
Khayra yang tidak mampu menghadapi ciuman Aaron saat sudah ******* bibirnya dengan penuh nafsu, sampai ia kesulitan menopang beban tubuhnya karena hampir terhuyung ke belakang jika tidak ditahan oleh tangan dengan buku-buku kuat tersebut.
Saat kesadarannya masih menguasai pikirannya yang tidak dikuasai oleh nafsu, kini ia yang merasakan tangan Aaron meraba tubuhnya mulai dari usapan lembut hingga makin menggila.
Dengan mengerahkan seluruh kemampuannya, tangannya sudah mendorong dada bidang Aaron agar menghentikan ulahnya yang terlihat tidak bisa mengendalikan diri dan sangat bernafsu kepadanya.
"Hentikan! Aku bukan pelacur yang melayani nafsumu!" teriak Khayra yang kini masih mengarahkan tangannya ke depan dengan tatapan tajam.
Saat Aaron terhuyung ke belakang beberapa langkah, ia kini bisa melihat tatapan tajam dari netra kecoklatan sosok wanita yang menampilkan wajah memerah. Seolah saat ini tengah dikuasai oleh angkara murka.
Ia yang saat ini menyadari kesalahannya karena seperti seorang bajingan sesungguhnya karena telah memaksa Anindya untuk melayani nafsunya tanpa memikirkan perasaan wanita itu.
"Maafkan aku, Baby. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri saat di dekatmu."
Ingin membuat Anindya tidak membencinya, ia sudah menepuk jidatnya berkali-kali karena merasa sangat bersalah.
"Pukul saja aku untuk memberiku hukuman agar kamu puas, tapi jangan membenciku. Aku sama sekali tidak pernah berpikir bahwa kamu seorang wanita pemuas nafsu atau wanita murahan. Tidak ... tidak pernah terlintas sedikit pun itu dari pikiranku. Maafkan aku."
Sementara itu, Khayra yang kini masih sibuk merapikan penampilannya dengan mengancingkan kembali kemejanya.
"Sekali lagi kamu berbuat diluar batas, aku akan sangat membencimu dan tidak akan pernah memaafkanmu. Hari ini aku memang menerimamu sebagai calon suami , tapi bukan berarti kau bisa seenaknya menyalurkan nafsumu saat kita belum resmi menikah."
Ia terdiam beberapa saat karena tengah memikirkan sesuatu.
'Aku harus membuat sebuah surat perjanjian agar dia tidak mengulangi kesalahannya. Namun, jika aku tidak membuat surat perjanjian, dia akan kembali mengulangi kesalahannya.'
Aaron yang kini langsung mengarahkan tangan ke atas sebagai tanda permohonan maaf dan penyesalannya, kini masih terdiam di tempatnya.
"Aku janji tidak akan mengulanginya karena tidak ingin kamu membenciku, Baby."
"Aku tidak butuh sebuah janji semata." Khayra tidak melanjutkan perkataannya karena ingin melihat ekspresi wajah Aaron yang terlihat mengerutkan kening.
"Apa maksudmu, Baby?" Aaron kali ini tidak bisa menebak apa yang ingin disampaikan oleh sosok wanita yang menurutnya selalu terlihat memesona tersebut dan membuat saliva terjun bebas ke tenggorokan berkali-kali.
"Aku akan membuat surat perjanjian agar kamu tidak melakukan kesalahan lagi. Aku akan memikirkan poin-poin penting dalam isi surat perjanjian itu."
Puas mengungkapkan semuanya, Khayra kini kembali memberikan sebuah ancaman agar pria yang terlihat tengah membulatkan kedua mata tersebut tidak lagi mengganggunya.
"Cepat kembali ke kamarmu sendiri di sini, hanya akan membuatmu bernafsu padaku."
"Baby, tunggu! Maafkan aku dulu."
Khayra yang berjalan dan berhenti di belakang pintu, kini melirik ke belakang dan bisa melihat apa yang dilakukan oleh Aaron. Ia yang kini memicingkan mata saat melihat pakaiannya ditarik dan beralih melihat pria di belakangnya seperti sangat takut menyentuhnya.
Kemudian ia hanya mengangguk perlahan tanda setuju dan tidak ingin membuka suara karena hanya akan membuatnya kembali mengulur waktu karena waktu semakin berlalu dan membuatnya tidak bisa beristirahat.
Padahal ia sudah sangat mengantuk dan lelah. "Ya ... ya, aku sudah memaafkanmu. Asal kamu janji tidak akan mengulanginya."
Wajah Aaron yang awalnya muram, kini seketika berubah berbinar begitu permohonannya dikabulkan dan merasa sangat lega karena tidak membuat Khayra marah padanya.
Kini, keduanya terlihat diam dan tidak mengeluarkan suara sama sekali. Seolah keduanya tengah sama-sama memikirkan sesuatu.
Aaron yang saat ini memilih untuk berjalan di belakang Anindya, sebenarnya enggan pergi.
Khayra merasa sangat lega dan bangga pada dirinya sendiri karena tidak terpengaruh saat Aaron tadi menciumnya.
"Aku pergi, Baby." Aaron kini melambaikan tangan dan berjalan menuju ke kamar yang berada di sebelah kiri.
Meskipun berdekatan, ia saat ini merasa jauh karena tidak bisa berduaan dengan Anindya. 'Ini salahmu, Aaron. Kenapa kau tadi bernafsu saat menciumnya. Anindya pasti tadi sangat syok.'
Ia mengumpat sambil masuk ke dalam ruangan kamar, tapi sebelumnya ingin melihat Anindya. Ternyata sudah masuk ke dalam kamar dan ia pun melakukan hal sama.
Sementara itu, Khayra baru saja masuk ke dalam kamar, kini merebahkan tubuhnya di atas ranjang karena sudah sangat lelah dan mengantuk.
"Aku benar-benar hebat, bukan? Tidak terpengaruh pada perbuatannya dan tidak mengulang sesuatu yang haram. Sebenarnya aku merasa saat berada di hotel, sangat bergairah dan tidak bisa menahan diri. Tapi tadi aku benar-benar memakai otakku daripada perasaanku."
Ia berusaha untuk menyadarkan diri dan berharap ke depannya ia tidak sebodoh seperti saat itu diperkosa Aaron. Namun, ia menyunggingkan senyuman karena merasa sangat senang sekaligus terharu atas perbuatan Aaron barisan saat melamarnya.
"Tuan Aaron itu selain romantis juga sangat bertanggungjawab. Dia pasti sangat mencintaiku. Aku tadi berlagak sok kuat di depannya, padahal sangat lemah."
"Nasib baik dia mengerti. Bukankah dia adalah seorang pria idaman? Iya, tuan Aaron adalah seorang pria yang menjadi idaman setiap wanita dan akulah yang berhasil membuatnya tergila-gila. Anindya, kuakui kau memang benar-benar sangat hebat."
Menyadari ia seperti orang gila yang berbicara sendiri. Tak lupa juga memuji diri sendiri, membuatnya merasa sangat konyol dan menepuk jidatnya berkali-kali dengan tangan kiri..
Sebenarnya ia tadi ingin bertanya pada Aaron tentang pengakuannya saat mengatakan tidak pernah melakukannya dengan Jasmine, tetapi tidak jadi melakukannya karena merasa sudah sangat mengantuk.
To be continued...