Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Janji Aaron untuk Jasmine



Sosok wanita yang saat ini tengah berada di ruang ganti, tengah berdiri menatap ke arah beberapa pakaian yang tergantung rapi di lemari ntar ukuran raksasa yang berada di hadapannya.


Wanita yang tak lain adalah Jasmine, saat ini tengah menatap pakaian miliknya yang hendak dibawa ke Paris.


"Aku tidak bisa membawa banyak pakaian saat kabur dari rumah nanti." Jasmine sudah memikirkan banyak hal mengenai semua yang akan dilakukan di Paris nanti.


Saat ini Jasmine memilih beberapa pakaian terbaik yang merupakan favoritnya dan langsung memasukkan ke dalam koper yang sudah disiapkan. Ia tadi sudah mengunci pintu agar tidak ada siapapun yang bisa masuk ketika ia tengah berkemas diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Kini, ia mengambil salah satu dress favoritnya yang berwarna hitam. "Ini adalah hadiah ulang tahun dari Aaron dan akan kubawa untuk selalu mengingatnya."


"Ini adalah bukti bahwa aku sangat mencintai Aaron, meski kabur di hari pernikahan," gumam Jasmine yang saat ini mendengar suara dering ponsel miliknya.


Begitu melihat nomor yang menghubungi adalah Aaron, sengaja dibiarkan dan Tidak diangkatnya. Hingga ia mendengar notifikasi dari ponsel di tangannya.


Ia memang belum tidur karena sengaja berkemas setelah dalam keadaan santai dan pulang kerja. Begitu membaca pesan yang ternyata dikirimkan oleh Aaron, membuatnya memicingkan mata karena merasa heran.


"Astaga! Jam segini belum tidur juga. Memangnya apa yang dilakukan dari tadi? Tadi sama sekali tidak menghubungiku dan membuatku merasa aman, tapi sudah tengah malam begini malah menelpon dan mengirimkan pesan."


Jasmine sengaja tidak mengangkat panggilan karena berniat untuk menelpon agar sang kekasih tidak berpikir macam-macam padanya.


"Aku harus bersikap baik sebelum pergi meninggalkan Aaron. Ini adalah hal terakhir yang kulakukan padanya sebelum pergi ke Paris." Kemudian ia memecat tombol panggil setelah menjeda beberapa menit.


Akhirnya ia berkemas sambil menelpon dengan memencet loudspeaker dan mendengar suara bariton dari sang kekasih yang sangat dicintai, tapi terpaksa harus pergi selama beberapa waktu untuk mengejar karir.


"Halo, Sayang. Tumben kamu menelpon tengah malam begini. Kenapa belum tidur?" tanya Jasmine sambil menatap ke arah pakaian dan memilih yang ingin dibawa.


Ia bahkan sudah melepaskan dari gantungan dan menaruh ke koper. Namun, begitu mendengar penjelasan dari sang kekasih, membuat wajahnya berubah masam karena kesal.


"Aku baru pulang mengantarkan Anindya berkeliling kota Jakarta karena ia ingin menyegarkan pikiran. Jadi, tadi ingin mengetes apakah kamu masih terjaga atau sudah tidur." Aaron beberapa saat lalu masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan tubuhnya yang terasa pegal karena efek naik motor.


Ia yang sudah lama tidak naik motor, merasa tubuhnya mudah lelah dan langsung mengempaskan tubuhnya di atas ranjang.


"Ternyata lama tidak naik motor, capek juga, Sayang. Oh ya, tumben juga kamu belum tidur. Apa besok tidak ada jadwal pemotretan pagi?" tanya Aaron yang saat ini tengah menatap langit-langit kamar.


Hingga ia mendengar suara merdu dari sang kekasih yang membuatnya gemas dan tersenyum simpul.


"Sebenarnya aku sudah tidur tadi dan kebelet. Saat mau tidur lagi, kamu menelponku. Ya udah, aku jadi telpon dan tidak jadi melanjutkan mengukir mimpi indah," sahut Jasmine yang kini tengah memikirkan sesuatu. "Sayang, aku ingin bertanya padamu tentang sesuatu dan jawab jujur."


Ia merasa sangat penasaran dan membuatnya tidak sabar untuk mendengar apa yang ingin ditanyakan oleh sang kekasih.


"Jika aku melakukan kesalahan fatal, Apakah kamu akan mau memaafkanku?" Akhirnya mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di pikirannya dan berharap jawaban dari sang kekasih tidak membuatnya dibebani rasa bersalah ketika pergi meninggalkan pria itu saat acara pernikahan.


Sementara itu, Aaron saat ini makin dibuat penasaran karena tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Jasmine.


"Maksudmu kesalahan fatal seperti apa? Apa kamu bisa menjelaskan secara spesifik agar aku paham?" Aaron masih berusaha untuk mencari tahu dengan memutar otaknya, tapi tetap tidak paham apa yang dimaksud oleh sang kekasih.


Karena Jasmine tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya, sehingga beralasan agar tidak diminta untuk menjelaskan.


"Ya, kesalahan apapun. Kita kan tidak tahu jika suatu saat nanti melakukan kesalahan. Jadi, hanya ingin tahu bagaimana pendapatmu ketika aku melakukan kesalahan. Itu saja," ucap Jasmine yang saat ini beralasan dan ingin mendengar pendapat dari Aaron.


Sementara itu, Aaron yang saat ini berpikir akan memaafkan kesalahan sang kekasih, langsung menyahut, "Asalkan kamu menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi, aku pasti akan memaafkanmu, Sayang."


"Benarkah?"


"Iya."


"Kalau begitu, berjanjilah padaku untuk memaafkan apapun kesalahanku karena aku sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu, Sayang," lirih Jasmine yang kini berkaca-kaca.


Jujur saja ia sebenarnya tidak ingin meninggalkan sang kekasih, tapi egonya terlalu tinggi dan membuatnya memilih mengorbankan pria yang sangat dicintai tersebut demi mengejar cita-cita menjadi model internasional.


"Iya, aku janji, Sayang. Aku akan selalu mencintaimu dan memaafkan apapun kesalahanmu," sahut Aaron yang kini menyatakan cintanya agar sang kekasih tidak berpikir macam-macam.


Apalagi ia tidak tega mendengar suara sang kekasih yang terdengar serak karena efek menangis.


"Terima kasih, Sayang. I love you." Jasmine saat ini berpikir jika ia akan diterima oleh Aaron yang sangat mencintainya dan membuatnya tidak ragu lagi untuk meninggalkan pria itu di hari pernikahan.


'Semoga Aaron menepati janji dan selalu mengingat pembicaraan hari ini, sehingga saat aku kembali dari Paris, ia kembali menerima aku dan tidak marah lagi,' gumam Jasmine yang saat ini mengucapkan salam perpisahan sebelum mengakhiri panggilan telepon dengan alasan mengantuk.


Padahal ia ingin melanjutkan berkemas karena belum merasa mengantuk meskipun hari sudah larut malam.


To be continued...