
"Sialan!" sarkas Aaron yang saat ini mengumpat karena kembali mendapatkan ejekan dari wanita yang ingin sekali ia tarik rambutnya jika sama-sama lelaki.
Ia bahkan saat ini ingin melihat tanggapan dari gadis yang menyuruhnya untuk berterima kasih dan malah membuatnya kesal. "Kamu lihat itu? Ini bukan salahku, kan? Atau kamu masih ingin menyuruhku berterima kasih pada wanita arogan ini?"
Sementara itu, Khayra saat ini menelan saliva dengan kasar karena jujur saja ia bingung dengan kondisi di sekitarnya saat ini. Ia ingin dua orang itu menjalin hubungan baik tanpa saling mengumpat seperti yang terlihat saat ini.
Namun, sepertinya menyadari jika niatnya tidak bisa dilakukan karena keduanya sama-sama egois dan keras kepala. Ia saat ini hanya diam karena bingung harus bagaimana.
"Lebih baik lanjutkan saja makannya!" Akhirnya ia yang merasa tidak enak pada Aaron, memilih mencari aman dengan melanjutkan menikmati makanan yang tadi sudah dibantu memotongnya.
'Terserah apa yang akan mereka lakukan. Mau berteriak, mengumpat atau saling tarik menarik rambut, sudah tidak akan kuhalangi karena aku sendiri juga bingung apa yang diinginkan oleh nona Maribell sebenarnya.'
'Aku benar-benar pusing menghadapi mereka yang bagai pinang dibelah dua. Sama-sama arogan dan tidak mau mengalah,' gumam Khayra yang saat ini sudah melanjutkan ritual makan tanpa memperdulikan lagi apapun di sekitarnya.
Sementara itu, Aaron yang tadinya masih berdiri dari kursi dan menatap Anindya sudah menikmati makanan, lalu beralih ke arah Maribell juga tengah asyik melakukan hal yang sama.
Ia pun menatap ke arah pria paruh baya yang berada dua jarak dari tempat duduknya. Kemudian berjalan mendekat sambil membawa makanan miliknya.
"Aku boleh duduk di sini, kan?" tanya Aaron yang saat ini menaruh piring di meja dan berniat untuk mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah sang asisten pribadi Anindya.
Namun, seketika ia kembali memerah wajahnya karena kesal ketika mendengar jawaban datar dari pria paruh baya tersebut.
"Tidak boleh!" sahut sang asisten dengan datar.
Refleks dua wanita yang saat ini merasa tertarik dengan apa yang ditunjukkan oleh sang asisten tersebut, seketika menatap dan sama-sama tertawa.
Anindya yang saat ini tertawa terbahak-bahak karena merasa apa yang baru saja dilihatnya sangatlah lucu. Apalagi melihat raut wajah dari Aaron yang memerah karena kesal ketika mendapatkan penolakan dari sang asisten yang menurutnya sangat berani mengerjai.
Padahal selama ini tidak pernah melakukan hal sekonyol itu pada orang lain dan selalu bersikap datar, tapi kali ini ia berhasil terhibur dengan sikap sini pria paruh baya tersebut pada Aaron.
'Om benar-benar berhasil membuat Tuan Aron mati kutu saja dan lihatlah wajahnya yang memerah karena kesal, rasanya aku ingin mencubit pipinya yang seperti kepiting rebus itu,' gumamnya yang saat ini melihat ke arah sang investor juga tertawa terbahak-bahak.
"Astaga! Aku seperti baru saja mendapatkan hiburan gratis melihat wajah masam calon suamimu itu yang bibirnya mengerucut seperti ikan yang panjang itu apa namanya, aku lupa," sarkas Maribell yang saat ini masih melihat Aaron berdiri dan tidak jadi mendaratkan tubuhnya.
"Saya juga lupa nama ikannya, Nona." Khayra yang saat ini beralih melirik ke arah pria dengan raut wajah masam serta bibir mengerucut tersebut, kini mendengar suara bariton dari asisten pribadi sang kakek yang menguraikan kesalahpahaman.
"Ternyata kalian bertiga memang bekerja sama untuk memusuhiku. Baiklah, aku akan menerima dan tidak duduk berdekatan dengan kalian semua." Aaron saat ini sudah berjalan menuju ke arah tempat duduk yang kosong dan cukup jauh dari tiga orang tersebut.
Namun, saat ia baru saja mendaratkan tubuhnya dan hendak menikmati makanan yang baru saja diletakkan di atas, kini seketika menoleh ke arah pria paruh baya yang menurutnya telah mempermainkan perasaannya.
