
Sebenarnya semua orang merasa sangat konyol ketika melihat tingkah Erick dan sang kekasih. Apalagi pada umumnya orang kebanyakan itu tidak suka dengan aroma menyengat dari buah Durian.
Namun, yang terjadi malah sebaliknya karena gadis kecil itu sangat menyukai aroma menyengat dari buah Durian yang sudah mereka buka semua beberapa saat lalu.
Bahkan saat ini hanya bisa menunggu untuk menikmati Durian besar-besar yang sudah sangat menggugah selera untuk segera dimakan. Hingga merasa air liur seperti menetes kala buah dengan warna terang itu seolah melambai untuk segera dinikmati.
'Semoga kekasih Erick tidak lama mencium aroma buahnya.'
'Rasanya ingin segera melahap buah Duriannya.'
'Pasti Durian Montong itu sangat manis dan lezat.'
Beberapa orang yang tengah fokus menatap ke arah buah dengan mata fokus pada warna kuning yang sangat menggoda, sibuk bergumam sendiri di dalam hati.
Sementara itu, Zea yang sudah duduk di atas rerumputan, kini sudah memanjakan indra penciumannya dengan aroma buah yang menyengat, tapi sangat disukainya tersebut.
'Harum sekali baunya,' gumam Zea yang hanya bisa mengungkapkan di dalam hati karena tidak mungkin ia berbicara dengan lantang di depan para pria yang duduk melingkar di hadapannya.
Bahkan saat ini ia tahu jika teman-teman Erick sudah mengumpat tingkah konyolnya. Namun, ia tidak perduli karena memang dari dulu sangat menyukai aroma khas yang menurutnya sangat wangi.
'Rasanya aku ingin tertawa melihat mereka semua yang dengan sabar menunggu. Bahkan aku saat ini tidak pernah menyangka akan dihadapkan pada situasi sekonyol ini dari tingkah Erick.'
Ia heran karena para sahabat Erick tidak ada yang mengajak cewek dan bertanya-tanya apakah memang belum mempunyai pasangan atau sengaja tidak mau kekasihnya ikut.
Hingga beberapa saat kemudian, ia menoleh ke arah Erick. "Aku sudah puas. Silakan dinikmati."
"Kenapa sebentar sekali? Apa kamu sudah puas?" tanya Erick yang kini masih tidak percaya dengan Anindya.
Namun, berbeda dengan yang dirasakan oleh para sahabatnya. Ia sekilas melihat jika mereka seolah memberikan sebuah kode agar bisa segera menikmati Duriannya. Hingga ia pun kini melihat gadis di sebelahnya menggelengkan kepala.
"Bukankah tadi aku bilang sudah? Kasihan buahnya nanti tidak enak," ucap Zea yang kini menyadari jika para sahabat Erick tidak sabar untuk menikmatinya.
"Baiklah, kalau begitu." Kemudian Erick memberikan kode agar para sahabatnya segera bergerak menikmatinya.
Refleks semua orang mengangguk perlahan dan mengangkat ibu jarinya.
"Siap, Bro. Ayo, kita serang sekarang!" sahut salah satu pria yang memakai Hoodie berwarna putih.
Ia yang dari tadi menahan diri, kini sudah tidak sabar dan langsung bergerak untuk mengajari yang lain agar segera mengambilnya.
Kemudian yang lain langsung mengikuti dan menikmatinya sambil sesekali mengerjapkan mata saat merasakan kenikmatan dari rasa manis raja buah itu.
"Wah ... sangat manis."
"Iya, punyaku juga."
"Sepertinya penjualnya memang jujur dan tidak ada yang hambar."
Erick kali ini mengambil duriannya dan membuktikannya. "Tadi aku mengancam saat membeli. Jika sampai menipu dengan mengatakan manis, padahal tidak, aku akan menghancurkan lapaknya dengan kalian."
Semua orang pun tertawa terbahak-bahak kala mengetahuinya.
"Pasti penjualnya takut dan mengira kita benar-benar akan melakukan sesuatu."
"Akhirnya nama anak motor jadi jelek karena ulahmu," sahut Zea yang menanggapi candaan dari Erick.
"Yang penting kami tidak melakukannya, Ayang. Jadi, nama kami masih baik," sahut Erick yang tersenyum simpul menatap ke arah sosok gadis yang menjadi kekasih palsunya.
Zea hanya bersikap datar dan beralih melihat ponselnya karena menunggu Aaron menelpon begitu tiba di sana, indra pendengaran menangkap suara bariton yang sangat dihafal dan membuatnya menoleh ke belakang.
"Anindya!"
To be continued...