Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Kekesalan Erick



Aaron masih setia menunggu hingga telponnya diangkat oleh Erick. Ia tahu jika Erick tidak langsung mengangkat panggilan karena masih tidur, tapi tidak perduli. Bahkan setelah mati pun, kembali menelpon sampai tiga kali karena berpikir harus membangunkan Erick agar bisa berbicara secara langsung.


"Bisa-bisanya dia tidur nyenyak saat Zea menghilang. Bukankah dia bilang sangat mencintai Zea? Jika benar dia tidak tahu sama sekali tentang kepergian Zea, bukankah seharusnya merasa sangat khawatir dan tidak bisa tidur sepertiku?" Aaron benar-benar tidak habis pikir saat membayangkan jika Erick saat ini masih tertidur pulas.


Sementara ia semalaman tidak bisa tidur karena merasa khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada gadis yang menghilang tanpa kabar.


Saat ia baru saja mengumpat, kini merasa lega begitu mendengar suara dari seberang telepon. Ia mendengar suara Erick, tapi tidak terdengar seperti orang yang baru saja bangun tertidur karena biasanya selalu serat saat baru saja bangun dari alam bawah sadar.


"Halo!" sahut Erick yang tadi baru saja keluar dari kamar mandi dan mendengar suara dari ponsel miliknya yang beberapa kali berbunyi.


Ia tadinya merasa penasaran siapa yang menghubungi pagi-pagi sekali, tapi karena sakit perut, membuatnya membiarkan saja dan akan menghubungi jika berpikir itu adalah telepon penting.


Begitu ia mengetahui bahwa yang menelpon berkali-kali adalah Aaron, sehingga berpikir bahwa sebentar lagi akan merasa bosan mendengar suara umpatan dari pria yang tidak disukainya tersebut.


'Kebetulan sekali si berengsek itu menelponku. Aku memang sudah membuka blokiran agar dia bisa menghubungiku dan aku bisa bertanya tentang apa yang sebenarnya dilakukan pada Zea hingga terlihat sedih dan ingin kabur dari rumah, sampai meminta pertolonganku.'


Erick yang baru saja bergumam sendiri di dalam hati karena ingin menunggu apa yang akan ditanyakan oleh Aaron, kini mendengar suara umpatan pria itu dan membuatnya menjauhkan dari telinganya.


"Hei, cecunguk! Apa kau bisa tidur nyenyak saat Zea menghilang? Jika kau tidak membawa kabur Zea, mana mungkin semua ini terjadi. Zea tetap akan berada di Jakarta dan baik-baik saja," sarkas Aaron yang saat ini masih mencoba untuk menahan diri agar tidak mengumpat lebih banyak pada Erik yang dianggap menjadi awal dari permasalahan.


Saat ia berpikir Erick akan mengakui kesalahan, tapi faktanya tidak demikian karena mendengar kalimat pedas bagai sebuah tamparan keras untuknya.


"Kalau mau klakson, harus lihat spion dulu, bajingan! Seharusnya aku marah padamu dan menghancurkan wajahmu karena menyakiti Zea sampai menangis tersedu-sedu saat aku bertanya apa yang terjadi hingga membuatnya memilih kabur dari rumah."


Erick yang biasanya selalu bersabar menghadapi sikap arogan Aaron, kali ini terbakar amarah ketika mengingat bagaimana Zea menangis tersedu-sedu dipelukannya. Ia kembali mengumpat untuk meluapkan semua yang membuncah di dalam hati.


"Cepat katakan apa yang kau lakukan pada Zea hingga dia menangis tidak berhenti ketika aku bertanya padanya? Aku sangat yakin jika kau melakukan sesuatu yang buruk padanya sampai ia ingin pergi dan tidak ingin kembali ke rumah keluargamu." Dengan masih menatap ke arah ponselnya yang tadi di loudspeaker karena tidak ingin menaruh di dekat telinga.


Apalagi suara teriakan dari Aron membuatnya seperti merasa mendengar omelan ibu pria itu.


