
Khayra dan sama asisten segera disambut dengan baik oleh dua pengawal yang berjaga di depan pintu ruangan meeting. Kemudian mereka melangkah masuk begitu pintu berwarna coklat keemasan tersebut terbuka.
Dengan mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan yang sangat luas dengan kursi serta meja di bagian tengah yang akan menjadi tempat duduk mereka yang hanya segelintir orang menghadiri acara itu.
"Masih ada waktu 10 menit lagi dan bisa dipergunakan untuk mempelajari dokumen yang akan anda sampaikan pada investor," ucap sang asisten yang kini menderita tubuhnya di atas kursi setelah menarik kursi untuk gadis itu agar ikut duduk di sebelahnya.
"Iya, Om." Khayra bahkan saat ini sudah membuka dokumen yang dibawa olehnya dan mempelajari agar lebih menguasai dan luas nanti ketika melakukan presentasi di depan investor.
Sementara sama asisten sudah membuka laptop yang tadi dibawa agar nanti memudahkan untuk membantu gadis itu jika ada yang dibutuhkan.
Saat Khayra kini melihat dokumen yang ada di hadapannya, kembali mengingat tentang kejadian di kamar hotel tadi, sehingga tidak bisa fokus ada apa yang dipelajarinya.
Ia saat ini malah merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Aaron ketika bertemu dengannya di ruangan itu. 'Kejutan apa lagi yang akan ku dapatkan? Aku benar-benar jangan penasaran dan ingin segera mengetahuinya.'
Saat baru saja bergumam tentang rasa penasarannya, kini mendengar suara pintu yang terbuka dan sudah menduga jika itu adalah sosok pria yang baru saja dipikirkan olehnya. Jika selama ini ia sangat marah sekaligus benci pada Aaron, tapi semuanya hari ini seperti musnah sudah hanya dengan satu kejutan yang diterima.
Ia seketika menelan saliva dan meremas kedua sisi bawahan yang dipakai untuk menormalkan perasaannya yang tidak karuan di saat detik-detik pertemuan dengan sosok pria yang membuatnya berbunga-bunga hari ini.
'Tenang ... tenang, aku pasti bisa menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya pada tuan Aaron. Aku tidak boleh bersikap bodoh dan gegabah dengan menunjukkan padanya jika hari ini aku sangat senang dengan kejutan darinya,' gumamnya dengan perasaan bergetar ketika debaran jantung melebihi batas normal dari biasanya.
Bahkan ia tadinya berniat untuk tidak menatap sosok pria yang baru saja datang tersebut, tapi tetap saja gagal melakukannya ketika pria paruh baya di hadapannya berbicara.
"Sepertinya tuan Jonathan sudah datang." Saat sang asisten baru saja menutup mulut, di saat bersamaan melihat seorang pria yang membawa dua bukit bunga di tangan kanan dan tangan kiri membawa tablet.
"Ternyata bukan tuan Jonathan, Nona Khayra," lirihnya sambil menoleh ke arah gadis yang tadinya fokus menatap ke arah dokumen di atas meja.
Sementara itu, Khayra yang sudah mengetahuinya, kini berpura-pura terkejut dan mengikuti arah pandang sang asisten ketika menatap ke arah pria dengan membawa dua buket bunga.
Ia merasa yakin jika itu salah satunya adalah untuknya. Hingga ia malah fokus pada bunga yang berbeda itu dan menebak bunga apa yang akan diberikan padanya.
'Bukan bunga mawar merah yang melambangkan cinta, jadi aku bingung bunga yang mana yang akan diberikan padaku. Itu bunga lili, kan? Lalu satunya bunga apa?' Ia seperti dituntut untuk memutar otak mencari tahu dan menebak yang mana bunga untuknya.
'Aku pernah melihatnya di televisi, tapi tidak tahu apa nama bunga indah itu? Sepertinya itu jauh lebih cantik,' gumamnya yang saat ini beralih menatap Aaron ketika membuka hormat dan menyapa sebelum berjalan mendekat.
Ia ingin sekali berjingkrak-jingkrak saat ini karena melihat Aaron yang menurutnya semakin tampan ketika membawa dua bunga yang akan diberikan padanya salah satunya.
'Jantungku sangat tidak aman saat ini,' gumamnya ketika merasa ada sesuatu hal yang membuatnya tidak bisa lagi berpikir jernih ketika melihat sosok pria tampan yang menurutnya sangat memesona.
Hingga ia menggigit bibir bawahnya ketika mendengar suara bariton pria yang malah menyapanya dengan sebutan yang membuat jantungnya seperti akan meledak saat itu juga.
