Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Sebuah pujian



"Benar apa yang dikatakan oleh Aaron, Ma. Lebih baik jangan membahas mengenai masalah yang berhubungan dengan keturunan saat ada anak dibawah umur. Anindya di sini pasti merasa tidak nyaman."


Akhirnya Jonathan yang dari tadi hanya diam saja dan memantau pembicaraan mengenai istri dan putranya, mulai angkat bicara karena tidak ingin terjadi perdebatan.


Apalagi tiba-tiba ia tadi merasa sangat terkejut dengan perbuatan Anindya yang refleks menepuk jidat dan berpikir jika semua itu berawal dari rasa pusing akibat efek operasi.


Ia saat ini menatap ke arah gadis muda itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan karena dari tadi hanya diam saja ketika diejek oleh Aaron.


"Apa kamu pusing, Anindya? Jika kamu sudah lelah dan ingin beristirahat di kamar, biar diantar istriku." Kemudian menatap sang istri yang langsung menyahut karena juga terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Anindya.


"Benar apa yang dikatakan oleh suamiku, Anindya. Ayo, aku akan mengantarmu kembali ke kamar untuk beristirahat karena pasti kamu sangat lelah setelah lama duduk di sini mendengarkan pembicaraan tidak penting di antara kami."


Jenny saat ini bangkit berdiri dari kursi dan berniat untuk mengajak gadis itu kembali ke kamar. Namun, ia mengerutkan kening karena ternyata Anindya tidak mau beranjak dari tempat duduk.


"Tidak, Nyonya Jenny. Aku tidak apa-apa karena tadi sekilas ada sebuah bayangan yang terlintas, tapi sama-samar dan tidak jelas," ucap Zea yang mencoba untuk berbohong karena ia tidak ingin pergi dari sana.


Meskipun ia merasa sangat kecewa begitu mendengar bahwa pria yang selama ini disukainya akan menikah sebentar lagi dengan wanita yang dicintai, tetap saja ingin mendengar semua ceritanya.


Jadi, tidak ingin pergi dari sana agar bisa tetap mendengar semuanya mengenai pria yang duduk di sebelahnya tersebut. Karena tidak ingin membuat 3 orang itu mengkhawatirkan keadaannya begitu ia berbohong dengan mengatakan hal konyol.


Zea kini mengarahkan jari telunjuk ke arah rerumputan yang kini basah karena air hujan.


"Tadi, aku melihat hujan dan seperti ada bayangan seseorang di pikiranku. Rasanya aku sekarang ingin main hujan-hujanan. Apa aku boleh ke sana?" tanya Zea yang sangat ingin mengingat masa-masa penuh kenangan dengan sang ayah yang dulu sering main hujan dengan canda tawa.


Namun, ia merasa sangat kecewa begitu mendapatkan sebuah penolakan mentah-mentah dari wanita yang terlihat masih sangat cantik meskipun sudah tidak lagi muda tersebut.


"Tidak. Kamu bahkan belum pulih sepenuhnya dan baru kembali dari rumah sakit, Sayang. Kalau pagi-pagi sudah main hujan, bagaimana jika nanti kamu sakit? Memangnya bayangan itu dari seorang pria atau wanita?"


Jenny berpikir bahwa Anindya saat ini mengingat sesuatu yang berhubungan dengan ingatannya dan berharap ada sebuah pencerahan yang akan membuat mereka mengetahui dari mana gadis itu berasal.


"Ceritakan pada kami, Sayang. Siapa tahu kamu akan mengingat sesuatu yang terlupakan karena amnesia, tapi jangan memaksakan diri untuk menyiksa otakmu jika tidak bisa mengingatnya."


Aaron saat ini berpikir bahwa gadis yang dipanggilnya bocil itu memang hanyalah anak kecil karena ingin main hujan-hujanan. Ia saat ini menatap intens wajah polos di sebelahnya yang masih terlihat menatap ke arah hujan.


"Sepertinya kamu suka hujan-hujanan. Jika ingin main hujan, Bukankah harus pulih dulu? Seperti yang dikatakan mama, bahwa kamu masih belum pulih sepenuhnya. Setelah nanti benar-benar sehat, kami tidak akan pernah melarangmu untuk main hujan sepuasnya."


