Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Memaafkan Erick



"Ada apa, Anindya?" Jennifer yang saat ini merasa ada yang tidak beres atas respon dari gadis di hadapannya begitu berbicara di telepon dengan sang asisten.


Jarak yang berhadapan dan terhalang meja, kini membuatnya tidak bisa mendengar suara dari seberang telepon. Jadi, hanya bisa menebak-nebak kira-kira apa yang tengah dibicarakan mereka.


Namun, tidak bisa menemukan jawabannya, sehingga menunggu Anindya menjawabnya.


Sementara itu, Khayra saat ini tidak ingin menjelaskan pada sang asisten mengenai rasa terkejutnya. "Besok akan ku jelaskan, Om. Aku akan mempelajari semua file-file yang Om kirim."


"Baiklah, kalau begitu. Semoga kita sukses membuat wanita itu kembali menanamkan modal untuk perusahaan kita. Aku juga akan mempelajari mengenai investor itu agar besok bisa membantumu ketika berada di New York." Kemudian ia mematikan sambungan telepon setelah mendengar Khayra mengucapkan terima kasih dan juga selamat tinggal.


Saat Khayra baru saja menaruh ponsel miliknya di atas meja, ia beralih menatap ke arah wanita paruh baya di hadapannya tersebut. Bahkan ingin mencari kebenaran dari sorot mata ibu dari pria yang dulu disukainya.


"Asisten pribadi kakek baru saja mengatakan jika kami juga akan bersaing dengan perusahaan besar di Jakarta untuk mendapatkan respon dari investor. Perusahaan itu tak lain adalah Jonathan Grup. Apa Mama sudah tahu ini?" tanya Khayra dengan tatapan mengintimidasi sambil menunggu.


Seketika cukup jantung Jennifer berdetak lebih kencang melebihi batas normal karena saat ini sudah ketahuan sebelum putranya bertindak. "Aaah ... jadi kamu sudah tahu? Sebenarnya papamu sempat mengatakannya dan membuat Mama syok luar biasa."


"Tapi mau bagaimana lagi karena hal seperti itu sudah biasa dalam dunia bisnis. Jadi, mulai sekarang kamu harus membiasakan diri untuk melawan siapapun dengan kekuatanmu, Anindya. Lagipula, investor itu belum menentukan siapa yang dipilih. Jadi, kamu masih bisa berjuang." Tentu saja ia tidak akan menceritakan tentang Aaron yang akan menggantikan sang ayah yang malah akan kembali ke Jakarta.


Berpikir jika itu akan membuat rencana besarnya untuk menyatukan mereka gagal. Jadi, sekarang berpura-pura untuk memberikan dukungan penuh. Baginya, investor itu tidaklah penting karena keluarganya sudah jauh lebih dari cukup dalam mengejar materi.


Namun, putranya belum mendapatkan kebahagiaan batin dan membuatnya merasa iba. Jadi, saat ini berpura-pura seperti seorang wanita bodoh yang tidak tahu apapun tentang keberangkatan Aaron ke New York.


Saat ini, Khayra sama sekali tidak menyangka jika wanita di hadapannya tersebut malah tidak menyuruhnya untuk berhenti agar perusahaan sendiri bisa menang.


Hal yang selalu membuatnya merasa tidak enak adalah kebaikan dari pasangan suami istri tersebut yang tidak pernah berbuat jahat padanya.


"Mama, aku jadi tidak enak pada kalian. Apalagi Papa sudah di sana selama berhari-hari hanya untuk merayu investor itu, kan? Jika aku tiba-tiba datang dan ternyata bisa berhasil merayu wanita itu, bagaimana?" Khayra menyelipkan sebuah candaan karena saat ini benar-benar tidak percaya diri harus bersaing dengan seorang pengusaha sukses sekelas ayahnya Aaron.


Sementara ia sendiri hanyalah seorang amatir yang bahkan tidak punya pengalaman apapun dan tiba-tiba keadaan memaksanya untuk menjadi penerus sang kakek yang merupakan pemimpin hebat dan dihormati semua staf kantor.


