
Dua minggu kemudian...
Candra Kusuma hanya saat ini telah berada di rumah sakit untuk melakukan pengobatan dari penyakitnya ditemani oleh cucu kesayangan yang ini sudah benar-benar sah menjadi anggota keluarga Kusuma dan surat wasiat pun sudah sah secara hukum setelah memenuhi beberapa syaratnya.
Jadi, ia merasa sangat lega karena sehat sewaktu-waktu dipanggil oleh Sang pencipta, cucunya sudah memiliki segalanya dan bisa melakukan apapun yang diinginkan.
Semenjak tinggal bersamanya di Surabaya, cucunya benar-benar merawatnya dengan baik dan mencurahkan kasih sayang padanya. Ia merasa sangat bahagia karena berpikir masih bisa merasakan tinggal bersama dengan cucu kesayangan.
Sebenarnya ia mendapatkan kabar dari salah satu orang kepercayaannya mengenai berita tentang cucunya yang telah dicari oleh seseorang dengan menyebarkan berita kehilangan di beberapa media sosial serta surat kabar.
Namun, ia sengaja meminta untuk menutup berita itu dan menyembunyikan dari cucunya karena tidak ingin ada orang yang sengaja memanfaatkannya.
Bahkan ia dihubungi oleh pemilik sawah yang bahkan sudah dibeli olehnya secara diam-diam dan memberikan syarat pada pria itu agar tidak membuka rahasia mengenai dirinya pada pria yang mengaku sebagai calon suami cucunya.
Bahkan ia sudah mengantongi foto dari sebuah kartu nama pria itu dan disembunyikan dari cucunya. Ia tidaknya kehilangan di dunia saat merasakan kasih sayang yang belum pernah dirasakan selama ini saat berpikir jika Zea akan direbut oleh pria itu.
Bahkan sudah menyimpan ponsel untuk cucunya dan membelikan yang baru setelah nomor baru. Ia masih melarang cucunya untuk menghubungi Erick karena berpikir akan mengetahui keberadaannya.
Tidak hanya itu saja, ia mengatakan mengganti nama cucunya dengan nama baru, yaitu Khayra Fazila Farhana Kusuma dengan alasan untuk melindungi cucunya dari orang-orang jahat yang memanfaatkannya jika mengetahui jati dirinya.
Nasib baik cucunya sangat patuh padanya. Bahkan hanya fokus merawatnya dengan baik sampai sekarang. Saat ini, mereka dalam perjalanan pulang dan berada di dalam mobil.
Zea yang saat ini duduk di sebelah sang kakek, menatap ke arah jalanan kota Surabaya dengan banyaknya bangunan tinggi menjulang yang tak kalah banyak dan megah seperti di Jakarta.
Hingga ia melihat sebuah universitas dengan desain mewah yang menjulang dan membuatnya merasa penasaran, sehingga menoleh ke arah sang kakek dan bertanya.
"Itu pasti kampus mahal dan orang-orang yang kulihat di sana berasal dari keluarga konglomerat, ya Kek?" Zea yang sudah satu bulan tinggal di Surabaya, merasa sangat bosan karena setiap hari hanya menghabiskan waktu di rumah megah lantai 5 milik sang kakek.
Ia ingin mengisi waktu luang selain menemani sang kakek yang melakukan terapi di rumah sakit terbesar di Surabaya karena pria paruh baya tersebut tidak mau berobat ke luar negeri.
Akhirnya ia menuruti keinginan sang kakek yang masih bersemangat untuk melakukan pengobatan dan kesembuhan. Begitu melihat universitas dengan bangunan tinggi serta megah itu, membuatnya ingin kuliah di sana.
Bukan karena ini menunjukkan jika memiliki seorang kakek yang kaya raya, tapi berpikir bahwa Universitas itu pasti juga merupakan tempat favorit yang menghasilkan orang-orang hebat.
Ia ingin menjadi wanita dengan pendidikan yang tinggi agar tidak diremehkan hanya mengandalkan kekayaan dari sang kakek yang mungkin selalu dibilang orang tidak akan habis 7 turunan.
"Kakek dan ibunya dulu juga lulusan dari sana, Sayang. Itulah Kenapa kamu sepertinya kamu ikatan batin begitu melihat kampus terbaik di sini. Apa kamu sekarang sudah memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikan?" Candra Kusuma saat ini merasa ada keinginan dari sang cucu yang merasa bosan karena tidak mempunyai kegiatan di rumah.
"Kakek akan menyuruh orang untuk mengurus semuanya agar kamu bisa kuliah di Universitas yang memang mayoritas adalah putra-putri dari keluarga konglomerat. Jadi, kamu memulai awal baru dengan dikenal sebagai Khayra Fazila Farhana Kusuma, bukan Zea lagi."
"Meskipun di manapun, Kakek tetap akan memanggilmu dia karena itu adalah nama pemberian orang tuamu." Ia saat ini tengah menunggu keputusan dari cucunya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas bergengsi yang ada di Surabaya.
