
Alesha menelan saliva dengan kasar karena tidak menyangka jika persetujuannya untuk bisa saling mengenal lebih dekat dengan anggota keluarga Jonathan malah membuatnya merasa tidak berkutik dan kebingungan untuk menjawab.
Saat ini, ia sangat khawatir jika sampai apa yang dikatakan oleh pria di sebelahnya tersebut benar, yang terjadi adalah ia bisa dipulangkan ke rumah yang sekarang dihuni dua wanita jahat dan pastinya akan membuatnya hidup menderita.
'Tidak! Aku tidak mau kembali ke rumah yang bagaikan neraka itu dan tinggal bersama dengan dua wanita jahat yang tidak punya hati karena bisa menjualku hanya demi mendapatkan uang untuk bersenang-senang.'
'Tega sekali mereka padaku. Apa sebenarnya kesalahanku, hingga mereka berdua seperti itu. Bahkan papa selalu baik terhadap mereka, tapi selalu berbuat jahat padaku.'
Saat Zea sibuk dengan pikirannya sendiri karena tidak bisa menjawab, Aaron memicingkan mata karena tidak mendapatkan jawaban. Ia benar-benar merasa penasaran tentang sebenarnya apa yang ada di otak gadis belia itu.
Namun, karena saat ini berada di hadapan sang ayah, tidak mungkin berbicara seenaknya pada gadis itu karena sangat disayangi orang tuanya.
'Apa yang ada di pikiran si bocil ini sebenarnya? Apa ia sama sekali tidak ingin mencari tahu tentang siapa dirinya? Dari mana berasal dan tidakkah ingin tahu tentang orang tuanya?'
Aaron yang tengah memikirkan berbagai macam kemungkinan dan pertanyaan, kini mendengar suara bariton dari sosok ayahnya yang memarahi serta menyalahkannya.
"Aaron, jangan paksa Anindya untuk membuat otaknya berpikir terlalu berat. Kasihan ia baru pulang dari rumah sakit. Setelah Papa pikirkan, lebih baik ia tidak tahu apapun tentang keluarganya saat belum mengingatnya."
Jonathan awalnya berniat untuk menyuruh detektif mencari tahu tentang hal yang berhubungan dengan gadis itu, tapi berubah pikiran karena ia berpikir jika nanti ada orang jahat yang mungkin memanfaatkan situasi dengan amnesia yang diderita.
Hal itulah yang menjadi pertimbangannya untuk tidak mencari tahu sampai gadis itu sembuh dari amnesia. Karena itulah ia memarahi putranya yang terkesan seperti ingin segera menyingkirkan gadis itu.
Kini ia menatap ke arah putranya yang terlihat kesal saat dimarahi karena tidak ingin ada kesalahpahaman. "Ada banyak orang jahat yang mungkin bisa memanfaatkan kemalangan Anindya, Aaron."
"Bukannya Papa tidak punya uang jika dimanfaatkan oleh orang lain, seperti diperas misalnya, tapi tidak ingin membuat pikiran Anindya terpecah belah karena tidak bisa mengingat siapapun. Kamu mengerti, kan maksud Papa?"
Jonathan kali ini menatap ke arah putranya yang masih masam wajahnya. Hingga ia pun beralih menatap ke arah gadis yang dari tadi hanya diam mengunci rapat bibirnya.
"Kalau menurutmu, bagaimana, Anindya? Aku akan mengikuti apapun keputusanmu karena kamu jadi begini juga karena aku," sahut Jonathan yang saat ini tengah menunggu keputusan dari gadis belia yang menurutnya memang seperti dipikirkan oleh putranya.
Bahwa hanya dengan melihat gadis belia itu bisa ditebak jika mungkin masih sekolah. Hingga ia pun bisa mendengar suara lirih dari wajah yang berubah pucat tersebut dan membuatnya khawatir.
"Sepertinya benar apa yang Tuan Aaron katakan. Sebenarnya aku ingin mengetahui semua hal yang hilang dari ingatan, tapi perkataan dari Anda pun juga benar karena sejujurnya sangat takut jika nanti ada orang jahat yang memanfaatkan sesuatu yang sama sekali tidak kuingat."
