egois dan selalu ingin aku patuh padamu.'


Karena merasa kesal mengingat semua itu, kini Jasmine seketika mengacak frustasi rambut dan mengempaskan tubuhnya pada punggung mobil sambil memejamkan mata.


"Aaarggh! Sial! Aku benar-benar sangat marah hari ini dan mood berubah menjadi buruk. Semoga tidak berdampak pada pemotretan karena suasana hati yang sedang tidak baik gara-gara Aaron!"


Jasmine sama sekali tidak memperdulikan jika suaranya yang sangat keras didengar oleh sang supir. Ia bahkan saat ini masih memejamkan mata dan mengambil napas teratur untuk menenangkan perasaan yang berkecamuk ketika mengingat sang kekasih yang sangat over protektif.


Sementara itu, sang sopir yang tadinya fokus mengemudi, merasa sangat terkejut dengan suara teriakan dari majikan di kursi belakang. Sekilas ia menatap ke arah spion dan melihat jika majikannya saat ini memejamkan mata.


'Apa yang sebenarnya terjadi pada nona muda? Kenapa marah setelah bertemu dengan tuan Aaron dan malah terlihat sangat kusut seperti itu? Padahal biasanya selalu terlihat bahagia setelah bertemu dengan sang kekasih.'


Sang supir hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati karena tidak mungkin bertanya pada majikan yang terlihat sangat frustasi tersebut. Hingga terdengar suara napas memburu seperti telah menahan amarah.


Ia berpikir jika pasangan kekasih itu tengah berbeda pendapat dan berakhir bertengkar hingga terlihat sangat frustasi seperti itu.


Akhirnya ia hanya diam dan fokus mengemudi untuk menuju ke arah rumah keluarga. Beberapa menit berlalu dan mobil yang dikemudikan sudah memasuki area kompleks perumahan mewah dan berhenti tepat di depan pintu gerbang menjulang tinggi berwarna hitam


"Kita sudah sampai, Nona muda." Kemudian melirik ke arah spion dan melihat sang majikan membuka mata, baru ia memencet klakson agar security membuka pintu gerbang dan kembali mengemudikan mobil memasuki area halaman rumah.


Sementara itu, Jasmine yang saat ini melepaskan sabuk pengaman dan menatap ke arah depan, di mana sopir baru saja mematikan mesin mobil setelah memarkir di tempat kosong.


"Aku tidak lama dan sebentar lagi kita kembali ke studio."


"Baik, Nona. Saya akan tunggu di sini." Sang supir sebenarnya ingin sekali masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang untuk meminta kopi pada pelayan.


Namun, karena melihat jika raut wajah majikan sangat kesal, tidak ingin semakin menambah amarah karena tidak ada di dalam mobil saat wanita itu kembali. Jadi, memilih untuk diam di mobil saja sambil menunggu sang majikan yang dipikirnya hendak mengambil sesuatu yang tertinggal.


Sementara itu, Jasmine seketika keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju ke arah pintu utama untuk menemui sang ibu demi mengeluarkan kekesalan yang dari tadi ditahan.


Begitu membuka pintu dan melangkah masuk ke ruang tamu dengan interior serta furniture mewah itu, seketika membuatnya berteriak, "Mom! Mommy!"


"Mommy di mana, Bik?" tanya Jasmine begitu melihat pelayan menyambutnya.


"Nyonya besar baru saja masuk ke dalam kamar dan mungkin tengah beristirahat, Nona muda," jawab wanita paruh baya yang menjadi kepala pelayan di rumah megah keluarga Soraya.


Tanpa berniat untuk menanggapi, kini Jasmine yang melihat jam di pergelangan tangan kiri karena harus memburu waktu untuk berbicara dengan sang ibu, seketika menaiki anak tangga.


Tentu saja untuk segera bertemu dengan sang ibu. Begitu berada di depan pintu ruangan pribadi orang tuanya, Jasmine seketika masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu untuk memastikan apakah sang ibu berada di dalam.


"Mommy!" teriak Jasmine hingga saat ini melihat sang ibu baru keluar dari kamar mandi.


"Astaga! Jasmine, kamu mengejutkan Mommy saja," ucap Miranda Kartika berusia 50 tahun yang saat ini mengusap dada karena perbuatan putrinya yang berteriak saat masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Ia bahkan geleng-geleng kepala melihat sikap putrinya yang sangat arogan. "Kamu jangan bersikap seperti ini jika nanti tinggal bersama Aaron setelah menikah nanti. Itu akan membuat nama baik keluarga Soraya buruk di mata keluarga Jonathan."


"Ternyata benar apa yang dikatakan Aaron bahwa Mommy dan daddy sudah merestui keinginannya untuk menikahiku dalam waktu dekat. Kenapa Mommy sama sekali tidak menceritakan padaku jika Aaron sudah menyuruh mengurus pernikahan melalui jasa wedding organizer?"


Sementara itu, sosok wanita paruh baya yang terlihat mengerutkan kening karena merasa heran dengan kekesalan putrinya begitu mengetahui pernikahan. Ia tadinya berpikir bahwa putrinya akan merasa bahagia saat sang kekasih yang sangat dicintai dan dibanggakan melamar.


Apalagi saat ini melihat jika jemari putrinya yang biasanya tidak dihiasi apapun, kini telah tersemat sebuah cincin berlian dan bisa ditebaknya jika itu merupakan lamaran dari calon menantunya.


