
"Astaga, Sayang! Kamu belum siap juga? Sudah jam berapa ini? Sebentar lagi pasti Aaron datang. Bukannya jam 10 akan fitting gaun pengantin?" tanya sosok wanita paruh baya yang terlihat geleng-geleng kepala melihat putrinya malah belum bangun, padahal sudah pukul setengah sembilan.
Bahkan wanita itu langsung menggerakkan tangan putrinya berkali-kali agar segera membuka mata dan tidak bermalas-malasan. Ia tidak ingin calon menantunya malah menunggu lama putrinya yang terlihat seperti tidak bersemangat.
Semenjak kejadian putrinya marah karena pihak keluarga menurut pada calon menantu mengenai pernikahan yang diurus oleh wedding organizer, ia sudah mendengar semuanya.
Bahwa putrinya sebenarnya belum siap karena masih ingin mengejar karir. Namun, ia berkali-kali memberikan nasihat pada Jasmine agar memilih Aaron yang jelas berasal dari keluarga konglomerat di Jakarta.
Bahwa hidup putrinya akan terjamin hingga tujuh turunan tanpa harus susah payah bekerja keras untuk menjadi model seperti yang diimpikan.
Namun, tetap saja putrinya itu marah dan seperti tidak bersemangat menjalani pernikahan dengan calon menantu idamannya. Bahkan ia yang lebih bersemangat karena impiannya untuk mempunyai seorang menantu dari keluarga konglomerat sebentar lagi akan tercapai.
Bahkan ia tahu bahwa tidak tanggung-tanggung calon menantunya mengeluarkan uang sebagai bentuk serius pada putrinya dengan menanggung semua biaya pernikahan dan tidak mengizinkan keluarga pihak perempuan mengeluarkan uang sepeser pun.
Tentunya ia sudah bisa menebak sekaya apa keluarga calon menantu yang sangat royal pada mereka. Jadi, ia tidak ingin kehilangan kesempatan emas seperti ini hanya karena putrinya yang mempunyai sebuah cita-cita untuk menjadi model internasional.
"Jasmine, bangun! Jangan membuat Aaron menunggu!" Kembali menepuk beberapa kali lengan putrinya agar segera bangun dari tidur.
Bahkan ia bisa melihat cahaya sinar matahari yang menembus kain gorden berwarna putih di sebelah kanan ruangan itu menunjukkan jika hari sudah siang, tapi putrinya malah masih bergelung dalam selimut tebal.
Sementara itu, Jasmine yang merasa sangat mengantuk dan bagaikan mata dilapisi lem saat sang ibu sangat berisik dan menyakiti gendang telinganya.
"Mommy apa-apaan sih! Aku masih mengantuk, ini! Jangan ganggu aku! Nanti saat Aaron datang, baru bangunkan aku!"
Jasmine berbicara dengan suara sangat keras, tapi sama sekali tidak membuka mata dan kembali membenamkan tubuh serta wajahnya di bawah selimut tebal.
Namun, belum sempat ia melanjutkan mimpi indahnya, merasakan pergerakan sangat kuat dari selimut yang ditarik dan bisa mengetahui bahwa sang ibu yang melakukannya dan membuatnya kesal.
"Jasmine! Cepat bangun sekarang atau Mommy akan menyirammu dengan air! Kamu selalu lama berdandan, kan? Jadi, sebelum Aaron datang, cepat bersiap karena tidak ingin malu mempunyai seorang putri yang sangat pemalas."
Miranda Kartika yang tadinya masih memakai cara lembut untuk membangunkan putrinya, kini sudah tidak sabar karena melihat Jasmine masih tidak kunjung membuka mata meskipun ia sudah berteriak dan menghiasi ruangan kamar itu dengan teriakannya.
Hingga saat ini kesabarannya telah habis dan kembali mengarahkan pukulan pada lengan putrinya. "Cepat bangun!"