'Ibu dan anak sama-sama menyebalkan,' gumamnya ketika saat ini memegang telinganya yang masih meninggalkan kenyerian akibat semalam di jewer oleh wanita yang merupakan teman baik dari sang ibu.


Saat ia menunggu jawaban atas pertanyaannya, Erick makin kesal karena pria di seberang telpon malah mengalihkan pembicaraan seolah tidak ingin berbicara jujur mengenai hal yang berhubungan dengan Zea.


"Lebih baik berikan aku nomor telepon Zea karena aku ingin melacak lokasi terakhirnya. Itu sangat penting untuk menemukan keberadaannya." Aaron memang merasa bersalah pada Zea karena telah memperkosa gadis malang itu.


Namun, ia merasa bahwa itu adalah sebuah privasi dan tidak boleh diketahui oleh siapapun, sehingga tidak berniat untuk menceritakan pada Erick. Apalagi Zea bahkan tidak membuka mulut dan masih merahasiakan apa yang dilakukannya.


Ia berpikir akan selalu menjaga nama baik Zea yang tidak ingin mengumbar masalah yang terjadi di antara mereka. Jadi, memilih untuk mencari solusi demi bisa menemukan sosok gadis yang ingin dinikahinya tersebut.


Hingga ia yang tadinya sangat marah pada Erick dan sudah berkurang emosinya, kini malah merasakan jika pria di seberang telepon itu emosi padanya.


"Kau memang sangat berengsek, Aaron! Kau telah membuat seorang gadis baik dan lugu seperti Zea menderita. Bahkan dia selama ini hidup menderita dengan ibu tiri dan kakak tirinya, tapi saat mendapatkan sebuah kebahagiaan, malah kau hancurkan dengan mudah!" sarkas Erick benar-benar merasa muak.


Kemudian ia langsung mematikan sambungan telepon karena merasa percuma berbicara dengan pria yang sama sekali tidak mau berbicara jujur padanya.


Ia bahkan ingin sekali membanting ponsel karena dikuasai oleh angkara murka, tapi menyadari jika melakukan itu hanya akan membuatnya rugi karena harus membeli ponsel yang baru, sehingga memilih untuk kembali memblokir nomor Aaron.


"Rasakan ini, bajingan!" Erick kini sudah kembali memencet tombol blokir.


Ia merasa sangat lega karena tidak akan terganggu lagi dan berpikir percuma berbicara dengan Aaron yang tidak memberikan sebuah solusi untuknya.


"Jika aku mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan oleh Aaron pada Zea, paling tidak, aku tahu bagaimana perasaannya dan berpikir kira-kira ke mana ia pergi. Sementara sekarang, Aku bahkan tidak tahu apa yang dirasakan oleh Zea." Erick saat ini berpikir tidak ada yang tahu penyebab gadis itu tiba-tiba menghilang tanpa kabar.


Erick saat ini memutar otak untuk mencari sebuah solusi di kepala. Ia pun kini memilih untuk mengirimkan salah satu pesan pada sahabatnya untuk meminta pendapat agar mendapatkan sebuah solusi.


Kini, ia mulai mengetik pesan pada salah satu sahabat yang dianggap banyak tahu segala hal mengenai kemajuan teknologi.


Bro, aku mendapatkan pesan dari pacarku, tapi sebelum kubaca, malah sudah dihapus. Apakah kau tahu bagaimana caranya bisa melihat pesan dihapus? Aku berpikir bahwa itu adalah sebuah pesan penting dan harus melihatnya.


Setelah dibaca lagi dan berpikir bahwa itu sudah cukup, ia pun langsung mengirimkan pesan pada sahabatnya dan berharap segera mendapatkan sebuah jawaban.


Ia pun mengempaskan tubuhnya di atas ranjang dan menatap ke arah langit-langit kamar. "Zea, sebenarnya kamu pergi ke mana? Kenapa tadi tidak ada tanda-tanda akan pergi dari sana?"


Erick saat ini mencoba untuk kembali menghubungi nomor Zea, tapi kembali raut kekecewaan terlihat jelas dari wajahnya. "Masih tidak aktif. Zea, apa kamu sengaja membuat semua orang mengkhawatirkanmu?"


