
"Zea Sadiya," ucap Candra Kusuma yang tadi kebetulan masih berada di area sekitar rumah cucunya untuk bertanya mengenai hamparan sawah luas yang berencana untuk ia jadikan cluster mewah.
Ia tadi memang asal berbicara pada cucunya ketika mencari alasan untuk bertanya, tapi kemudian berpikir jika idenya sangat cemerlang dan membuatnya bertanya pada ketua RT di kampung itu mengenai siapa pemilik dari hamparan sawah luas itu yang akan dibeli olehnya.
Saat mendapatkan laporan dari tetangga cucunya yang tadi disuruh untuk mencuri rambut sebagai sarana dilakukan tes DNA, sehingga langsung menuju ke rumah.
Ia sudah tidak sabar ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada gadis yang saat ini terlihat mengerutkan kening karena heran menatapnya.
"Anda? Bukankah Anda adalah orang yang tadi bertanya mengenai sawah depan sana? Oh ya, tadi donatnya enak dan sangat empuk. Terima kasih karena aku sangat menyukainya," sahut Zea yang saat ini masih merasa bingung dengan apa tujuan dari pria paruh baya tersebut datang lagi ke rumahnya.
Ia pun saat ini berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Erick benar jika pria tua itu memiliki niat tidak baik padanya. Jadi, merasa sangat khawatir sekaligus takut karena tinggal sendirian di rumah.
'Erick bahkan sudah pulang dan aku tidak ada yang menemani jika sampai pria tua ini berbuat macam-macam padaku. Lebih baik aku tidak mempersilahkan masuk dan berbicara di luar saja untuk berjaga-jaga. Aku akan berteriak dengan kencang jika sampai berani macam-macam padaku.'
Saat Zea sibuk dengan kekhawatirannya pada sosok pria paruh baya di hadapannya tersebut, beda dengan Candra Kusuma yang saat ini berkaca-kaca bola matanya melihat cucunya yang selama ini disia-siakan.
Saat ini benar-benar merasa sangat bingung bagaimana caranya mengungkapkan jika ia adalah kakek dari gadis itu. Hingga suara dari cucunya kembali membuatnya tersadar harus segera mengungkapkan hal yang sebenarnya.
"Oh ya, dari mana Anda mengetahui nama lengkapku? Bahkan para tetangga sini tidak ada yang mengetahui, bagaimana Anda yang merupakan orang asing bisa tahu?" Zea kembali mengingat jika pria paruh baya tersebut tadi langsung memanggil namanya dan membuatnya merasa sangat heran karena tidak ada satu pun yang mengetahui nama lengkapnya.
Karena tidak ingin membuang waktu dan membuat cucunya berpikir macam-macam padanya, Candra Kusuma langsung menjelaskan semua hal yang berhubungan dengan masa lalu.
"Aku adalah ayah dari Amara Putri Kusuma yang tak lain adalah ibumu, Zea." Kemudian ia langsung menceritakan semua dosa-dosanya di masa lalu yang tidak merestui pernikahan dari putrinya dan memilih mengusir dari rumah.
Ia akan bercerita dengan suara serak karena merasa bahwa dosa-dosanya tidak mudah untuk diampuni cucunya tersebut. Tentu saja ia bisa melihat respon dari Zea yang saat ini membulatkan mata dan juga berubah pucat beberapa saat kemudian begitu ia mengakhiri cerita.
"Ya, Aku adalah ayah sekaligus kakek yang sangat jahat karena telah menyia-nyiakan kalian. Maafkan aku, Cucuku. Kakek akan menebus semua dosa-dosa di masa lalu dengan memberikan semua harta yang Kakek miliki. Kakek akan merawatmu dengan baik dan memberikan kasih sayang yang belum pernah kamu rasakan dari seorang kakek."
Saat ia baru saja menutup mulut, seketika berjengkit kaget ketika mendengar suara teriakan dari cucunya yang terlihat memerah wajahnya karena dikuasai oleh amarah begitu mengetahui kenyataan sebenarnya tentang siapa dirinya.
Bahkan tanpa berniat untuk menunggu pria paruh baya tersebut berbicara, Zea langsung menutup pintu dan membuatnya mengembuskan napas kasar karena perasaan berkecamuk ini memenuhi dirinya.
Ia saat ini bahkan masih berdiri di balik pintu dan membekap mulutnya agar tidak terdengar jelas jika saat ini tengah menangis tersedu-sedu begitu mengetahui bahwa dulu sang ibu hidup menderita karena cinta.
'Mama, jadi seperti ini yang terjadi padamu ketika mencintai papa? Mama bahkan mengorbankan semuanya untuk bisa hidup bersama dengan papa dan melahirkanku,' gumam Zea yang saat ini merasa sangat iba pada nasib sang ibu yang merelakan semuanya demi bisa hidup bersama dengan sang ayah dan membuatnya hadir di dunia.
'Mama bahkan selalu merawatku dengan baik meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja karena kakek memutuskan hubungan hanya karena kasta. Pria itu bukan kakekku! Dia hanyalah seorang pria jahat yang tidak perlu dikasihani.'
Saat Zea sibuk dengan pemikirannya yang dikuasai oleh kebencian sekaligus dendam pada sang kakek, ia yang tidak berniat untuk membuka pintu ataupun menemui pria itu lagi, suara ketukan dan juga suara bariton dari pria paruh baya tersebut.
"Cucuku, Kakek tahu adalah orang yang sangat berdosa untuk hidup kalian, izinkan kakekmu ini bertobat dan menebus dosa-dosa di masa lalu sebelum meninggalkan dunia ini. Kakek saat ini hanya meminta belas kasihanmu, Cucuku. Lihatlah ke bawah!"
Kemudian Candra Kusuma memasukkan amplop coklat berisi laporan kesehatan ke bawah pintu karena sudah menduga respon dari cucunya yang tidak akan pernah mau memaafkannya ataupun menerimanya.
"Kamu bisa membaca hasil laporan kesehatan kakek yang hanya memiliki waktu beberapa bulan saja di dunia ini. Sebelum Kakek meninggal, izinkanlah untuk bertobat dan menebus kesalahan dengan merawatmu." Ia sangat berharap jika satu-satunya hal yang membuatnya merasa yakin jika cucunya akan kasihan begitu mengetahui penyakitnya.
Ia tidak memperdulikan kebencian cucunya saat ini karena yang terpenting hanyalah ingin bisa menebus kesalahan di masa lalu dan memberikan semua yang berhak dimiliki oleh Zea.
Bahkan saat ini ia memegangi perutnya yang terasa sangat nyeri dan langsung mengambil obat dari saku celana karena selalu membawa ke mana-mana agar bisa bertahan hidup.
Hingga ia yang tidak kuat berdiri karena kepalanya sangat pusing serta rasa nyeri di bagian perut, seketika berjongkok di lantai dan merasakan keringat dingin membasahi wajah serta tubuhnya saat ini.
Bahkan suaranya tercekat di tenggorokan karena menahan rasa sakit luar biasa yang saat ini dirasakan. 'Bertahanlah! Aku tidak boleh mati sebelum bisa menebus kesalahan pada cucuku. Aku ingin mencurahkan kasih sayang pada cucuku sebelum meninggalkan dunia ini,' gumamnya yang saat ini masih berjongkok di lantai.
Namun, lama kelamaan ia tidak kuat untuk berjongkok dan jatuh terduduk hingga terjungkal ke belakang sampai kepalanya menghantam lantai karena sudah berubah telentang.
To be continued...