Jasmine terpaksa membuka mata dan menutup kedua daun telinga karena suara sang ibu benar-benar menyakiti indra pendengarannya. Ia saat ini bisa melihat jam di dinding masih menunjukkan bahwa waktu untuk berangkat sekitar 1 jam lagi.
"Astaga, Mom! Aaron pasti akan datang jam sepuluh kurang, sedangkan ini masih pukul setengah sembilan. Lumayan jika digunakan untuk tidur lagi selama setengah jam. Bukannya Mommy tahu bahwa semalam aku pulang larut karena ada pemotretan tambahan?"
Refleks Jasmine mengangkat kedua tangan untuk menggelung rambutnya yang panjang agar terlihat tidak berantakan. Ia benar-benar sangat marah ketika sang ibu membuatnya tidak bisa berkutik hanya karena sangat mendambakan mempunyai seorang menantu seperti Aaron.
Ia sudah berusaha untuk merayu sang ibu agar berbicara pada ayahnya untuk menunda pernikahan sampai merasa benar-benar siap, tapi yang ada malah mendapatkan kemurkaan dan akhirnya memilih menyerah.
Bahkan Jasmine sudah mengatur kepergiannya yang dibantu oleh salah satu staf perusahaan yang ada di Paris. Ia bahkan kemarin baru saja menandatangani kontrak dan akan berangkat dua minggu lagi.
Bahkan jadwal keberangkatannya tepat di hari pernikahan. Jadi, ia hanya berakting untuk bersemangat saat melakukan semua persiapan pernikahan seperti hari ini yang akan pergi ke butik untuk fitting gaun pengantin.
Namun, nada protes yang baru diungkapkan oleh Jasmine malah membuat sang ibu berang. Kini, ia menatap ke arah putrinya dan berusaha untuk menyadarkan, meskipun itu sudah berkali-kali dilakukan.
"Bukankah berkali-kali Mommy sudah bilang, lebih baik kamu berhenti dari dunia model dan fokus menjadi istri Aaron karena sudah terjamin masa depanmu dan tidak akan pernah hidup menderita."
Miranda Kartika memijat pelipis karena merasa omelannya selama ini tidak masuk ke dalam pikiran putrinya. Namun, ia tidak pernah bosan untuk menyadarkan Jasmine agar menyadari bahwa semua yang dilakukannya juga akan kembali pada putrinya.
"Bahkan di luaran sana banyak wanita yang sangat menginginkan Aaron, Jasmine! Bahkan saat kamu menjadi istrinya, tidak akan pernah telat uang dan hidupmu akan terjamin."
Miranda meluapkan semua hal yang dipikirkan agar putrinya bersikap lebih baik dan tidak mengungkit lagi mengenai masalah karir.
"Memangnya siapa yang akan menikmati semua kemewahan itu jika bukan kamu sendiri? Tidak mungkin Mommy dan daddy, kan? Kamu tidak perlu setiap hari lelah bekerja dan pulang malam hanya untuk mendapatkan uang."
Bosan dan sangat tidak respect pada pemikiran sang ibu yang bahkan sama sekali tidak mengerti mengenai cita-citanya yang selama ini diukir semenjak kecil.
Jika dulu sang ibu sangat bangga padanya karena memiliki bakat untuk menjadi seorang model dan sering mendapatkan job, tapi semuanya berubah begitu ia berhubungan dengan Aaron.
Bahwa sang ibu lebih menyukai Aaron dalam segala hal daripada keinginannya.
Hal itulah yang membuat Jasmine frustasi, tapi sadar tidak bisa melakukan apapun. Ia tetap akan kalah berdebat dengan ibunya yang hanya memikirkan bahwa apa yang dilakukan oleh Aron selalu benar.
Akhirnya Jasmine yang merasa sangat malas untuk berdebat, memilih untuk beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ia ingin bersiap agar sang ibu tidak lagi mengomel. Hingga ia pun melanjutkan untuk mengomel di dalam kamar mandi di bawah guyuran air shower yang dingin.
Padahal ia biasanya selalu mandi air hangat karena tidak kuat dingin, tapi hari ini rasanya kepala sangat panas dan ingin mendinginkannya dengan mandi air dingin.