"Selamat siang, calon istri," sapa Aaron yang ingin mencairkan suasana penuh ketegangan di antara mereka dengan tersenyum pada sosok wanita yang dari tadi hanya diam dekat bibir terkatup rapat.
Bahkan ia yang merasa menjadi seorang pria romantis hanya demi bisa meluluhkan hati seorang Anindya, kini tidak kunjung mendengar tanggapan dan membuatnya memfilter perkataannya.
Saat ini, Khayra yang tidak tahu harus berkomentar apa karena jujur saja jantungnya seperti mau melompat dari tempatnya saat ini juga. Bahkan ia bisa mendengar debaran jantung yang tidak menentu saat ini.
'Gawat! Aku tidak bisa menahan hatiku yang ingin segera menghambur dengan berlari ke arahnya dan mengatakan aku cinta padamu tuan Aaron,' gumam Khayra yang saat ini masih betah menutup rapat bibirnya.
Ia bingung harus berkomentar apa saat perasaan bergejolak memenuhi dirinya. Hingga suara bariton dari pria paruh baya di sebelah, menyadarkannya.
"Nona Khayra. Anda disapa oleh tuan Aaron," ucap yang asisten yang merasa jika atasannya tersebut tidak sopan jika hanya diam ketika disapa oleh orang lain yang ia tahu merupakan pria di masa lalu.
Bahkan mengetahui pria itu semenjak lama karena dulu disuruh oleh kakek dari gadis itu untuk mencari tahu tentang sosok pria tersebut. Jika dulu merasa heran ketika mendapatkan perintah itu pertama kali karena selama ini bosnya tidak pernah meminta untuk mencari tahu jati diri seseorang.
Hingga ia mengerti setelah semuanya terjawab ketika pria itu datang ke Surabaya dan ternyata merupakan ayah dari bayi mungil menggemaskan yang suara tawa serta tangisannya menghiasi rumah megah keluarga Kusuma saat ini.
Saat Khayra telah mencari alasan agar tidak terlihat gugup ketika nanti berbicara, ia menunjuk ke arah dokumen di atas meja. "Aku sedang fokus pada ini, Om."
"Ya, paling tidak membalas dengan menjawab iya, Nona." Sang asisten seorang bisa menangkap kegugupan dari suara yang terdengar bergetar ketika beralasan.
Kini, ia mengerti alasan atasannya tersebut dari tadi hanya diam tanpa menanggapi sapaan dari pria yang merupakan ayah biologis dari Kenzie.
'Jadi, nona telah menjatuhkan pilihannya pada pria ini. Aku pikir pilihannya jatuh pada pria yang membuat keributan di perusahaan dengan selalu memanggilnya layaknya kekasih. Ternyata aku salah selama ini,' gumamnya yang saat ini melihat gadis itu mengangkat pandangan dari dokumen dan beralih pada pria di hadapannya.
"Tolong profesional saat bekerja, Tuan Aaron Nadhif Jonathan!" Meskipun terdengar sangat kasar dan arogan, tapi faktanya, Khayra ingin sekali memegangi jantungnya yang berdetak sangat kencang melebihi batas normal hanya dengan mendapatkan tatapan dari pria di hadapannya yang terhalang meja.
'Aku setelah berhasil menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya,' gumamnya yang kini sedikit bernapas lega karena usahanya tidak sia-sia.
Ia kita akan merasa sangat bangga pada diri sendiri ketika saat ini bisa membuatnya terlihat cuek dan tidak tersentuh dengan apa yang pria itu lakukan hari ini.
Hingga ia melihat pria itu seketika bangkit dari tempat duduk dan berjalan memutar meja sambil membawa buket bunga lili yang akhirnya menjawab pertanyaannya.
"Kalau begitu, sebelum aku bersikap profesional, ingin memberikan ini dulu padamu, calon istri serta ibu dari putraku." Aaron bahkan sama sekali tidak memperdulikan raut wajah datar dari Anindya.
Ia bahkan saat ini sudah berlutut di lantai dan mengulurkan buket bunga lili putih itu pada gadis yang berada di hadapannya.
"Terimalah bunga lili putih yang mempunyai arti cinta sejati ini. Bunga ini melambangkan perasaanku yang tidak pernah padam dari awal sampai sekarang meskipun berkali-kali kamu tolak."
Saat ia masih menunggu buket bunga di tangannya diterima oleh sosok wanita yang belum bergeming sama sekali, mendengar pintu yang terbuka dan seketika menoleh ke arah sebelah kanan karena berpikir jika wanita yang ditunggu telah datang.
"Calon istri, cepat diterima bunganya karena sepertinya investor itu sudah datang," ucap Aaron yang saat ini merasa khawatir jika investor tersebut melihat perbuatannya ketika berlutut sambil menyerahkan buket bunga spesial untuk Anindya.
To be continued..