
Jasmine yang beberapa saat lalu melihat calon mertuanya setelah pergi dengan gadis muda yang sama sekali tidak disukainya karena bisa dekat dengan Aaron, kini beralih menatap ke arah sang kekasih yang bahkan dari tadi seolah tidak berniat untuk berbicara dengannya.
"Sayang, kamu masih marah padaku karena tiba-tiba menunda fitting gaun pengantin?" tanya Jasmine yang saat ini menatap ke arah pria dengan raut wajah masam dan jelas-jelas menunjukkan rasa kesal sekaligus marah padanya.
Karena tidak ingin hubungannya buruk dengan pria yang sangat dicintai dan berharap semuanya akan baik-baik saja sampai hari di mana ia pergi ke Paris secara diam-diam, akhirnya Jasmine berpura-pura untuk menyesali perbuatannya.
Ia saat ini sudah menyatukan kedua tangan untuk memohon maaf pada pria yang dari tadi enggan membuka mulut.
"Sayang, ini tadi benar-benar mendadak. Aku tidak bisa menolaknya karena akan mendapatkan masalah pada karirku yang mulai meroket. Kamu dari awal sudah mengetahui bahwa hobiku adalah ini dan dulu sangat mendukungku, kan?"
"Jadi, ini memang seperti ini resiko menjalin hubungan dengan model sepertiku. Aku harap kamu mengerti dan bisa memahami posisiku." Jasmine bahkan saat ini sudah bergelayut manja pada lengan sang kekasih agar mau memaafkannya.
Ia tahu bahwa pria itu sangat mencintainya dan dirayu sedikit saja pasti akan luluh. Bahkan tanpa merasa malu dilihat oleh para pengunjung restoran, langsung menyambar dengan rahang tegas pria itu dan mendaratkan sebuah kecupan di sana.
"Sorry, Honey." Jasmine kemudian memberikan simbol hati dengan kedua tangannya dan tersenyum semanis mungkin untuk membuat sang kekasih tidak lagi marah padanya dan memaafkan perbuatannya yang tiba-tiba memundurkan jadwal.
'Aku sangat yakin jika Aron tidak akan pernah marah lama-lama padaku karena sangat mencintaiku. Bahkan sekalipun nanti pergi saat hari pernikahan, ia akan kembali padaku saat aku kembali. Meskipun pada awalnya akan marah padaku, pasti memaafkanku dan menerimaku kembali.'
Jasmine merasa sangat yakin jika sang kekasih tidak akan pernah berpaling darinya karena ia tahu tidak ada wanita yang dicintai oleh Aaron sebesar mencintai dirinya.
Apalagi ia adalah seorang wanita yang cantik dan seolah memiliki kesempurnaan yang diimpikan oleh para pria, sehingga membuatnya berpikir tidak ada wanita lain yang bisa mencuri hati Aaron.
'Apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Jasmine. Bahkan orang yang sangat arogan dan tidak pernah dekat dengan para wanita bisa takluk padaku. Aku akan selalu mendapatkan apapun yang kuinginkan,' gumam Jasmine yang saat ini menunggu respon dari sang kekasih.
Aaron yang kali ini tidak bisa langsung memaafkan perbuatan Jasmine karena dianggap sudah berkali-kali membuatnya kesal, sehingga tidak ingin dengan mudah tergoda oleh bujuk rayu.
'Apa ia pikir aku adalah pria gampangan yang bisa langsung tergoda dengan rayuannya? Aku malah bisa ilfil dengan sikapnya yang seolah merasa perbuatannya sangat biasa ketika selalu membatalkan sesuatu yang sudah direncanakan semenjak lama.'
Aaron tidak banyak berbicara dan ingin menunjukkan sesuatu pada Jasmine untuk memberitahu tentang perasaannya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menaruhnya di atas meja di hadapan sang kekasih.
"Apa kamu lihat ini?" tanya Aaron yang beralih menatap ke arah Jasmine dan melihat wanita itu menganggukkan kepala.
Kemudian ia memegang dadanya yang mewakili perasaannya beberapa saat lalu ketika berada di butik setelah mendapatkan pesan dari wanita di hadapannya dan saat menelpon malah tidak aktif.
"Tadi rasanya dadaku hampir meledak saat marah. Karena karena itulah, ponselku menjadi korban atas kemurkaanku yang merasa tidak dihargai sebagai seorang pria karena kamu selalu berbuat seenaknya sendiri."
