
'Dasar gila!' Zea hanya mengumpat di dalam hati karena berpikir jika akan percuma saja mengungkapkan nada protes pada pria yang dianggap sangat konyol ketika berbicara padanya.
'Aku akan lebih mempercayai Tuhan dan menyerahkan hidupku pada-Nya daripada pria seperti Erick yang sering membahayakan nyawa sendiri. Apa ia pikir nyawa berada di tangannya?' Zea masih sibuk mengumpat di dalam hati karena tidak ingin mengungkapkan pada Erick.
Ia kembali mengingat sosok pria yang nanti akan menjemputnya dan membuatnya merasa sangat senang. 'Lebih baik aku memenuhi pikiranku dengan energi positif karena tuan Aaron akan datang.'
Karena tidak ingin dipenuhi oleh ketakutan ketika membayangkan jika motor yang saat ini melaju sangat kencang tersebut mengalami kecelakaan, Zea lebih memilih untuk memenuhi ekspektasi dengan kebahagiaannya.
Apalagi saat ini sudah membayangkan bisa kembali memanjakan mata dengan pemandangan indah bersama sosok pria yang dicintai merupakan sebuah hal yang sangat membahagiakan untuknya.
Meskipun ia tahu bahwa itu hanyalah hal yang seperti dan tidak berarti apa-apa bagi pria itu karena mencintai wanita yang akan dinikahi, tapi tetap saja membuat Zea merasa bahagia.
Bahkan berpikir bahwa ia akan mengambil banyak foto bersama dengan pria yang dicintai sebagai kenang-kenangan sebelum akhirnya benar-benar kehilangan sosok pria pujaan hati.
Sementara itu, Erick yang saat ini masih fokus menyetir dengan raut wajah penuh kekesalan, semakin bertambah besar karena gadis di belakangnya tersebut sama sekali tidak berkomentar apapun.
Hingga ia pun memencet tombol klakson beberapa kali dan tentu saja memekakkan telinga bagi siapapun yang mendengar. Namun, ia tidak peduli dan membiarkan beberapa temannya serta gadis itu bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan olehnya saat ini.
'Sialan Aaron! Aku sama yakin jika ia memiliki perasaan pada Anindya. Apalagi semua sikapnya berlebihan dan seperti over protektif pada Anindya, seolah tidak boleh pergi bersama dengan pria lain selain dirinya,' umpat Erick yang hanya bisa meluapkan di dalam hati karena tidak mungkin marah-marah pada gadis di belakangnya tersebut.
Apalagi ia tahu jika melakukannya, membuat gadis itu marah padanya serta ilfil. Hanya bisa meluapkan kekesalannya dengan melakukan cara sesuai dengan keinginannya.
Hingga beberapa kali ia mendapatkan sambutan dari beberapa temannya yang juga melakukan hal sama dengan memencet langsung beberapa kali. Seolah ingin mengimbangi apa yang dilakukannya dan membuatnya sedikit merasa terhibur karena para sahabatnya mengerti harus melakukan apa.
Seolah apa yang saat ini membuatnya kesal, sehingga melampiaskan dengan cara seperti itu. Apalagi ini adalah pertama kali ia melakukan sesuatu hal yang sangat konyol, tapi seolah teman-temannya mengerti apa yang dirasakan.
'Pasti mereka sudah bisa menduga apa yang kurasakan saat ini ketika tadi Anindya tidak menjawab saat aku bercanda menembaknya. Mungkin jika gadis lain, akan langsung menghambur memelukmu setelah mengiyakan.'
Erick saat ini berpikir jika di matanya saat ini hanya ada Anindya yang menjadi pusat perhatian dan juga rasa ketertarikan luar biasa yang memenuhi dirinya.
Namun, sayangnya gadis incarannya tersebut sangat sulit untuk ditaklukan olehnya dan harus bekerja keras demi bisa meluluhkan hati seorang Anindya.
Selama dua jam perjalanan, Erick fokus melajukan kendaraan tanpa mengajak Anindya berbicara. Ia sibuk dengan pemikirannya sendiri dan berpikir bahwa gadis itu juga merasakan hal yang sama sepertinya.
Hingga ia pun kini melihat kanan kiri jalan dipenuhi oleh penjual durian. Refleks ia mempunyai ide cemerlang di kepala.
Dengan mengurangi kecepatan, ia pun menepikan kendaraan di depan salah satu penjual durian. Hingga semua teman-temannya juga melakukan hal yang sama dengan berhenti.
Ia pun menoleh ke arah gadis yang saat ini seketika melepaskan pelukan. "Apa kamu suka durian? Kita bisa menikmatinya nanti di sana karena tempatnya sudah tidak jauh lagi."
Anindya saat ini membuka kaca penutup helm yang dipakainya dan bisa melihat ke arah durian mulai dari ukuran kecil hingga besar.
"Aku sangat suka melihat durian," jawabnya singkat sambil menikmati aroma raja buah yang selalu menjadi candunya.
"Kalau begitu, aku akan membelinya dan kita makan di lokasi nanti." Erick tadi berpikir ingin mencari perhatian Anindya dengan menyuap makanan kesukaan.
Namun, ia yang baru saja turun dari motor, mendengar suara Anindya yang dianggapnya sangat konyol dan seketika tertawa terbahak-bahak.
"Aku nggak doyan Durian, tapi suka menghirup aromanya yang sangat wangi." Anindya berbicara sangat santai untuk mengungkapkan apa yang selama ini dirasakan.
Bahkan ia menyadari kita itu sama-sama karena biasanya kebanyakan tidak suka dengan orangnya dari sang raja buah tersebut. Namun, ia tetap tidak suka meskipun sudah mencobanya berkali-kali.
"Bisa-bisanya kamu suka aroma durian yang menyengat, tapi malah tidak suka dengan rasanya. Aneh sekali," ucap Erick yang seketika memanggil beberapa temannya karena menyuruh untuk memilih dan membawakan nanti.
"Kita makan di sana nanti! Pilih yang menurut kalian manis," ucap Aaron yang masih sibuk memilih Durian paling besar serta manis menurut versinya. Meskipun nanti akan bertanya pada penjual karena tidak ingin salah pilih.
"Oke, Bro. Siap," sahut beberapa pria yang kini tengah memilih durian yang digantung di lapak.
Berbeda dengan Zea yang hanya diam saja karena berpikir jika nanti hanya akan melihat pesta durian, tapi hanya menjadi penonton.
'Menyebalkan sekali. Kenapa harus durian sih! Kan aku tidak suka,' keluh Zea dengan rasa kesalnya.
To be continued...