
Sementara itu, Jonathan yang dari tadi memijat pelipis begitu mengetahui hal yang sebenarnya tentang apa yang dilakukan oleh putranya pada Zea, memang sengaja membiarkan sang istri memberikan hukuman karena ia merasa itu sudah lebih dari cukup.
Sementara ia tengah memutar otak untuk mencari jalan keluar mengenai bagaimana caranya bisa menemukan gadis yang ternyata telah direnggut kesucian oleh putranya.
Begitu putra dan sang istri menggantungkan harapan padanya, kini ia hanya bisa menghembuskan napas kasar karena jujur saja juga merasa bingung harus bagaimana bisa menemukan keberadaan Zea.
Itu karena sudah menyuruh pihak IT di perusahaan untuk mencari lokasi terakhir dari ponsel gadis itu. Bahwa Zea menonaktifkan ponselnya saat berada di area perkampungan yang menjadi tempat tinggalnya.
Bahkan ia menyuruh ahli IT untuk mengabarkan jika sewaktu-waktu ponsel Zea kembali aktif, pasti ada lokasi dari tempat tinggal gadis itu yang baru. Namun, sampai sekarang belum mendapatkan kabar dan sudah bisa menduga jika dia belum mengaktifkan ponselnya lagi semenjak pergi.
Ia saat ini menatap ke arah sang istri dan juga putranya yang masih terlihat meringis kesakitan sambil memegangi daun telinga yang dijewer itu. "Kita akan mendapatkan kabar jika ahli IT menemukan lokasi Zea setelah mengaktifkan ponselnya."
"Namun, jika itu tidak dilakukan oleh Zea, besar kemungkinan jika kita tidak bisa menemukan lokasi tempat tinggalnya saat ini. Hanya saja, Aku berharap jika Zea membeli ponsel baru ataupun nomor baru, sewaktu-waktu menghubungi Erick. Itu karena aku sudah menyuruh orang-orang kita untuk menyadap ponselnya."
Jonathan yang baru saja menutup mulut, mendengar suara dari putranya yang seperti kegirangan begitu mendengar apa yang baru saja disampaikan.
"Wah ... Papa benar-benar sangat hebat karena bisa berpikir sejauh itu. Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk menyadap ponsel cecunguk itu." Aaron tidak menyesal mempercayakan semuanya pada sang ayah karena ia berpikir tidak akan sebijak pria yang sangat dihormatinya tersebut.
Hingga ia seketika kehilangan muka begitu merasa tertampar dengan ejekan dari sang ibu dan membuatnya menelan saliva dengan kasar.
"Makanya, jadi laki-laki itu jangan mengandalkan emosi dan nafsu saja! Jadi, pria harus berguna dan bisa menyelesaikan masalah tanpa mengandalkan emosi. Kau selalu saja marah-marah pada Erick yang bahkan sama sekali tidak bersalah."
Jennifer yang berpikir bahwa Erick justru menyelamatkan mental Zea setelah dihancurkan oleh putranya, kini benar-benar menyesal karena telah memberikan hukuman dengan menjewer telinganya.
"Aku jadi merasa bersalah pada Erick karena memberikan hukuman pada pria sebaik itu. Bahkan dia jauh lebih baik daripada kamu, Aaron karena sangat menjaga Zea dan mau menolongnya tanpa pamrih. Itulah kenapa Zea sangat nyaman berada di sisi Erick dan memilih kabur darimu." Ia menatap tajam ke arah putranya yang saat ini terlihat sangat menyesali perbuatannya.
Ia sebenarnya tahu jika putranya tengah mencoba untuk menebus kesalahan dengan melakukan cara apapun agar menemukan Zea, tapi tetap saja ingin membuat Aaron merasa bersalah dan menyesali perbuatannya dengan menyindir habis-habisan.
"Iya ... iya, Ma. Aku mengaku salah dan akan menebus perbuatanku dengan melakukan yang terbaik untuk Zea. Aku kan sudah bilang jika pikiranku saat itu benar-benar kacau."
"Begitu melihat Zea, selalu terbayang pada perkataannya yang seperti mempersilahkanku untuk memperkosanya karena dia tidak takut dan akan menyuruhku untuk menikahinya. Aku sama sekali tidak menyangka Jika Zea berbohong dan malah kabur dariku." Aaron saat ini mengembuskan napas kasar karena benar-benar frustasi saat memikirkan Zea.