Jasmine yang tadinya membulatkan mata begitu melihat ponsel milik sang kekasih hancur, merasa sangat khawatir dan membayangkan jika itu adalah dirinya yang dibanting oleh Aaron saat marah.
Namun, ia mencoba untuk menenangkan diri dan berpikir positif bahwa Aaron sangat mencintainya dan tidak akan pernah berbuat kasar padanya meskipun tengah marah.
Bahwa pria itu akan memilih menghancurkan barang-barang daripada menyakitinya. Apalagi mengetahui cinta Aaron sangat besar padanya karena tidak pernah berselingkuh darinya dan menunjukkan rasa cinta luar biasa dengan memanjakannya.
"Sayang, aku kan sudah minta maaf berkali-kali. Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu tidak lagi marah padaku? Aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan, termasuk memberikan tubuhku," ucap Jasmine yang saat ini tengah memancing pria dengan wajah memerah tersebut agar tidak lagi murka apa adanya.
Apalagi ia tahu kelemahan seorang lelaki adalah pada nafsunya dan berpikir jika Aaron tidak akan pernah bisa menahan diri jika ia menawarkan tubuhnya sebagai ganti rugi atas kemurkaan pria itu.
Tadinya Jasmine berharap setelah menunjukkan itu, serta kemarahannya, wanita itu akan sadar dengan meminta maaf penuh ketulusan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi serta menghargainya sebagai calon suami.
Namun, seolah usahanya sama sekali tidak berhasil karena Jasmine selalu menggunakan rayuan demi bisa membuatnya tidak marah.
Memang tidak ya pungkiri bahwa tawaran Jasmine sangatlah menggiurkan bagi siapapun pria, termasuk dirinya yang sebentar lagi akan menikahi wanita itu.
Namun, ia ingin melakukannya saat sudah sah menjadi pasangan suami istri. Karena tidak ingin berbuat dosa serta merasa jauh lebih sempurna jika mereka melakukannya saat malam pertama.
Apalagi ia ingin menjadi pelindung bagi calon istrinya dengan menjaga sebaik mungkin sampai hari pernikahan dan menunjukkan ketulusannya pada Jasmine.
Bahwa ia sangat mencintai Jasmine dan tidak pernah tertarik pada wanita lain. Namun, ia sadar bahwa wanita yang sangat dicintainya tersebut malah seolah tidak menghargainya dengan memanfaatkan rasa cintanya yang berlebihan.
Hingga berkali-kali melakukan kesalahan dan berpikir akan selalu dimaafkan karena cinta. Embusan napas kasar kini mewakili perasaan Aaron saat ini yang sangat kecewa saat tidak bisa melihat penyesalan dari wajah cantik calon istrinya.
Ia saat ini merasa bahwa alasan dari sang ibu tidak menyukai Jasmine adalah karena ini. Bahwa calon istrinya tersebut selalu saja keras kepala dan sangat kekanakan.
Jasmine seolah menganggap bahwa ia akan takluk di bawah kaki wanita itu. Aaron tidak ingin Jasmine berpikir seperti itu karena ia adalah seorang pemimpin yang akan bertanggung jawab dalam semua hal mengenai istrinya.
Jadi, ia berharap Jasmine mulai sekarang harus menghormati dan menghargai sebagai seorang calon suami.
"Apa kamu pikir aku akan dengan mudah tertarik pada tawaranmu? Kamu berpikir aku mencintaimu hanya karena nafsu dan tidak akan pernah menolak tubuhmu, lalu memaafkanmu dengan mudah dan membiarkan berkali-kali melakukan kesalahan?"
Jasmine yang tadinya berpikir Aaron akan tertarik pada tawarannya yang asal disebutkan, seketika menelan saliva dengan kasar karena berpikir jika Aaron terlalu berlebihan dalam segala hal.
Bahkan selalu menganggapnya seolah-olah paling bersalah dan tidak bisa dimaafkan hanya karena melakukan kesalahan kecil dan sepele.
'*Kenapa Aaron lama-kelamaan semakin menyebalkan seperti ini sih! Aku bisa-bisa ilfil dengan semua perkataannya yang sangat kasar padaku. Dulu ia bahkan melakukan apapun untuk bisa menyenangkan dan membahagiakanku.'
'Aku tinggal baru tahu rasa dan pasti akan menyesal. Kamu pasti akan patah hati dan menyesal karena berani marah padaku*,' umpat Jasmine yang saat ini tengah merasa sangat marah pada pria yang sama sekali tidak bisa memaafkannya setelah ia berusaha untuk merendahkan harga dirinya.
