Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
CLBK



Di dalam pikiran Khayra saat ini dipenuhi oleh kekhawatiran mengenai Aaron yang pastinya akan kembali pada mantan kekasih yang dulu pergi di hari pernikahan. 'Aku akan menerimanya jika dia bisa membuktikan perasaannya padaku benar-benar sangat kuat dan tulus.'


'Bahwa meskipun ada nona Jasmine, tidak akan pernah melirik wanita itu ataupun berniat kembali meskipun dirayu sedemikian rupa. Apalagi wanita itu sangatlah cantik dan pastinya bisa dengan mudah merebut kembali hati tuan Aaron dengan mengandalkan kemampuannya,' gumamnya yang saat ini meyakini bahwa keputusannya benar.


Bahwa ia tidak boleh salah memilih pasangan karena akan menghabiskan waktu seumur hidup bersama pilihannya sendiri. Jadi, saat ini ingin memastikan Apakah pria di hadapannya tersebut benar-benar serius padanya dan ia butuh bukti.


Kini, ia menatap ke arah sosok wanita yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri karena tidak ingin melihat Aaron yang seolah menyudutkannya agar mau menerima hanya karena kedatangan Jasmine ke Jakarta.


"Jika memang tuan Aaron mau kembali pada nona Jasmine, silakan saja karena aku sama sekali tidak akan melarang ataupun keberatan. Apalagi selama ini aku sudah terbiasa hidup sendiri untuk merawat putraku."


"Jadi, untuk masalah ini lebih baik ditutup dan jangan membahas lagi karena jawabanku tetap sama." Khayra saat ini tidak ingin mendengar tanggapan dari ibu dan anak tersebut yang pastinya akan kesal pada keputusannya.


Ia memilih untuk menggendong putranya karena hari ini merasa sangat lelah karena pikiran serta fisiknya terforsir lebih banyak. Sebelum ia keluar dari ruangan kamar yang selalu menjadi tempat peristirahatan untuk putranya ketika di lantai dasar, kini menatap satu persatu orang yang ada di hadapannya.


"Aku akan ke kamar karena sangat lelah dan ingin beristirahat dengan putraku yang seharian aku tinggalkan bekerja. Jika kalian ingin menginap di sini, katakan saja pada kepala pelayan yang akan mengurus semuanya." Ia tidak ingin terlihat sangat sombong karena memiliki segalanya.


Jadi, ia tidak mengusir ataupun melarang jika tiga orang itu berniat untuk menginap karena memang dari dulu sangat baik padanya, sehingga ingin membalas budi.


Kemudian perjalanan meninggalkan ruangan kamar di lantai 1 sambil menggendong putranya yang tengah tertidur pulas. Ia bahkan saat ini menatap ke arah putranya yang sudah terlihat sangat segar dan wangi karena memakai bedak, sehingga tidak bisa menahan diri untuk mencium malaikat kecilnya tersebut saat berada di dalam lift menuju ke lantai paling atas.


Sementara itu, Aaron yang sebenarnya merasa sangat kesal pada keputusan gadis yang dianggapnya sangat keras kepala karena tetap saja tidak mau menerimanya sebagai suami.


Ia bahkan dari tadi diam menatap kepergian Anindya, padahal di dalam hati benar-benar ingin sekali meledakkan kekesalan serta amarah untuk menyadarkan gadis itu agar tidak mengandalkan ego demi putranya.


"Dasar gadis keras kepala! Mau sampai kapan dia bersikap egois dan mengandalkan egonya tanpa memikirkan putra kami?" Wajah Aaron bahkan saat ini terlihat memerah karena dipenuhi oleh amarah ketika memikirkan keputusan Anindya yang tetap pada pendiriannya.


Ia bahkan saat ini tertawa miris karena usaha tulisan ibu tidak dihargai sama sekali oleh Anindya. "Lebih baik aku kembali ke Jakarta saja karena sepertinya akan sia-sia berada di sini. Apa Mama tetap berniat untuk tinggal di sini?"


Jennifer mengetahui bagaimana perasaan putranya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya memilih pasrah atas takdir yang akan dijalani Aaron. "Sepertinya itu jauh lebih baik daripada kamu berada di sini yang hanya akan menambah emosi."


"Pulanglah ke Jakarta dan tenangkan pikiranmu karena Mama tetap ingin berada di sini untuk merawat cucuku. Apalagi saat ini Anindya benar-benar dilanda masalah dan harus mengurus perusahaan saat kakeknya, di rumah sakit." Ia mengusap lengan putranya agar tidak dikuasai oleh emosi karena keputusan Anindya yang tidak bisa diganggu gugat lagi.


Kemudian ia beralih menatap ke arah Erick yang berdiri tak jauh dari hadapannya. "Sekarang kamu tidak perlu khawatir lagi karena Aaron akan kembali ke Jakarta. Jadi, lebih baik kalian pulang bersama karena berangkat ke sini juga sama-sama, kan kemarin?"


Erick sangat lega setelah semua kejadian hari ini dan membuatnya tertawa lebar pada teman baik mamanya tersebut. "Iya, Tante. Aku akan kembali ke Jakarta, tapi sepertinya hari ini menginap di istana Zea saja. Lagipula kan juga belum memesan tiket untuk pulang ke Jakarta."


Ia kini menepuk lengan kekar Aaron dan tidak mempedulikan raut wajah memerah karena dikuasai oleh rasa kesal karena keputusan Zea. "Pesan tiketnya sekarang, sekalian belikan aku. Nanti aku transfer uangnya."


"Jangan lama-lama di sini karena aku khawatir kamu akan semakin kesal pada Zea dan terakhir mencekiknya," sindir Erick sambil terkekeh geli.


Wajah muram Aaron seolah menjadi suntikan semangat untuknya dan bagaikan oase di padang pasir karena rasa takutnya seolah hilang dan kembali merasa percaya diri.


'Aku akan mendoakan Aaron agar CLBK dengan Jasmine, jadi aku bisa bersatu dengan Anindya,' gumam Erick yang saat ini seketika meringis menahan rasa nyeri pada bagian lengannya karena perbuatan Aaron.


"Berengsek! Jika kau tidak diam, aku akan benar-benar menghabisimu!" sarkas Aaron yang saat ini kembali mengarahkan tinju pada lengan kekar di balik kemeja berwarna putih yang dikenakan Erick.


To be continued...