"Ya, Baguslah jika memang kamu berhasil. Mama akan mendukungmu karena memang itu murni usaha serta kerja kerasmu. Bahkan Mama tidak akan menyalahkan suami yang tidak bisa memenangkan hati investor itu karena rezeki itu sudah tertakar dan tidak pernah tertukar, Sayang." Tersenyum simpul untuk menenangkan hati gadis di hadapannya yang terlihat bimbang.


"Manusia memang bisa mengejarnya, tapi jika Tuhan tidak berkehendak, mau selelah apapun kamu melakukannya, tidak akan pernah bisa mendapatkannya. Lagipula ada beberapa orang yang mengibaratkan rezeki itu seperti menangkap ayam."


Ia sengaja tidak melanjutkan perkataannya untuk melihat bagaimana reaksi dari Anindya yang ternyata sangat tertarik dengan ceritanya.


"Bagaimana bisa rezeki disamakan dengan menangkap ayam, Ma? Memangnya siapa yang mengibaratkan itu? Aku baru dengar." Khayra yang saat ini sudah sedikit merasa tenang setelah membagi perasaan gelisahnya dengan wanita yang disayanginya tersebut.


Selama ini ia selalu merasa nyaman berada di dekat wanita yang juga sangat menyayanginya, daripada Jasmine dan merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri baginya.


Merasa jika ia lebih penting daripada wanita yang membuatnya iri karena memiliki wajah yang sangat cantik dan semua kesempurnaan ada pada diri Jasmine.


"Ibarat kata begini, saat kamu ingin menangkap ayam, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Jennifer yang ingin membuat Anindya sedikit memutar otak agar mengerti bagaimana konsep rezeki.


Tidak pernah memiliki peliharaan ayam, tentu saja membuat Khayra merasa kebingungan. Namun, ia berpikir secara logika dan menangkap arti kalimat dari kata rezeki yang diungkapkan oleh wanita paruh baya tersebut.


"Mayoritas orang menangkap ayam dengan cara mengejar, tapi itu tidak membuat mereka dengan mudah mendapatkannya. Mungkin ada yang beruntung dan mungkin ada yang tidak sama sekali."


"Eemm ... sepertinya ada acara yang lebih mudah. Mungkin dengan cara memberikan ayam makanan, pasti akan datang sendiri? Konsep itu disebut ilmu bersedekah yang sering dilakukan kakek pada anak-anak yatim serta kaum duafa." Ia saat ini terlihat murung karena sampai sekarang sang kakek belum mengalami perkembangan dan tidak tahu sampai kapan akan mengalami koma di rumah sakit.


Kemudian ia melanjutkan apa yang sempat tertunda karena mengingat sang kakek. "Setelah bersedekah secara ikhlas, Tuhan bahkan melipatgandakan rezeki yang kita berikan pada orang-orang tidak mampu tadi. Apakah seperti itu, Ma?" ucapnya mengakhiri pendapatnya yang bisa dibelah panjang kali lebar.


Jennifer seketika bertepuk tangan karena gadis di hadapannya benar-benar membuatnya tercengang dengan pikirannya yang sangat bijak dan bisa menangkap kode darinya.


"Jika kamu seperti ini terus, mungkin investor itu benar-benar akan memilihmu, Sayang. Jadi, sekarang tidak boleh insecure dan harus selalu percaya diri karena kamu adalah pewaris utama keluarga Kusuma. Tanamkan di pikiranmu tentang mindset pasti bisa." Ia takkan mengangkat tangannya untuk memberikan semangat pada gadis yang kini sudah tidak lagi murung setelah mengingat tentang sang kakek.


Khayra seketika menganggukkan kepala dan bersemangat. Ia saat ini tidak lagi merasa putus asa ataupun tidak percaya diri karena meskipun masih muda, ingin mengapresiasikan apa yang ada di otaknya dan benar bisa merebut hati investor yang susah ditaklukkan tersebut.


"Terima kasih, Ma. Semoga aku bisa menuliskan jejak kakek. Semoga kakek cepat sadar dan bisa melihat semua perjuanganku ini. Bahwa cucu satu-satunya bisa membuatnya bangga," ucap Khayra yang kini kembali mencomot cumi goreng dan memberikan saus pedas.


Kemudian memasukkan ke dalam mulut serta mengunyahnya. "Enak, Ma. Cobain ini, deh!"


