Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Memakai gaun pengantin



Aaron terlihat sudah sangat rapi dengan mengenakan celana panjang hitam serta kemeja lengan pendek berwarna hitam. Tak lupa jam tangan mewah menghiasi pergelangan tangan kirinya.


Ia menuruni anak tangga dengan beberapa kali bersiul karena merasa senang hari ini ketika sebentar lagi bisa melihat sang kekasih yang sangat cantik memakai gaun pengantin.


Bahkan ia pun berjalan dengan bersiul, seolah mewakili perasaannya saat ini yang tengah diliputi kebahagiaan.


Sampai di dekat mobil, suara dering ponsel miliknya berbunyi dan senyumnya seketika merekah begitu melihat wanita yang dari tadi dipikirkan olehnya menelpon.


"Pasti Jasmine mau bertanya apakah aku sudah berangkat atau belum untuk menjemputnya. Kekasihku ini selalu tepat waktu dan profesional dalam hal waktu."


Kemudian Aaron langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara singkat dari sang kekasih yang marah-marah. Namun, baru saja ia hendak membuka suara, malah panggilan telpon terputus sepihak dan membuatnya membulatkan mata.


"Astaga! Kali ini apa lagi yang dilakukan calon istriku? Kenapa tiba-tiba marah-marah? Padahal aku tidak melakukan kesalahan sama sekali." Aaron kini memijat pelipisnya saat mengingat perkataan sang kekasih yang melarangnya untuk menjemput.


Ia mengingat perkataan ibu dan ayahnya tadi pagi mengenai ujian sebelum pernikahan. Bahkan ia saat ini mengembuskan napas panjang yang mewakili perasaannya saat ini.


"Sabar ... sabar, ini ujianmu untuk naik satu tingkat dalam fase hubungan dengan Jasmine yang sebentar lagi akan sah menjadi istrimu, Aaron. Kedewasaanmu akan diuji di sini dalam menghadapi sikap keras kepala dari sosok wanita yang sangat keras kepala seperti Jasmine."


Saat Aaron sibuk menenangkan diri sendiri di dekat mobilnya, ia mendengar suara teriakan sang ibu yang keluar dari pintu utama.


"Sayang, kamu belum berangkat juga rupanya." Jenny yang saat ini bersama Anindya, melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah putranya yang berbicara sendiri seperti orang gila.


Sementara itu, Zea sudah mengenakan gaun selutut dengan notif bunga tulip yang membuatnya terlihat seperti princess karena mengembang bagian bawahnya.


Sebenarnya ia tidak suka berpenampilan feminim seperti itu, tapi hanya patuh pada keinginan dari wanita yang ada di sebelahnya tersebut.


'Tuan Aaron selalu terlihat tampan dengan memakai apapun di tubuhnya,' gumam Zea yang kini sudah berdiri di hadapan pria yang terlihat masam wajahnya.


"Jasmine baru menelponku, Ma. Ia tidak ingin dijemput dan mengatakannya dengan marah-marah. Padahal semalam kami baik-baik saja dan tidak bertengkar." Aaron berbicara sambil melirik sekilas penampilan dari gadis belia yang masih dikepang dua rambutnya oleh sang ibu.


Sebenarnya ia merasa sangat aneh melihatnya, tapi tidak mungkin berkomentar jika penampilann Anindya buruk karena dikepang dua rambutnya.


"Kalau begitu, jadi supir Mama dan Anindya saja," ucap Jenny yang tidak ingin menambah beban di pundak putranya.


Ia berharap jika ujian pernikahan putranya akan segera berlalu dan membuatnya tidak lagi merasa galau seperti hari ini saat terlihat wajahnya masam.


Kemudian beralih memberikan sebuah kode pada Zea agar mengikutinya masuk ke dalam mobil karena tahu jika Aaron tidak akan pernah menolak permintaannya.


"Cepat masuk, Anindya. Aku sudah tidak sabar ingin melihatmu memakai gaun pengantin." Jenny tersenyum simpul begitu mengutarakan keinginannya.


Hingga ia bisa melihat jika Aaron dan Anindya sama-sama membulatkan mata karena terkejut dengan perbuatannya.


"Apa, Nyonya, memakai gaun pengantin?" Zea benar-benar tidak habis pikir dengan perkataan konyol dari wanita itu. Hingga ia pun melihat reaksi yang sama dari sosok pria tampan di hadapannya.


"Apa maksud Mama? Apa bocil ini juga menikah? Mana mungkin anak dibawah umur ini menikah dan memakai gaun pengantin." Aaron kali ini berpikir bahwa kelakuan dari sang ibu sangat konyol dan ingin menghentikannya.


To be continued...