
Beberapa saat lalu, Zea yang tidak ingin melihat pembicaraan antara ibu dan anak tersebut, memilih untuk mengisi waktu luang dengan memotret beberapa sudut yang menurutnya sangat cantik untuk diabadikan.
Kemudian ia merasa bosan dan memilih untuk melihat kumpulan video lucu. Semenjak ia sering mendapatkan penderitaan setelah sang ayah menikah lagi dengan wanita yang sangat jahat sambil membawa anaknya untuk tinggal bersamanya, Zea suka menghibur diri sendiri di dalam kamar dengan cara melihat video lucu.
Seperti yang dilakukan hari ini untuk mengisi kebosanan karena menunggu sosok pria yang tengah diliputi angkara murka itu. Namun, ia merasa sangat terkejut saat tiba-tiba ponsel di tangannya direbut oleh pria yang berdiri menjulang di hadapannya.
"Berikan padaku ponselnya!" sarkas Aaron yang saat ini memencet tombol panggil karena ingin menelpon Jasmine dan mengatakan jika ia berniat untuk membatalkan rencana fitting pengantin.
Meskipun ia mengetahui bahwa semua yang terjadi merupakan sebuah ujian sebelum pernikahan, tetap tidak bisa mentolerir perbuatan dari sang kekasih yang tiba-tiba lebih mementingkan pemotretan mendadak.
Sementara itu, Zea saat ini mengeluarkan ponsel yang tadi dibanting oleh pria di hadapannya tersebut. Ia tadi menaruh di dalam tas karena berpikir akan mengembalikannya pada pria yang saat ini memerah wajahnya.
"Ponsel Anda yang ini, Tuan Aaron." Zea bahkan mengulurkan ponsel yang sudah retak tersebut, tapi sama sekali tidak dipedulikan.
Akhirnya ia menurunkan tangan yang dari tadi menggantung di udara dan melihat jika Aaron saat ini ingin membanting ponselnya karena mengangkat ke atas.
Saat membulatkan mata karena ponselnya juga akan terkena imbasnya, ia tadinya ingin membuka suara untuk melarang, tapi tidak jadi melakukannya karena sang ibu dari pria itu langsung menghentikan.
"Astaga, Aaron! Jangan selalu melampiaskan amarah dengan meluapkannya seperti anak kecil. Ponsel itu adalah milik Anindya. Kenapa kamu malah mau membantingnya?"
Jenny yang tadinya berjalan mengikuti putranya yang tidak menjawab, seketika merebut ponsel yang hendak di banting ke lantai.
Kini, ia berhasil merebut ponsel itu dari tangan putranya dan langsung memberikan pada Anindya. "Simpan ini dan jangan keluarkan dari dalam tasmu saat Aaron tengah marah."
Zea seketika menganggukkan kepala dan melakukan perintah. "Baik, Nyonya Jenny."
'Aah ... selamat! Ponselku tidak jadi dibanting oleh tuan Aaron. Menyebalkan sekali tuan Aaron ini. Sudah jelas-jelas yang salah adalah kekasihnya, tapi membuatku terkena imbasnya jika sampai ponsel mahal itu tidak bisa lagi digunakan.'
Zea tahu bahwa meskipun ponsel itu dihancurkan oleh pria di hadapannya, akan dengan mudah diganti oleh wanita paruh baya tersebut. Namun, ia tidak ingin membuat wanita yang masih cantik itu mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli ponsel untuknya.
Apalagi ia tahu bahwa ponsel yang disimpan di dalam tasnya itu satu merk dengan pria yang masih memerah wajahnya karena dikuasai oleh api amarah dan pastinya sangat mahal.
Sementara itu, Aaron mengembuskan napas kasar karena sangat marah. Ia sangat marah bukan karena sang ibu selalu saja membela gadis kecil itu, tapi karena ia tadi menelpon Jasmine untuk memberikan pelajaran.
Namun, yang terjadi malah amarahnya semakin meluap karena ternyata nomor yang dituju tidak aktif. Bahwa ia tahu jika Jasmine sengaja menonaktifkan ponsel agar tidak diganggu olehnya.
