
"Bagaimana? Apa kamu setuju jika aku memanggilmu Anindya?" Jenny sangat berharap jika gadis muda itu akan membuatnya bisa merasakan bagaimana mempunyai seorang anak perempuan.
Bahkan ia menganggap bahwa ini adalah sebuah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan padanya karena tidak bisa lagi melahirkan Setelah mengalami pendarahan cukup hebat ketika melahirkan putranya.
'Ya Allah, izinkan aku bisa merasakan bagaimana rasanya merawat seorang anak perempuan meski hanya sesaat. Aku akan merasa bahagia karena sudah tidak lagi merasa penasaran seperti apa mempunyai seorang anak perempuan yang sangat kuinginkan.'
Sementara itu, Zea yang merasa tidak keberatan sama sekali karena semua rencananya kini seperti mendapatkan sebuah jalan yang membuatnya tidak akan berakhir di rumah bagaikan neraka yang ditinggali oleh ibu dan kakak tirinya.
Sebelum mempunyai kekuatan untuk membalaskan dendam pada perbuatan jahat ibu dan anak tersebut padanya, ia ingin mencari kekuatan agar suatu saat nanti bisa membuat dua wanita itu membayar atas perbuatan jahat padanya.
Meskipun ia saat ini belum tahu apakah bisa membalas dendam saat tidak punya apapun. Apalagi semua harta peninggalan ayahnya dikuasai oleh ibu tirinya dan sangat yakin jika lama-kelamaan akan habis karena gaya hidup yang suka berfoya-foya.
Zea kini mengganggu perlahan dan tersenyum simpul untuk mengungkapkan bahwa ia sama sekali tidak keberatan memiliki nama baru yang menurutnya cantik.
"Aku tidak keberatan dipanggil Anindya."
"Syukurlah kalau kamu tidak keberatan. Sekarang, namamu adalah Anindya sampai ingatanmu kembali. Aku sangat yakin jika Aaron pasti akan sangat senang memiliki teman di rumah. Selama ini rumah terasa sangat sepi saat semua bekerja dan aku hanya bersama dengan para pelayan."
Jenny terlihat sangat berbinar begitu membayangkan nanti bisa melakukan apapun dengan gadis yang baru saja diberikan sebuah nama sesuai dengan impiannya. Bahkan kini tidak bisa melepaskan punggung tangan yang dari tadi diusapnya.
"Terima kasih, Anindya. Kamu membuatku bisa merasakan impianku untuk memberikan nama anak perempuan." Jenny kini menoleh pada sang suami di sebelah kirinya.
"Sayang, kamu harus menjelaskan pada Aaron jika ia punya saudara sekaligus teman baru yang bisa menemaninya di rumah. Juga suruh pelayan menyiapkan kamar untuk Anindya saat pulang dari rumah sakit nanti."
Jonathan hanya geleng-geleng kepala melihat sang istri malah sangat bersemangat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru. Padahal tahu bahwa gadis itu mengalami kemalangan saat kehilangan ingatan.
Namun, ia merasa lega karena gadis muda yang ditabraknya sama sekali tidak marah atau terpuruk begitu tidak mengetahui apapun tentang dirinya setelah kecelakaan.
"Kamu tenang saja karena aku yang akan menanggung semuanya sampai kamu bisa mengingat masa lalumu." Jonathan ingin bisa melihat lebih dekat pada sosok gadis muda di hadapannya tersebut.
Meskipun ia merasa sedikit aneh karena tanggapan dari gadis itu tidak seperti yang dilihatnya di film-film ketika sangat terpuruk. Namun, ada kelegaan kala melihat sosok gadis muda itu yang menyelamatkannya dari para polisi karena sama sekali tidak menuntutnya.
"Sebenarnya aku yang salah karena menyeberang dengan terburu-buru dan tidak bisa melihat masih ada mobil yang melaju." Jauh di lubuk hati, sebenarnya ingin berterima kasih, tapi Zea tidak mungkin melakukan itu karena malah akan dicurigai.
Jadi, memilih untuk berbicara singkat karena tidak ingin ada yang mengetahui masalahnya.
'Ayah, aku akan menghancurkan wanita jahat itu beserta putri kesayangannya. Semoga ayah tidak membenciku,' gumam Zea yang kini semakin bertambah lega begitu mendengar perkataan dari sosok wanita yang ada di sebelah kirinya.
"Terima kasih, Anindya. Kami akan mengganti semua kerugian yang disebabkan karena kecelakaan. Semua kebutuhanmu akan ditanggung dan bisa mengatakan apapun yang kamu inginkan." Jenny yang baru saja menutup mulut, kini mendengar suara dering ponsel miliknya di dalam tas.
"Sebentar," ucap Jenny yang membuka tas dan melihat nomor putranya menghubungi.
Refleks ia menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telpon.
"Halo, Ma. Mama ada di mana? Kenapa pagi-pagi sekali sidah pergi? Tidak biasanya Mama pergi tanpa bilang apapun padaku."
"Mama ada di rumah sakit. Datanglah kemari! Mama ingin memperkenalkanmu pada seseorang," ucap Jenny yang kini menatap ke arah gadis muda di atas ranjang dan beralih pada suami.
Ia ingin tahu apakah sang suami tidak keberatan jika ia menyuruh Aaron datang ke rumah sakit agar bisa bertemu dengan gadis muda itu dan merasa senang saat sang suami tersenyum menandakan sebuah persetujuan.
To be continued...