Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Melanjutkan pendidikan



"Kamu memang anak yang baik," ucap Sandy yang refleks langsung mengusap lembut kepala dengan rambut panjang yang dicepol ke atas itu.


"Jawaban berbeda pasti akan dikatakan oleh orang lain saat mendengar nama hadiah. Sementara kamu sama sekali tidak berpikir untuk menyebutkan hadiah saat ditawarkan. Baiklah, sekarang kita cek dulu jawabanmu." Sandy bahkan sama sekali tidak menoleh ke arah Aaron.


Ia tahu jika sahabatnya pasti akan kesal dan menunjukkan kemarahan padanya seperti tadi karena sudah menduga bagaimana sikap Aaron pada Anindya. Seolah tidak boleh berbuat apapun pada gadis amnesia itu dengan alasan ingin menjaga saja.


Padahal ia bisa merasakan ada sebuah perhatian berlebihan yang ditunjukkan sahabatnya ketika berhubungan dengan Anindya. Kini, ia mulai fokus memeriksa satu-persatu jawaban Anindya.


Berbeda dengan Aaron yang dari tadi sibuk menahan diri agar tidak kembali murka pada sahabatnya.


'Sialan Sandy. Sepertinya dia memang sengaja ingin mencuri kesempatan dalam kesempitan. Sabar, aku tidak akan meminta tolong padanya lagi tentang hal yang berhubungan dengan Anindya. Cukup sekali.' Aaron yang dari tadi menatap kesal pada sahabatnya, kini beralih ke arah gadis yang duduk di sebelah Sandy.


Ia berpikir jika Anindya duduk terlalu dekat dengan Sandy dan ikut fokus menatap ke arah laptop. Seolah ingin memastikan jawaban. Kemudian ia langsung berjalan mendekati sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut dan menepuk pundaknya.


Aaron sengaja tidak membuka suara karena ia hanya memberikan sebuah kode agar gadis itu berpindah tempat. Itu karena ia ingin duduk di sebelah temannya.


Bahkan juga mengibaskan tangan karena ingin Anindya segera berpindah. Namun, suara bariton dari sahabatnya seketika membuat gadis itu tidak jadi bangkit karena menatap ke arah laptop.


"Wah ... luar biasa, Anindya! Semua jawabanmu perfect! Sama sekali tidak ada yang salah. Ini adalah soal-soal untuk kelas sepuluh. Sepertinya kamu sudah melewati ini dan duduk di bangku yang lebih." Sandy kini bertepuk tangan setelah menoleh ke arah gadis yang hendak bangkit berdiri.


Ia sekilas tadi bisa melihat apa yang dilakukan oleh Aaron dan kebetulan sudah selesai memeriksa dan langsung mengungkapkan pada gadis itu.


"Wah .. benarkah? Aku bahkan tadi menjawab sesuai dengan apa yang kubaca dan merasa seperti itu tidak sulit, jadi langsung mengerjakannya." Zea berakting seperti gadis polos yang tidak tahu apa-apa.


Ia tadi merasa aneh dengan sikap seorang Aaron yang seolah tidak suka melihatnya duduk di sebelah Sandy. Bahkan ia berpikir jika sahabat Aaron layaknya seorang guru yang dihormati dan sama sekali tidak berpikir apapun.


Kini, ia ingin menoleh pada pria yang masih berdiri menjulang di sebelah kirinya dan malah mendapatkan sebuah perintah seperti tidak puas dengan hasil yang ia peroleh.


Jadi, ia tidak menunjukkan perasaan sebenarnya dan masih bersikap datar karena ingin melihat selanjutnya. Kebetulan gadis itu terlihat sangat bersemangat.


"Baiklah. Aku akan mengerjakannya." Zea berakting untuk kesekian kalinya dengan berpura-pura polos saat menoleh ke arah pria yang kini juga menatap ke arah Aaron. "Berikan soal-soalnya."


Sandy tidak ingin banyak berbicara karena ia juga ikut penasaran dengan gadis itu. Sampai di mana kemampuan Anindya dan membuatnya langsung membuka file berisi soal-soal untuk kelas sebelas.


"Baiklah. Kerjakan yang ini! Kali ini aku ingin melihat caramu mengerjakannya dan tidak akan pergi." Kemudian menoleh ke arah sahabatnya. "Apa kau mau melarangku?"


Refleks Aaron menggelengkan kepalanya karena ia langsung mendaratkan tubuhnya di sebelah kiri Anindya.


"Tidak! Aku juga ingin tahu si bocil ini saat mengerjakannya. Apa dia curang atau jujur. Cepat kerjakan." Aaron kini mengarahkan dagunya ke arah laptop agar gadis yang menatapnya segera melaksanakan perintah.


Karena merasa diremehkan ketika tidak dipercayai oleh dua pria yang duduk di kanan dan kiri, kini Zea fokus pada laptop dan ingin menunjukkan kemampuannya.


'Baiklah. Aku akan menunjukkan kemampuan si jenius cupu dan kutu buku yang sangat terkenal di sekolah,' gumam Zea yang kini kembali sibuk mengerjakan soal-soal di layar laptop.


Sementara itu, Aaron dan Sandy yang ikut kepo pada jawaban gadis itu, beberapa kali saling bersitatap untuk sama-sama memberikan sebuah kode.


Sandy bahkan berkali-kali memberikan jempolnya karena jawaban gadis itu kembali betul semua. Ia bahkan menatap heran ke arah Aaron.


"Sepertinya kita bertemu dengan sang jenius karena tidak ada satu pun yang salah dari jawabannya. Dia pasti dulu adalah seorang gadis dengan kemampuan IQ diatas rata-rata." Sandy yang baru saja menutup mulut, kini hanya geleng-geleng kepala melihat respon Aaron.


"Kalau begitu, kasih soal-soal kelas 12! Jika dia bisa menjawab semuanya, aku akan membuatnya melanjutkan pendidikan ke universitas," sahut Aaron yang kini tiba-tiba ingin mengembangkan kemampuan otak seorang gadis kesayangan sang ibu.


To be continued...