Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Apa keistimewaan ini?



Setelah mempertimbangkan matang-matang mengenai keputusannya, kini Zea langsung menggelengkan kepala. Meskipun di saat bersamaan ia bisa melihat raut wajah Erick seketika berubah muram atas keputusannya.


"Tidak, Erick. Aku tetap akan di sini karena lebih nyaman tinggal di rumah sendiri. Kamu tahu tidak kalau rumah sendiri itu laksana surga meskipun hanya gubuk reyot sekali pun. Apalagi aku pernah hidup menumpang di rumah keluarga besar Jonathan, rasanya masih nyaman berada di sini."


Zea kini ingin membuat Erick tidak sepenuhnya kecewa atau pun merasa khawatir padanya jika suatu saat Aaron datang. "Aku tidak akan pergi ke mana-mana meskipun tuan Aaron datang untuk memintaku kembali ke rumahnya. Apalagi aku saat ini sangat membencinya."


Bahkan Zea pun menceritakan tentang surat yang ditujukan untuk Aaron agar tidak mencarinya, tapi tetap saja membuatnya berakhir dicari. "Biarkan saja dia berbuat sesuka hati, itu tidak akan membuatku takut. Bila perlu, aku akan memanggil para warga jika sampai tuan Aaron memaksaku."


Meskipun apa yang disampaikan Zea diketahui bertujuan untuk menghiburnya, tetap saja Erick ragu. 'Bukan masalah pemaksaan Aaron yang kutakutkan, Zea. Aku lebih takut kalau hatimu lemah saat berhadapan dengan pria arogan itu.'


Erick yang hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati karena tidak ingin menunjukkan pada Zea kekhawatirannya dan membebani gadis itu, kini mengembuskan napas kasar.


"Baiklah kalau memang kamu tetap ingin tinggal di sini. Aku akan selalu mengecek keadaanmu dengan menelpon dan kamu pun harus mengatakan semua hal yang terjadi di sini padaku, oke!" Erick kini mengarahkan jari kelingkingnya untuk meminta Zea berjanji.


Tanpa pikir panjang, kini Zea langsung mengaitkan jari kelingkingnya pada Erick untuk menenangkan perasaan pria itu. "Iya, aku janji. Kita ini hanya berteman, tapi tingkahmu sudah melebihi pacar saja."


Saat Zea baru melepaskan jarinya, kini ingin tertawa kala mendengar Erick yang berbicara konyol padanya.


"Iya, memang aku bukan pacarmu, tapi calon suami yang suatu saat nanti akan menghalalkanmu." Erick saat ini langsung membungkam bibir Zea dengan jarinya agar tidak berkomentar. "Kalau kamu membuka mulut untuk mengaminkan, baru kubuka."


Awalnya Zea ingin mengatakan agar Erick tidak menaruh harapan besar padanya karena ia tidak bisa berjanji untuk menerima pria itu yang seperti sangat serius ingin menikahinya. Namun, karena dibungkam mulutnya, sehingga hanya diam saja dan menunggu sampai Erick menurunkan tangannya.


Meskipun saat ini ia berharap kebahagiaan akan selalu dirasakan Erick meskipun tidak bersamanya karena sadar jika akan menyakiti pria itu jika terpaksa menerima karena rasa iba.


'Kamu pantas mendapatkan gadis yang lebih baik dariku, Erick. Aku sudah ternoda dan tidak pantas untukmu. Tuan Aaron, aku sangat membencimu. Membusuklah di neraka bersama nona Jasmine yang kau bangga-banggakan itu,' gumam Zea yang kini sudah terbebas dari kuasa tangan Erick yang menurunkan jari-jarinya.


Tahu jika Zea tidak akan pernah mengaminkan, akhirnya Erick menyerah dan mengalihkannya dengan mengajak berangkat demi melupakan hal yang berhubungan dengan Aaron.