"Anda tidak boleh duduk di dekat saya karena harus duduk di dekat nona Khayra. Bukankah Anda adalah calon suami nona Khayra? Lalu, buat apa duduk di dekat saya?" Sang asisten saat ini merasa puas karena bisa berhasil ikut mengerjai pria yang akan menjadi suami atasannya tersebut.
Ia sebenarnya dari tadi ikut geram dan ingin tertawa, tapi menahan sekuat tenaga karena tidak ingin terlihat seperti seorang yang bahagia ketika pria itu sedang kesal.
Namun, karena tiba-tiba datang mendekat dan ingin duduk dekatnya, sehingga berpikir ingin sekalian mengerjai seperti yang dilakukan oleh para dua wanita yang sangat hebat tersebut.
Itu adalah pertama kalinya ia mengerjai orang dan ternyata membuatnya merasa sangat senang sekaligus. Apalagi ketika melihat raut wajah memerah karena marah dan sekarang berubah berbinar karena bahagia, tentu saja membuatnya.
Aaron yang tadinya berniat untuk menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulut, tidak jadi melakukannya karena merasa sangat senang sekaligus bahagia ketika mendengar alasan yang menurutnya sangat masuk akal dan tidak jadi membuatnya marah.
Ia seketika menatap ke arah sang asisten yang membuat perasaannya berubah berbunga-bunga seperti bunga yang baru bermekaran.
"Benarkah itu? Jadi, aku harus duduk di dekat calon istriku?" seru Aaron yang saat ini seketika mendorong kursi dan bangkit berdiri, lalu kembali membawa piring yang sudah bolak-balik di bawahnya ke sana-kemari.
Ia kini kembali ke tempat semula dengan duduk di sebelah kanan Anindya yang sibuk menikmati makanannya. "Kali ini aku tidak akan meminta izin karena pasti akan dikerjai lagi. Calon istri, makan yang banyak, ya! Biar cepet gedhe."
Aaron yang dari tadi belum sempat menikmati makanannya, sedangkan tiga orang yang lain sudah hampir habis, sehingga membuatnya kini segera membuka mulut dan mengunyah makanan yang baru saja dimasukkan.
Ia bahkan memiliki rencana setelah makan siang dan berharap gadis itu mau diajaknya pergi. Apalagi ia belum melamar secara resmi, tapi sudah merasa yakin jika Anindya akan menerimanya karena sikapnya sudah tidak datar dan dingin seperti dulu.
'Aku harus segera menghabiskan makanan ini agar tidak ditinggal oleh mereka,' gumam Aaron yang saat ini buru-buru mengunyah makanan yang ada di dalam mulut.
Ia bahkan saat ini sesekali melirik ke arah Anindya yang kini sudah menikmati desert dan terlihat sangat menyukainya. Kemudian refleks mendorong pelan miliknya ke hadapan gadis itu.
"Sekalian ini habisin biar cepet besar," ucapnya yang kini melihat jika gadis itu sangat menyukai makanan manis.
Ia dulu sering melihat Anindya diberikan cake oleh sang ibu karena mengetahui jika gadis itu sangat menyukainya. Bahkan ia yang dari dulu tidak menyukai manis, awalnya merasa heran kenapa ada seorang gadis yang menyukainya. Tapi sekarang semua itu terlihat sangat manis di matanya.
Ia baru menyadari jika Anindya selama ini terlihat sangat imut karena mungkin suka makanan yang manis-manis. Saat ia baru saja menghabiskan makanan, langsung meneguk teh hijau yang serupa dengan milik Anindya.
Seketika ia merasakan tidak nyaman pada lidahnya dan membuatnya meringis menahan rasa tidak enak dari minumannya.
'Aah ... sial! Kenapa aku pesan minuman yang sama dengan Anindya? Bahkan rasanya benar-benar tidak enak sama sekali,' sarkas Aaron yang saat ini memilih untuk tidak menghabiskan teh hijau itu.
Sementara itu, Anindya yang tadi fokus pada dessert dan digoda oleh Aaron dengan memberikan satu lagi, yang membuatnya senang karena memang dari dulu suka. Tapi tidak suka dengan kalimat ejekan dari pria itu yang seolah menganggapnya adalah anak kecil.
"Cepet gedhe? Memangnya aku Kenzie, apa? Aku sudah bukan masa pertumbuhan," rengut Anindya yang merasa sangat kesal dengan ejekan dari Aaron yang seolah mengejek jika ia sangat pendek dan tidak bisa besar.
