
Refleks Erick seketika tersenyum simpul begitu melihat salah satu sahabatnya memiliki respon positif pada hubungannya dengan gadis yang bahkan belum menjadi kekasihnya tersebut.
"Seandainya pemikiran mereka benar, nanti aku akan merasa sangat bahagia," ucap Erick yang saat ini menoleh ke arah Anindya. "Bagaimana? Apa saat ini kamu bersedia menjadi pacarku?"
Ketika harapan tidak sesuai ekspektasi, Erick seketika merasa tertampar ketika gadis yang berada di hadapannya tersebut menggelengkan kepala tanpa berpikir.
"Aku sudah memiliki pria idaman," sahut Anindya lirih karena tidak ingin didengar oleh semua sahabat Erick yang mungkin akan malah mempermalukan pria itu.
Kemudian ia perjalanan menuju ke arah motor dan tidak ingin melanjutkan pembicaraan yang sudah menuju ke arah pernyataan cinta pria itu. Apalagi ia tidak mungkin berbicara jujur.
Bahwa pria yang disukai adalah Aaron karena hanya akan diejek habis-habisan. Apalagi ya yang dicintai tidak akan pernah bisa dimiliki karena sebentar lagi akan menikah.
"Ayo, kita berangkat sekarang." Zea saat ini menunggu hari kembali ke arah motor.
Sementara itu, Erick yang seketika berubah masam wajahnya karena ditolak mentah-mentah di hadapan para sahabatnya. 'Padahal aku tadi hanya bercanda, tapi malah baper sendiri karena ditolak.'
Meskipun tidak mendapatkan sorak sorai dari teman-temannya, tetap saja Erick merasa kehilangan harga diri karena untuk pertama kalinya ditolak oleh seorang wanita yang menjadi incarannya tersebut.
'Sial! Iseng bercanda malah aku malah kesal sendiri. Memangnya siapa pria yang disukai oleh Anindya?' gumamnya dengan memutar otak untuk menebar sosok pria istimewa di hati gadis itu sambil berjalan mendekati motor dan naik ke atasnya.
Apalagi teman-temannya sudah menunggu serta waktu semakin bergulir, sehingga kali ini berpikir jika akan semakin terlambat tiba di puncak.
"Baiklah! Kita berangkat sekarang, teman-teman!" Erick bahkan saat ini sudah merasakan pergerakan Anindya yang naik ke atas motor.
Meskipun belum berpegangan erat padanya, tetap tidak membuatnya memerintah seperti beberapa saat lalu karena yakin jika Anindya akan kembali memeluknya erat jika mau mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi.
"Let's go!" seru yang lainnya dan dini sudah menyalakan mesin motor masing-masing.
Hingga beberapa saat kemudian, Erick melajukan kendaraan dan diikuti oleh semua teman-temannya di belakang. Hingga ia pun lama-kelamaan semakin menambah menambah kecepatan dan seperti yang dipikirkan, Anindya kembali memeluk erat perutnya karena takut terjatuh.
Sementara itu, Zea yang tidak mungkin protes dengan cara Erick melajukan motor, kini fokus berpegangan agar tidak terjatuh.
Ia memilih untuk menghilangkan ketakutan dengan menatap ke arah perjalanan yang saat ini mulai memasuki area perbukitan dan sangat disukainya karena bisa menghirup udara segar yang tidak terkontaminasi oleh polusi asap kendaraan.
'Dulu papa berjanji untuk mengajakku pergi liburan di pegunungan, tapi tapi tidak berpihak padaku dan akhirnya kehilangan. Papa, kali ini aku terima akan menikmati hidup dan berusaha mengiklaskan kepergianmu,' gumam Zea dengan mata berkaca-kaca ketika mengingat sosok sang ayah yang telah pergi ke surga menyusul sang ibu.
Melihat pemandangan indah yang ada di kanan kiri, kebahagiaan terpancar dari raut wajahnya yang merasa sangat senang bisa memanjakan mata dengan pemandangan indah.