Ia saat ini merasa bingung harus bagaimana. Tidak informasi apapun mengenai Zea setelah menonaktifkan ponsel. "Semoga tidak ada yang menculikmu."


Erick yang menyadari kebodohannya ketika memikirkan jika ada orang jahat yang menculik Zea. "Tidak! Menurut cerita tante Jennifer, tetangga yang disuruh menjaga rumahnya itu sudah menjelaskan jika dia memang berencana untuk pergi dari sana."


Ia saat ini masih memikirkan apa yang sebenarnya dilakukan Zea hingga memilih untuk pergi diam-diam tanpa sepengetahuannya. Namun, seketika mengacak frustasi rambutnya karena sangat kesal tidak bisa menemukan jawabannya.


"Sial! Aku bisa stres jika terus-terusan begini. Zea, sekarang kamu ada di mana? Bahkan semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu." Saat Erick saat ini masih menatap ke arah ponsel miliknya untuk melihat pesan terakhir yang dihapus oleh Zea, ia melihat notifikasi yang tak lain dari sahabatnya yang tadi dikirimkan pesan.


Buru-buru ia langsung membuka pesan dari sahabatnya dan mendapatkan sebuah tutorial mengenai cara membaca pesan yang telah dihapus.


"Wah, sahabatku ternyata mengetahui cara untuk membaca pesan yang dihapus." Wajah Erick seketika berubah berbinar dan membuatnya merasa sangat gugup ketika mencoba melakukan tutorial yang dikirimkan oleh sahabatnya.


Hingga ia yang tadinya telentang di atas ranjang king size miliknya, seketika duduk dan fokus pada ponselnya. Hingga ia pun kini berhasil dan akhirnya bisa membaca pesan dari Zea.


Ia seketika mengerutkan kening begitu membaca bahwa Zea dengan sadar mengabarkan akan pergi ke Surabaya, tapi tidak menceritakan dengan detail apa tujuan pergi ke sana.


"Surabaya? Kenapa Zea jauh-jauh pergi ke Surabaya? Apa yang sebenarnya terjadi? Bahkan ia awalnya berniat untuk memberitahuku dan beberapa saat kemudian menghapusnya agar aku tidak mengetahui pergi ke mana." Erick saat ini benar-benar pusing memikirkan sosok gadis yang membuatnya merasa bingung.


Ia terdiam untuk mencoba berpikir tenang karena berharap akan menemukan sebuah jawaban atas pertanyaan yang menari-nari di pikirannya saat ini.


Namun, meskipun mencoba untuk menebak-nebak apa yang kira-kira dilakukan oleh Zea di Surabaya, tetap saja tidak menemukan sebuah jawaban yang tepat. "Kenapa kamu menonaktifkan ponselmu, Zea?"


"Lalu, bagaimana caranya aku mencari tahu tentangmu? Aku benar-benar sangat khawatir padamu. Apalagi kamu adalah seorang gadis lugu yang pastinya akan dengan mudah dimanfaatkan oleh orang-orang jahat." Erick saat ini mempertimbangkan apakah ia akan memberitahu tentang hal yang diketahuinya pada keluarga Aaron.


Hingga ia mengambil keputusan yang dirasa benar. "Tidak! Aku lebih baik tidak mengatakan apa yang kau ketahui tentang Zea yang ternyata berada di Surabaya. Biar aku mencari tahu sendiri dengan menyuruh detektif menyelidiki."


"Ini adalah hukuman untuk si berengsek yang tidak mau berbicara jujur padaku tentang apa yang dilakukan pada Zea hingga memilih kabur dari rumah." Erick saat ini sudah mengambil keputusan bulat untuk merahasiakan apa yang diketahui karena berpikir bahwa Aaron hanya akan menjadi saingan terberat untuknya mendapatkan Zea.


Ia saat ini masih menatap pesan dari Zea yang baru saja dibaca setelah melakukan tutorial dari sahabatnya. "Sampai kapan pun, aku tidak akan menyerah pada Aaron untuk mendapatkan Zea."