Aaron yang saat ini benar-benar merasa sangat frustasi, seketika mengacak rambutnya yang tadinya sangat rapi berubah berantakan.
Penampilan yang tadinya sangat rapi, kini menjadi sangat kusut dengan wajah masamnya. Karena merasa sangat kesal, akhirnya ia memilih untuk menuruti sang ibu yang memiliki ide untuk membuat gadis kecil itu memakai gaun pengantin pilihannya.
Ia bahkan sangat kesal pada Jasmine yang membuatnya menjadi seperti ini, sehingga ingin bersenang-senang dengan melihat bocah di bawah umur itu memakai gaun pengantin.
"Aku tadi ingin menghubungi Jasmine untuk mengatakan membatalkan fitting gaun pengantin, Ma. Lebih baik langsung dipakai saja tanpa dicoba terlebih dahulu karena ia selalu saja seperti wanita paling sibuk di dunia."
Kemudian ia beralih menatap gadis belia yang masih duduk di atas kursi tunggu. "Kamu saja yang mencoba gaun pengantin milik Jasmine. Biar dia tahu rasa!"
Tanpa menunggu jawaban dari gadis itu, Aaron segera beranjak dari tempatnya dengan melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah ruangan yang dihiasi berbagai macam gaun pengantin berwarna putih yang sangat indah dan menyilaukan mata bagi siapapun yang memandang.
Zea mengerjapkan mata dan masih merasa shock atas apa yang didengarnya hari ini. Ia akhirnya beralih menatap ke arah wanita yang masih diam di tempatnya dan tersenyum menatap ke arah sang putra.
"Apa yang terjadi dengan tuan Aaron, Nyonya? Memangnya ada apa dengan nona Jasmine?" tanya Zea dengan wajah penuh sorot pertanyaan.
Jenny hanya terkekeh geli melihat respon wajah polos dari gadis kecil itu. "Nanti saja aku jelaskan padamu karena sekarang, kamu harus patuh pada kakakmu itu untuk memakai gaun pengantin milik calon istrinya."
Kakak adalah sebuah panggilan yang membuat Zea menyadari bahwa ia tidak boleh berharap bisa memiliki pria yang dikagumi sekaligus disukai.
Apalagi semua kebaikan dari keluarga Jonathan membuatnya masih bisa bernapas hingga hari ini. Meskipun merasa sangat kecewa karena kisah cintanya yang tragis, saat ini berpikir bahwa harus memenuhi semua perintah dari ibu dan anak tersebut.
Meskipun itu semua didasari karena kekesalan dan ingin meluapkan amarah pada sang kekasih, tetap saja Zea merasa senang karena bisa membuatnya mencoba gaun pengantin calon istri pria yang disukai.
Bagaikan mendapatkan rezeki nomplok, Zea bahkan saat ini merasa sangat senang. Meskipun ia sadar bahwa ia saat ini tengah tertawa di atas penderitaan pria itu, tetap saja sangat bersemangat untuk mencoba gaun pengantin yang pastinya sangat indah dan memiliki harga sangat fantastis.
"Apa nona Jasmine mengetahui hal ini, Nyonya Jenny?" Zea berbisik di dekat daun telinga wanita itu agar tidak sampai didengar oleh pria yang sudah duduk di atas sofa yang berada di hadapan ruangan penuh dengan gaun pengantin berwarna putih yang sangat indah.
Hingga ia juga mendapatkan jawaban dari bisikan wanita itu. "Tentu saja tidak, karena mungkin putraku akan mengatakan itu setelah mereka resmi menjadi pasangan suami istri."
"Biarkan saja Aaron sekali-kali memberikan pelajaran pada Jasmine yang sangat keras kepala itu."
Jenny bahkan saat ini berpikir bahwa Jasmine yang sangat keras kepala itu akan membuat putranya selalu naik pitam. Ia dulu sebenarnya tidak suka dengan Jasmine yang pertama kali dikenalkan oleh Aaron saat membawanya ke rumah.
Ia bisa melihat seperti apa watak Jasmine ketika datang ke rumah. Bahwa sifat kekanakan beserta keras kepala sangat mendominasi calon menantunya tersebut, tapi tidak mungkin akan melarang putranya yang sangat mencintai Jasmine.
