
"Apa Anda adalah terapis untuk bayi? Kebetulan saat ini kami membutuhkan Anda untuk menenangkan bayi yang tengah menangis dan dari tadi rewel. Padahal sudah minum susu dan perutnya kenyang, tapi masih juga tidak berhenti menangis," ucap kepala pelayan yang saat ini sangat berharap jika dia di hadapannya tersebut bisa membantu untuk menenangkan putra mahkota di keluarga Kusuma.
Aaron yang saat ini sebenarnya merasa kebingungan karena jujur saja belum pernah sekalipun ia menggendong ataupun melihat bayi. Ia khawatir jika gagal untuk menenangkan bayi tersebut, mungkin ia akan dipukuli dan mendapatkan kemurkaan karena telah menipu.
Namun, berusaha untuk menormalkan perasaannya dan menyembunyikan kegugupan yang dirasakan. Jadi, saat ini tersenyum simpul dan langsung menganggukkan kepala untuk membenarkan pertanyaan dari wanita yang terlihat sangat khawatir tersebut.
Bahkan saat ini kembali mendengar suara dari seberang kanan, yaitu tangisan bayi yang tadi didengar di luar rumah tadi. "Saya akan mencari tahu tentang penyebab dari apa yang membuat bayinya menangis."
"Jadi, baru bisa memastikan apa ada yang salah atau sesuatu yang dirasakan oleh bayinya," ucap Aaron yang saat ini tengah berpikir jika ia berubah menjadi orang lain hanya karena ingin mengetahui bayi yang membuatnya sangat penasaran.
Hingga ia kini melihat bayi yang digendong oleh seorang baby sitter berseragam putih berjalan mendekat dan suara tangisan yang memekakkan telinga menghiasi halaman depan rumah.
"Silakan, Mas. Lakukan apapun yang harus dilakukan agar tuan Kenzie tenang dan tidak menangis terus menerus seperti ini," ujar kepala pelayan yang saat ini beralih menatap ke arah baby sitter yang kebingungan menenangkan. "Coba berikan tuan Kenzie pada mas itu."
Sang baby sitter melakukan perintah dari kepala pelayan karena jujur saja ia juga kebingungan saat tidak bisa menenangkan bayi yang dari tadi terus menangis saat berada di gendongannya.
Aaron yang saat ini bersiap untuk menggendong bayi yang masih terus menangis tersebut, sudah merapal doa agar tidak ada kejadian buruk yang dialami ketika berusaha untuk menenangkan.
'Lindungi aku, Tuhan agar tidak membuat masalah pada bayi ini,' gumam Aaron menelan saliva dengan kasar dan menormalkan degup jantung tidak beraturan ketika pertama kali ia menggendong bayi yang masih sangat kecil dan mungkin tersebut.
Saat bayi yang masih sangat kecil tersebut berpindah ke tangannya, ia mencoba untuk menenangkan diri dengan bertanya beberapa informasi mengenai hal yang ingin diketahui.
"Apakah bayi ini baru berusia beberapa bulan? Maksud saya, tepatnya berapa bulan?" Aaron yang melihat tatapan aneh dari kepala pelayan, langsung mau filter pertanyaannya agar tidak dicurigai.
Ia bahkan sambil mencoba untuk menenangkan bayi yang masih terus menangis dalam gendongannya. Mencoba untuk mencari posisi yang paling nyaman saat menggendong, sehingga saat ini mencoba untuk menggendong dengan cara menghadapkan ke belakang di pundaknya seperti gerakan melakukan tepukan saat bersendawa.
Ia bahkan sudah mengarahkan tepukan untuk berusaha menenangkan agar bayi yang masih terus menangis tersebut lebih tenang. Apalagi ia merasa sangat kaku ketika menggendong bayi itu pada posisi telentang.
Jadi, melakukan hal yang sesuai dengan apa yang tadi dilihat di mesin pencarian sebelum masuk ke dalam area rumah megah itu.
Saat ia masih berusaha untuk menenangkan dengan menepuk terus bagian belakang bayi, sambil mendengarkan penjelasan dari kepala pelayan.
"Tuan Kenzie baru berusia 2 bulan, Mas. Mungkin karena merasa shock saat ditinggal oleh sang ibu, jadi rewel terus seperti ini. Biasanya, selalu dirawat sendiri oleh mamanya, tapi karena keadaan, sehingga tidak memungkinkan dan harus ditinggalkan bersama kami di rumah ini." Ia kini mengerutkan keningnya saat menatap sang bayi.