Tentu saja di dalam hati sibuk mengumpat dengan memanggil semua penghuni kebun binatang untuk meluapkan amarah yang memuncak di dalam hati.
Hingga beberapa menit kemudian, ia yang sudah selesai mandi, berdiri di depan cermin dan beberapa kali mengusap dadanya.
"Sabar, Jasmine. Ini hanya sementara saja karena sebentar lagi kamu akan berhasil meraih cita-citamu semenjak kecil dengan menjadi model internasional di Paris."
Masih tidak berkedip menatap penampilannya yang hanya memakai kimono putih, Jasmine saat ini mengingat cintanya pada sang kekasih.
"Kamu akan selamanya menungguku hingga aku kembali dan tidak akan menikah dengan wanita lain, kan? Aku juga akan setia dan hanya ingin menikah denganmu, Sayang. Tapi bukan dalam waktu dekat ini."
Karena tidak ingin semakin galau dengan keputusannya, Jasmine perjalanan keluar dari kamar mandi dan sangat terkejut karena sang ibu ternyata masih menunggunya.
"Astaga, Mommy! Aku bahkan mandi cukup lama, tapi ternyata Mommy masih di sini." Jasmine mengembuskan napas kasar melihat sikap berlebihan yang ditunjukkan oleh sang ibu.
Apalagi mendengar jika wanita paruh baya yang melahirkannya tersebut membuatnya seperti merasa tidak berhak untuk berpendapat.
"Mommy ingin memastikan apakah kamu benar-benar mandi atau melanjutkan tidur di kamar mandi. Syukurlah kamu sudah mandi. Cepatlah dandan yang cantik agar Aaron semakin mencintaimu dan tidak akan pernah berpaling pada wanita lain."
Kemudian Miranda yang merasa lega karena tadi sempat khawatir ketika melihat putrinya sangat frustasi dan mengumpat di dalam kamar mandi.
Kini, ia merasa tugasnya sudah selesai dan berjalan keluar dari kamar putrinya karena ingin menyambut kedatangan sang menantu yang pastinya beberapa menit lagi akan tiba di rumah.
Bahkan tadi Aaron menelponnya karena ingin mengingatkan mengenai fitting gaun pengantin dan khawatir jika Jasmine lupa. Aaron memang tidak menghubungi Jasmine karena khawatir jika marah karena berkali-kali diingatkan.
Akhirnya ia yang turun tangan sendiri agar putrinya tidak mengecewakannya dan kini tersenyum simpul saat menuruni anak tangga.
Di sisi lain, Jasmine melepaskan handuk kecil di rambutnya dan melemparnya ke lantai dengan asal. "Mommy pasti akan menyesal karena lebih membela Aaron daripada putri sendiri."
"Saat aku pergi ke Paris, Mommy Pasti akan sangat merindukanku dan menyesal pernah memarahiku seperti anak kecil saja."
Jasmine duduk di kursi depan meja rias dan menatap penampilannya yang kacau karena belum menyisir rambutnya yang basah.
Kemudian ia meraih ponsel untuk menghubungi sang kekasih dan begitu mendengar suara bariton dari seberang telpon, langsung mengungkapkan kekesalannya.
"Iya, Baby!"
"Aku akan ke butik naik mobil sendiri. Tidak perlu menjemputku karena suasana hatiku sedang tidak baik dan tidak ingin kita bertengkar hanya gara-gara hal tidak penting!"
Kemudian Jasmine langsung menutup sambungan telpon karena tidak ingin mendengar tanggapan dari sang kekasih. Bahkan ia langsung melempar benda pipih itu ke atas ranjang dan melanjutkan untuk mengeringkan rambut dengan hair dryer.
"Semoga Aaron tidak datang menjemputku karena saat ini aku ingin mencekiknya untuk melampiaskan amarah," umpat Jasmine yang menatap wajahnya di cermin dan bisa melihat raut wajahnya diliputi amarah.
To be continued...