
Aaron yang sangat terkejut atas kedatangan tiba-tiba dari Jasmine saat ia bahkan sudah menonaktifkan ponsel. Ia sangat penasaran dari mana sang kekasih yang ingin diberikan sebuah hukuman bisa mengetahui jika ia berada di restoran.
"Tahu dari mana kamu, kalau aku ada di sini?" Aaron bahkan tidak ingin menjawab pertanyaan Jasmine yang masih dibiarkannya berdiri.
Karena saat ini ia masih sangat kesal pada ulah sang kekasih yang selalu seenaknya sendiri. Namun, sang ibu yang selalu bersikap baik pada Jasmine, kini sudah menyuruh untuk duduk di sebelahnya.
"Duduk di sebelah Aaron, Sayang. Jangan berdiri terus. Nanti kakimu pegal. Bukankah kamu baru saja selesai melakukan pemotretan?" Jenny kini sengaja menyindir calon menantunya karena berpikir jika itu adalah sebuah hal yang paling cocok sebagai sebuah sindiran.
"Terima kasih, Ma." Jasmine langsung duduk di sebelah sang kekasih dan menjawab pertanyaan bernada sinis pria yang menatapnya sangat tajam. "Tadi ada teman yang melihatmu dan mengabarkan padaku, Sayang."
"Jadi, aku segera datang ke sini untuk menyusulmu. Kebetulan aku juga belum makan." Jasmine seolah merasa dicueki oleh kekasih dan ibunya.
Tapi sama sekali tidak perduli karena satu-satunya yang dipikirkan hanyalah ingin mengetahui siapa sebenarnya gadis dengan tubuh pendek yang membuatnya merasa khawatir jika menggoda sang kekasih.
Kemudian ia sekali lagi mengarahkan jari telunjuk ke arah gadis di sebelah kekasihnya. "Oh ya, Ma. Memangnya dia siapa? Aku belum pernah bertemu."
Zea yang dari tadi sibuk mengagumi kecantikan dari wanita di hadapannya tersebut, hanya diam karena tidak berani memperkenalkan diri jika belum disuruh.
'Kasihan sekali nona Jasmine dicueki oleh nyonya Jenny dan tuan Aaron,' gumam Zea yang kini menunggu ibu dan anak itu menjelaskan tentang siapa dirinya diperkenalkan.
Bahkan ia tidak tahu akan diperkenalkan pada wanita cantik itu sebagai apa. Ia hanya bisa menebak-nebak. 'Apakah nyonya akan menceritakan tentang sebenarnya atau mengarang cerita?'
"Oh ... dia adalah sepupu Aaron dan kini tinggal bersama kami karena orang tuanya melakukan perjalanan bisnis. Jadi, kusuruh tinggal di rumah daripada kesepian. Itung-itung bisa menemaniku di rumah," ucap Jenny yang saat ini tengah menatap ke arah sosok Anindya.
"Perkenalkan dirimu, Sayang. Bukankah kalian belum saling mengenal?" Jenny memberikan sebuah kode agar Anindya mengikuti permainannya.
Zea awalnya merasa tenang dan mendengarkan apapun yang dikatakan wanita itu, tapi begitu dipanggil, seketika kebingungan karena terbiasa memanggil nyonya.
Namun, tidak mungkin sekarang memanggil demikian di depan sang calon menantu wanita itu. Akhirnya ia mengikuti permainan tersebut dengan menganggukkan kepala.
"Aku Anindya. Senang bisa bertemu denganmu, Kak Jasmine." Zea mengulurkan tangannya dan melemaskan mulutnya ketika dengan berani memanggil kak, bukan nona demi mengikuti akting wanita yang sangat dihormatinya tersebut.
'Rasanya sangat aneh memanggil nona Jasmine dengan sebutan kak. Semoga ia tidak marah,' gumam Zea yang saat ini bisa melihat senyuman dipaksakan dari sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut.
"Oh ... jadi begitu ceritanya?" Kemudian Jasmine langsung mengulurkan tangannya yang sebenarnya tengah menahan kesal karena dipanggil kak.
'Apa ia pikir aku sangat tua? Hingga berani memanggilku kak. Menyebalkan sekali,' umpat Jasmine yang saat ini benar-benar tengah menahan kesal dua kali lipat.
Apalagi dari tadi Aaron hanya diam saja, seolah tidak mau berbicara dengannya. Namun, ia merasa sedikit lega karena Aaron tidak mengungkit masalah pernikahan dan tidak akan diketahui oleh temannya yang seolah ingin mencari kelemahannya untuk bisa menghancurkannya.
To be continued...