Apalagi putranya tidak pernah berhubungan dengan wanita sebelumnya. Jadi, ia khawatir akan membuat putranya merasa kecewa dan marah, sehingga tidak ingin dekat dengan wanita jika sampai tidak direstui.
Ia ingin putranya selalu mendapatkan kebahagiaan dan akhirnya memilih untuk menyetujui hubungan keduanya agar tidak terjadi keretakan dalam keluarga hanya karena tidak memberikan restu pada wanita yang dicintai oleh putranya.
"Aku tidak sabar melihatmu mengenakan gaun pengantin dan menganggapmu adalah putriku yang akan menikah. Penuhi impian seorang ibu yang ingin melihat seperti apa putrinya memakai gaun pengantin."
Zea hanya tersenyum simpul dan kali ini merasa terharu saat berkali-kali dianggap seperti putri sendiri oleh wanita itu.
"Pasti putrimu akan sangat cantik dan menjadi pengantin paling mempesona," sahut Zea untuk bercanda dan membuat wanita itu merasa senang atas persetujuannya.
Hingga ia mendapatkan sebuah pelukan hangat yang membuatnya merasakan kasih sayang seorang ibu, sehingga seperti benar-benar merasakan kasih sayang ibu kandungnya sendiri.
Jenny saat ini langsung masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh gaun pengantin tersebut. Ia berbicara pada seorang pegawai wanita yang tadi sangat pengertian memberikan sebuah waktu untuk berbicara berdua dengan putranya.
"Tolong bantu putriku untuk memakai gaun pengantinnya." Jenny bahkan kini tidak mengatakan bahwa pemilik gaun pengantin sebenarnya belum datang agar pegawai butik tersebut mengira jika Anindya-lah yang menjadi pengantin putranya.
"Baik, Nyonya. Kami akan dibantu calon pengantin untuk memakainya," ucap wanita yang kini memanggil rekannya dengan menelpon melalui telpon kantor.
Karena gaun tersebut menjuntai sangat panjang dan berat, jadi meminta bantuan beberapa rekannya agar membawakan ke ruang ganti. Kemudian memberikan kode pada calon pengantin wanita tersebut untuk ikut dekatnya.
Zea saat ini bersikap sangat patuh dan berbicara mengikuti pegawai wanita tersebut menuju ke ruangan di sebelah kanan dan langsung masuk ke dalamnya.
Ia sebenarnya merasa sangat malu jika para wanita itu melihatnya berganti pakaian, tapi menyadari bahwa itu memang tugas dari pegawai butik dan tidak ingin mempersulit mereka.
Kini, ia sudah dibantu memakai gaun pengantin setelah melepaskan pakaiannya dan menatap dirinya di depan cermin besar yang ada di hadapan.
"Cantik sekali," lirih Zea yang saat ini lebih menatap ke arah gaun berwarna putih yang membalut tubuhnya.
Ia dari tadi memang sangat mengagumi gaun pengantin yang memiliki desain sangat indah dan elegan itu. Hingga ia saat ini membayangkan bisa menjadi pengantin yang sesungguhnya dan menunjukkan pada kedua orang tua.
'Seandainya kalian masih hidup, pasti akan merasa sangat bangga dan bahagia melihat putrimu ini terlihat sangat cantik ketika memakai gaun pengantin,' gumam Zea yang saat ini berkaca-kaca dan menahan agar air mata tidak lolos dari sana.
"Anda menangis, Nona?" tanya salah satu pegawai wanita yang saat ini hendak meminta pendapat dari wanita yang berdiri di depan cermin sudah berkaca-kaca hingga bulir air mata lolos menghiasi pipi putihnya.
Zea yang gagal menahan bulir kesedihan lolos dari bola matanya, seketika mengusap kasar air matanya.
Bahkan ia tidak ingin ada kesalahpahaman yang dipikirkan oleh para pegawai di butik itu.
"Ini hanyalah air mata kebahagiaan," ucap Zea yang berakting tersenyum ketika beberapa saat kemudian ia dipakaikan sebuah hiasan pada kepalanya.
To be continued...