
Saat ini, Zea mengerutkan kening begitu motor sport milik Erick berhenti di sebuah taman. Padahal ia tadi mengatakan pada pria itu untuk mengantarkan ke terminal.
"Kenapa kamu membawaku ke sini, Erick?" tanya Zea dengan mengerutkan kening dan terpaksa turun dari motor ketika Erick terlebih dahulu melakukannya.
Sementara itu, Erick yang baru saja melepas helm miliknya dan menaruh di atas motor, kini menatap ke arah Zea yang berdiri di hadapannya. Bahkan ia saat ini mengeluarkan ponsel miliknya dan menunjukkan pada gadis yang dianggapnya tengah menyimpan masalah tersebut.
"Aku tidak akan pernah mengantarmu ke terminal sebelum menceritakan semuanya padaku. Jika kamu tetap tidak mau jujur padaku, aku akan menelpon Aaron dan mengatakan jika kamu ingin kabur!" Erick sengaja memakai sebuah ancaman karena ia tidak ingin terjadi sesuatu hal buruk pada Zea.
Apalagi dari semalam ia merasa penasaran tentang apa yang terjadi pada Zea hingga mengirimkan pesan untuk membawanya pergi dari rumah keluarga Aaron.
"Bahkan aku menelponmu sampai 20 kali, tetap tidak kamu angkat. Sekarang pun kamu akan merahasiakan apa yang terjadi padamu dariku? Tidak semudah itu kamu membodohiku, Zea." Saat Erick baru saja menutup mulut setelah meluapkan emosi, mengerjapkan kedua mata begitu melihat sosok gadis di hadapannya tersebut tiba-tiba berjongkok.
Bahkan raut wajah yang murung itu kini makin mendung dan bola mata berkaca-kaca. Tentu saja melihat Zea seperti akan menangis, membuatnya merasa bersalah.
Saat Erick hendak meminta maaf atas kekasaran yang dilakukannya hingga membuat Zea bersedih, malah mendengar suara gadis yang masih berjongkok tersebut menangis tersedu-sedu dengan menyembunyikan wajah di balik kedua lututnya.
"Zea, jangan menangis. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih!" Erick seketika menyamakan posisi dengan berjongkok di depan gadis yang masih membenamkan wajah di balik lututnya.
Sementara itu, Zea yang tadinya ingin merahasiakan kejadian yang membuat hidupnya hancur, tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis kala mengingat perbuatan Aaron saat memperkosanya dan menyebut nama Jasmine.
Ia bahkan masih meluapkan semua perasaan membuncah yang dirasakan tanpa memperdulikan apapun. Bahkan berkali-kali Erick meminta maaf pun tidak diperdulikan karena ia masih larut dalam kesedihan yang dirasakan.
Entah berapa lama ia menangis, kini sudah tidak mendengar suara Erick dan membiarkannya meluapkan perasaan. Beberapa saat kemudian, ia mengangkat pandangannya dan tidak memperdulikan raut wajah yang sudah dipenuhi bulir air mata.
"Erick ...."
Erick yang masih setia berjongkok di hadapan Zea saat menunggu gadis itu tenang, kini langsung menyahut, "Iya."
Ia tidak berani banyak bicara karena takut gadis di hadapannya tersebut kembali menangis tersedu-sedu. 'Astaga! Baru kali ini aku melihat gadis menangis tersedu-sedu seperti ini. Bahkan suara Zea saat menangis sangat menyayat hati. Aku benar-benar sangat tidak tega melihatnya.'
"Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan hal yang membuatku hancur. Aku ingin menenangkan diri di kampung halaman ayahku. Aku percaya padamu dan yakin jika kamu tidak akan mengatakan apapun pada orang lain. Aku ...." Zea tidak melanjutkan perkataannya karena sudah dipotong oleh Erick.
