
Aaron dan Erick saat ini terlihat damai dan tidak berdebat maupun saling menyerang karena fokus melihat sosok gadis yang berbicara dengan sang kakek. Keduanya bahkan tidak sedikitpun mengalihkan perhatian.
Saat ini, Anindya memegang erat telapak tangan sang kakek dan beberapa kali mengusap lembut di sana. Berharap pria paruh baya yang sangat disayanginya tersebut mendengar dan merasakan apa yang dilakukannya saat ini.
"Kakek harus cepat sadar dan melihat jika aku adalah cucumu yang kuat dan hebat karena bisa melawan banyak orang di perusahaan yang tidak setuju dan meragukan kemampuanku. Seandainya Kakek melihat bagaimana aku meyakinkan mereka bahwa cucumu ini bukanlah gadis kecil yang bodoh dan tidak tahu apapun mengenai perusahaan."
"Bukankah Kakek sudah sering memberitahu dan mengajarkanku mengenai banyak hal? Jadi, aku sekarang mulai menerapkannya dan akan membuat perusahaan semakin berkembang. Gen dari Kakek yang mengalir dalam darahku pastinya akan membuatku bisa melakukannya." Ia terdiam beberapa saat karena bola matanya berkaca-kaca.
Jujur saja ia berusaha untuk tegar dan sekuat mungkin agar tidak mudah dijatuhkan oleh lawan yang ingin menghancurkannya. Ia tidak ingin dianggap lawan yang mudah dikalahkan, jadi selalu berusaha kuat untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar adalah cucu satu-satunya Candra Kusuma.
Pria hebat yang menjadi salah satu pengusaha terkenal di kota ini dan akan diteruskan jejaknya melalui dirinya meskipun hanyalah seorang gadis muda yang bahkan masih belum mendapatkan gelar saat melanjutkan pendidikan.
Ia kali ini tidak melanjutkan perkataan untuk menghibur diri sendiri serta membuat sang kakek mendengar keluh kesahnya. Itu karena ia ingin membahas mengenai putranya yang sudah tidak rewel lagi seperti kemarin.
'Kenzie pun sekarang sangat pintar, Kek karena tidak rewel lagi saat aku harus bekerja dan menemani Kakek. Dia pasti mengerti dan sekarang sudah tidak sering menangis karena kutinggalkan. Apa Kakek tahu ada dua pria yang menjenguk? Salah satu dari mereka adalah ayah biologis dari Kenzie.'
'Apa harus kulakukan sekarang? Aku sangat tidak nyaman dia selalu muncul di hadapanku dan tidak menyerah meskipun aku sudah menolak lamarannya dan menerima Erick sebagai tameng,' gumamnya sambil mengusap lembut punggung tangan yang digenggamnya.
"Aku tidak bisa berlama-lama menunggu Kakek. Aku harus pulang sekarang, Kek." Khaysila yang saat ini melihat ke arah jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya menunjukkan jika satu jam lagi dosen yang mengajar akan datang ke rumah.
Rencana awalnya untuk kuliah seperti layaknya mahasiswi normal gagal saat sang kakek mengalami koma. Akhirnya ia tetap seperti biasa, menjadi mahasiswi khusus untuk mendapatkan gelar yang diinginkan.
Bahkan ia juga sangat iba jika terlalu lama meninggalkan putranya yang pastinya sangat merindukannya setelah seharian ditinggalkan. "Aku pulang, Kek. Kakek harus segera sadar dan sembuh agar bisa kembali ke rumah dan berkumpul seperti dulu lagi."
Ia pun bangkit berdiri dari kursi dan membungkuk untuk mencium sang kakek.
Sementara itu, Aaron yang saat ini masih duduk diam di tempatnya, sedangkan Erick bangkit berdiri dari kursi karena juga ingin pergi jika Zea pulang.
"Biar aku antar kamu pulang, Ayang." Erick yang ingin mengetahui di mana tempat tinggal Zea, berharap bisa antar jemput jika nanti jadi pindah ke Surabaya untuk pindah kuliah.