Refleks Jennifer menggelengkan kepala karena ia sangat menghindari itu. Apalagi beberapa hari yang lalu mendengar kabar jika tetangganya mengalami stroke gara-gara makan cumi.


"Tidak. Itu sangat tinggi kolesterol dan sangat rentan pada orang seusia Mama yang harus menjaga kesehatan. Mama harus banyak makan sayur dan buah-buahan agar bisa hidup lama dan kelak merawat cucu-cucu yang lainnya selain Kenzie." Ia pernah mendengar perkataan Aaron ketika menginginkan 4 anak.


Kini, ia masih melihat Anindya yang mengunyah cumi goreng. "Aaron dulu pernah bilang ingin memiliki dua anak laki-laki serta dua anak perempuan agar tidak akan pernah merasa kesepian saat mereka dewasa. Satu sekolah, satunya di rumah, satu kuliah, satunya kerja. Atau saat satu anak menikah, masih ada anak yang lain."


"Tapi itu hanyalah sebuah rencana dan tidak tahu apakah bisa terwujud atau tidak. Mama sekarang sudah pasrah dan tidak akan memaksamu untuk menerima Aaron. Mungkin waktu yang akan menjawabnya nanti." Ia mendorong kursi ke belakang dan membawa piring kotor miliknya ke wastafel.


Berbeda dengan Khayra yang saat ini kembali dibuat galau oleh perkataan dari wanita yang sedang memunggunginya tersebut. 'Mama selalu saja membuatku merasa bersalah padanya karena membahas tentang tuan Aaron.'


'Aku kalau bukti jika tuan Aaron mencintaiku dan akan memutuskan menerimanya jika sudah bisa melihat sesuatu yang kucari itu dari dirinya. Saat itu terjadi, akan langsung berlari padanya tanpa pikir panjang. Namun, untuk saat ini sama sekali tidak melihat apapun,' gumamnya sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.


Bahkan ia saat ini sudah membayangkan memiliki empat anak seperti yang diinginkan pria itu dan membuatnya seperti mau muntah. Melahirkan empat anak membuatnya tidak bisa berpikir karena satu saja sudah membuatnya mengorbankan nyawa di ruang bersalin.


Apalagi mengingat saat dia melahirkan sendiri tanpa ada yang mendampingi. Harus kuat tanpa tanpa mengeluh agar tidak membuat sang kakek merasa khawatir. Itulah yang dilakukannya ketika menahan semua rasa yang bercampur aduk menjadi satu ketika melahirkan putranya.


Hingga semua perjuangannya terbayar lunas begitu melihat wajah tampan putranya pertama kali saat dilahirkan dan membuatnya tidak berhenti menangis ketika merasa terharu bisa melahirkan seorang malaikat kecil yang sangat menggemaskan.


Jennifer baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan kini melihat Anindya menatap kosong seperti tengah melamun. "Kamu sedang memikirkan apa, Anindya?"


Tidak ingin ketahuan memikirkan perkataan dari wanita itu barusan, Khayra saat ini langsung menggelengkan kepala.


"Hanya tentang wanita itu, Ma. Seandainya investor itu adalah lelaki, mungkin bisa ditaklukan dengan mudah. Apalagi investornya slengean seperti Erick." Ia tertawa ketika menyadari jika perkataannya sangat konyol karena malah membayangkan seperti itu.


Bahkan perkataannya juga berhasil membuat wanita itu tertawa terbahak-bahak dan mungkin sudah membayangkan sendiri.


"Benar juga apa yang kamu katakan itu, Sayang. Pasti tanpa kamu bersusah payah untuk menjelaskan progres perusahaan, sudah langsung bilang yes hanya dengan menatap wajahmu yang imut nan menggemaskan." Ia memilih untuk mengambil buah jeruk di keranjang.


Kemudian mengupas dan menikmatinya untuk menetralkan lemak di perut setelah makan.


Khayra seketika tertawa karena mana berpikir jika benar itu terjadi, tidak akan saya pusing ini mempelajari beberapa hal yang dikirimkan sang asisten padanya beberapa saat lalu.


Hingga ia pun kini mengingat Erick dan menelpon sopir untuk menanyakan ke mana diantarkan pergi karena tadi memang sengaja tidak bertanya untuk memberikan pelajaran.