Zea tanpa pikir panjang langsung melakukan kepala karena memang dari dulu ingin mendapatkan gelar demi membanggakan orang tua dan kini sang kakek agar tidak merasa malu hanya memiliki seorang cucu lulusan SMA saja.
Zea saat ini terkekeh geli mendengar perkataannya yang dianggap sangat banyak ketika membenci diri sendiri. Hingga ia menepuk jidat ketika melupakan sesuatu hal yang penting.
"Oh ya, Kek. Semua ijazahku ada di rumah lama. Apakah dua wanita jahat itu sudah membakarnya karena membenciku saat tidak bisa dijual oleh mereka?" Zea ia sudah menceritakan perlakuan buruk dari ibu tiri serta kakak tirinya, tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh sang kakek pada mereka.
Kini, ia mengingat itu dan sengaja ingin bertanya. "Oh ya, apa Kakek sudah menyuruh orang untuk memberikan pelajaran pada mereka?"
Candra Kusuma yang dulu langsung bergerak untuk menyuruh orang membalas perbuatan kejam dari dua wanita yang merupakan ibu dan anak itu, seketika tertawa terbahak-bahak ketika mengingat laporan tentang mereka.
"Oh ya, Kakek bahkan lupa jika belum menceritakan mengenai dua wanita jahat itu yang berani menyakitimu, Sayang. Saat orang suruhan Kakek datang ke sana, ternyata mereka memiliki banyak utang dan akhirnya menjual rumah itu."
Candra Kusuma yang benar-benar sangat marah pada perbuatan ibu dan anak yang telah berani membuat cucunya tidak menderita, sengaja ingin memberikan penyiksaan sebelum memulai pada hukuman utama.
"Tapi aku sudah menyuruh orang untuk mengusir mereka dengan membawa surat kuasa yang menyatakan bahwa rumah itu diwariskan kepadamu karena merupakan putra kandung dari papamu. Jadi, mereka saat ini hidup menderita di sebuah kontrakan kecil dan susah untuk makan."
"Bahkan kakak tirimu itu tidak bisa melanjutkan kuliah untuk menjadikan wanita panggilan. Kakek sengaja tidak menjebloskan mereka ke penjara agar merasakan hidup menderita. Baru setelah Kakek puas menyiksa mereka yang hidup kesusahan, kemudian melaporkan pada polisi di atas tuduhan menjual anak di bawah umur."
Ia ingin melihat reaksi dari cucunya. Apakah merasa puas dengan pembalasan yang dilakukannya. Hingga ia melihat cucunya berbinar bertepuk tangan.
"Wah ... Kakek benar-benar luar biasa karena membalas perbuatan mereka tanpa aku harus turun tangan sendiri. Aku jadi ingin melihat penderitaan mereka." Zea yang baru saja menutup mulut, menyadari jika melakukannya, kemungkinan akan bertemu dengan sosok pria yang telah membuat luka di dalam hatinya.
Jadi, ia reflek memfilter perkataannya karena tidak ingin melakukan itu. "Aah ... aku hanya bercanda, Kek karena sangat muak melihat mereka. Biarkan mereka menikmati penderitaan terlebih dahulu sebelum masuk penjara."
Ia benar-benar sangat puas karena akhirnya hukum tabur tuai telah dirasakan ibu tiri dan kakaknya yang telah membuat hidupnya berakhir menderita.
Candra Kusuma saat ini mengusap punggung tangan cucunya dan mengungkapkan apa yang menjadi impiannya. "Kakek akan mengizinkanmu melihat mereka saat tiba waktunya nanti, Sayang."
"Sekarang, fokus saja pada pendidikan karena itu sangat dibutuhkan setelah kamu menjadi pemimpin perusahaan, menggantikan Kakek." Ia benar-benar menaruh harapan pada cucu satu-satunya tersebut.
Meskipun cucunya hanyalah seorang perempuan, merasa yakin jika tidak kalah hebat dengan pria begitu mengetahui kejeniusannya.
"Apalagi Kakek sudah terlalu tua untuk mengurus perusahaan dan kamulah yang akan meneruskan semua ini. Jadi, jangan buat perusahaan yang susah payah Kakek dirikan itu bangkrut." Ia seketika tersenyum simpul begitu melihat cucunya mengangukkan kepala.
Zea saat ini aku janji pada diri sendiri untuk menjadi seorang wanita yang kuat serta hebat. "Iya, Kek. Aku akan menjadi cucu Kakek yang membanggakan dan tidak akan membuat perusahaan yang susah payah didirikan bangkrut. Impianku dari dulu adalah menjadi seorang wanita hebat yang tidak diremehkan oleh para pria."
"Sepertinya semuanya berawal dari sini setelah bertemu dengan Kakek. Jadi, Kakek harus melihat cucu Kakek yang hebat ini memimpin perusahaan." Saat Zea baru saja menutup mulut, ia merasa perutnya seperti diaduk-aduk. Ia seketika berteriak pada sang sopir.
"Berhenti!" Kemudian seketika membuka mulut dan bergerak keluar begitu sang supir menepikan kendaraan di pinggir jalan dan langsung di jongkok, selalu mengeluarkan semua isi perutnya yang terdorong karena muntah-muntah.
To be continued...