Sementara itu, Aaron yang merasa sangat yakin jika keinginan Erick tidak akan terpenuhi karena Anindya menyembunyikan tempat tinggalnya. Apalagi ada bayi yang merupakan hasil dari perbuatannya satu tahun lalu.
'Jangan pernah bermimpi bisa melihat dan datang ke tempat tinggal Anindya, Erick karena ia tidak akan membiarkanmu mengetahuinya. Aku sangat yakin jika kau belum mengetahui bahwa Anindya memiliki seorang bayi laki-laki yang tampan yang merupakan darah dagingku,' gumam Aaron saat ini hanya diam saja karena ingin melihat apa alasan Anindya menolak Erick.
Sementara itu, Khaysila yang harus buru-buru pergi karena khawatir terjebak macet dan terlambat pulang ke rumah, sehingga membuat dosen menunggu, kini refleks langsung menggelengkan kepala.
"Tidak perlu, Erick. Aku akan pulang sendiri. Kamu kembali saja ke hotel dan istirahat. Aku belum bisa memberitahukan tempat tinggalku. Maaf!" Kemudian ia menoleh ke arah Aaron yang membuatnya heran karena belum beranjak dari sofa. "Apa kau akan terus di sini?"
Ia memicingkan mata karena melihat jawaban dari Aaron adalah sebuah anggukan kepala dan membuatnya heran.
"Ya, aku bosan berada di hotel hanya tidur dan ingin menunggu kakek di sini," jawab Aaron dengan sangat santai dan mengetahui ekspresi wajah gadis di hadapannya tersebut keheranan.
Namun, sama sekali tidak dipedulikan, tapi seketika memerah karena kesal mendapatkan ejekan dari Erick.
"Sepertinya kau ingin mendapatkan simpati dari Zea dengan menunjukkan perhatian pada kakeknya. Itu tidak akan mempan karena dia sudah memilihku dan akan menikah denganku. Jadi, sadarlah!" Erick tidak suka melihat perbuatan Aaron yang seperti tengah mencari perhatian dari Zea.
Ia benar-benar kesal setiap kali melihat Aaron yang tidak mau menyerah meskipun sudah ditolak mentah-mentah lamarannya. Padahal ia awalnya berpikir jika pria itu akan kecewa dan pergi meninggalkan Surabaya saat ditolak, tapi tidak pernah menyangka jika tetap tinggal dan masih berusaha agar Zea menerima.
Jadi, masih merasa tersaingi dan sulit untuk mencari celah agar bisa dengan mudah mendapatkan gadis yang selama ini bertahta di hatinya. 'Sialan, Aaron. Jika sampai Zea lemah dan memperhatikan, posisiku yang aman bisa terancam.'
Saat ini ia merasa kesal karena tidak menyangka jika Aaron akan tinggal meskipun Zea pulang. Bahkan ia juga merasa kecewa pada jawaban gadis itu yang masih tidak mau mengatakan alamat rumahnya seolah menutupi sesuatu darinya.
Namun, karena tidak ingin membuat Zea ilfil padanya, sehingga menghargai keputusan gadis itu dan tidak memaksa. Ia beralih menatap ke arah Zea. "Baiklah. Kalau begitu, aku kembali ke hotel saja jika kamu tidak mau diantarkan pulang."
"Ayo, kita ke depan sama-sama. Biarkan Aaron pulang nanti karena masih ingin menemani kakekmu," ucapnya sambil memberikan kode agar gadis itu segera keluar.
Tanpa memperdulikan Aaron yang terlihat memerah wajahnya karena kesal, tapi tidak berkomentar apapun untuk membalas ejekannya barusan.
Sementara Zea saat ini merasa ragu melihat Aaron yang tidak mau pulang. Namun, ia tidak ingin berkomentar dan memilih untuk bertanya nanti pada pelayan yang disuruh menunggu sang kakek setiap hari.
"Baiklah. Kita pulang sekarang," ucapnya yang saat ini hanya diam menatap ke arah Aaron dan berjalan menuju pintu keluar bersama Erick.