Hal paling sepele yang membuatnya senang adalah bisa memanjakan mata dengan keindahan alam sekitar karena dari dulu sangat menyukai pegunungan yang notabene sering menjadi ide para anak kecil ketika menggambar.
Bahkan dari kecil ia seringkali menggambar gunung karena sangat mudah dilakukan. Hingga ia tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara dari ponsel miliknya.
Apalagi kontak yang ada di ponselnya hanya berisi keluarga Jonathan serta Erick. Jadi, kupikir jika salah satu dari orang yang tinggal di keluarga Jonathan-lah yang menghubunginya.
"Apa tuan Aaron yang menelpon?" Zea akhirnya membuka tas tentang miliknya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri masih berpegangan ada perut sixpack Erick.
Benar apa yang dipikirkan karena yang menghubungi benar-benar Aaron merasa sangat kesal dan serasa ingin menepuk jidat, tapi tidak bisa melakukannya.
"Siapa?" teriak Erick yang bisa merasakan pergerakan Anindya ketika memeriksa siapa yang menelpon. Hingga ia semakin merasa kesal begitu mengetahui jawabannya.
"Tuan Aaron. Sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan." Akhirnya ia menggeser tombol hijau ke atas dan memasukkan ke dalam helm setelah itu didekatkan pada daun telinganya.
"Iya, Tuan Aaron." Anindya benar-benar merasa penasaran dengan apa yang diinginkan oleh pria di balik telepon tersebut dan seketika wajahnya berbinar kala mengetahuinya.
"Nanti kirimkan lokasinya, karena setelah selesai menemui klien, aku akan menjemputmu."
Saat Zea indah membuka suara untuk mengiyakan, tapi tidak jadi melakukannya dan mulutnya kembali terkandung rapat begitu mendengar panggilan telepon sudah terputus secara sepihak.
'Wah ... dimatikan! Tuan Aaron menyebalkan sekali karena selalu berbuat seenak jidat, kenapa tingkahnya malah sangat menggemaskan. Ia akan datang menjemputku setelah selesai meeting seperti seorang kekasih saja,' gumam Zea dengan sudut bibir dari tadi melengkung ke atas mewakili perasaannya yang sangat bahagia hari ini.
Hingga ia kembali mendengar suara bariton dari pria yang ada di hadapannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa riarogan itu menelponmu? Apa ada masalah?" tanya Erick yang saat ini merasa sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Aaron.
Berpikir jika pria itu selalu saja menjadi penyebab kekesalan karena mengganggu saat bersama dengan Anindya. Hingga wajahnya seketika berubah memerah karena marah begitu mendengar Anindya menjelaskan.
'Berengsek! Pria tua itu benar-benar sangat berlebihan jika ingin menjemput Anindya saat bersamaku. Apa ia ingin membuat Anindya menjadi miliknya? Padahal sebentar lagi akan menikah dengan wanita lain. Dasar pria serakah! Aku doakan ia malah tidak mendapatkan keduanya.'
Erick yang merasa sangat marah setelah mengetahui jika nanti Anindya tidak pulang bersamanya, ia pun memilih menambah kecepatan tanpa memperdulikan nada protes dari gadis itu.
"Erick, jangan kencang-kencang! Nanti jatuh!" teriak Anindya yang saat ini mencubit paha Erick setelah memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas.
Namun, teriakannya sama sekali tidak diperdulikan karena motor masih melaju dengan sangat kencang dan membuatnya kembali memeluk erat perut dengan otot kencang itu.
'Mulai lagi kegilaannya. Apa semua anak motor seperti ini? Melajukan kenapa dengan kecepatan tinggi dan merasa mempunyai nyawa banyak dan tidak akan mati jika terjadi kecelakaan. Ya Allah, lindungi aku agar bisa selamat sampai di tujuan.'
"Tenang saja karena aku tidak akan membuatmu celaka. Percayalah padaku dan serahkan hidupmu padaku," sarkas Erick yang kini semakin menambah kecepatan dan diikuti oleh para sahabatnya dengan menaikkan kecepatan.
To be continued...