Zea, You're Mine

Zea, You're Mine
Tukang rongsok



Aaron sama sekali tidak menyangka jika Anindya akan berani menolak Sandy dengan cara mengusir secara halus. Ia sebenarnya saat ini ingin terbahak melihat raut wajah sahabatnya yang seketika berubah masam karena diusir dan ditolak oleh gadis yang selalu dipanggilnya bocil itu.


Namun, tidak mungkin melakukannya karena akan melihat kemurkaan Sandy. Jadi, saat ini ia hanya bisa tertawa di dalam hati dengan menahan diri sambil melihat interaksi antara Anindya dan sahabatnya.


'Kasihan sekali nasib Sandy hari ini. Berani juga si bocil ini mengusir Sandy yang sudah sangat baik ingin mengantarnya pulang naik mobil, tapi malah memilih untuk tetap naik motor bersamaku,' gumam Aaron yang saat ini melihat kekesalan sahabatnya.


"Tega sekali kamu mengusirku dan menolak kebaikanku, Anindya. Padahal Aaron sudah menyuruhmu untuk naik mobil saja agar tidak mengantuk lagi. Aku yakin jika kamu kembali terkena angin malam akan membuatmu kembali mengantuk."


"Jadi, ayo pulang bersamaku naik mobil agar bisa duduk nyaman dan tidak khawatir akan terjatuh jika sampai tertidur," ujar Sandy yang masih belum menyerah untuk membuat gadis kecil itu mau pulang bersamanya.


Ia bahkan tadi sangat bersemangat dan senang karena sahabatnya mengizinkan untuk mengantar gadis itu pulang naik mobilnya. Namun, seketika moodnya berubah buruk begitu diusir oleh Anindya yang seperti bayi tak berdosa itu.


Karena sama sekali tidak merasa bersalah ketika menolak kebaikannya. Antara kesal sekaligus gemas melihat wajah polos dari Anindya, Sandy melirik ke arah sahabatnya yang dari tadi hanya diam.


"Katakan kepadanya agar ikut bersamaku pulang. Aku akan mengantarnya pulang dengan selamat tanpa kurang satu apapun." Akhirnya ia memilih untuk meminta pertolongan dari sahabatnya.


Di sisi lain, Aaron yang saat ini hanya mengendikkan bahu karena tidak berniat untuk menolong sahabatnya yang sudah ditolak oleh Anindya.


"Bukankah aku tadi sudah menyuruhnya untuk pulang bersamamu? Tapi sepertinya si bocil ini lebih suka naik motor daripada mobilmu. Lagipula dia bukan anak SD yang gampang dibujuk. Kalau tidak percaya bujuk saja sampai mulutmu berbusa."


Aaron saat ini bersedekap dada untuk melihat interaksi antara dua orang di hadapannya seolah ingin menonton film. Bahkan ia kembali tersenyum simpul begitu mengetahui respon dari Anindya.


"Aku tetap akan naik motor dengan tuan Aaron meskipun dibujuk 100 kali." Anindya ingin segera pulang dan tidak ingin berdebat ataupun dibujuk karena akan percuma.


Apalagi ia sangat senang bisa naik motor sambil memeluk erat pria yang diam-diam disukainya tersebut. 'Mana mungkin aku menolak kesempatan yang mungkin tidak akan terulang untuk kesekian kali.'


'Ini adalah kesempatanku untuk bisa memuaskan diri bersama dengan tuan Aaron sebelum ia menikah dengan nona Jasmine,' gumam Anindya yang sangat berharap jika sahabat Aaron itu segera pergi setelah ditolaknya mentah-mentah.


"Pak guru kembali saja pulang ke rumah karena kami akan melanjutkan perjalanan." Kemudian ia menoleh ke arah pria yang selama ini bertahta di hatinya. "Ayo, kita pulang karena ini sudah sangat larut. Nanti nyonya memarahi tuan Aaron."


Aaron yang saat ini bersitatap dengan gadis di atas motornya tersebut, akhirnya menganggukkan kepala karena jujur saja Ia juga ingin segera pulang dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang nyaman miliknya.


Ia pun kini menganggukkan kepala dan menoleh ke arah sahabatnya. "Kamu dengar itu, bukan? Sepertinya aku yang bersalah karena tadi membuatmu harus repot-repot ke sini. Maafkan aku karena menyia-nyiakan waktumu," ucap Aaron yang saat ini berjalan mendekati Sandy.


Sebagai permohonan maafnya, ia mengeluarkan dompet miliknya dari saku celana dan mengambil beberapa uang lembaran merah. Kemudian menyerahkan pada pria yang terlihat sangat kesal tersebut.


"Beli makanan enak dengan uang ini dan anggap saja aku mentraktirmu sebagai bentuk permohonan maaf." Aaron tahu bahwa sahabatnya tersebut suka sekali membeli makanan junk food.