Kepala pelayan yang baru saja menutup mulut, kini merasa heran karena melihat jika bayi yang merupakan putra mahkota di rumah itu sudah tidak lagi menangis.
Aaron yang saat ini masih terus menepuk bagian punggung bayi itu, merasa baru saja mendapatkan sebuah keajaiban karena ternyata apa yang dilakukannya berdampak besar dan sukses membuatnya tidak menjadi sasaran amarah dari penghuni rumah itu.
"Apa dia sudah tidur?" tanya Aaron yang tidak berhenti menepuk punggung bayi di pundaknya.
"Iya, Mas. Tuan Kenzie saat ini sudah tertidur." Sang baby sitter kini menyahut setelah melihat sendiri jika bayi yang dari tadi ditenangkan tidak kunjung berhenti menangis.
"Alhamdulillah. Sebenarnya bayi yang menangis itu biasanya merasa tidak nyaman dengan badannya atau posisi ketika digendong. Mungkin itu yang belum dipahami oleh banyak orang karena fokus pada perutnya yang lapar dan akan tenang setelah minum susu."
"Padahal bukan itu saja yang dirasakan bayi karena hanya bisa tidur dan menangis, jadi terkadang merasa tubuhnya pegal-pegal jika versi orang dewasa menyebutnya. Jadi, dengan gerakan seperti ini bisa membuatnya lebih nyaman." Memperagakan tepukan lembut agar kedua wanita tersebut melakukan hal yang sama sepertinya nanti.
"Apalagi pasti setiap hari tidur terlentang dan sangat capek, jadi rewel." Penjelasan yang baru saja diucapkan Aaron merupakan sebuah karangan semata karena hanya berpikir secara logika.
Bahwa bayi yang baru beberapa bulan dilahirkan, hanya bisa tidur telentang dan tidak bisa bergerak ke kiri dan ke kanan. Jadi, pastinya merasa seperti orang dewasa yang jika tidur terus-menerus dalam posisi telentang, merasa pegal.
Hal itulah yang membuatnya berpikir jika bayi itu menangis karena merasa capek badannya, tapi tidak bisa mengatakannya.
Aaron saat ini mulai mengurangi ritme tepukan pada punggung bayi di pundaknya dan ini mengorek informasi tentang siapa sebenarnya bayi yang membuatnya merasakan aneh ketika pertama kali menggendong.
"Memangnya di mana mommy baby ini?" tanya Aaron yang saat ini tengah menunggu jawaban dari kepala pelayan wanita itu.
Sementara itu, kepala pelayan yang sudah bekerja selama lebih dari 30 tahun tersebut tidak langsung menjawab karena tengah mempertimbangkan apakah perlu menjawab pertanyaan dari ahli terapi tersebut.
Namun, berpikir bahwa ada hubungan antara bayi dengan sang ibu, sehingga kini membuka suara. "Mommy dari baby harus bekerja di perusahaan menggantikan kakeknya yang mengalami koma hingga harus dirawat di rumah sakit."
"Bahkan kasihan sekali nona muda karena harus membagi waktu antara mengurus perusahaan, kuliah dan juga mengurus putranya." Tidak ingin jika ada pertanyaan lain dari pria itu yang membahas tentang suami dari majikannya, sehingga saat ini menyuruh untuk masuk ke dalam rumah agar menidurkan di atas ranjang yang disediakan di lantai satu.
Ada kamar khusus yang didesain untuk bayi itu agar tidak perlu membawa ke lantai atas saat dirawat di bawah.
Sementara itu, Aaron yang saat ini merasa seperti baru saja mendapatkan tombak tajam menghunus jantungnya, sampai tidak bisa berkata-kata dan seperti orang bodoh karena hanya mengikuti perintah dengan berjalan masuk ke dalam ruangan berukuran luas yang sudah disulap menjadi kamar bayi dengan hiasan superhero di dinding.
'Apakah yang dimaksud wanita itu adalah Anindya? Bahwa bayi yang kugendong ini adalah putra dari Anindya? Lalu, siapa bapaknya? Apa Anindya diam-diam sudah menikah dengan pria lain?' gumam Aaron saat ini perlahan menurunkan bayi yang digendongnya ke atas ranjang.
To be continued...