
Aaron sekali lagi ingin memastikan bahwa apa yang baru saja didengarnya bukanlah sebuah kepalsuan semu semata karena sang supir juga mengiyakan jika saat ini mendengar suara bayi menangis yang menggema dari dalam area rumah megah itu.
"Iya, suara tangisan bayinya semakin terdengar jelas. Sepertinya bayi itu berada tak jauh dari tembok ini," ucap Aaron yang saat ini menunjukkan tembok di sebelah kanan rumah megah itu.
Tadi ia dan juga sopir membuka kaca pintu mobil dan bisa mendengar dengan jelas suara tangisan bayi dari dalam area rumah megah istana tersebut.
"Mungkin karena tidak betah berada di dalam rumah, jadi dibawa ke luar agar tidak menangis. Tapi sepertinya masih terus menangis dan makin kencang suaranya. Saya menebak jika saat ini bayinya berada di area taman atau halaman rumah ini," ucap sang sopir yang masih bisa mendengar suara tangisan bayi.
"Tunggu sebentar," ucap Aaron yang saat ini tengah melepaskan sabuk pengaman dan beranjak keluar dari dalam taksi karena ingin semakin memastikan sendiri tentang sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
Ia kini berdiri di sebelah tembok cukup tinggi rumah lantai 5 tersebut. Jadi, ia saat ini berpikir bayi menangis tersebut sangat susah untuk ditenangkan karena tidak kunjung diam.
"Suaranya bahkan sangat kencang. Sebenarnya apa yang mau buat bayi itu menangis dan apa hubungannya dengan Anindya karena tinggal di rumah keluarganya?" Aaron awalnya memutar otak untuk mencari tahu jawaban atas hal yang ingin diketahui olehnya.
Namun, ia seketika mendapatkan sebuah ide di kepalanya dan saat ini kembali berbicara dengan sopir taksi. "Aku akan berusaha untuk masuk ke dalam. Anda tunggu di sini sebentar."
"Anda tidak boleh lama, Tuan karena nanti akan jadi masalah buat saya." Sang supir saat ini khawatir jika akan mendapatkan masalah jika lama berada di sana dan tidak mencari penumpang.
Sementara itu, Aaron yang mengerti dengan ada pembicaraan dari sopir taksi tersebut, langsung memberikan berapa lembar uang yang dikeluarkan dari dalam dompet.
Tentu saja menganggap bahwa uang tutup mulut tersebut cukup untuk membuat sang supit tidak takut lagi. Kemudian ia langsung berjalan menuju ke arah pos security.
Saat melihat pria dengan seragam hitam tersebut tengah menonton televisi, sehingga langsung menyapa dengan tersenyum. "Maaf, Pak, apa saya boleh bertemu dengan pemilik rumah ini?"
Ia pada awalnya berpura-pura untuk tidak mengenal agar bisa mengorek informasi dari pria tersebut. Hingga ia bisa melihat tatapan menyelidik dari security itu.
"Anda siapa? Kamu tidak boleh masuk sebelum diketahui dengan jelas identitasnya," ucap pria dengan tubuh tinggi gempal yang memperhatikan penampilan tamu tak diundang mulai dari ujung kaki hingga kepala.
Sampai pada akhirnya ia pun kini berpikir jika sosok security tersebut tidak mungkin akan mengizinkan ia masuk, akhirnya Aaron memilih untuk menipunya. "Saya adalah ahli terapis bayi. Bahkan saya menjual alat-alat untuk terapi bayi."
"Kebetulan tadi saat lewat, mendengar suara bayi dari dalam dan berpikir mungkin jika bayi yang menangis dan tidak bisa diam itu bisa tenang dengan sedikit terapi dari saya," ucap Aaron yang saat ini berakting sangat meyakinkan untuk membuat pria tersebut percaya padanya.
"Sebentar!" Security kini langsung mengambil ponsel miliknya dan menghubungi kepala pelayan untuk mencari tahu keputusan apa yang akan diambil.
Aaron saat ini hanya mengangguk perlahan dan beralih untuk membuka ponsel miliknya karena ingin mencari tahu perihal tentang bayi agar bisa menjelaskan jika sewaktu-waktu diperbolehkan masuk.
Bahkan ia saat ini juga mencari toko di sekitar area Surabaya untuk diakui menjadi tempat kerjanya dan menawarkan beberapa produk untuk bayi.
Security yang kini mendengar suara dari kepala pelayan, langsung menceritakan apa yang disampaikan oleh pria tidak diundang tersebut.
"Bagaimana? Apakah perlu menyuruh pria ini masuk atau menyuruhnya pergi? Aku tidak bisa mengambil keputusan," ucap security yang saat ini sekilas menatap ke arah pria dengan pakaian rapi dan memiliki wajah rupawan itu.
"Kebetulan tuan Kenzie dari tadi menangis terus dan tidak bisa ditenangkan. Aku pun tidak mau menghubungi nona muda yang tengah fokus memimpin perusahaan. Suruh saja pria itu masuk karena siapa tahu apa yang dikatakannya benar dan bisa menenangkan tuan Kenzie. Lagipula tidak ada yang bisa berbuat jahat di sini karena ada banyak pengawal yang menjaga."
Kepala pelayan terpaksa mengambil keputusan karena khawatir pada bayi yang dari tadi rewel dan sangat susah untuk ditenangkan. Jadi, berharap jika dia yang baru saja datang tersebut mampu menenangkan seperti yang dikatakan karena merupakan ahli terapi untuk bayi.
"Baiklah. Aku akan membuka pintu gerbang sekarang dan menyuruhnya masuk," ucap security yang menutup panggilan telepon dan kembali berjalan menemui pria yang masih berdiri di depan pos.
"Anda bisa masuk sekarang dan bertemu dengan kepala pelayan di rumah ini karena bos tidak ada di rumah, tapi mempercayakan semuanya padanya." Kemudian ia langsung memencet remote dan pintu gerbang besi tersebut terbuka.
Aaron sama sekali tidak pernah menyangka jika kebohongannya dengan mudah dipercaya oleh orang yang berada di dalam rumah megah itu dan membuatnya merasa sangat lega karena tanpa menunggu nanti malam bisa masuk ke sana.
"Baiklah. Saya akan masuk sekarang dan mencoba untuk berbicara dengan kepala pelayan mengenai terapi untuk bayi agar tidak gampang menangis ataupun rewel." Aaron yang saat ini berjalan menyusuri halaman depan rumah yang cukup luas yang sangat asri karena dipenuhi oleh tanaman hias yang terawat, merasa sangat heran dengan diri sendiri.
Ia saat ini berjalan sambil sibuk bergumam sendiri di dalam hati mengenai kegilaan yang dilakukannya saat ini. 'Bisa-bisanya aku mengarang sebuah kebohongan mengenai terapis bayi.'
'Dari mana ide seperti ini kudapatkan? Apa karena aku sangat ingin masuk ke dalam begitu mengetahui suara dari bayi itu yang menangis? Aku sangat penasaran dengan siapa sebenarnya bayi yang menangis itu. Hingga bisa berpikir sejauh ini dengan menjadi sales terapis bayi,' gumam Aaron yang saat ini melihat sosok wanita paruh baya keluar dari pintu utama berwarna keemasan dan menyapanya.
To be continued...