Bahkan ia kali ini tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membuat Aaron memaafkannya. Sebenarnya sangat malas untuk menanggapi sang kekasih yang dianggap sangat berlebihan.
Akhirnya ia saat ini memilih untuk berdamai dengan tidak memperpanjang masalah dan patuh pada Aron sampai keberangkatannya.
"Aku benar-benar minta maaf, Sayang. Aku tidak akan mengulanginya lagi dan tidak akan membatalkan apapun yang sudah kita rencanakan jauh-jauh hari hanya karena masalah pekerjaanku. Kamu jangan marah lagi dan membuatku merasa tidak enak seperti ini."
Bahkan ini adalah pertama kalinya ia bersikap memelas pada orang lain hanya untuk meminta maaf agar dimaafkan. Padahal selama ini ia tidak suka merendahkan harga dirinya dalam hal apapun.
Namun, karena ingin semuanya berjalan lancar tanpa ada kendala, memilih untuk bersabar dan tidak mencari masalah. Bahkan ini sudah beberapa kali menggerakkan lengan kekar itu agar memaafkannya.
"Sayang, maafkan aku. Jangan marah lagi karena rasanya hatiku terluka melihatmu menatapku seperti sangat membenciku." Jasmine saat ini bersandar pada pundak sang kekasih dan berharap jika masalahnya segera selesai.
Hingga ia tidak peduli saat ada waiters yang membawa makanan pesanannya. Ia tetap bersandar pada pundak kokoh sang kekasih ketika pegawai wanita itu meletakkan makanan dan minuman pesanannya di atas meja.
"Silakan dinikmati, Nona," ucap pegawai wanita dengan seragam berwarna hitam itu yang sangat risi ketika melihat sikap berlebihan dari customer yang tidak tahu malu mengumbar kemesraan di tempat umum.
Awalnya Aaron tidak ingin memaafkan Jasmine dan membiarkan wanita itu berbuat sesuka hati. Namun, karena lama-kelamaan merasa tidak tega melihat wajah memelas wanita yang sangat dicintainya tersebut, kini mengarahkan dagu pada makanan di atas meja.
"Cepat makan karena nanti akan dingin dan tidak enak dinikmati."
"Biar saja karena sekarang aku tidak berselera makan karena belum kamu maafkan, ucapnya dengan bibir mengerucut dan wajah masam.
Jasmine sebenarnya sangat lapar karena tadi pagi hanya makan buah dan susu rendah kalori untuk menjaga tubuhnya tetap seksi dan memiliki kulit bersih serta halus.
Namun, ia berpura-pura untuk merasa tidak lapar karena hanya ingin mencari simpati dari Aaron agar tidak marah lagi padanya dan mau memaafkannya.
Hingga ia seketika tersenyum lebar begitu melihat pergerakan tangan dengan buku-buku kuat itu mengambil piring berisi makanan pesanannya.
"Cepat makan karena aku tidak ingin membuatmu semakin kurus karena tidak nafsu makan hanya gara-gara aku." Aaron saat ini mengambil satu sendok makanan pesanan sang kekasih dan langsung menyuapkan ke mulut Jasmine begitu melihat wanita itu tidak lagi bersandar pada pundaknya.
Ia sebenarnya tidak suka dengan pertengkaran demi pertengkaran di antara mereka, tapi berpikir bahwa semua itu akan menjadikan mereka agar lebih dewasa dan bijak saat menghadapi masalah.
Jadi, saat berumah tangga nanti akan saling mengerti dan tidak mengandalkan egois.
Apalagi mengetahui bahwa banyak pasangan suami istri yang memilih bercerai karena keegoisan masing-masing dan ia tidak ingin itu terjadi dalam rumah tangganya.
Aaron ingin menikah satu kali seumur hidup dan mencintai Jasmine selamanya hingga memiliki anak-anak yang lucu dan pastinya semakin melengkapi rumah tangga yang mereka bina.
Sementara itu, Jasmine saat ini terlihat berbinar karena akhirnya sang kekasih luluh dan bersikap romantis untuk menyuapi. Tentu saja ia langsung membuka mulut dan mengunyah makanan yang sudah melumer di lidahnya.
"Terima kasih, Sayang. Aku jadi makin cinta sama kamu." Jasmine yang baru saja mengunyah makanan, kini merasa sangat lega setelah melihat Aaron tidak marah lagi padanya.