Anindya tidak mungkin menyalahkan pria di sebelahnya, tapi ingin melindungi dirinya dengan memakai pendapat yang baru saja dikatakan oleh pria paruh baya itu.
'Ya Allah, lindungilah aku dari orang-orang yang jahat itu. Aku tidak ingin bertemu dengan para iblis yang tidak punya hati itu. Aku berharap bisa tinggal di sini lebih lama karena sangat aman berada di rumah ini,' gumam Zea yang saat ini bernapas lega saat melihat wanita yang baru saja meletakkan susu hangat serta kopi di atas meja.
Bahkan beberapa saat kemudian, wanita yang tak lain adalah Jenny telah kembali dan langsung mendaratkan tubuhnya di sebelah sang suami.
"Kalian membicarakan apa?" Jenny merasa sangat penasaran dengan obrolan dari tiga orang yang tadi sempat ditinggalkannya selama beberapa menit saat mengambil sweater di kamar.
Namun, tidak langsung mendapatkan jawaban karena hanya saling bersitatap dengan mereka. Karena merasa ada aura tidak biasa di antara mereka, kini ia langsung mengambil teh hangat dan menyeruputnya di sela-sela suara gerimis hujan yang kini sudah tidak sederas tadi.
Sementara Zea melakukan hal yang sama dengan meminum susu hangat yang baru saja dibuatkan oleh pelayan. Hingga tanpa ia menjelaskan, kini mendengar Aaron menjelaskan tentang pembicaraan mereka.
"Hanya obrolan itu saja dan tidak ada yang penting, Ma. Aku hanya berniat baik pada Anindya, tapi apa yang dikatakan oleh Papa sepertinya memang benar." Aaron memang merasa bahwa semua yang dikatakan oleh sang ayah masuk akal dan memang telah marak terjadi.
Ia bahkan saat ini sudah bisa menebak jika sampai orang tua gadis itu adalah orang yang kurang mampu, bisa saja memanfaatkan untuk memeras keluarganya hanya demi bisa mendapatkan uang.
Meskipun tidak boleh berpikiran buruk pada orang lain, tapi di zaman sekarang ini sudah banyak contoh orang yang mencoba untuk mencari uang dengan jalan pintas.
Karena tidak ingin keluarganya mendapatkan masalah, Aaron kali ini berpikir jika ia tidak akan membahas salah hal itu lagi sampai gadis itu sembuh dari amnesia.
Ia berpikir bahwa kemungkinan buruknya hanyalah gadis itu akan selamanya tinggal di rumahnya. 'Semoga ia tidak menyusahkan keluargaku. Aku pun tidak ingin mama bersikap berlebihan padanya.'
Aaron berniat untuk mengambil cangkir kopi yang berada di atas meja, tapi seketika meringis kesakitan karena mendapatkan sebuah hukuman dari sang ibu dengan menjewer telinganya.
"Dasar anak nakal! Bukankah mengenai masalah itu sudah kita bicarakan di rumah sakit? Kenapa kamu selalu membuat masalah pada Anindya, Aaron? Seharusnya kamu bisa merasakan kesusahannya di usia yang masih belia sudah kehilangan ingatan seperti ini."
Jenny merasa sangat bersalah pada Anindya karena membuat gadis itu merasa tertekan tinggal di rumah keluarga besarnya.
Ia tidak ingin Anindya merasa tersisih mendengar perkataan dari putranya dengan berpikir bahwa tinggal di rumahnya adalah sebuah beban. Padahal ia sangat senang sekali mempunyai anggota keluarga baru.
"Astaga! Mama, lepasin!" sarkas Aaron yang berusaha untuk memegangi telinganya agar tidak terasa sakit akibat sang ibu yang menjewernya.
"Nyonya, jangan berbuat seperti itu pada tuan Aaron. Kasihan," sahut Zea yang saat ini segera bangkit dari kursi dan mencoba untuk menghentikan ulah wanita itu.
To be continued...