Jadi, berpikir untuk menyuruh sahabatnya memuaskan diri menikmati makanan favorit tanpa mengeluarkan sepeserpun uang karena menggunakan uangnya.


"Sialan! Apa kau berpikir bahwa aku adalah pria mata duitan yang bisa dibujuk hanya dengan uang?" Sandy sama sekali tidak mau menerima uang dari tangan Aaron dan memilih untuk meninju lengan kekar sahabatnya tersebut demi meluapkan kekesalan.


Ia pun meluapkan kesalahan dengan kembali mengarahkan sentilan ringan pada kening gadis yang telah menolaknya mentah-mentah.


"Kamu sekarang punya utang padaku dan harus membayarnya suatu saat nanti," sarkas Sandy yang saat ini puas meluapkan kekesalannya begitu melihat reaksi dari gadis mungil itu.


Zea yang seketika mengusap keningnya karena sedikit meninggalkan rasa panas di sana. Namun, ia sama sekali tidak merasa marah karena mengetahui bahwa saat ini pria di hadapannya sangat kesal.


"Maaf, Pak Guru. Lain kali aku akan membayar utang dengan main mobil Pak Guru uru karena aku tidak punya uang untuk membayar. Lagipula pasti Pak Guru akan menolak uang seperti pemberian dari tuan Aaron." Anindya tidak tahu pasti kapan akan menebus kesalahannya, tapi paling tidak memiliki niat baik.


Meskipun ia tahu bahwa janji harus ditepati dan pasti suatu saat akan ditagih oleh pria berstatus sebagai guru tersebut. Hingga ia merasa lega begitu mendapatkan sebuah anggukan kepala tanda setuju.


"Baiklah. Aku yang akan menentukan kapan waktunya dan kamu harus siap saat aku mengajakmu jalan-jalan." Sandy merasa baru saja mendapatkan sebuah berkah karena Anindya telah berjanji padanya, sehingga membuatnya merasa memiliki sebuah pengharapan.


Karena merasa senang, kini ia berbalik badan menuju ke arah mobilnya setelah melambaikan tangan pada sahabat serta gadis kecil yang menurutnya sangat polos dan menarik.


Berbeda dengan wajah Aaron yang saat ini terlihat kesal karena mendengar pembicaraan antara Anindya dan Sandy. Namun, ia tidak mungkin mengatakan hal itu atau mengungkapkan nada protes.


Ia hanya menatap mobil sahabatnya yang mulai perlahan melaju meninggalkan tempatnya. Bahkan saat masih fokus menatap ke arah mobil Sandy, mendengar hembusan napas lega dari Anindya yang membuatnya seketika tersenyum simpul.


"Syukurlah, akhirnya pak guru pergi juga dan tidak marah padaku. Aku benar-benar merasa bersalah pada pak guru," ujar Zea yang saat ini beralih menatap ke arah sosok pria di hadapannya.


"Ayo, Tuan Aaron. Kita pulang sekarang!" Kemudian ia langsung memakai helm yang dari tadi berada di pangkuannya.


Karena Aaron tidak ingin gadis polos yang dianggapnya hanyalah anak kecil itu mengantuk ketika malam semakin larut, sehingga kini langsung naik ke motornya setelah terlebih dahulu memakai helm.


"Awas saja kalau kamu sampai ngantuk lagi. Aku tidak akan segan-segan untuk menurunkanmu di jalanan agar dibawa oleh tukang rongsok untuk ditimbang." Aaron yang sebenarnya ingin terbahak, kini menyalakan mesin motor dan tidak memperdulikan nada kesal dari gadis yang protes keras padanya.


Refleks Zea langsung mencubit pinggang kokoh pria di hadapannya untuk meluapkan kekesalan. Meskipun cubitannya tidak cukup kuat karena tidak ingin malah berakhir mengalami kecelakaan jika sampai pria itu kaget dan kesakitan kala mengendarai motor.


"Iissh ... Tuan Aaron benar-benar keterlaluan! Masa aku disamakan dengan rongsokan. Menyebalkan sekali! Iya ... iya, aku tidak akan mengantuk lagi. Jadi, tenang saja." Zea tadi berbicara dengan suara keras setelah membuka penutup helm agar pria yang dipeluknya itu mendengar perkataannya.


Sementara itu, Aaron hanya tertawa geli kala membayangkan jika Anindya ditimbang oleh tukang rongsok. "Aku jadi membayangkan kamu berada di atas timbangan. Pasti akan dihargai sangat murah karena bebannya sangat ringan."


Kemudian ia tertawa terbahak-bahak dan tidak memperdulikan gadis yang kembali mencubit perutnya. Apalagi ia sama sekali tidak merasakan apapun saat Anindya meluapkan kekesalan dengan beberapa kali mencubitnya.


Zea sudah sangat malas untuk berkomentar karena hanya menambah kekesalannya dan tidak akan pernah menang melawan pria yang selalu saja berbicara sesuka hati padanya.


To be continued...