Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Menguraikan keheningan



Zea saat ini mengerjapkan mata karena merasa bingung untuk menjawab. Namun, ia memilih menjawab dengan jujur meskipun ada sesuatu yang tidak dikatakan.


"Kalau soal cintanya, memang seperti tuan Aaron yang sangat mencintai nona Jasmine. Tapi kalau sifatnya, jangan yang seperti ini karena nanti malah setiap hari menarik rambutku seperti yang dilakukannya tadi."


Baru saja ia menutup mulut, seketika meringis menahan rasa nyeri saat rambutnya ditarik dari belakang hingga mendongak ke atas.


"Seperti ini maksudmu?" sahut Aaron yang seketika langsung mempraktekkan perkataan gadis berkepang dua itu dan tertawa terbahak ketika melihat wajah memerah diliputi amarah serta meringis kesakitan karena perbuatannya.


Ia merasa sangat terhibur melihat wajah polos gadis itu dan sejenak melupakan kemarahannya pada Jasmine yang membuatnya tidak sabar untuk memarahi calon istrinya tersebut jika bertemu nanti.


"Aaron, berhenti! Jangan selalu menarik rambut Anindya seperti itu karena pasti rasanya sangat sakit. Atau kamu mau mencobanya karena Mama tidak keberatan untuk menarik rambutmu hingga rontok?" sarkas Jenny yang saat ini tengah menatap tajam ke arah putranya.


Karena tidak ingin dihukum oleh sang ibu, seketika Aaron mengangkat tangannya ke atas. "Iya, tidak akan lagi."


Kemudian ia melirik ke arah gadis di sebelah kirinya. "Sorry, bocil! Aku tidak akan melakukannya lagi daripada rambutku botak karena dihukum oleh Mama."


Zea hanya mengerucutkan bibir dengan wajah masam karena selalu saja merasa kesal saat berada di dekat pria yang sangat disukainya tersebut.


'Bocil ... bocil, memangnya aku anak SD, apa! Aku bahkan sudah 19 tahun, sudah remaja dan sebentar lagi menginjak dewasa. Menyebalkan sekali,' umpat Zea yang saat ini tidak ingin berkomentar apapun dan melanjutkan menikmati makan lobster yang ia ketahui sangat mahal harganya.


Apalagi ia belum pernah makan udang raksasa tersebut karena biasanya makan udang asam manis di warung pinggir jalan bersama sang ayah.


Namun, dulu saat sang ibu masih hidup, lebih sering makan di rumah daripada di luar karena masakan wanita yang telah melahirkannya tersebut sangat lezat dan tidak ada duanya.


Sementara itu, sosok wanita yang berada di belakang keluarga itu, tak lain adalah Lysa, kini masih fokus mendengarkan pembicaraan tersebut dan merasa sangat kecewa karena ternyata tidak ada hubungan apapun diantara Aaron dan gadis dikepang dua tersebut.


'Sebenarnya siapa gadis itu dan kenapa terlihat seperti sangat dekat dengan keluarga kekasih Jasmine? Lalu, kenapa mereka membicarakan mengenai pernikahan? Apa pria itu berencana untuk menikahi Jasmine?' gumam Lysa yang saat ini bergumam sambil menikmati makanannya.


Ia dari tadi mendengarkan dengan seksama dan sama sekali tidak mengetahui siapa sebenarnya sosok gadis di kepang dua tersebut yang masih belum terungkap.


Karena ia hanya mengetahui nama gadis itu saja dan saat ini tidak bisa mendapatkan informasi selain itu. Saat ia sibuk bertanya-tanya mengenai gadis dikepang 2 tersebut, mendengar suara notifikasi ponselnya dan langsung membaca pesan dari Jasmine.


Karena merasa sangat kesal dan emosi begitu membaca pesan bernada ejekan dari Jasmine, seketika ia mengepalkan tangan di bawah meja.


Sebenarnya ia ingin menggebrak meja untuk meluapkan amarahnya, tapi tidak ingin menjadi pusat perhatian dari semua orang yang ada di restoran, khususnya keluarga dari kekasih Jasmine yang berada di belakang tempat duduknya.


'Sialan! Ia selalu percaya diri seolah-olah adalah wanita paling cantik dan hebat di dunia. Apalagi sikap sombongnya semakin menjadi begitu mempunyai hubungan dengan seorang konglomerat di Jakarta yang sangat terkenal.'


Lysa tidak ingin membalas pesan dari Jasmine dan memilih untuk langsung memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. 'Kenapa hidup wanita sialan itu selalu beruntung dalam hal apapun? Menyebalkan sekali!'


