
"Aku capek, Ma. Lagipula, emangnya siapa yang saat ini ada di rumah sakit? Kenapa tidak langsung menjelaskannya ditelpon?" Aaron yang bersiap untuk pergi ke kantor, berbicara sambil berjalan menuju ke arah mobilnya.
Hingga ia pun sudah masuk ke dalam kendaraan yang akan mengantarnya menuju ke kantor tanpa mematikan sambungan telpon.
Namun, diamnya sang ibu membuatnya mengerti bahwa wanita yang telah melahirkannya tersebut tengah marah padanya karena membantah dengan tidak menuruti perintah untuk pergi ke rumah sakit.
"Ma, jangan diam saja. Baiklah, Aku sedang dalam perjalanan menuju ke kantor dan akan mengambil sebentar ke rumah sakit." Aaron berani menatap ke arah sang sopir yang sudah mengemudikan kendaraan keluar dari pintu gerbang rumah.
"Kita ke rumah sakit dulu, Pak." Lagi-lagi Aaron menutupi kebodohannya karena tidak tahu rumah sakit mana yang hendak dituju.
"Memangnya Mama saat ini ada di rumah sakit mana?" tanya Aaron yang merasa kesel karena sang ibu masih diam saja.
Hingga ia pun kembali mendengar suara dari sang ibu yang mengatakan rumah sakit dan langsung matikan sambungan telepon tanpa menunggu tanggapannya.
Akhirnya Aaron hanya mengatakan pada sang supir tentang rumah sakit yang dituju. Rasa penasaran semakin membuatnya ingin segera tiba di rumah sakit agar bisa melihat siapa yang membuat ayah dan ibunya pagi-pagi sudah pergi dan melewatkan sarapan bersamanya.
"Sebenarnya siapa yang membuat papa dan nama berada di rumah sakit pagi-pagi begini. Apa rekan bisnis atau sanak saudara?" Aaron memilih untuk membuang rasa penasaran yang dirasakan karena sebentar lagi akan mengetahuinya sendiri.
Ia saat ini mengirimkan pesan pada sang kekasih untuk mengingatkan bahwa nanti siang ada fitting gaun pengantin.
Sayang, aku jemput nanti di kantormu saat jam makan siang.
Kemudian langsung menekan tombol kirim dan berharap sang kekasih segera membalas. Namun, ia yang masih menatap ponsel miliknya, memicingkan mata karena tidak mendapatkan balasan.
"Sedang apa ia sekarang? Apa sedang mengemudi?" Aaron melirik mesin waktu yang meninggal di pergelangan tangan kirinya dan berpikir bahwa saat ini tunangannya berangkat kerja.
Karena tidak ingin mengganggu konsentrasi mengemudi sang kekasih, Aaron saat ini hanya menatap ke arah lalu lalang kendaraan yang melintas untuk menghilangkan kebosanan.
Hingga beberapa menit kemudian, ia sudah tiba di rumah sakit dan menyuruh sang supir untuk menunggu di parkiran. Lalu ia berjalan menuju ke arah lobi rumah sakit dan menghubungi sang ibu untuk bertanya ruangan yang hendak dituju.
Begitu sang ibu menjawab, Aaron yang saat ini sudah berada di dalam lift, semakin merasa bertanya-tanya tentang siapa yang tidak diceritakan oleh sang ibu.
Hingga beberapa saat kemudian, Aaron sudah tiba di depan ruangan, lalu mengetuk pintu. Begitu mendengar suara dari sang ayah yang menyuruhnya masuk, ia langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan setelah membuka pintu.
"Pa, Ma."
Kemarilah, Sayang!" Jenny seketika bangkit dari kursi dan melambaikan tangan pada putranya agar berjalan mendekat.
Sedangkan Jonathan hanya membiarkan sang istri menjelaskan semuanya pada putranya karena ia ada meeting penting dan hendak pergi.
"Mamamu akan menjelaskan semuanya padamu, Aaron. Papa pergi ke kantor dulu." Menepuk bahu kokoh putranya dan berjalan keluar dari ruangan.
Sementara itu, Zea yang merasa sangat terkejut begitu melihat pria tampan yang sempat ia sangat kagumi saat bekerja di restoran.
Bahkan hingga membuatnya melakukan kesalahan, sampai akhirnya dipecat. Ia awalnya membulatkan kedua mata dan begitu menyadari bahwa saat ini ia tengah menjadi orang baru karena kehilangan ingatan, seketika berakting biasa dan seperti tidak pernah melihat pria di hadapannya tersebut.
'Semoga pria ini tidak mengenaliku karena aku tidak akan bisa melanjutkan rencanaku jika sampai ia mengatakan pernah bertemu dengannya di restoran.'
Zea saat ini merasa sangat gugup dan berharap jika pria dengan paras rupawan tersebut tidak bisa mengingatnya karena penampilannya jauh berbeda.
Jika biasanya ia selalu memakai kacamata serta rambut dikepang dua dengan penampilan turun dan cukup, sedangkan saat ini rambutnya tergerai bebas dengan perban di kepala.
Aaron yang saat ini tidak mengalihkan pandangannya ada sosok gadis dengan berbanding kepala tersebut, mengerutkan kening karena masih berusaha untuk mengingat-ingat pernah bertemu di mana.
Hingga ia yang belum sempat bertanya pada sang ibu, kini mendengar penjelasan wanita yang sangat disayanginya tersebut.
"Aaron, ini Anindya—saudara barumu," ucap Jeny yang saat ini tengah mengerjai putranya untuk melihat ekspresi dari wajah Aaron.
"Saudara? Apa maksud Mama? Apa dia adalah anak papa dari wanita lain?" sarkas Aaron yang seketika memerah wajahnya karena merasa sangat marah pada gadis muda di hadapannya tersebut yang benar-benar tidak asing menurutnya.
Namun, ia masih tidak bisa mengingat di mana pernah bertemu dengan gadis itu. Ia hanya mengarahkan tatapan tajam penuh kebencian saat memikirkan berbagai macam hal buruk di kepalanya begitu mendengar perkataan dari sang ibu.
To be continued...