
"Sebenarnya tadi saat pertama kali aku melihat sate telur puyuh itu, tiba-tiba seperti terlintas di pikiran tentang makanan ini," ucap Zea yang saat ini tengah menatap intens wajah pria dengan tatapan mengintimidasi tersebut.
Ia hanya bisa mengarang sebuah kebohongan seperti itu saja karena tidak ada lagi yang terpikirkan dan berharap Aaron mempercayainya. Kemudian melanjutkannya agar terlihat lebih meyakinkan.
"Jadi, tadi aku langsung berpikir, mungkin itu adalah salah satu makanan favoritku. Itu saja yang kupikirkan. Bahkan sangat kesal dan marah ketika Tuan Aaron tadi memakannya." Zea masih menunggu hingga pria yang masih intens menatapnya tersebut percaya.
Bahwa kebohongannya bisa dipercaya oleh Aaron karena ia khawatir membuat pria itu curiga dan membuatnya tidak berkutik.
Sementara itu, Aaron yang saat ini memikirkan tentang alasan gadis belia itu, tidak langsung berbicara karena jujur saja ia merasa ragu jika Anindya tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
'Apa Anindya menyembunyikan tentang ingatannya dariku? Apa mungkin ada ingatan lain yang tiba-tiba muncul di kepalanya hari ini?' gumam Aaron yang saat ini masih menimbang-nimbang tentang kecurigaannya diungkapkan pada Anindya atau tidak.
Namun, karena melihat wajah memelas gadis di hadapannya tersebut, kini Aaron tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Ia berharap jika Anindya akan kembali mengingat masa lalunya yang hilang.
Itu karena tidak tega melihat gadis itu tanpa keluarganya. Hingga ia pun kini mengulurkan sate telur puyuh yang tinggal tiga butir karena tadi memakannya satu.
Bahkan ia langsung mengarahkan tepat di depan mulut Anindya yang mengerucut itu. "Ini masih tiga! Cepat makan! Dasar rakus!" sarkas Aaron yang kini melanjutkan makan nasi dengan ayam bakar begitu Anindya langsung menerima makanan favoritnya.
Zea yang tadinya tidak mau menerima sate telur puyuh itu karena berpikir ingin mengambil lagi di angkringan, kini tidak jadi karena ia berpikir jika perutnya sudah kenyang.
Hingga ia pun berpikir jika makan sisa pria itu tidak masalah dan langsung menikmatinya. 'Selamat ... selamat. Nasib baik tuan Aaron percaya padaku.'
Zea fokus mengunyah makanan di mulutnya dan berpura-pura masih kesal. Padahal dalam hati benar-benar merasa sangat lega karena ia benar-benar takut jika sampai pria itu tidak percaya, yang terjadi adalah akan diinterogasi habis-habisan.
Bahkan saat ini ia tengah mengusap perutnya karena kekenyangan. "Alhamdulillah, kenyangnya."
Saat melihat Anindya bertingkah menggemaskan seperti anak kecil saat kekenyangan makan, Aaron yang tadinya menyeruput kopi, seketika tertawa setelahnya.
Bahkan ia geleng-geleng kepala melihat gadis belia yang dianggapnya seperti anak kecil itu benar-benar menghabiskan makanannya.
"Wah ... itu perut apa tong sampah? Jadi, sebenarnya makanmu banyak seperti ini? Tapi saat di rumah makan sedikit. Pasti takut diejek mama, ya?" tanya Aaron yang saat ini tengah menelisik isi hati gadis yang dianggapnya tak lebih dari anak kecil itu.
Berbeda dengan Zea yang refleks langsung menggelengkan kepala dan kembali berakting. "Bukannya tadi Tuan Aaron sendiri lah yang mengancam agar aku harus menghabiskannya?"
"Benar juga, tapi aku tidak menyangka jika kamu bisa menghabiskannya. Padahal tubuhmu sekecil ini, lalu semua makanannya pergi ke mana?" Aaron kini ingin kembali menggoda Anindya untuk membuatnya kesal.
"Makanan yang kamu makan sama sekali tidak jadi daging karena tubuhmu kurus begini!" Aaron bahkan sudah menggerakkan lengan Anindya dan seperti tidak ada lemak sana sekali di sana.
Zea yang merasa sangat kesal, berniat untuk menanggapi dan melepaskan tangannya dari kuasa pria itu. Namun, refleks indra pendengarannya menangkap suara yang sangat tidak asing di telinganya.
Refleks ia menolehkan kepala ke arah parkiran dan seketika membulatkan mata begitu melihat seseorang yang baru saja datang.
'Gawat! Mati aku sekarang!' gumam Zea yang merasa sangat gelisah jika sampa ketakutannya benar-benar terjadi.
To be continued...