'Tahu gitu, aku dari tadi menampilkan wajah membelah saja daripada menawarkan tubuhku yang sama sekali tidak membuatnya tertarik. Nasib baik ia tidak tidak tertarik karena aku tadi juga hanya bercanda.'
'Bahaya jika sampai aku hamil karena pastinya akan menghancurkan karirku,' gumam Jasmine yang saat ini kembali membuka mulutnya karena terus disuapi oleh pria yang sangat dicintai.
"Aku pun juga sangat mencintaimu, Sayang. Itulah kenapa aku mengajakmu menikah karena hanya ingin hidup bersamamu dan tidak ingin menikah dengan wanita lain." Aaron saat ini tiba-tiba memikirkan sesuatu yang membuatnya seketika tersenyum.
Ia ingin tahu bagaimana pendapat sang kekasih mengenai anak dan langsung menanyakannya. "Saat menikah nanti, aku ingin memiliki lebih dari dua anak. Kalau kamu ingin punya anak berapa dariku?"
Karena rumahnya sangat sepi karena menjadi anak tunggal, Aaron berharap suara anak-anaknya akan menghiasi rumah keluarganya yang selama ini sangat sepi.
Meskipun beberapa hari ini rumahnya jauh lebih hidup karena ada Anindya yang selalu membuat ibunya tersenyum bahagia. Aaron jadi membayangkan memiliki anak perempuan yang cantik dan pastinya menggemaskan.
Hingga ia melihat sosok wanita yang saat ini berada di hadapannya tersebut malah tersedak makanan yang berada di mulut.
Refleks Aaron langsung mengambil air minum dan memberikan pada Jasmine sambil menepuk bagian belakang tubuh sang kekasih untuk menenangkan.
"Hati-hati makannya, Sayang." Aaron bahkan tidak mengalihkan sedetik pun pandangannya dari wanita dengan paras cantik tersebut meskipun tersedak.
Ia saat ini berpikir bahwa Jasmine adalah satu-satunya wanita paling cantik dan seksi yang tidak akan pernah berkurang dan malah semakin bertambah.
Hingga ia seketika tertawa mendengar jawaban dari wanita yang terlihat kesal tersebut.
"Aku jadi membayangkan bercinta denganmu. Makanya aku sampai tersedak," sarkas Jasmine yang sebenarnya saat ini tengah berbohong pada pria yang terlihat sangat bahagia di hadapannya.
Padahal yang sebenarnya adalah ia sangat ilfil dengan pembicaraan mengenai anak karena berencana untuk menundanya terlebih dahulu jika benar-benar menikah dengan Aaron.
Ia merasa sangat malas jika pernikahan selalu dikaitkan dengan anak. Padahal pernikahan tidak melulu mengenai soal anak yang menjadi tolak ukur kebahagiaan pasangan suami istri.
'Bagiku, bisa memuaskan bermesraan dengan romantis meskipun sudah menikah dengan Aaron adalah sesuatu yang berharga. Apalagi hamil 9 bulan dan mengurus anak bagiku terlalu dini untukku yang saat ini mengalami karir yang mulai meroket.'
Jasmine sadar jika mengatakan apa yang saat ini dipikirkannya, yang terjadi adalah pertengkaran untuk kesekian kali dan pastinya tidak akan ada ujungnya.
Jadi, sengaja mengarang cerita dan membuat wajah pria itu berminat karena kebohongannya dan membuatnya seperti seorang wanita cerdas yang bisa menipu pria bodoh.
"Dasar wanita mesum! Apa kamu sudah tidak sabar untuk bisa bercinta denganku, Sayang?" lirih Aaron di dekat daun telinga sang kekasih karena tidak ingin didengar oleh para pengunjung restoran yang berada di sekitarnya.
"Tapi meskipun kamu merengek untuk memintanya, Aku tidak akan pernah mau sebelum kita benar-benar sah menjadi pasangan suami istri. Aku akan selalu menjagamu sampai kita terikat dalam pernikahan yang sah secara agama dan negara."
Kemudian Aaron menarik diri untuk melihat raut wajah sang kekasih, tapi ia kembali tersenyum karena Jasmi malah mengganggu untuk mencium pipinya.
"Terima kasih, Honey. I love you. Aku benar-benar sangat bahagia bisa memiliki pria dengan cinta luar biasa sepertimu." Jasmine bahkan saat ini merasa ia sudah seperti seorang artis peraih penghargaan bintang film terbaik saja.
To be continued...