
Austin yang saat ini tengah berada di restoran, tengah menunggu seseorang dan beberapa saat kemudian terlihat seorang pria mengenakan outfit ala anak motor yang kini mendaratkan tubuh di kursi yang ada di hadapannya.
"Selamat malam, Tuan Aaron," sapa pria muda yang kini mengulurkan tangannya.
Aaron tidak langsung menjabat tangan pria yang merupakan mata-mata untuknya mengawasi Erick. Ia yang mendapatkan kabar jika Erick hari ini ada Sunmori, tidak langsung percaya karena berpikir suatu saat akan menemui Anindya.
Kini, ia mengeluarkan sebuah amplop dari dalam saku celana dan mengulurkan tangan sambil menyerahkannya. "Jelaskan sekarang karena aku tidak bisa lama-lama di sini."
Pria muda yang sudah lama ikut grup Erick saat Sunmori, seketika berbinar wajahnya kala melihat amplop yang langsung dibukanya berisi lembaran uang berwarna merah itu.
"Jadi, tadi semua anak motor disuruh salah satu teman baik Erick untuk berbohong ada Sunmori. Padahal sebenarnya Erick pergi ke Jogja untuk menemui ayangnya." Mengakhiri ceritanya sesuai dengan apa yang diketahui.
"Jogja?" Aaron kini merasa lega bisa menemukan clue dari keberadaan Anindya yang pergi dari rumah tanpa pamit. "Apa kau tahu alamat lengkapnya?"
"Tidak, Tuan Aaron. Tidak ada yang tahu alamat lengkapnya karena Erick tidak memberitahu siapapun." Memasukkan amplop ke dalam jaket.
Sementara itu, Aaron yang tidak mungkin langsung terbang ke Jogja saat tidak punya tujuan pasti mengenai alamat Anindya, kini langsung mengibaskan tangannya pada pria di hadapan.
"Pergilah! Jika kau bisa mendapatkan alamat yang dituju Erick, aku akan memberimu lebih banyak uang." Aaron sangat berharap ia bisa segera menemui Anindya karena khawatir pada keadaan gadis yang telah direnggut kesuciannya.
"Siap, Tuan Aaron. Saya akan mencari tahu meskipun itu sangat mustahil." Kemudian bangkit berdiri dan membungkuk hormat sebelum pergi.
Karena ia sadar diri jika mengajak bersalaman, tidak akan digubris. Kemudian kembali menegakkan tubuh dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu keluar restoran mewah itu.
Di sisi lain, Aaron saat ini langsung mengetik pesan pada detektif yang disuruhnya untuk mencari segala sesuatu yang berhubungan dengan Anindya.
Cari lokasi dari Anindya karena menurut mata-mata yang bekerja untukku, dia tinggal di sana.
Aaron yang baru saja mengirimkan pesan pada detektif, kini bangkit berdiri dari posisinya setelah menaruh uang di atas meja. Ia berjalan menuju ke parkiran sambil berpikir tentang kemungkinan Erick memberikan tempat tinggal untuk Anindya.
Ia tidak langsung menyalakan mesin mobil karena tengah mencari sesuatu, yaitu earphone yang biasa ditaruh di dalam kendaraannya agar mudah mengemudi saat mendapatkan telpon.
Niatnya adalah ingin menelpon sang ibu sambil mengemudi. "Apa di sana?" Aaron bergerak ke samping kiri dan membuka dasbor.
Saat ia memeriksa di dalamnya, mengerutkan kening kala melihat sebuah amplop berwarna putih. "Apa ini?"
Tanpa membuang waktu, ia pun langsung membukanya dan melihat ada sebuah kertas dengan tulisan di dalamnya. "Surat? Ini surat dari Anindya."
Aaron kini fokus membaca goresan pena yang sangat rapi dan cantik menghiasi kertas putih tersebut.
To :
Hati yang menyakiti
Saat Anda membaca ini, sudah dipastikan jika aku telah pergi jauh. Sebenarnya aku tidak ingin meninggalkan apapun untuk tuan, tapi aku tidak bisa menahannya lagi.
Aku tidak ingin memendam ini sendirian dan ingin mengungkapkan pada Anda, Tuan Aaron. Bahwa aku saat ini sangat membencimu. Jangan pernah mencariku dan jangan pernah menampakkan wajah di depanku. Tunggu saja nona Jasmine sampai kiamat.
Tuan Aaron akan mendapatkan balasan buruk dari perbuatan yang merenggut kesucianku. Bahkan sampai kapan pun, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Tuan Aaron.
from :
Hati yang tersakiti.
To be continued...