
Zea seketika mengerjapkan kedua mata karena sangat terkejut atas apa yang baru saja didengar. Tentu saja ia merasa sangat kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang mewakili perasaannya pada pria itu.
Namun, ia tidak mungkin mengungkapkan perasaannya karena hanya akan mempermalukan diri sendiri. Bahkan ia sudah mengetahui bagaimana respon dari pria itu yang pastinya akan tertawa terbahak dan mengejeknya.
'Bagaimana tuan Aaron mengetahui bahwa aku menyukainya? Bahkan ia terlihat sangat percaya diri seolah tidak ada wanita yang tidak menyukainya. Aku sudah bisa menebak apa yang akan dikatakannya padaku jika jujur.'
'Berkacalah sebelum berani menyukaiku, bocil! Pasti itu yang akan dikatakan olehnya padaku. Bahkan bisa jadi akan membawaku untuk bercermin di cermin besar,' gumam Zea yang saat ini berakting tertawa seperti ia tidak punya perasaan pada pria yang bahkan masih menetapnya.
"Mana mungkin saya suka pada Anda, Tuan Aaron. Apalagi selama ini saya sangat menghormati tuan dan nyonya serta Anda karena menganggap adalah Dewa penolong untuk saya. Sepertinya Anda selama ini selalu disukai oleh para wanita, sehingga sangat percaya diri bertanya pada saya."
Ketika Zea baru saja selesai bicara panjang lebar, ia melihat sosok wanita paruh baya yang kini berjalan ke arah mobil. Refleks ia langsung menunjuk ke arah sang ibu dari pria itu.
"Nyonya datang, Tuan Aaron. Jangan sampai nyonya menjewer telinga Anda saat aku mengatakan pertanyaan tadi." Zea sengaja mengungkapkan sesuatu yang berhubungan dengan hal paling dibenci oleh pria itu.
Berharap pria yang selalu berhasil membuat perasaannya kalang kabut itu menghentikan perbuatan untuk menginterogasinya. Apalagi saat ini ia melihat wanita paruh baya itu kini masuk ke dalam mobil.
"Apa lama menunggu Mama, Sayang." Jenny kini menaruh tasnya di sebelah kiri tempat duduk dan tersenyum pada Anindya.
"Tidak, Nyonya," sahut Zea yang merasa berterima kasih kepada wanita itu karena telah membuatnya tidak lagi mendapatkan sebuah tatapan tajam dan pertanyaan.
Sementara Aaron seketika menyalakan mesin mobil dan beralih menatap ke arah depan begitu sang ibu masuk. Bahkan tadi ia hanya tersenyum smirk saat melihat Anindya berbicara seolah tidak punya perasaan padanya.
'Padahal aku tahu jika ia tengah bersembunyi dari gugupnya dengan tertawa. Baiklah, aku akan membuatnya mengakui tebakanku, tapi nanti setelah aku menyelesaikan urusan dengan Jasmine.'
Aaron kini berbicara dengan menatap ke arah spion mobil. "Mama non aktifkan ponsel, agar Jasmine tidak bisa mengetahui keberadaan kita. Wanita bandel itu perlu diberikan sebuah pelajaran."
"Memang calon istrimu itu harus diberikan pelajaran sekali-kali agar tidak sombong dan berpikir jika kamu juga bisa tegas padanya." Jenny kini beralih ke arah gadis muda di sebelahnya.
"Kamu nanti jangan seperti itu saat dicintai oleh seorang pria. Jangan mentang-mentang kekasih cinta mati padamu, terus kamu bertindak sesuka hati karena berpikir jika pasanganmu tidak akan pernah meninggalkanmu."
Jenny hanya bercanda pada Anindya untuk menyindir putranya agar tidak cinta buta hingga kehilangan harga diri di mata seorang pria.
"Oh iya, menurutmu, apakah putraku adalah tipe semua wanita? Menurutmu, Aaron bagaimana? Aku ingin mendengar komentarmu pada putraku. Apa kamu sama sekali tidak tertarik atau suka padanya saat pertama kali bertemu dengannya?"
Refleks Aaron langsung menatap ke arah spion dan bersitatap dengan gadis yang juga tengah menatapnya. 'Kenapa mama bisa mengajukan pertanyaan sama sepertiku? Aneh sekali.'
Sementara itu, Zea saat ini tengah menelan saliva dengan kasar karena harus menjawab pertanyaan sama dia kali. 'Apa tidak ada pertanyaan lain selain ini?'
Karena tidak ingin dicurigai, kini Zea tertawa seperti beberapa saat lalu dan mengungkapkan jawaban seperti yang disampaikan pada Aaron. Bahwa ia sama sekali tidak punya perasaan apapun pada pria itu dan tidak pernah sedikit pun tertarik.
"Saya akan selalu menghormati tuan Aaron sebagai putra dari Anda yang telah menyelamatkan saya, Nyonya." Baru saja menutup mulut, Zea kembali dikejutkan dengan perkataan wanita paruh baya itu lagi.
"Seandainya bisa, aku ingin kamu menikah dengan putraku, Anindya karena lebih menyukaimu daripada Jasmine." Jenny berbicara dengan menatap ke arah punggung belakang putranya karena ingin melihat seperti apa reaksinya.
Hingga ia mendengar jawaban tidak terduga dari putranya tersebut dan membuatnya ingin menarik daun telinganya.
"Jangan pernah bermimpi sesuatu hal yang tidak akan pernah terjadi, Ma. Daripada jatuh, nanti sakit," sahut Aaron tanpa berpikir panjang karena berbicara sesuai dengan kenyataan.
To be continued...