"Jadi, Aaron sudah secara resmi mengungkapkan padamu untuk melamar dan berniat menikahimu secepatnya?"


Tidak ingin menanggapi pertanyaan sang ibu karena pertanyaan darinya sama sekali tidak dijawab oleh sang ibu, tentu saja membuat Jasmine merasa sangat kesal.


Namun, ia saat ini meluapkannya dengan tertawa terbahak-bahak karena apa yang dipikirkan benar jika orang tuanya lebih mendukung Aaron daripada putri sendiri.


"Ternyata benar Mommy dan daddy tidak memikirkan perasaan putrinya sendiri."


"Apa maksudmu, Jasmine? Kenapa berbicara seolah-olah kami tidak menyayangimu? Memangnya apa yang salah saat Aaron ingin menikahimu sebagai bentuk bukti keseriusan terhadapmu? Lagipula kalian berdua sama-sama saling mencintai, bukan?"


Miranda Kartika bahkan tidak paham dengan kekesalan dari putrinya setelah dilamar oleh calon menantu idaman. Ia tadinya berpikir bahwa putrinya akan merasa bahagia setelah dilamar oleh pria yang dicintai.


Namun, respon sebaliknya membuatnya heran dan memicingkan mata karena tidak paham dengan apa yang ada di pikiran putrinya tersebut.


"Kenapa kamu marah-marah setelah dilamar oleh Aaron? Memangnya kalian berdua bertengkar?"


"Astaga! Mommy tetap saja tidak mengerti apa yang kurasakan saat ini. Mommy adalah wanita paling berharga yang sangat kusayangi dan berpikir bisa mengerti perasaan putri sendiri, tapi ternyata malah sebaliknya."


Jasmine yang merasa sangat kesal pada sang ibu karena tidak bisa mengerti dirinya, saat ini berpikir akan percuma jika berbicara dengan wanita yang menganggap jika perbuatan Aaron benar dan sama sekali tidak ada yang salah.


"Aaah ... sudahlah! Aku tidak ingin berbicara dengan Mommy!" sarkas Jasmine yang saat ini berbalik badan dan berniat untuk keluar dari ruangan kamar sang ibu karena waktunya sudah habis dan harus kembali ke studio pemotretan.


Sementara itu, wanita paruh baya yang merasa sangat heran dengan perbuatan putrinya saat tiba-tiba datang dan pergi, seketika berjalan cepat untuk mengejar dan menahan pergelangan tangan kiri.


"Jasmine, tunggu! Jelaskan pada Mommy, apa yang membuatmu sekesal ini? Kamu tiba-tiba pulang dan marah-marah pada Mommy seperti anak tidak tahu sopan santun saja!" Miranda yang selalu memanjakan putrinya, berniat untuk mengajari agar Jasmine berubah dewasa.


Agar putrinya tidak bersikap seperti anak kecil setelah berstatus sebagai seorang istri dan juga menantu di keluarga Jonathan yang diketahui adalah konglomerat dan orang paling berpengaruh di Jakarta.


Sebenarnya ingin sekali Jasmine mengungkapkan semua yang dirasakan pada sang ibu, tapi melihat wanita paruh baya tersebut balik marah padanya, tentu saja membuatnya kesal.


"Mommy tidak tidak pernah bisa mengerti perasaanku!" sarkas Jasmine yang mengempaskan tangan sang ibu dan berjalan keluar dari ruangan kamar dengan perasaan membuncah.


Bahkan selama berjalan keluar dan menuruni anak tangga, bisa mendengar suara teriakan sang ibu yang memanggil namanya, tapi sama sekali tidak diperdulikan.


'Aku akan menjelaskannya nanti setelah mengurus rencana untuk pergi ke Paris,' gumam Jasmine yang saat ini sudah tiba di halaman dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Jalan, Pak. Ngebut karena waktuku tidak lama dan tidak ingin terlambat sampai di studio."


"Siap, Nona muda," sahut sang sopir yang saat ini langsung mengemudikan kendaraan meninggalkan rumah megah keluarga Soraya menuju ke arah studio pemotretan.


Sementara itu, di kursi belakang, Jasmine yang masih merasa sangat marah pada sang ibu, berusaha untuk bersikap profesional dengan tidak terlambat datang ke studio pemotretan.


Baginya, profesional adalah kunci kesuksesannya dalam dunia modelling. Hal itulah yang membuatnya merasa karirnya cepat melesat hingga menerima tawaran untuk menandatangani kontrak eksklusif dengan sebuah perusahaan di Paris.


'Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang tidak akan datang dua kali ini. Jika orang tuaku mendukung Aaron dan tidak mendukungku, aku akan melakukan cara apapun untuk bisa pergi ke Paris. Meskipun harus kabur di hari pernikahan, tidak akan keberatan.'


Jasmine sudah bertekad bulat untuk lebih mementingkan karir sebelum pernikahan. Apalagi ia berpikir bahwa usianya masih terlalu muda untuk menikah.


'Aaron, maafkan aku karena tidak bisa menikah denganmu dalam waktu dekat ini. Aku janji akan kembali setelah sukses dan berhasil menjadi model internasional,' gumam Jasmine yang saat ini sudah mengambil keputusan bulat untuk lebih mementingkan karir daripada pria yang sangat mencintainya.


To be continued...