"Aku memang tidak setinggi wanita idamanmu itu," sarkasnya dengan terus menikmati dessert yang saat ini sudah melumer di mulutnya.
Mengingat hal itu saja membuatnya merasa sangat kesal dan kali ini tidak bisa lagi menyembunyikan apa yang dirasakan ketika mengingat mantan kekasih pria itu yang sangat cantik, tinggi, langsing, dan seputih susu karena ia tahu pasti model selalu perawatan dengan budget yang luar biasa.
Sementara ia tidak pernah pergi ke salon karena hanya fokus bekerja, kuliah dan mengurus anak, sehingga tidak ada waktu untuk memanjakan diri seperti para model yang memang menjual penampilan agar terlihat sempurna di mata semua orang.
Aaron seketika merasa bersalah karena mengingatkan Anindya pada Jasmine yang bahkan sama sekali sudah dianggapnya tidak ada. Ia saat ini ingin menjelaskan tentang apa yang dirasakan pada gadis itu, tapi sama sekali tidak dianggap maupun didengarkan.
"Jangan mengungkit orang yang sama sekali sudah tidak ingin ketahui karena bagiku dia sudah mati. Bukankah kamu juga sudah tahu jika di dalam ponselku tadi hanya ada fotomu serta Kenzie? Lalu apa yang kurang sekarang akan membuatmu tidak merasa tersaingi dengan adanya wanita sialan itu?"
Aaron bahkan saat ini merasa jika Anindya berubah-ubah seperti seorang wanita yang mengalami PMS. Ia bahkan saat ini berpikir jika mungkin gadis itu mengalaminya dan berusaha untuk memaklumi, agar tidak memicu pertengkaran dan berakhir memperburuk hubungan mereka yang hendak dimulai lagi.
Saat ini, Khayra merasa sangat malas dengan pembahasan yang memang ia mulai dan malah membuatnya kesal sendiri. Hingga ia mendengar suara dari wanita yang kini juga melakukan hal sama sepertinya, yaitu menikmati dessert setelah selesai makan.
"Jasmine? Aku mengenal seseorang bernama Jasmine dari Jakarta yang merupakan seorang model di Paris yang kutemui ketika acara fashion show yang mengundangku untuk menghadirinya. Yang kalian maksud bukan Jasmine itu, kan?" Ia seolah merasa ada yang aneh ketika mendengar nama yang sangat tidak asing untuknya.
Apalagi sekarang baru mengingat jika dulu pernah berbincang dengan model yang bernama Jasmine tersebut, mengatakan jika mempunyai seorang kekasih bernama Aaron yang berada di Jakarta.
Ia refleks menatap ke arah pria yang dianggapnya adalah kembarannya dalam versi laki-laki. "Aaron, apa kau adalah kekasih dari Jasmine?"
Aaron seketika memijat pelipis karena ternyata wanita itu semakin menambah kesalahpahaman dengan menyebutkan tentang wanita yang bahkan sangat ia benci dan ingin dilupakan.
"Tolong jangan menambah duri dalam daging, Nona Maribell. Saya apakah sudah tidak ada hubungannya lagi dengan wanita itu yang kabur dari pernikahan."
"Siapa yang mau menerima wanita pengkhianat sepertinya? Aku dari dulu tidak pernah mempermainkan perasaan wanita, tapi ternyata dengan mudahnya dipermainkan oleh kepercayaan."
Aaron yang merasa sangat kesal, kini merasa tenggorokannya kering dan langsung mengambil gelas berisi teh hijau yang tadi tidak disukainya, tapi terpaksa dihabiskan agar membuatnya tidak haus lagi. Ia benar-benar sangat kesal ketika nama Jasmine selalu disebut.
Apalagi jika menjadi penyebab pertengkaran di antara hubungannya dengan Anindya yang bahkan baru saja dimulai.
Sementara itu, Khayra saat ini hanya diam dan tidak ingin membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh sang investor karena jujur saja ketika menyebut nama Jasmine membuatnya merasa sakit.
Meskipun sebenarnya menyadari jika itu adalah kesalahannya karena pertama kali mengungkit nama wanita itu yang hanya meninggalkan kemurkaan di hatinya.
Ia seketika merasa mood-nya benar-benar buruk, sehingga kini bangkit berdiri dari kursi setelah mendorongnya. Kemudian menatap ke arah sosok wanita yang kini tidak jauh darinya.
"Nona Maribell, terima kasih atas jamuan hari ini dan juga mau menerima perusahaan Kusuma sebagai mitra bisnis. Saya sangat lelah dan ingin kembali ke kamar." Kemudian membungkuk hormat setelah berpamitan.
