Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Rencana jahat



Beberapa saat lalu, Aurora yang tersenyum smirk begitu berhasil keluar dari hotel, langsung memesan taksi dan mendapatkan balasan pesan dari sang ibu agar segera pergi ke salah satu restoran yang berada tak jauh dari sana.


Tentu saja tadi ia tahu bahwa sang ibu tengah bernegosiasi dengan salah satu pejabat yang akan membeli adik tirinya. Bahkan ia merasa sangat penasaran dengan berapa nominal uang yang diterima oleh sang ibu.


Kini, ia sudah berada di dalam taksi yang meluncur menuju restoran dan ingin segera tiba di sana bertemu sang ibu. Ia ingat jika tadi melihat Zea yang langsung tertidur pulas karena seharian ia ajak berkeliling Mall.


Ia memang sengaja melakukan itu agar Zea kelelahan dan mudah tertidur saat merasakan nyamannya ranjang king size di hotel. Tentu saja untuk biaya hotel itu sudah ditanggung oleh pria yang membeli adik tirinya.


'Ternyata enak sekali tidur di hotel bintang lima di Presidential suite room. Kamu harusnya merasa senang, Zea karena malam ini bisa melepaskan keperawanan di tempat mewah dan nyaman.'


'Maafkan aku yang menjualmu demi bisa melanjutkan perjuangan hidup mewah,' gumam Aurora yang kini terkekeh geli ketika menyadari kekonyolannya.


Hingga taksi yang membawanya sudah berbelok ke area restoran dan ia langsung bersiap keluar setelah supir taksi memberhentikan kendaraan yang ditumpangi.


Setelah membayar ongkos taksi, Aurora kini melangkahkan kaki jenjangnya masuk ke area restoran dan mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan sang ibu.


Hingga begitu melihat sang ibu melambaikan tangan padanya, seketika ia berjalan cepat menghampiri dan mendaratkan tubuhnya di hadapan wanita paruh baya yang sangat disayangi.


"Bagaimana, Ma? Apa pria itu sudah memberikan uangnya? Dia langsung menuju ke hotel, kan? Tadi aku tidak bertemu dengan pria tua bangka banyak yang itu."


Sementara itu, wanita paruh baya yang terlihat menyeruput minumannya, kini dengan santai meraih ponsel miliknya di dalam tas dan membuka M-banking. Kemudian menunjukkan pada putrinya.


"Kita jalan-jalan ke luar negeri, yuk Ma! Aku ingin ke Korea ketemu ayang Park Jimin," seru Aurora yang kini sudah menghayal bisa pergi ke negeri ginseng dan melihat salju.


Tentu saja ia sudah menduga jika putrinya akan berekspresi seperti itu saat melihat nominal uang di rekening. Refleks ia langsung memukul ringan lengan putrinya karena tidak berniat untuk menuruti kemauan putrinya.


"Kita harus berhemat, Aurora. Jika nanti uangnya habis, kita akan hidup sengsara. Mumpung ada modal, bagaimana jika kita buka usaha dan memasarkan di media sosial. Kamu kan lebih mengetahui ada aplikasi yang viral itu, nanti live saat memasarkan produknya."


Aurora seketika membulatkan mata begitu mengetahui ide dari sang ibu. Ia adalah mahasiswi di kampus dan akan sangat malu jika para temannya mengetahui berjualan.


"Ah ... nggak Ma. Aku bakal diejek teman-teman kampusku nanti. Lagian ribet amat buka usaha. Nanti kalau uang kita habis, tinggal jual lagi si culun itu. Meski tidak semahal pertama, paling tidak masih bisa kita manfaatkan."


Kini, sosok wanita paruh baya yang tadinya ingin marah pada putrinya karena tidak mendukung idenya untuk membuka usaha, seketika goyah dan membenarkan pemikiran itu.


"Benar juga kamu, Sayang. Selama masih ada gadis cupu dan culun itu, kita bisa menjualnya lagi, tapi sepertinya dia akan marah pada kita nanti."


"Tenang saja, soal itu, biar aku yang atur. Si Zea itu sangat bodoh dan mudah ditipu. Pasti akan percaya pada semua yang kukatakan. Lagian dia pasti akan pulang ke rumah karena tidak punya tempat tujuan." Aurora kini melirik jam tangannya dan tersenyum menyeringai.


"Sepertinya sekarang si culun itu sudah di unboxing sama pria tua gendut itu." Aurora kini kembali tersenyum smirk saat sang ibu membenarkan perkataan dengan mengangguk perlahan.


To be continued...