Beberapa menit berlalu, Lysa yang dari tadi sibuk bergumam sendiri di dalam hati untuk mengumpat demi bisa meluapkan segala amarah yang membuncah, mengerjapkan mata begitu melihat seseorang yang baru saja masuk ke dalam pintu utama dan mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari seseorang.


Saat ini, Jasmine yang baru saja tiba di restoran, langsung mencari keberadaan dari Aaron dan dua wanita berbeda usia tersebut untuk memastikan sesuatu hal yang mengganggu pikirannya.


Hingga saat ia mengedarkan pandangan, bersitatap dengan rekannya sesama model yang tadi mengirimkan pesan padanya. Bahkan ia melihat Lysa melambaikan tangan seolah mengejeknya agar segera mendekat.


Saat ia tidak ingin menanggapi, tapi pandangannya berhenti pada sang mertua yang tengah berbincang di hadapan Aaron dan gadis berkepang dua itu, sehingga membuatnya langsung berjalan menghampiri.


'Sialan! Aku susah payah meluangkan waktu untuk datang ke butik demi fitting gaun pengantin seperti perintahnya, tapi ia malah enak-enak makan di sini. Bahkan aku belum sempat makan karena ingin segera datang ke butik, tapi apa yang kudapatkan hari ini?'


Jasmine yang merasa sangat kesal, saat ini tidak memperdulikan Lysa. Ia berpikir harus berbicara empat mata dengan Aaron karena tidak ingin jika rekannya tersebut mengetahui mengenai rencana pernikahannya.


Ia memang belum mengatakan pada siapapun mengenai rencana pernikahannya karena itu hanya akan menghancurkan karirnya. Apalagi semua orang sudah mengetahui jika ia baru saja menandatangani kontrak eksklusif dengan salah satu perusahaan di Paris.


Jadi, tidak ingin ada satu pembicaraan mengenai pernikahan dan didengar oleh Lysa karena itu akan sangat berbahaya jika sampai didengar oleh Aaron.


Begitu ia tiba di dekat meja keluarga sang kekasih, seketika menyapa dan tersenyum untuk menyembunyikan rasa kesalnya. "Mama, Sayang, kebetulan sekali bisa bertemu di sini. Padahal aku tadi berniat untuk makan di sini."


Jasmine bisa melihat jika ibu dan anak tersebut menampilkan wajah masam seolah sangat kesal padanya, tapi ia tidak memperdulikan itu karena tengah menatap ke arah gadis berkepang dua yang tadi dikejar-kejar oleh Aaron seperti anak kecil.


'Jadi, gadis kecil ini yang membuat Aaron mengejarnya seperti anak kecil? Memangnya siapa gadis culun ini?' gumam Jasmine yang masih terus menatap sosok gadis belia yang ia tebak masih sangat muda.


Sementara itu, Zea saat ini bisa melihat tatapan penuh kebencian yang ditunjukkan oleh wanita di hadapannya.


'Jadi ini nona Jasmine yang sangat dicintai oleh tuan Aaron? Wah ... ternyata calon istri tuan Aaron sangat cantik. Pantas saja tuan Aron sangat mencintainya dan rela melakukan apapun demi nona cantik ini.'


'Bahkan aku tidak ada seujung kuku pun dengannya,' gumam Zea yang saat ini merasa insecure berhadapan dengan wanita dengan tubuh seksi serta sangat tinggi itu.


Zea saat ini merasa untuk kedua kalinya seperti bumi dengan langit saat melihat kesempurnaan dari sosok wanita cantik yang merupakan calon istri pria yang disukainya secara diam-diam.


Kini, ia melepaskan semua harapannya agar tidak lagi menyukai pria yang memiliki kekasih sangat cantik dan menjadi idaman para pria. Cantik, tinggi, putih, seksi, seolah kesempurnaan itu berbanding terbalik dengan kekurangannya.


Jadi, ia pun berpikir bahwa hari ini adalah saat yang tepat untuk melupakan sosok pria yang disukai dan sangat dikagumi olehnya.


'Semoga tuan Aaron bahagia hidup bersama dengan calon istrinya yang sangat cantik ini,' gumam Zea yang saat ini melihat wanita itu menunjuk ke arahnya.


"Sayang, siapa gadis kecil ini?" tanya Jasmine yang menguraikan keheningan di antara mereka karena ia merasa dicueki ketika bertanya dan sama sekali tidak dijawab.


To be continued...