Maribell yang saat ini bisa mencium ada api cemburu dari gadis yang baru saja pergi tanpa berpamitan dengan Aaron yang terlihat menghujat pelipis seperti orang yang baru saja mengalami masalah besar.
Ia masih menatap ke arah siluet belakang gadis yang kini menuju ke arah pintu keluar bersama dengan sang asisten yang juga berpamitan padanya karena ingin buru-buru mengejar atasannya tersebut.
Hingga beberapa saat kemudian dua orang itu telah menghilang di balik pintu dan kini tersisa hanya ada Aaron serta sang investor.
Embusan napas kasar kini terdengar memenuhi ruangan yang hanya ada Aaron dan Maribell. Bahkan saat ini keduanya sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Aaron yang tadinya ingin menghentikan Anindya agar tetap berada di ruangan itu, tidak jadi melakukannya karena berpikir jika gadis itu membutuhkan waktu untuk berpikir dan menenangkan perasaan karena tapi cemburu.
'Baiklah. Aku akan memberikan kesempatan padanya untuk beristirahat. Nanti malam aku akan memberikan sebuah kejutan yang akan tidak mungkin dilupakan seumur hidupnya,' gumam Aron yang saat ini tengah memutar otak untuk mencari cara agar bisa membuat lamaran yang sempurna untuk Anindya.
Sementara itu, Maribell saat ini mengerti setelah pria itu menjelaskan dan terlihat kebencian di matanya. "Jadi, wanita bernama Jasmine itu menipuku? Aku sama sekali tidak menyangka jika dia sangat pandai memutarbalikkan fakta."
Aaron saat ini mengerutkan kening karena tidak paham dengan kalimat ambigu di poin terakhir. "Maksudnya?"
"Jasmine mengatakan padaku jika dia memiliki seorang kekasih di Jakarta yang sangat mendukungnya berkarir di dunia modeling, tapi tidak mendapatkan restu dari orang tuamu yang lebih menginginkan menjadi ibu rumah tangga."
"Jadi dia memilih untuk fokus pada karir daripada sakit hati karena tidak mendapatkan dukungan dari mertua," ucap Maribell yang dulu sempat bertukar kartu nama dengan Jasmine dan bahkan menyimpan nomor wanita itu di ponselnya.
"Ternyata dunia ini kecil karena aku bisa bertemu dengan mantan kekasihmu sekaligus calon istri yang tidak jadi karena kabur." Maribell bahkan saat ini berpikir jika ia merasa iba ketika melihat Khayra tadi yang pergi karena merasa cemburu ketika membahas tentang Jasmine yang memang ia akui sangat cantik dan menjadi incaran para pria.
Aaron yang sebenarnya merasa malas membahas tentang Jasmine, seketika tertawa terbahak-bahak ketika wanita itu ternyata dia sadarinya merupakan seseorang yang sangat licik.
"Aku baru tahu jika dia menjelek-jelekkan orang tuaku. Padahal selama ini orang tuaku tidak pernah memaksanya untuk menjadi ibu rumah tangga setelah menikah. Orang tuaku bahkan membebaskannya karena merasa tidak berhak melarang karena itu adalah tugasku."
Aaron saat ini merasa senang karena akhirnya menyadari mana wanita yang baik dan buruk dan pantas untuk dinikahi serta menjadi ibu dari anak-anaknya.
"Kecantikan dari seorang wanita hanya untuk dinikmati, bukan untuk dijadikan ibu dari anak-anakku karena sejatinya menikah bukan hanya tentang fisik, tapi mencari partner seumur hidup yang bisa memahami dan tidak pernah bosan dengan sifat kita yang berubah-ubah," ucapnya yang kini memilih bangkit berdiri dari kursi.
"Aku harus pergi." Kemudian ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan setelah berjalan mendekati wanita yang dianggap sangat arogan dan ternyata mudah untuk ditaklukan tanpa melakukan apapun, tapi hanya bersikap apa adanya.
Maribell kini menjabat tangan Aaron dan tersenyum setelah bangkit dari kursi. "Semoga kalian berdua benar-benar mengakhiri masa lajang dengan menikah. Aku tunggu undangannya."
Aaron saat ini hanya tersenyum simpul dan merasa senang karena akhirnya sudah bisa berdamai dengan wanita yang dianggap sangat arogan tersebut.
"Terima kasih. Aku pasti akan mengundangmu saat menikah nanti," ucap Aaron yang saat ini sudah berjalan menuju ke arah pintu keluar setelah melepaskan tangannya.
To be continued...