Saat Aaron menutup mulut setelah memberikan nasihat seperti seorang kakak yang perhatian pada adiknya, ia seketika membulatkan mata begitu mendapatkan tanggapan yang dianggapnya sangat konyol.


"Aku sudah baik-baik saja dan merasa sehat sekarang, tapi jika tidak boleh main hujan-hujanan, mungkin lain kali. Apa tuan Aaron pernah main hujan-hujanan saat kecil? Apa sekarang tidak ingin kembali merasakan bagaimana hujan-hujanan?"


Zea hanya merasa penasaran dengan apa tanggapan dari Aaron saat ia ingin sekali main hujan-hujanan dengan ditermani oleh orang lain. Bahkan saat menatap air hujan yang masih turun meski tidak begitu deras, ia mempunyai keinginan bisa bermain hujan bersama dengan pria itu sebelum menikah.


Ia memang gila karena bisa berpikiran bahwa pria yang sangat arogan seperti Aaron diajaknya hujan-hujanan dan tidak mungkin akan mau. Namun, berpikir tidak ada salahnya mencoba dan memberanikan diri untuk bertanya meski sudah tahu jawabannya.


Zea berpikir bahwa saat pria itu sudah bersama dengan sang istri, tidak mungkin bisa berbicara seperti ini dengan bebas karena pasti akan dicemburui.


Meskipun ia bukanlah wanita yang menarik untuk seorang pria, tapi tetap takut jika mendapatkan kemurkaan dari istri pria itu jika sudah tinggal di sini.


'Padahal aku berharap jika selama tinggal di sini, bisa melihat tuan Aaron terus, tapi sepertinya tidak mungkin sudah terjadi karena tidak akan diizinkan oleh istrinya.'


'Pasti istrinya akan lebih sering mengajaknya di dalam kamar untuk berduaan daripada berbincang dengan keluarga seperti ini,' gumam Zea yang akan merasa pikirannya terlalu jauh seperti wanita paruh baya tersebut karena menginginkan ingin segera menimang cucu saat putranya belum menikah.


"Aku tidak suka hujan dan tidak ingat kapan main hujan-hujanan. Kamu pikir aku anak-anak, apa! Dasar bocil! Pikirannya masih terus berhubungan dengan hal-hal konyol!" sahut Aaron yang kini bisa melihat raut wajah penuh kekecewaan dari gadis di hadapannya.


Hingga ia pun mengingat ada sesuatu hal yang yang tidak diucapkan dan membuatnya menoleh ke arah sang ibu. "Mama ingat nggak kejadian saat berada di taman sepuluh tahun lalu?"


Aaron sebenarnya dulu saat kecil sangat suka hujan dan sering main di taman


rumah, tapi semenjak kejadian 10 tahun yang lalu, ia sangat membenci hujan. Kejadian yang tidak pernah terlupakan olehnya seumur hidup dan kini mendengar dari sang ibu yang mengungkit tentang masa lalu.


"Maksudmu tentang gadis kecil yang main hujan-hujanan dan terkena setrum dari kabel yang tiba-tiba jatuh?" Jenny mengingat kejadian 10 tahun yang lalu ketika mengajak putranya makan makanan kesukaan taman kota.


Awalnya cuaca cerah dan ia bersama putranya menikmati makanan. Namun, satu jam kemudian turun hujan deras dan membuatnya berteduh terlebih dahulu dan tidak langsung pulang karena letak parkiran cukup jauh.


Namun, ada kejadian yang sangat memilukan karena saat itu ada seorang gadis berusia sekitar 9 tahun yang main hujan-hujanan dan tiba-tiba terkena setrum dari kabel yang ada di salah satu penjual makanan.


Hingga semua orang bisa melihat bagaimana gadis itu ditolong oleh sang ayah yang langsung mencari kayu untuk memukul agar terlepas dari aliran listrik.


Aaron seketika menganggukkan kepala untuk membenarkan perkataan sang ibu. "Iya, Ma. Padahal anak perempuan itu sempat aku lihat makan di warung mie ayam langganan kita. Aku saat itu rasanya sangat khawatir jika ia tidak terselamatkan."