"Sekarang kita ke mana dulu? Nanti pakai maps saja karena aku tidak tahu daerah sini. Oh ya, sekalian nanti ke pantai gimana? Aku dengar pantai di Jogja banyak yang cantik pemandangannya." Saat Erick baru saja menutup mulut, ia mengerutkan keningnya kala melihat Zea langsung menggelengkan kepala.


Memiliki pengalaman buruk di pantai, Zea tidak ingin traumanya kembali menghantui. "Aku memang suka pemandangan pantai yang indah, tapi aku tidak ingin ke pantai karena dulu pernah hampir terseret ombak saat masih kecil."


"Semenjak itu, papa dan mamaku tidak pernah mengajakku ke pantai saat berada di Jogja. Ada banyak tempat lain di sini, seperti Rumah Hobbit, Hutan Pinus Mangunan, Tebing Breksi, Swargabumi borobudur, Merapi Land Mark, He-HA Sky View, Kraton Yogyakarta."


"Baiklah. Aku ikut apa yang dibilang Ayang saya. Kita berangkat sekarang." Erick kini berjalan menuju ke arah motor matic berwarna putih milik ketua RT dan melihat Zea mengunci pintu, lalu menaruh di bawah pot bunga. "Kenapa tidak dibawa saja kuncinya? Nanti ada orang jahat yang menemukannya gimana?"


Zea hanya menggelengkan kepala karena yakin jika kunci akan aman berada di sana. "Tenang saja karena akan aman di bawah pot. Kalau pun ada orang jahat yang hendak mencuri, tidak ada barang berharga di dalam rumah."


"Iya, memang tidak ada karena yang berharga ada di hadapanku sekarang," sahut Erick yang saat ini meringis menahan rasa nyeri kala Zea malah mencubit lengannya.


"Gombal!" sarkas Zea yang sangat luas memberikan sebuah hukuman pada Erick dan kini langsung naik ke atas motor yang tadi potstep sudah diturunkan oleh pria itu. "Terima kasih. Ayo, jalan, supir ojekku."


Saat Erick baru saja memakai helm, seketika kesal dengan panggilan gadis yang sudah duduk di jok belakang. "Apa tidak ada yang lebih jelek lagi dari tukang ojek? Aku kadang ingin lidah Ayang keseleo dan memanggilku sayang, tapi sepertinya harus menunggu kiamat dulu."


Zea seketika tertawa terbahak-bahak karena apa yang baru saja didengarnya benar-benar sangat lucu. "Tunggu saja sampai lidahku keseleo agar nanti memanggilmu seperti itu. Cepat jalan!"


"Iya ... iya, Ayang. Kita berangkat sekarang!" Erick kini menyalakan mesin motor dan melajukan kendaraan roda dua itu meninggalkan rumah sederhana dengan halaman luas itu.


Sementara di tempat berbeda, ada seorang pria yang keluar dari balik pohon nangka besar di sebelah pekarangan luas sebelah kiri rumah Zea.


Kemudian langsung melihat kiri kanan dan begitu dirasa aman, langsung berjalan masuk ke halaman rumah dan karena tadi melihat kunci ditaruh di bawah pot bunga, ia langsung mengambil dan masuk ke dalam rumah.


Begitu berhasil membuka pintu, langsung berjalan masuk ke dalam ruangan kamar yang diduga adalah tempat tidur gadis yang tinggal di sana.


"Akhirnya aku menemukan ini," ucapnya yang langsung memasukkan ke dalam kantong plastik. Kemudian ia menghubungi seseorang.


"Halo, Tuan. Saya sudah berhasil mendapatkan apa yang Anda butuhkan."


"Cepat keluar dan bawa ke sini!"


"Siap, Tuan," ucap pria dengan perawakan kurus yang saat ini langsung mematikan sambungan telpon dan keluar dari ruangan kamar. "Akhirnya aku bisa mendapatkan uang banyak hanya dengan mendapatkan ini."


Ia menatap ke arah kantong plastik yang baru saja dikeluarkan dari saku jaketnya. "Apa keistimewaan ini sebenarnya? Sampai pria tua itu bersedia membayar mahal aku."


To be continued...