"Aku tahu jika saat itu menyebut nama Jasmine ketika mabuk. Itu karena aku sangat membencinya dan sudah tidak memiliki rasa padanya karena memiliki Zea di sisiku. Tapi Zea salah paham dan marah padaku karena aku menyebutkan nama Jasmine ketika memperkosanya."
Aaron kini menepuk jidatnya berkali-kali untuk meluapkan amarah karena berpikir bahwa apa yang dulu dilakukannya, benar-benar meninggalkan luka terdalam untuk hadis yang sangat dicintai.
"Tunjukkan penyesalanmu dengan fokus mencari keberadaan Zea. Buat laporan kehilangan atau informasi orang hilang di media sosial dan berikan uang sebagai imbalan jika melihat Zea." Jonathan tidak suka melihat putranya berubah menjadi bodoh dan tidak bisa menyelesaikan masalah.
"Itu merupakan cara efektif karena di zaman digital seperti ini, tidak ada orang yang tidak memiliki ponsel. Jadi, manfaatkan kemajuan teknologi untuk menemukan Zea agar kamu bisa bertanggung jawab padanya dengan menikahinya." Ia saat ini ingin mengetahui bagaimana reaksi putranya.
Refleks Aaron melakukan kepala tanpa pikir panjang karena kembali menyetujui apa yang baru saja diungkapkan oleh sang ayah. "Iya, Pa. Itu benar sekali. Aku akan melakukan itu dan semoga ada orang yang melihat Zea dan menghubungiku."
"Aku akan melakukan apapun untuk bisa menemukan wanita yang kucintai." Aaron lupakan berniat untuk melakukannya sekarang tanpa membuang waktu.
Namun, saat ia mengeluarkan ponsel untuk bergerak melakukannya, beralih menatap sang ibu yang baru saja memberikan perintah padanya.
"Lebih baik kau mandi dan pergi makan sana! Mama tidak ingin ke fokus mencari Zea sampai sakit. Kau tidak boleh sakit dan harus kuat, agar bisa terus mencari putriku!" Kini, Jennifer mulai merasa bersalah setelah menghukum putranya habis-habisan.
Apalagi tadi dikuasai oleh kemurkaan dan sekarang melihat penyesalan di wajah putranya, seketika membuatnya merasa iba. Namun, ia menyembunyikannya dengan kembali menatap tajam dan memberikan titahnya.
Aaron seketika tersenyum begitu mendengar ada nada kekhawatiran dari sang ibu yang kini dirasa sudah tidak marah padanya. Ia akhirnya bangkit berdiri dari sofa dan tidak ingin membantah perintah wanita yang sangat menyayanginya tersebut.
Meskipun sebenarnya tidak ingin menunda untuk menyebarkan berita kehilangan, tapi tidak ingin membuat sang ibu marah lagi.
"Iya, Ma. Aku akan pergi mandi dan makan. Setelah itu, akan membuat berita kehilangan di media sosial dan juga bekerja sama dengan beberapa surat kabar untuk mempostingnya." Kemudian terlalu pergi tanpa menunggu tanggapan dari sang ibu.
Sementara itu, Jennifer yang saat ini masih menatap siluet belakang putranya ketika menaiki anak tangga, masih tidak berkedip dan merasa bersalah.
"Aku benar-benar merasa lega, sedih, sekaligus senang begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang perasaan Aaron pada Zea. Hanya saja, kenapa dia harus mabuk dan memperkosa Zea?" Ia yang saat ini memijat pelipisnya karena pusing memikirkan masalah yang terjadi, seketika menoleh ke arah sang suami yang beralih melakukannya.
"Sudah. Jangan terlalu menyesali apa yang sudah terjadi. Sekarang lebih baik fokus pada penyelesaian masalah. Sini, biar aku pijit agar tidak pusing lagi." Jonathan yang bisa mengerti bagaimana perasaan sang istri, benar-benar merasa tidak tega.
Jadi, berusaha untuk menghibur agar pesan istri tidak terlalu memikirkan hal yang sudah dilakukan oleh putranya saat khilaf karena melakukannya akibat dampak minuman beralkohol.
"Terima kasih, Sayang. Kamu memang selalu mengerti aku. Semoga nanti putraku bisa berubah menjadi sepertimu yang selalu bijak dan menyayangi serta mencintai Zea setelah mereka menikah dan menjadi pasangan suami istri." Ia bahkan sudah membayangkan jika putranya kelak akan menikahi gadis yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.
Jonathan saat ini segera mengaminkan perkataan dari sang istri karena memang ia juga mendukung putranya menikahi Zea. "Aku yakin Aaron akan bahagia hidup bersama dengan Zea."
To be continued...