Hingga saat melamunkan tentang pria yang masih tertinggal di dalam ruangan sang kakek, seketika menoleh ke arah Erick yang bertanya padanya.
"Sebenarnya kenapa kamu tidak mau memberitahuku tentang tempat tinggalmu, Zea? Apa sekarang kamu tidak mempercayaiku seperti dulu lagi? Bukankah dulu kamu menceritakan apapun dan meminta bantuanku karena lebih mempercayaiku daripada orang lain?" Erick akhirnya tidak tahan dengan tersiksa berbagai macam pertanyaan yang menari-nari di pikirannya.
Jadi, langsung mengungkapkannya begitu tidak ada Aaron. Hingga jawaban dari gadis itu kembali membuatnya merasa kecewa karena tidak puas.
"Aku mempercayaimu melebihi siapapun, Erick. Namun, ada satu hal yang belum bisa kukatakan padamu. Jadi, berikan aku waktu. Aku akan mengatakannya saat tiba masa nantinya. Aku harap kamu mengerti," ucap Khaysila yang saat ini tengah menatap Erick untuk memohon pengertian.
Bahkan ia saat ini menampilkan wajah memelas agar Erick mengerti apa yang dirasakannya. Bahwa ia belum siap mengatakan tentang perihal putranya yang merupakan hasil dari perbuatan Aaron dulu padanya.
Erick yang hanya bisa terdiam dan tidak tega pada gadis di hadapannya, akhirnya mengembuskan napas kasar. "Kamu tahu jika aku selalu lemah saat berada di hadapanmu, jadi tidak mungkin memaksamu mengatakan hal sebenarnya."
"Itulah kenapa aku baru tahu hari ini tentang perbuatan di berengsek itu padamu hingga meninggalkan luka mendalam di hatimu. Jangan pernah memaafkan perbuatan jahatnya itu, Zea. Jika kamu melakukannya, itu berarti kamu tidak adil padaku." Erick berusaha untuk membuat Zea terus membenci agar harapannya pada gadis itu tidak hilang.
Ia khawatir jika Zea dengan mudah memaafkan Aaron, akan tersisihkan karena pastinya benih-benih cinta yang dulu bersemi akan kembali dan membuatnya terbuang.
'Aku sangat takut jika kamu lemah dan kembali padanya, Zea. Jika itu terjadi, bagaimana dengan nasibku? Aku bahkan sudah berjuang sampai sejauh ini demi bisa menemukanmu, tapi meskipun kamu sudah ada di hadapanku, kenapa masih sangat sulit untuk kuraih?' Erick hanya bisa mengungkapkan keluh kesahnya yang dipenuhi kekuatan kekhawatiran di dalam hati.
Tanpa berniat untuk mengatakannya pada Zea karena khawatir jika itu akan terjadi dan membuatnya kehilangan kesempatan. Kini, ia memencet tombol menuju ke lobi rumah sakit.
"Aku akan selalu mengingat pesanmu, Erick karena luka yang dibuat oleh pria itu sampai sekarang masih belum kering. Memang tidak mudah bagiku memaafkannya. Apalagi saat aku melihatnya, selalu merasa terluka." Khaysila kini berusaha untuk menghibur diri sendiri dan juga pria di sebelah kanannya.
Apalagi saat melihat Aaron tadi yang berniat untuk tinggal dan menunggu sang kakek, membuatnya penasaran dengan apa maksud pria itu. Entah mengapa ia selalu merasa perbuatan Aaron tidak pernah bisa diduga karena penuh dengan banyak kejutan.
Namun, ia berusaha untuk membuang pemikiran itu agar tidak fokus pada pria yang dibencinya. "Aku tidak ada waktu untuk memikirkan hal yang tidak penting, Erick karena terlalu sibuk."
"Iya, aku mendengar kamu tadi mengatakan kuliah. Jadi, kamu selama ini mengejar gelar dengan cara yang luar biasa. Kakekmu benar-benar orang hebat dan berpengaruh di kota ini, ya. Semoga kamu suatu saat menjadi pengusaha sukses seperti kakekmu." Erick saat ini langsung menggandeng pergelangan tangan Zea begitu pintu kotak besi tersebut.