Erick saat ini berpikir tidak akan berbicara dengan orang tuanya mengenai rencananya untuk membayar detektif yang akan disuruh mencari Zea di Surabaya.


"Lebih baik aku merahasiakan ini juga dari papa dan mama karena mereka berteman baik dengan orang tua Aaron. Pasti suatu saat akan melaporkan Apa yang kulakukan." Erick kini mencari nomor detektif yang merupakan salah satu kenalan dari temannya yang sering menggunakan jasanya.


Kemudian langsung memencet tombol panggil dan langsung menceritakan apa yang diinginkan. Bahkan ia sudah mengirimkan foto Zea agar detektif bisa segera menemukan keberadaan gadis yang sangat disukainya tersebut.


Hingga ia yang baru saja berbicara pada sang detektif, langsung mentransfer sejumlah uang sebagai uang muka dan berjanji akan membayar kekurangannya setelah Zea ditemukan.


"Surabaya, Zea saat ini berada di Surabaya. Aku tidak mungkin datang ke sana tanpa alamat yang jelas karena Surabaya sangat luas. Apalagi saat ini mungkin aku masih diawasi oleh Aaron dan tidak ingin mengambil resiko karena dia pasti akan tahu dan curiga padaku jika pergi ke Surabaya." Erick saat ini memutuskan untuk menyerahkan semuanya pada detektif dan berharap bisa menemukan gadis yang dicari.


Ia sedikit merasa lega begitu mengetahui bahwa Zea pergi dengan sadar dan tidak diculik oleh orang jahat. "Pantas saja dia sebelumnya sudah berpesan pada tetangga untuk merawat rumah peninggalan kakek neneknya."


"Bahkan sekarang Aaron tinggal di sana dan pastinya sudah melihat-lihat seluruh isi rumah tua itu. Apakah Zea membawa semua pakaiannya saat pergi? Bahkan aku membelikan dia beberapa pakaian. Apa dia membawanya atau meninggalkan di rumah?" Erick sebenarnya berniat untuk bertanya pada Aaron.


Namun, karena sudah memblokir nomor pria yang tidak disukainya tersebut, akhirnya mengurungkan niat dan melupakan apa yang ingin diketahui. "Semoga Zea membawa pakaian yang kubelikan tadi agar bisa selalu menemaninya di tempat yang baru."


Ia kini mengingat pembicaraannya dengan Aaron yang tadi tidak mau berbicara jujur padanya mengenai apa yang dilakukan pria itu pada Zea.


"Sebenarnya bajingan itu melakukan apa pada Zea? Apa dia menampar Zea dan bersikap kasar padanya? Biasanya para wanita yang sangat sensitif tidak akan tahan jika mendapatkan sebuah kekerasan dari seorang pria. Jika benar dia melakukan itu pada Zea, Aaron tak lebih dari seorang pecundang."


Kini, Erick mengepalkan tangan begitu berpikir bahwa Aron memang melakukan itu pada Zea hingga memilih untuk pergi. "Zea, aku kangen. Aku kangen memanggil ayang saat bertemu karena hanya dengan begitu, membuat mood booster-ku kembali kembali."


"Ayang ... ayang, aku kangen," lirih Erick yang merasa bahwa dirinya sudah benar-benar gila karena memikirkan gadis yang tidak pernah mau membalas perasaannya meskipun mengetahui jika ia tidak pernah bermain-main dengan Zea.


Kini, ia sangat berharap sang detektif menemukan Zea dan bisa bertemu lagi dengan gadis itu. "Semoga ayang kembali mengaktifkan ponselnya dan menghubungiku. Atau ia memakai nomor baru agar Aaron tidak mengetahui nomornya."


"Apalagi semalam tante Jennifer menyimpan nomor Zea dan pastinya Aaron akan mengetahui hal itu. Dia pasti saat ini sibuk mengumpatku karena kembali ke blokir. Rasain! Mampus Lo!" sarkas Erick yang tersenyum hanya ringan saat membayangkan jika Aron sangat kesal padanya karena mematikan panggilan saat masih berbicara.


To be continued...