Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Memperbaiki semua kesalahan



'Aku akan mengambil sampel untuk dilakukan tes DNA. Semoga hasilnya positif dan aku adalah ayah biologis dari bayi bernama Kenzie itu.' Aaron yang saat ini tengah memikirkan ide untuk bisa mengambil rambut dari sang bayi, kini menatap ke arah wanita yang masih fokus pada layar ponselnya yang menampilkan beberapa alat terapi untuk baby.


"Saya kehilangan sesuatu. Mungkin terjatuh di atas ranjang saat menidurkan baby. Saya periksa dulu," ucapnya yang saat ini berusaha untuk tidak menimbulkan kecurigaan.


"Iya, silakan, Mas," ucap kepala pelayan tanpa mengangkat pandangannya dari layar ponsel karena tengah memilih alat yang akan dibeli yang sekiranya cocok untuk baby.


Aaron ketika tidak membuang waktu dan langsung melangkahkan kaki panjangnya kembali menuju ke kamar. Namun, ia seketika merasa kecewa karena kembali mendengar suara dari wanita berseragam putih yang seperti mencari perhatian darinya semenjak tadi dan sangat tidak disukainya.


"Biar saya antarkan, Mas," ucap baby sitter yang kini berjalan di sebelah pria yang menarik hatinya.


Ia bahkan berpikir untuk meminta nomor ponsel pria tampan itu agar bisa lebih dekat. "Mas, boleh aku minta nomornya? Siapa tahu kita bisa lebih akrab."


Aaron yang hanya fokus menatap ke arah bayi yang berada di atas ranjang begitu memasuki ruangan kamar, berlari menoleh ke arah wanita yang dianggap tengah tertarik padanya. "Maaf karena tidak bisa memberikannya."


"Kenapa, Mas?" ucap wanita dengan raut wajah penuh kekecewaan tersebut dan ingin mencari tahu alasan pria itu tidak mau memberikan nomor padanya.


"Ada hati yang harus saya jaga dengan baik dan tidak ingin mengecewakan wanita yang sangat saya cintai, Mbak," sahut Aaron yang gini mengalihkan perhatiannya dan tidak lagi peduli pada kekecewaan wanita itu.


Ia menatap ke arah ranjang dan berarti mencari sesuatu di sekitarnya. Hingga ia merasa sangat lega begitu mendengar tanggapan dari wanita yang seperti kesal padanya.


"Wah ... Mas benar-benar sangat keren dan wanita itu pasti beruntung bisa mendapatkan Anda. Pasti dia sangat cantik, tidak seperti saya yang sama sekali tidak menarik," ucap wanita berseragam putih tersebut dan kini memilih untuk berjalan menuju ke arah kamar mandi.


Ia berniat untuk cuci muka karena ada kekecewaan luar biasa dan membuat wajahnya memerah serta panas karena dikuasai oleh emosi saat ditolak mentah-mentah. Padahal ia biasanya selalu bertemu dengan pria yang bersikap friendly dan bisa ramah pada wanita manapun tanpa sepengetahuan pasangannya.


Jadi, pertama kali melihat seorang pria yang sangat setia dan menolaknya mentah-mentah karena mempunyai pasangan, sehingga membuatnya kesal. Jadi, saat ini mengurung diri di dalam kamar sambil beberapa kali membasuh muka dan menatap wajahnya di cermin.


'Aku jadi penasaran wajah wanita yang sangat beruntung bisa mendapatkan hati pria tampan itu,' gumamnya sambil menatap wajahnya yang memerah karena dikuasai oleh amarah saat tidak berhasil mencari perhatian pria tersebut.


Sementara itu di dekat ranjang, Aaron melirik sekilas ke arah pintu ruangan kamar mandi dan langsung bergerak untuk mengambil sampel rambut baby yang tengah tertidur bulat tersebut.


'Sayang, Daddy ambil rambutmu, ya untuk memastikan bahwa kamu benar-benar darah dagingku. Daddy akan memastikan jika benar kamu adalah putraku, kita akan hidup bersama dan berkumpul sebagai keluarga yang lengkap,' lirih Aaron yang saat ini berpikir untuk memberikan kasih sayang penuh jika benar apa yang saat ini ada di otaknya.


Kemudian mengambil ponsel dan langsung memotret beberapa kali bayi berusia 2 bulan itu untuk ditunjukkan pada sang ibu nanti dan pastinya akan sangat bahagia.