"Aku ingin menelpon sopir dulu, untuk menanyakan keberadaan Erick sekarang." Kemudian memencet tombol panggil dan menunggu hingga dijawab.


Tidak butuh waktu lama karena kini suara bariton dari sang supir terdengar.


"Iya, Nona," sahut sang supir yang baru saja mengemudikan mobil keluar dari area rumah sakit.


"Erick minta diantarkan ke mana?" tanya Khayra yang saat ini menebak jika pria itu memilih untuk tidur di hotel.


Namun, ia seketika salah sangka begitu mendengar sang supir menceritakan semuanya.


"Jadi, seperti itu, Nona. Saya bahkan baru saja keluar dari area Rumah Sakit menuju ke rumah. Apa ada yang perlu saya lakukan lagi, Nona?" Sang supir yang mengemudi dengan kecepatan sedang, menatap jalanan yang kini sudah tidak lagi dibasahi oleh air hujan.


Di tempat berbeda, Khayra merasa bersalah pada Erick yang saat ini tengah berada di rumah sakit. Ia memang tadi berencana untuk pergi ke rumah sakit, menjenguk sang kakek.


Berpikir jika nanti akan bertemu di sana, ia menatap ke arah makanan yang masih banyak di atas meja. "Tidak ada. Langsung pulang saja ke rumah karena aku juga akan pergi ke rumah sakit untuk berpamitan pada kakek jika besok berangkat ke New York."


"Siap, Nona." Sang supir kini seketika mematikan sambungan telepon dan kenapa kecepatan agar bisa segera tiba di rumah, untuk mengantarkan sang majikan.


Sementara itu di rumah, Khayra yang saat ini bangkit berdiri dari posisinya untuk mengambil kotak makanan. Ia mulai menaruh makanan di dalamnya. Sebelum mendapatkan pertanyaan dari wanita di hadapannya, langsung menjelaskan.


"Jadi, kamu akan bertemu dengan Erick yang menyebalkan? Padahal baru beberapa jam kamu menghukumnya, sudah tidak tega karena dia memilih untuk menunggu kakekmu. Pintar sekali dia perhatianmu." Meskipun masih kesal pada Erick, Jennifer tetap saja membantu Anindya untuk membawakan makanan.


Bahkan juga memasukkan cumi goreng tepung yang masih banyak. "Biar kenyang nanti dia. Aku sebenarnya menganggapnya seperti putra sendiri karena sudah lama berteman dengan mamanya. Apalagi dulu sering menggendong saat dia masih bayi."


Membayangkan Erick ketika masih bayi, Khayra seketika penasaran seperti apa pria itu. Sementara foto-foto masa kecil Aaron sudah dilihatnya karena memang sering diberitahu oleh wanita itu.


"Apa Mama memiliki foto saat Erick masih bayi? Aku ingin mengejeknya jika jelek."


"Ada, tapi file yang disimpan di laptop rumah karena selalu penuh jika menyimpan foto di ponsel. Biar Mama suruh Aaron mencarikannya dan mengirimkan ke sini," ucapnya yang saat ini sudah menunjukkan ponselnya di saku celana.


"Tidak perlu, Ma. Lain kali saja." Khayra tidak ingin melibatkan Aaron dalam keinginannya. Apalagi jika sampai mendapatkan kekesalan pria itu yang selalu berbicara kasar jika menyangkut tentang Erick.


Jennifer yang kini baru saja menutup kotak makanan itu, merasa heran dengan sikap Anindya yang tiba-tiba. "Kenapa memangnya? Kamu takut Aaron cemburu? Hayo, ngaku!"


Saat ingin menghindar dari Aaron, tapi malah dikira macam-macam, Khayra pun kini ingin menguraikan kesalahpahaman. "Aku tidak ingin terus mendengarnya bertengkar dengan Erick, Ma. Itu saja. Kalau begitu, aku bersiap untuk berangkat ke Rumah Sakit."


Kemudian berjalan meninggalkan meja makan dan wanita itu karena tidak nyaman setiap kali membahas Aaron yang dianggap tengah bersenang-senang bersama Jasmine.


To be continued...