"Aku tidak akan memaksamu, Zea. Maafkan aku. Kamu tidak perlu menceritakan apa yang terjadi padamu hingga memilih pergi. Hanya saja, biarkan aku tahu alamat kampung halaman ayahmu, agar aku bisa tenang dan kapan-kapan bisa memastikan keadaanmu baik-baik saja." Erick kini memberikan waktu untuk Zea menenangkan diri.
Tidak ingin berbicara banyak karena berpikir harus segera pergi, kini Zea mengeluarkan ponsel miliknya dan langsung mengetik alamat kampung halaman sang ayah, lalu mengirimkan pada nomor Erick.
"Itu adalah alamat aku menenangkan diri. Tolong jangan biarkan siapapun mengetahuinya. Aku percaya padamu, Erick. Kamu boleh datang ke sana kapan saja karena kamu adalah seorang pria yang baik dan selalu tulus membantuku." Zea kini mengeluarkan SIM card miliknya.
Kemudian mematahkan dan membuangnya. "Aku tidak akan memakai ponsel saat berada di kampung, agar keluarga tuan Jonathan tidak bisa menghubungiku."
Erick yang baru saja membaca alamat yang dikirimkan oleh Zea, kini merasa lega karena gadis itu mempercayainya. Kemudian ia bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Zea yang masih berjongkok di tanah.
"Bangunlah! Aku akan mengantarmu sekarang ke terminal. Terima kasih karena percaya padaku dan berjanjilah padaku untuk baik-baik saja di kampung halaman almarhum papamu." Erick kini tiba-tiba ingin mengetahui sesuatu.
Zea kini tanpa ragu menyambut uluran tangan Erick. "Terima kasih, Erick. Aku berjanji padamu akan baik-baik saja di sana. Aku akan menghubungimu nanti jika membutuhkan bantuan."
"Aku pasti akan selalu ada untukmu, Ayang," ujar Erick yang kini ingin membuat Zea merasa terhibur dan usahanya berhasil begitu melihat senyuman terbit dari bibir gadis dengan wajah sembab itu.
"Dasar menyebalkan!" seru Zea yang seketika mencubit lengan kekar di balik jaket kulit berwarna hitam milik pria yang juga tertawa melihatnya.
"Nah gitu, dong Ayang. Senyum biar cantik. Oh ya, jika papamu berasal dari kampung, berarti mamamu asli orang Jakarta?" Erick yang sama sekali tidak merasakan sakit pada cubitan Zea, hanya membiarkan gadis itu memberinya hukuman. Asalkan bisa menghibur kesedihan Zea.
Sementara itu, Zea yang saat ini refleks menghentikan cubitannya, kini terdiam dan refleks mengendikkan bahu. "Aku hanya mengetahui kakek dan nenek dari pihak papa. Sementara untuk keluarga dari mama, sama sekali tidak tahu."
"Dari dulu papa tidak pernah cerita, begitu pun dengan mama. Kata mereka, kakek dan nenek dari orang tua mamaku sudah tidak ada, tapi saat kutanya di mana makam mereka, sama sekali tidak dijawab." Zea bahkan merasa bingung untuk menjelaskan pada Erick.
"Jadi, aku tidak tahu mamaku itu orang Jakarta atau bukan." Zea yang dulu merasa penasaran tentang perihal keluarga dari pihak sang ibu, kini tiba-tiba mengingat tentang masa lalu.
Sementara itu, Erick kini merasa aneh mendengar penjelasan dari Zea. Namun, tidak ingin membuat gadis itu makin banyak pikiran karena memikirkan hal itu. "Lupakan saja pertanyaanku tadi. Bagiku yang terpenting adalah kamu tetap baik-baik saja saat tinggal di kampung."
"Aku akan baik-baik saja. Jadi, kamu tenang saja. Seperti yang kukatakan tadi, jika aku butuh bantuanmu, pasti tidak segan-segan meminta tolong padamu. Ayo, antar aku terminal sekarang!" Kemudian Zea langsung naik ke atas motor setelah Erick terlebih dahulu melakukannya dan menyetujui perintahnya.
To be continued...
To be continued...