'Mama pasti akan merasa sangat senang dan tidak sabar bertemu dengan cucunya,' gumamnya dengan wajah dipenuhi oleh kebahagiaan.


Tidak ingin mengacaukan aktingnya sebagai terapis bayi, ia buru-buru memasukkan ponsel ke dalam saku celana dan kembali berjalan keluar dari ruangan kamar tersebut menemui kepala pelayan.


Sementara itu, kepala pelayan yang saat ini sudah memutuskan, langsung menunjukkan apa saja yang dianggap sangat cocok untuk baby dan berniat untuk mengatakannya Nanti pada majikannya saat pulang dari rumah sakit.


"Mungkin tiga ini dulu. Jadi, nanti atau besok bisa mengantarkannya ke sini. Mengenai keinginan Mas untuk menjadi terapis baby, saya harus bertanya dulu pada nyonya untuk meminta persetujuan karena tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Jadi, tinggalkan saja kartu nama, Nanti akan saya hubungi."


Kemudian ia mengembalikan ponsel milik pria tersebut dan mengingat sesuatu. "Apa barang Anda yang hilang ketemu di kamar?"


Aaron yang saat ini sedikit kebingungan karena tidak menyimpan kartu nama, beralasan lupa. "Maaf, lebih baik anda menyimpan nomor saya saja karena tadi terburu-buru dan kartu nama tertinggal."


Wanita paruh baya itu di ni menganggukkan kepala dan mengeluarkan ponsel miliknya dari saku rok yang dipakai. "Berapa nomor Anda?"


Aaron tidak membuang waktu dan langsung menyebutkan nomornya, tapi saat sekilas menatap ke arah wanita yang tadi meminta nomor ponselnya dan tidak dikasih, seketika kebingungan.


'Sial! Pasti wanita itu sudah mendengar nomorku. Jangan sampai dia menghafalnya dan menghubungiku,' gumam Aaron yang saat ini dipenuhi oleh kekhawatiran.


Hingga ia merasa lega begitu melihat baby sitter tersebut pergi. Kemudian ia berbicara lirih pada kepala pelayan. "Maaf, kalau bisa jangan berikan nomor ini pada siapapun yang memintanya, termasuk baby sitter itu."


"Wah ... sepertinya dia menyukaimu, tapi tidak mendapatkan tanggapan. Apa Mas sudah punya kekasih atau istri, barangkali?"


"Sedang proses untuk melamarnya, jadi tidak ingin ada masalah hanya karena ditelepon seorang wanita." Aaron yang saat ini seketika memegangi perutnya karena keroncongan, sangat malu dan malah mendapatkan sesuatu hal yang tidak terduga sama sekali.


"Anda lapar rupanya. Tunggu di sini sebentar. Kebetulan ada banyak makanan di sini. Saya ambilkan dulu." Kemudian bangkit berdiri dari sofa dan langsung menuju ke ruang makan untuk mengambilkan makanan agar pria yang berhasil menenangkan bayi itu bisa makan.


Aaron yang saat ini kembali mendaratkan tubuhnya di sofa, merasa sangat senang karena berpikir jika ia mendapatkan banyak kebaikan di rumah itu.


'Selain aku bisa bertemu dengan bayi yang sangat kuyakini adalah darah daging sendiri, kini mendapatkan rezeki lain untuk makan saat kelaparan. Nikmat mana lagi yang Kau dustakan,' lirih Aaron yang saat ini kembali membuka ponselnya dan memeriksa foto-foto yang tadi diambil.


Ia tersenyum bahagia begitu melihat wajah damai dari bayi yang telah dilahirkan oleh Anindya saat usianya masih belia. 'Anindya, jika benar kamu hamil benihku, kenapa tidak menghubungiku dan menuntut pertanggungjawaban?'


'Aku bahkan sudah sejak awal ini menikahimu sebagai bentuk pertanggungjawaban atas perbuatanku yang merenggut kesucianmu, tapi kamu malah kabur dan menghilang sampai setahun lamanya,' lirih Aaron yang saat ini tengah memikirkan bagaimana perjuangan seorang Anindya saat hamil dan melahirkan tanpa pendamping.


'Maafkan aku karena telah membuatmu menanggung semuanya sendirian. Aku berjanji akan bertanggung jawab dan memperbaiki semua kesalahan yang kulakukan padamu.'


To be continued...