Dulu, Aaron yang masih menginjak remaja tidak berani untuk membebaskan gadis yang tersetrum tersebut karena takut ikut terkena aliran listrik.


Hingga ia pun bisa melihat semuanya, yaitu perjuangan seorang ayah yang mencoba untuk menyelamatkan putrinya, sedangkan sang ibu menangis tersedu-sedu karena sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya yang tersengat aliran listrik.


"Kira-kira itu gadis itu masih hidup atau sudah meninggal ya, Ma? Aku benar-benar tidak tega melihat ketika tubuh gadis kecil itu kejang saat tersengat listrik."


"Hanya apa saja yang tidak tahu kejadian itu karena hanya mendengar dari cerita kalian." Jonathan yang dulu memang sibuk bekerja dan membiarkan sang istri pergi ke manapun dengan putranya untuk sekedar makan di warung-warung pinggir jalan kesukaan ketika masa muda.


Apalagi selera putranya tidak jauh berbeda dengan sang istri yang lebih suka makan di pinggir jalan karena dianggap sesuai dengan lidah mereka. Meskipun bisa dibilang berasal dari keluarga berada, tidak membuat mereka menganggap bahwa hanya restoran lah yang memiliki makanan enak.


Ia beserta anak dan istri lebih suka jajan di pinggir jalan di tempat langganan. Hingga mendengar cerita mengenai gadis kecil yang tersengat aliran listrik tersebut dari sang istri.


Sudah 10 tahun mereka melupakan hal itu dan kali ini semuanya seolah terbayang di pikiran anak dan ibu tersebut yang melihat dengan mata kepala sendiri kejadian mengerikan dan mengenaskan yang melibatkan seorang anak perempuan itu.


Zea yang dari tadi memasang indra pendengaran lebar-lebar untuk mendengar cerita dari Aaron, seketika jantungnya berdegup sangat kencang begitu menyadari bahwa anak perempuan yang disebutkan oleh pria itu adalah dirinya.


Ia awalnya tidak yakin jika itu adalah dirinya yang dimaksud oleh Aaron. Namun, ciri-ciri yang dimaksud oleh pria itu dianggap sangat cocok dengan dirinya yang memang 10 tahun hampir saja kehilangan nyawa akibat tersengat aliran listrik.


Ia bahkan harus dirawat di rumah sakit selama satu minggu dan akhirnya bisa sembuh dan semenjak saat itu tidak berani main hujan-hujanan karena trauma. Hingga satu tahun kemudian sang ibu meninggal dan membuatnya semakin bersedih dan suka mengurung diri.


Sebenarnya semenjak saat itu ia tidak berani main hujan-hujanan lagi, tapi karena berkat sang ayah yang selalu menghiburnya, sehingga membuatnya bisa bangkit dari rasa sedih kehilangan sang ibu dan ingin mengenang semua kenangan orang tua, yaitu merasakan air hujan membasahi tubuhnya.


'Pantas saja aku merasa jika wajah tuan Aaron tidak asing. Ternyata, aku dulu pernah melihatnya saat makan di warung mie ayam yang ada di taman kota. Jika boleh aku mengukir harapan atas takdirmu ini, Tuhan.'


'Apakah Engkau sudah mengatur pertemuan kami semenjak dari kecil dan bisa bertemu lagi sekarang? Apakah ada sesuatu yang akan terjadi di antara aku dan tuan Aaron? Tapi bagaimana mungkin terjadi sesuatu jika Tuan Aaron saja akan menikah sebentar lagi.'


Zea tidak ingin membuat harapan tinggi karena kegeeran pernah bertemu dengan Aaron 10 tahun yang lalu. Hingga saat ia mencoba untuk menenangkan perasaannya yang kalang kabut karena pria itu, ia mendengar suara bariton Aaron yang membuatnya meremas pakaiannya.


"Seandainya anak perempuan itu masih hidup, pasti sangat cantik karena dulu saat masih kecil saja sudah cantik dengan rambut dikepang dua," ucap Aaron sambil menatap ke arah rintik air hujan yang perlahan mulai berhenti membasahi bumi.


To be continued...