Sementara itu, Khaysila membiarkan Erick menggandengnya berjalan keluar dari lobi perusahaan, mengaminkan doa baik dari pria itu. "Semua itu karena keadaan yang memaksa aku menjalani hal yang berbeda, Erick. Namun, aku tidak bisa melakukan hal sehebat ini tanpa kakekku karena dia memang adalah seorang pria hebat."
"Biar aku antarkan kamu pergi ke hotel. Dulu kamu selalu mengantarku kuliah, sekarang giliranku berbuat baik padamu untuk membalas budi. Masuklah!" ucap Zea yang memencet remote control pada mobilnya dan masuk ke dalam.
Erick yang tadi hanya ingin mengantarkan Zea masuk ke dalam mobil, tidak menyangka malah akan diantarkan ke hotel. Sebenarnya ia sangat tidak suka jika gadis itu membahas tentang balas budi, tapi karena ingin berlama-lama bersama dengan Zea, akhirnya memilih untuk menerima tawaran itu.
Ia kini membuka pintu mobil dan duduk di sebelah kiri. "Rasanya melihatmu sekarang ini rasanya sangat aneh. Aku seperti baru saja melihat upik abu berubah menjadi Cinderella."
Khaysila yang merasa nasibnya memang seperti itu, kini tertawa dan menyalakan mesin mobil, selalu mengemudikan kendaraan keluar dari area Rumah Sakit.
"Ya, kenyataannya memang seperti itu, Erick. Kamu yang mengetahui asal muasal aku seperti apa dan sekarang berubah seperti ini setelah mengetahui merupakan cucu dari pengusaha terkenal di kota ini." Khaysila yang saat ini tengah fokus mengemudi, sekilas menoleh ke arah Erick.
"Kita beli makanan dulu agar kamu bisa menikmatinya di hotel. Aku punya rekomendasi makanan khas di kota ini," ucapnya yang kini menuju ke tempat langganan makanan khas yang dulu sering ke sana bersama sang kakek.
"Baiklah. Mendapatkan rezeki dari Ayang tidak akan pernah kutolak," sahut Erick yang merasa sangat senang karena mendapatkan perhatian dari Zea.
Sementara Aaron sama sekali tidak mendapatkan kebaikan itu, jadi membuatnya berpikir jika ia lebih beruntung dibandingkan pria itu.
'Paling tidak, Zea masih sangat perhatian padaku daripada pada Aaron,' gumamnya di dalam hati.
Sementara itu, Khaysila yang kini tengah memikirkan sesuatu, mengingat tentang Aaron. 'Lebih baik aku menyuruh pelayan untuk membelikannya makanan karena pasti dia sangat malas pergi ke mana-mana dan memilih diam di ruangan kakek.'
Ia berpikir jika bersikap adil jauh lebih baik daripada bersikap kejam seperti manusia tidak punya hati. Jadi, kali ini tidak ingin membedakan saat berbuat kebaikan. Hingga ia menepikan kendaraan begitu tiba di salah satu pusat kuliner yang sering didatangi bersama sang kakek.
"Kamu di sini saja. Aku akan memesan makanan agar dibungkus karena tidak bisa menemanimu makan. Mungkin lain kali," ucapnya saat beranjak turun dari mobil.
"Iya, kapan-kapan saja kita makan bersama karena masih ada banyak waktu," sahut Erick yang saat ini mulai menatap ke arah siluet belakang Zea yang berbicara dengan salah satu pegawai yang bekerja di tempat itu.
"Zea benar-benar berubah menjadi seorang Cinderella karena bisa membeli apapun yang diinginkan. Bahkan bisa mengemudikan mobil semewah ini. Pasti akan ada banyak pria hebat yang mengincarnya. Aku harus menjadi pria hebat agar menjadi salah satu kandidat calon suami yang pantas untuknya."
To be continued...